Catatan Mentoring: Anak Gak Nurut?

Konon katanya satu dari tiga masalah yang dikeluhkan oleh orang tua adalah “anak gak nurut”. Hmmm. Sounds familiar? 🙂 Saya begitu soalnya. Banyak dari kita menginginkan anak-anak kita untuk nurut sama kita. Salah kah? Tenang, tulisan ini tidak akan menghakimi salah atau benar memiliki keinginan itu. Tapi kita akan bahas sisi lainnya aja. Yaitu, bahwa “nurut” atau kepatuhan itu harus dibangun.

  • Kelekatan itu penting

Sebelum kita mulai, sekarang kita coba bayangkan dulu yah, kalau ada orang yang amat sangat kita cintai, meminta kita melakukan sesuatu, peluang kita untuk memenuhinya besar atau tidak? Gimana kalau yang meminta kita melakukan sesuatu itu adalah orang yang kita benci? Lebih berpeluang mana kita untuk nurut? Sama orang yang kita sayangi atau yang kita benci? Sepertinya semua bisa bersepakat yah, bahwa peluang kita nurut akan lebih besar jika yang memintanya itu adalah orang yang kita amat sangat sayangi. Maka kelekatan itu adalah modal kita untuk menyeleraskan keinginan kita dan anak. Kalau ini tidak ada, maka kita seperti orang lain, tidak penting untuk didengarkan anak kita. Apalagi kalau harapan kita tidak sekedar “asal nurut”, tapi ada tambahan “harus ikhlas”, wah lebih challenging lg. 🙂

  • Tetap hargai anak kita dengan mengijinkan mereka mengeluh atau cemberut dalam kepatuhan

Siap gak sih kita dengan “ke-gak ikhlas-an” anak kita? Misal aja nih, saya meminta Khaleed untuk menaruh semua barang ke tempatnya setelah dia pulang sekolah. Disitu badannya lelah. Pengennya tidur. Lalu dia tetap melakukan seperti yang saya minta, tapi sambil cemberut atau ngedumel. Gimana tuh? Cukup kah untuk saya? Sebaiknya memang saya tetap perlu bersyukur bahwa Khaleed mau memenuhi perintah saya. Perkara mengeluhnya, ini yang nanti bisa kita perbaiki di lain waktu saat suasana hatinya tidak lagi bermasalah. Karena kalau saya semprot pada saat itu juga, “Yang ikhlas dong mas… itu kan juga buat kebaikan mas Khaleed dan bla bla bla…” Anak justru malah merasa kalau sia-sia juga diturutin, tetap aja negatif respon kitanya. Jadi jangan lupa tetap menghargai anak kita yah. Kalau bisa gunakan kata-kata ajaib juga seperti tolong dan terimakasih.

  • Pada dasarnya anak itu ingin menyenangkan hati kita

Yang perlu diingat juga, pada dasarnya, anak-anak itu ingin sekali menyenangkan orang tuanya. Kenapa? Karena mereka butuh untuk disayang oleh kita. Namun, kebutuhan ini akan semakin berkurang ketika anak-anak mulai mandiri. Karena mereka tidak lagi bergantung dengan kita. Itulah kenapa, semakin anak kita besar akan semakin sulit untuk kita berharap anak-anak menuruti semua harapan dan kemauan kita.

  • Pemberontakan kecil wujud kemandirian anak

Sebagai orang tua, kita juga harus siap-siap dengan pemberontakan-pemberontakan kecil. Hal ini wajar ketika anak-anak mulai berkembang kemampuan berfikirnya, sehingga dia memiliki lebih banyak alternatif dalam suatu hal, dibandingkan ketika dia masih kecil. Pilihan-pilihan itu akan semakin terbuka ketika anak-anak semakin megeksplor lingkungannya, seperti sekolah, tetangga, keluarga, dll. Maka pemberontakan ini jangan selalu dianggap negatif, karena sisi positif dari pemberontakan ini adalah wujud kemandirian. Anak yang mandiri, dia mampu menyelesaikan masalahnya tanpa bantuan orang lain.

Nah sampai sini, saya boleh yah bertanya, apakah kita benar-benar yakin bahwa kita mau punya anak yang penurut?

Buat saya sendiri, pertanyaan ini agak sulit dijawab. Karena di satu sisi, saya senang jika anak saya mampu berfikir dan memilih (mandiri), tapi apakah saya siap juga untuk menerima ketidaksetujuan? Nah, akhirnya saya berfikir, at some points, saya pengen anak saya nurut. Tapi, at other points, saya akan membebaskannya memilih. Mungkin ini yang paling bijak, karena kita gak mungkin terus menerus mengontrol hidup anak kita sesuai kemauan kita.

  • Refleksi diri: apakah kita selalu mematuhi orang tua kita?

Hal tesebut akan lebih mudah kita pahami dengan menjawab pertanyaan, apakah kita, sebagai anak, selalu menuruti semua yang orang tua kita mau? Kalau jawabannya tidak selalu, apakah itu membuat kita menjadi anak yang buruk? Kita jawab masing-masing aja. Mungkin dari situ kita bisa lebih bijak dalam hal “nurut-nurutan” ini sama anak-anak kita. Dan kita akhirnya punya fokus, hal-hal apa saja yang benar-benar kita ingin anak kita menurutinya. Karena semakin banyak dan gak fokus, ujung-ujungnya akan menambah tabungan emosi negatif kita dan anak kita, lebih jauh lagi kita jadi kehilangan hal-hal penting yang akan kita ajarkan ke anak kita.

  • Jelaskan hikmah dan berikan alternatif untuk anak

Sekarang mari kita lanjutkan dengan menjawab pertanyaan tersebut dengan, “ya, bahwa di beberapa hal, kita ingin anak kita nurut.” Nah gimana tuh caranya? Yuk kita pelajari bagaimana Al-Qur’an melarang dan menyuruh sesuatu kepada manusia. Dalam Al-Qur’an, semua perintah dan larangan itu memiliki penjelasan. Misal, berzina. Allah melarang kita berzina karena itu adalah perbuatan yang keji. Selain itu hal tersebut dapat merusak nasab, transfer penyakit dan menodai kehormatan.

Berikutnya, ketika Allah melarang berzina, tapi keinginan itu ada, maka Allah berikan alternatifnya, yaitu berpuasa atau kalau ada pasangan yang siap ya menikah. Jadi kalau kita melarang sesuatu, pastikan kita memberikan alternatif yang bolehnya apa? Alternatif ini membuat anak lebih berdaya karena memiliki pilihan yang mungkin lebih dia sukai. Jadi gak sekedar distop keinginannya. Buat anak ini adalah bagian dari proses pendewasaaan. Dimana manusia dewasa itu akan selalu mampu berfikir dan memilih, untuk selanjutnya mengembangkan kemampuan memutuskan dan merelakan.

  • Biarkan anak belajar dari kesalahan

Tapi gimana kalau anak kita memilih hal yang tidak sesuai dengan keinginan kita dan ternyata itu salah? Nah, disini kita bisa menerapkan sejauh apa ketidaksesuaian itu, jika itu melanggar agama yah mungkin kita bisa lebih kuat lagi memberikan alasan atau konsekuensinya. Tapi jika itu masih tolerable, kita dapat memberikan anak kita kesempatan untuk menjalani pilihan yang salah agar dia belajar.

  • Jurus terakhir: Award and Punishment

Tahap terakhir yang dapat kita tempuh saat kita ingin anak kita nurut adalah menerapkan award and punishment. Karena dalam hidup, ada beberapa hal yang kita yakini sebagai kebenaran yang solid dan sangat penting. Sehingga kita ingin anak kita benar-benar melakukannya. Namun yang perlu diketahui dari cara terakhir ini adalah award and punishment ini tidak perlu diterapkan di terlalu banyak hal. Dan pastikan untuk mendiskusikan terlebih dahulu, jangan ujug-ujug menghukum tanpa ada perjanjian atas konsekuensinya dulu. Ketika sudah diskusi, maka eksekusi semua kesepakatan secara konsisten. Jangan kendor atau berlebihan. Selain itu, pastikan hukuman adalah sesuatu yang akan dihindari anak. Karena tujuan kita bukan anak mengambil opsi hukuman, tetapi berusaha menghindari hal tersebut dengan mengikuti aturan.

Dari topik ini sebenernya saya belajar, bahwa kuasa kita pada anak kita itu terbatas. Ada usaha yang dapat kita tempuh, tapi semua itu tetap tidak pasti hasilnya. Karena anak kita adalah manusia dengan kemampuan berfikirnya sendiri. Kita kelak akan sampai pada titik tidak mudah dalam mengatasi keinginan yang berbeda. Tapi saya merasa perlunya berdoa dan bertawakkal kepada Allah. Terutama berdoa agar apapun pilihan yang anak-anak saya pilih, semoga selalu dalam ridho Allah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s