Malas Memasak

Sekarang sedang masuk pada fase malas memasak. Entah kenapa rasanya gak pernah puas dengan hasil karya sendiri. Waktunya lama. Rasanya tidak enak. Ribet pulak. Padahal ada masa-masanya merasa senang masak.

Sepertinya effort memasak untuk sendiri dan memasak dua masakan untuk saya dan Khaleed emang terlalu besar dan time consuming. Pilihannya, stay hemat atau boros. Kalau hemat ya berarti gak usah masak dua kali. Tapi makan aja masakan Khaleed, gak usah ngikutin selera sendiri. Atau jadi boros, dengan cara beli makan di luar aja trus. 😀

Ada solusi lain yang lebih bijak kah?

Bukan “Heueuh” Bunda, “Iya”

Sekarang kayaknya setiap alasan atau penjelasan yang saya ungkapkan untuk menyikapi satu masalah dengan Khaleed akan menjadi rekaman di otaknya dan dia langsung dapat mengeluarkan ingatannya itu kapan saja. Seringkali penjelasan yang saya ungkapkan dia asosiasikan di kasus lainnya yang memang mirip. Ya, sepertinya perkembangan kognisi Khaleed sedang sangat berkembang.

Salah satu yang membuat saya tertawa setiap harinya adalah masalah penggunaan kata “Heueuh” untuk mengiyakan pertanyaan yang diajukan lawan bicara. Jadi penggunaan “Heueuh” dijelaskan oleh Eninnya bahwa itu tidak sopan. Yang sopan adalah dengan menjawab, “Iya.”

“Bunda, Khaleed minum Yakult ya?”

“Heueuh.”

“Bukan ‘heueuh’ Bunda, ‘iya’….”

“Oia, ‘iya’…”

“Bunda, Bunda nanya dong ke Khaleed.”

“Nanya apa?”

“Nanya ke Khaleed Bunda.”

“Hmmm…. Mas Khaleed baik sikapnya hari ini?”

“‘heueuh’… eh… ‘iya’…”

Dilanjut dengan ketawa cekikikan. Dan sekarang lagi hobi banget disalah-salahin dalam mengiyakan sesuatu dengan bilang ‘heueuh’ terus gak berapa lama diralat jadi ‘iya’. Kolkol…. You’re my sunshine…. :*

Obrolan Sabtu Itu dengan Eyang Ema

Sabtu sepi itu adalah ketika suami dapat kerjaan tambahan di kantor, anak diajak eninnya ke luar kota. Udah kebayang boring banget mana harus ngurusin pertukangan. Sebelum boring berkepanjangan, di-sms umi lah disuruh ke rumah eyang karena nampaknya lagi kurang sehat, temenin eyang.
Dan sabtu boring itu akhirnya gak kejadian dengan obrolan santai (santai gak yah) seperti ini,
“Yang, ada kabar baik. Jokowi dah sowan ke Prabowo.”
“Wah, bagus pemimpin harus seperti itu.”
*Dalam hati, edan naha jadi bagus gini citranya Jokowi*
“Tapi yang, Prabowo juga bagus statusnya di FB.”
Dan karena HP kecil, jadi eyang gabisa baca, dan minta saya bacain status panjang itu.
*saya bacain sampe berbusa. Panjang pisan*
“Bagus kata-katanya.”
*Nah,,, imbang kan sekarang. Hahaha. Ketawa jahat*
Dari situ mulailah obrolan bahwa memang kita mudah sekali terpecah belah. Indonesia ini beragam banget. Hal itu sudah kejadian sejak jaman Belanda. Kita berbeda mah memang sudah berbeda. Tetapi kadang perbedaan ini dimanfaatkan oleh kepentingan-kepentingan tertentu. Padahal walaupun kendaraan, pakaian, kulit, bahasa dan lain-lain yang beda itu, sebenarnya semua manusia ingin kehidupan yang progresif, aman, damai dan segala yang bagus-bagus. Kita semua sama-sama manusia. Continue reading

Khaleed dan Car Seat

Di balik sedih karena kangen berats ditinggal Ayah belajar di Korea, ternyata ada hikmahnya juga. Salah satunya adalah bisa secara konsisten membuat Khaleed duduk di car seat saat berkendara. Sejak umur 3 bulan, saya selalu membawa Khaleed kemana pun saya pergi (ya.. kecuali kalau ngantor atau ngajar). Mau tidak mau, sebagai supir andalan Ummi, kapan pun akhirnya selalu saya yang menyetir. Bisa saja sebenarnya Khaleed digendong siapapun penumpang mobilnya. Tapi itu kan tidak selalu. Akhirnya, daripada beubah-ubah, lebih baik secara konsisten, ada tidak ada penumpang lain, Khaleed duduk di car seat.
2013-08-16 16.57.00
Sejauh ini saya merasa menggunakan car seat lebih aman. Anak duduk, disabuk. Kalau ada guncangan tidak terlempar kesana dan kesini. Selain itu, untuk Khaleednya sendiri, dia bisa beristirahat. Duduk dengan nyaman, gak pegel dengan diubah-ubah posisi duduk. Lebih gampang tidur juga. Trus buat orang dewasanya, tidak pegel menggendong. Selain itu juga, orang dewasanya juga bisa istirahat.
Tapi soal car seat ini kita harus persisten. Karena gak selamanya Kh Continue reading

Bermain Itu Belajarnya Bayi Kita

Permainan bayi ternyata bukan sekedar permainan. Mainan yang telah dimainkan para orang tua dengan bayinya sejak zaman dahulu, ternyata mengandung filosofi yang luar biasa.
Siapa sangka permainan Cilukba yang disukai hampir seluruh bayi di seluruh dunia, permainan yang murah, tapi dapat menbuat orang tua dan bayi yang memainkannya terbahak-bahak dan tak pernah bosan. Ternyata meniliki filosofi bahwa sesuatu yang tidak terlihat belum tentu tidak ada. Saat kita memanggil nama anak kita sambil bersembunyi, bayi kita tahu ada kita. Walaupun saat itu dia tidak dapat melihatnya. Dan saat kita secara mengejutkan hadir, bayi kita membuktikan hipotesanya. Ya, orang tua mereka menang ada.
Dan permainan berikutnya adalah -saya menyebutnya- Touch The Bubble. Permainan ini mudah juga. Cukup menyiapkan cincin dengan ganggangan dari lidi. Kemudian sabun. Dan meniupnya.
Alhamdulillah, adik saya selalu antusias ikut bermain Touch The Bubble dengan Khaleed. Akhirnya kami berbagi peran. Saya meniup balon yang besar satu atau kecil-kecil tapi banyak. Lalu adik saya menjaga bubble agar tidak mudah meletus. Aktivitas menjaga bubble agar tidak hilang ini yang membuat Khaleed terlihat sangat antusias. Kami tertawa-tawa. Sangat antusias menjaga bubble. Mengarahkan bubble kesana kemari. Sampai akhirnya bubble pecah dan wajah Khaleed terlihat sangat bingung. Mungkin dia bingung kenapa bisa tiba-tiba bubble itu menghilang.
Mainan Touch The Bubble ini ternyata turut mengajarkan anak bahwa sesuatu yang pernah ada, bisa tiba-tiba hilang. Nothing last forever.
Semakin semangat ngajak byia anda bermain kan bun? 😀 karena belajarnya anak tuh yaaa…. bermain!

Jerawat Bayi

Khaleed Maher Fauzi, kecil-kecil dah jerawatan. Awalnya sempet kaget, maklum emak-emak baru. 😀 Masih rada kagetan kalau liat perubahan di bayi. Awalny cuman bintik putih satu dua. Tapi lama-lama menyebar dan banyak. Beneran kayak orang dewasa lagi jerawatan. Terus nyoba tanya ke emak-emak lain. Rupanya banyak yang ngalamin juga.

Jadi si jerawat bayi ini disebabkan oleh hormonal Ibu. Nah ini yang masih saya gak ngerti. Maksudnya gimana? Saran dari orang-orang sih tetep menjaga kebersihan diri, terutama bagian-bagian tubuh yang sering bersentuhan dengan bayi. Bisa jadi karena keringet kita juga. Atau kalau misalnya ngasih ASI, jangan lupa ditotol-totol make akapas dengan air hangat untuk ngelap tumpahan ASI di muka bayi.

Semoga cepet sembuh ya Nak… Wajahnya bersih lagi… Jadi Bunda gak takut elus-elus keningmu supaya kamu makin tenang tidurnya… :*

Suntik dan Sedih

Ada suatu hal yang cukup bodor dan baru dalam diri saya. Seumur hidup seingat saya, saya semakin lemah dengan jarum suntik. Dulu kalau denger cerita pas SD, kayaknya saya jalu abis. Paling gak takut kalau ada imunisasi di sekolahan. Termasuk cuek dan gak berasa abis diapa-apain. Tenang menghadapi suntikan. Dan udahannya pu, tetep cool, calm and confident.

Cerita sedikit berubah waktu pertama kali operasi bius lokal pas SMP. Mungkin karena bagian yang disuntik ini sudah sakit, jadi agak parno. Dan agak sedikit takut. Berubah lagi pas masuk kuliah, mulai ikut donor darah. Awalnya tetep 3C, tapi pas dirasain. Eh, buset, ini jarumnya gak biasa nih. Gede banget. Peureus.

Dan semakin lama semakin parno ma jarum suntik. Termasuk pas selama kehamilan. Setiap mau disuntik teh berasa deg-degan, ngilu dan pas di josssss, kerasanya sakit. Continue reading