Marital Success Training (Part 4)

Self worth adalah bagaimana kita menilai diri kita sendiri. Self worth yang baik membuat kita mampu memperlakukan orang lain dengan penuh martabat, cinta dan sesuai realita. Mudah dipahami kah? Kurang clear yah? Coba yah saya bantu jelasin yang saya pahami saja. Mungkin salah, mungkin benar.

Jadi jika kita sedang rendah self worthnya, maka semua kejadian atau stimulasi menjadi serba salah. Contohnya ada seorang artis perempuan, terkenal dan cantik. Menikahi PNS dengan gaji biasa. Katakanlah lebih miskin daripada perempuan itu dan memiliki self worth yang rendah. Saat istrinya kemana-mana naik mobil bagus, dia marah dan gak suka. Saat kemudian dia dipinjamkan mobil untuk pergi kemana-mana, tersinggung juga, salah juga. Itu hanya salah satu masalah saja. Dan akhirnya pasangan ini bercerai.

Yang kedua, menikah lagi si artis itu. Dengan pengusaha kaya raya. Disangkanya dengan lebih kaya, maka self worthnya akan lebih baik. Nyatanya? Gak juga. Gak ada hubungannya self worth ini sama kaya miskin, berpendidikan tinggi atau rendah, dll. Saat menikahi suami yang kaya raya ini, ternyata suaminya selalu merasa benci ketika si artis ini lebih banyak yang menyukainya (fans) tetapi tidak dengan suaminya, masalah lagi ini. Dan akhirnya bercerai.

Jadi ternyata self worth ini menjadi tema yang cukup krusial dari diri seseorang. Sesuai definisinya, cara seseorang menilai dirinya, maka bukan soal orang lain. Soal diri kita menilai diri kita. Maka kepemilikan self worth yang baik ini penting. Supaya kita bisa menyikapi suatu masalah sesuai realita. Penuh CInta. Penuh martabat. Dalam konteks dengan pasangan, maka sebaiknya ciptakan kegiatan, stimulasi dengan pasangan yang tidak menjatuhkan selfworthnya. Malah sebaiknya dengan menikah, self worth ini semakin naik dan naik.

Lebih detil, Pak Asep memecah aspek-aspek yang dapat membangun self worth dengan lebih detil. Dan kami diminta untuk menentukan stimulasi atau kegiatan apa saja yang dapat menumbuhkan self worth seseorang. Dalam pelatihan ini adalah anak kita. Yang belum punya anak, maka self worth pasangan kita. Yang belum menikah, maka self woth orang tua atau calon pasangan.

Self worth ini masalah yang akan dibawa sampai anti ajal menjemput kita. Ketika kita lihat kakek-kakek bercerita tentang kejayaan masa mudanya, dapat kita maklumi. Bahwa kebutuhan self worth ini yang sedang dia tampakan. Maka simple, penuhi kebutuhan ini. Karena ini menjadi dasar seseorang dapat memperlakukan orang lain dengan penuh cinta, martabat dan sesuai realita.

Yang bahaya adalah ketika seseorang yang self worth nya rendah bertemu dengan orang yang self worth nya rendah. Maka? Berabe. Lalu saya dan pasangan merasa, mungkin kami juga memiliki masalah ini. Namun daripada mengorek ngorek luka atau menuduh, maka kami memilih untuk bagaimana kami berdua sama-sama bisa menstimulasi pasangan untuk memiliki self worth yang lebih baik. Juga anak-anak. Supaya gak jadi pribadi yang serba salah. Serba baper.

Oia, ada contoh anak mecahin gelas pas kecil. Bagaimana respon kita di analisis. Kira-kira dengan respon kita, anak merasa seperti apa? Anak merasa lebih berharga mana gelas apa dirinya? Ini sebagai contoh kecil bagaimana orang tua membentuk self worth anak. Apakah kita peduli sama apakah anak kita terluka? Atau kita lebih peduli gelas mahal yang dipecahkan? Bisa kita renungi sendiri yah.

Dari cara kita memperlakukan anak kita bisa mempengaruhi self worth anak kita. Dan… dari situ kita pahami bahwa yang namanya “tidak diperhatikan” itu bisa jadi menjadi kejahatan paling tinggi. Karena membuat orang merasa dirinya tidak berharga, diacuhkan.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s