KEJAMNYA DUNIA

Gak bisa tutup telinga, mata, hati dan pikiran gw dari ributnya TV di ruang KP. Jadi berita sepanjang hari dari mulai infotainment yang pada iseng wawancara Cinta Laura sampe berita kriminal yang isinya hal-hal anarkis yang terjadi di bumi Indonesia ini. Ternyata isinya TV di Indonesia gitu-gitu aja ya.

Tapi mirisnya, di tengah nyampahnya berita infotainment, TV kita dipenuhi dengan berita-berita pemicu dan inspiratif. Untuk orang melakukan kekerasan dan kriminal. Berita hangat tentang anarkisme selalu update yah. Urut gitu : Gank Nero di Semarang–Tragedi Monas by FPI–Kekerasan di STIP–Penganiyan Sebaya oleh Siswa SMA di Balikpapan–dan terakhir, bentrok Polisi dan Mahasiswa di Jakarta beberapa hari ini.

Setiap ada benda aneh yang menyarang di kepala, hal yang biasanya menjadi pertanyaan mendasar bagi saya adalah, “Hey, apa sih yang lo pikirin? Sampai bisa berbuat seperti itu.” Dan… *DrumRol*… Kemungkinan jawaban yang langsung dikirim oleh otak saya begitu banyak.

Kenapa ya kok ini seolah menjadi karakteristik bangsa kita saat ini? Rasanya dulu saya bangga sebagai orang Indonesia yang dikenal ramah, santun… Terlebih jadi orang Sunda… Tapi kok rasanya, sekarang bule-bule lebih ramah dan tidak anarkis seperti kita. Rupanya budaya ramah dan santun itu menjadi salah satu kunci keberhasilan seseorang atau kelompok. Sehingga budaya itu diadopsi oleh berbagai bangsa melalui budaya korporasinya untuk memajukan bangsa sekaligus meningkatkan harkat dan martabat sebuah bangsa.

Saya percaya, fenomena-fenomena di atas memiliki satu akar yang sama. Karena ini terjadi hampir di seluruh Indonesia dan tidak mengenal lingkungan. Kampus, Sekolah, Jalanan dll. Anarkisme indikator labilnya sebuah sistem kendali. Baik skala diri, keluarga atau masyarakat…

Huh… Pengen ngobrol banyak tapi gak bisa… Next time kita bahas soal, Why these happen…

Advertisements

BATAM (10)

Seafood di Nongsa.

Tadi malam, saya diundang ke makan-makan syukuran adik ipar sepupu saya yang baru saja diterima kerja di perusahaan penerbangan lokal. Tepatnya di Kafe Terapung di daerah Batu Besar. Cuman mereka menyebutnya Seafood Nongsa. Karena arahnya menuju Nongsa. Tempat ini ditempuh sekitar 20 menit dari pusat Kota Batam. Dekat sini terdapat resort yang kalau weekend biasanya penuh dengan turis dari Singapura. Tadi malam pun begitu. Rasanya sedikit sekali pribumi yang makan disana. Sebagian besar adalah orang Singapura. Ternyata, selidik punya selidik, tempat ini dekat pelabuhan penyeberangan ke Singapura.

Santapan yang khas disini adalah Rajungan dengan bumbu khas. Kalau kata saudara saya, bumbu di setiap tempat sea food punya rasa sendiri, berbeda tiap tempat. Beberapa makanan yang disuguhkan.

Udang Steam. Udang disini besar-besar. Bumbunya sederhana sepertinya. Yang paling ketara adalah bawang putih. Kalau dilihat sekilas, Nampak biasa-biasa saja. Tapi rasanya… Mak nyus! Gurih banget. Bumbunya kerasa sampai ke dalam daging yang tertutup oleh kulit udang nya. Enaknya disantap dengan bumbu asem pedas khas kafe seafood ini juga.

Rajungan Bumbu Pedas. Kalau melihat penampillannya, saya yakin, mmulut kita pasti langsung ngiler. Hehe. Warna bumbunya bicara. Kalau masakan ini sedap sekali. Tulangnya berbeda dengan kepiting. Lebih empuk. Sehingga tidak perlu capit besi untuk memecahkannya. Cukup digigit saja. Krek! Langsung pecah cangkangnya, dan dengan sedikit bumbu aslinya, rasanya sudah teras gurih sekali. Syruup! Rasa aslinya saja sudah sangat gurih. Apalagi diberi bumbu. Kalau makan rajungan ini, perlu usaha besar. Tapi disitulah kenikmatannya. Tapi sayang, perut saya tidak kuat. Suka langsung sakit perut. Jadi saya tidak mau mencoba lagi. Huhu. Padahal enak banget.

Sotong Goreng Tepung. Sotong ini mirip cumi-cumi. Hanya saja ukurannya lebih besar. Jadi sekali lahap, glek! Bisa bikin perut kenyang. Sederhana saja diolahnya. Goreng tepung menjadi favorit pengolahannya. Tadi malam, ini adalah makanan yang paling ditunggu. Betapapun enaknya yang lain, sotong tetap paling enak dan gurih. Mungkin karena rasanya enak dan tidak aneh. Tidak aneh? Ya. Untuk orang-orang yang jarang makan sea food, pasti cumi/sotong lebih familiar rasanya dibandingkan yang lain.

Baby Kailan. Tampak luarnya segar. Hijaunya bagus, daunnya lebar. Sekilas seperti sawi, tetapi kalau dicoba langsung, pasti terasa bedanya. Kailan adalah sebuah sayur. Karena yang dimasak adalah yang ukurannya kecil, makanya disebut baby kalian. Pas banget untuk menemani makan sea food. Kalau saya sendiri, alasannya karena bosan dengan cah kangkung. Di Jawa banyak, jadi bosen.

Gong Gong Steam. Baru denger kan? Apaan sih gong gong? Nah, ini masakan unik yang saya temui tadi malam. Gong-gong itu sejenis siput, tetapi bentuknya besar. Ppasti kita familiar dengan kerang-kerang yang bagus dan suka dijual untuk hiasan akuarium. Nah, pertama kali saya melihat makanan ini, saya bergumam, “Duh, cangkangnya sayang amat kalau dibuang. Bagus banget soalnya. Mending dibawa pulang dan dijadikan hiasan”. Hehe. Agak norak. Tapi serius loh, bentuknya bagus banget. Dagingnya sih biasa, layaknya kita makan kerang saja.

Cah Kang Kung. Biasa ya? Saya tidak sempat mencicipi. Karena perut saya ini sudah penuh dashyat. Inget timbangan juga soalnya. Hahaha.

Kerang Steam. Tak ada yang berbeda dengan yang ada di Jawa. Hanya saja ukurannya besar. Tapi kesel juga makannya. Ukurannya lebih besar dari yang di Jawa. Tapi ternyata ukuran cangkangnya saja. Tidak dengan dagingnya. Dagingnya kecil. Bahkan bisa dibilang sama dengan ukurang daging kerang-kerang di jawa. Cape deh… Untung makannya gampang.

Sambal Asem Pedas dan Sambal Manis Pedas. Sambal ini pasti ditemui di setiap kafe sea food di Batam. dari empat kafe seafood yang saya kunjunngi sih, rata-rata begitu. Saya lebih suka yang asem pedas. Karena lebih pas dengan seafood. Kalau yang manis pedas, rasanya lebih cook dimakan dengan cakue Bandung.  ;P

Air dan Buah Kelapa Muda. Jarang saya makan atau minum buah ini. Tapi karena kejadian keracunan rajungan beberapa waktu lalu, saya jadi memilih ini setiap makan seafood. Mungkin bisa meminimalisir racun atau alergi seafood. Hehe. Badan ini cupu ternyata.

Nah, mungkin beberapa list makanan di atas bisa jadi acuan teman-teman yang ingin berkunjung ke Batam dan menikmati seafood nya. Jangan masakan padang mulu. Hehe. Oia, for your information, seafood disini murah lo. Jauh lebih murah daripada di Bandung tentunya.

BATAM (9)

Ini adalah kos-kosan terbaik di Batam. Suasana nya nyaman. Tempatnya strategis. Pokoknya gak akan nyesel lah milih kos disini. Harganya ada tiga, Rp. 500.000,-, Rp. 1.000.000,-, dan rp. 1.600.000,-. Tinggal dicocokin aja kan ma doku? Hehe.

Pintu masuk dari Ruko. Kosan ini memiliki dua pintu masuk, dari komplek dan dari ruko. Saya lebih sering lewat sini. Soalnya gak ada anjing dan lebih dekat. Terlihat juga ada kantin, jadi kalau dating dari kantor, enaknya mesen Teh Obeng atau minuman kaleng yang dinginnya bet bet bet.

Ini tampak depan kamar saya. Enak karena dekat dengan ruang tengah, pintu keluar dan kantin. Tapi gak enaknya berisik kalau ada orang lewat atau ngumpul dengan gaduh di ruang tengah.

Nomor kamar. Nomor ke-10 dari tiga puluhan kamar disini.

Kriteria utama saya mencari kos-kosan di Batam.

BATAM (8)

Ternyata kosan saya dekat sekali dengan rumah kakak kelas yang memilih untuk menikah saat masih duduk di bangku kuliah. Kangen banget. Sudah lama tidak berjumpa. Ini foto baby nya yang baru berusia tiga bulan. Huhu. Kapan ya daku kayak Teh Kiki. ;P

Sofia yang lagi merhatiin Umminya rapat.

Daripada dia bengong mending saya ajak main. Hum… Wangi bayi enak. Hehe

Sofi unjuk gigi ke Tantenya… “Tante Adin… Liat! Sofi udah bisa balikin badan di matras!”. Wah, hebat nih Sofie.

Adinda Ihsani Putri

Yang semakin tidak kesepian di Batam

BATAM (7)

Ulaya, gadis kecil berusia dua tahun. Anak tunggal sepupu saya. Gak banyak sih yang mau saya ceritakan. Saya Cuma mau berbagi gambar saja.

Ulaya sudah berdandan cantik mau dibawa Ayah Bundanya belanja di Sabtu pagi.

Ulaya habis ikut shalat dengan saya.

Lucunya…

Senyum ikhlas(?)

Gampang lho mendapati Ulaya berpose kayak gini. Bilang aja, “Aya… Cantiknya gimana?”. Klik! Spontan ia langsung bergaya seperti ini.

Nah, yang terakhir ini, Ulaya dengan ayahnya, A Ipan.

Mirip gak? Hehe. Ya iyalah… Anak Bapak…

That’s All… Salam kenal dari Aya buat semua.

BATAM (6)

Jembatan Barelang merupakan salah satu tempat yang harus dikunjungi kalau sedang bermain-main ke Batam. Jembatan ini ada enam atau tujuh buah saya lupa. Yang jelas jembatan ini menyambungkan beberapa pulau kecil di sekitar. Juga Batam itu sendiri. Jembatan dua, tiga, empat dan seterusnya biasa saja. Yang unik bentuknya hanya jembatan pertama saja.

Ini saya punya beberapa fotonya.

Kalau berhenti disini enaknya sore hari menjelang maghrib. Selain udaranya yang sudah banyak angin dan mulai teduh, kita juga dapat melihat matahari terbit disini. Pasti indah sekali. Cuman yang bikin agak malas, kalau sudah mendekati jam segitu atau malam, sudah banyak pasangan-pasangan yang bermotor berdua-duan disana. Duh, jadi gak indah lah pemandangannya. Jadi malah kayak Gang D*** di Surabaya.

Jembatan ini kalau dilihat konstruksinya, mirip dengan jembatan layang di Bandung, PaSupati. Konstruksi yang didesain untuk tahan terhadap gempa. Hanya saja disini besi-besi besar itu tidak dicat oranye seperti di Bandung. Jumlahnya pun ada dua, kalau di Bandung kan hanya satu saja. Kalau boleh dibilang, Batam punya megah, Bandung punya Indah.

Di sepanjang jembatan ini juga dapat kita jumpai seafood. Yang seru, tempatnya biasanya berupa kafe terapung. Lautan di Batam bukan samudera. Jadi perairannya sangat tenang. Cocok untuk kafe model seperti ini. Sambil menikmati rajungan dengan bumbu asem pedas, sotong goreng tepung, udang steam dan lembutnya rasa buah kelapa muda, kita dapat melihat indahnya pulau seberang dan birunya laut. Sempat saya melamun dan membayangkan bermain canoo di perairannya. Terlebih saya melihat pemandangan ini. Tapi untuk orang-orang yang takut air atau naik perahu, tentunya kafe ini tidak saya rekomendasikan. Boro-boro makan, melihatnya saja mungkin sudah mual-mual.

Melihat seorang anak kecil duduk beristirahat dengan canoo nya. Rasanya ingin bilang ke adik kecil ini, “Dik, minjem bentar boleh?”. Tapi tidak enak. Soalnya suasana saat saya kesana kurang santai. One day may be.

Nah, mungkin segitu dulu ceritanya. Nice to share.

BATAM (5)

Pagi ini segar. Sayang saya baru benar-benar menikmatinya sekira pukul 09.00. Karena tadi baru tidur pukul 5.00. Usai menyaksikan pertandingan mendebarkan perempat final EURO 2008 antara Rusia dan Belanda. Yang dimenangkan oleh Rusia dengan skor 3-1.

Pagi ini saya langsung mandi, mencuci baju dan menyetrika. Perut kemudian memanggil-manggil marah. Minta diisi. Dua minggu disini, saya kenyang dengan masakan Padang. Rela akhirnya jalan-jalan keliling komplek seberang untuk mendapati masakan lain. Dapatlah saya makanan khas Jawa, “Pondok Klaten” namanya.

Masakannya Jawa banget. Tongseng kambing, ayam bakar, soto ayam, pecel lele dan lain-lain. Minumannya tetep “Teh Obeng”. Itu adalah sebutan khas orang Batam untuk es teh manis. Lucu juga ya? Saya senang sekali menyebutnya.

Enak banget. Nikmat banget. Kangen ini terobati. Masakan Jawa. Ho… Emang lidah saya banget Jawa itu. Sempat berfikir untuk menjadikannya tempat makan tetap disini. Sudah sangat komplit variasinya. Tetapi tampaknya itu sulit terwujud. Mahal sekali. Sekali makan bisa Rp. 13.000. Sedangkan kalau di Padang bisa Rp. 9000 – Rp. 11.000.

Waduh, nampaknya memang hanya bisa jadi tongkrongan seminggu dua kali aja “Pondok Klaten” ini.