Tetot Bunda

Berasa udah melakukan semua yang terbaik untuk pemulihan Khaleed. Anaknyah manjat-manjat, aktivitas teu daek cicing layaknya biasa dari H+1, tapi kok aneh ada yang aneh yah. Bagian jahitan berprogress tapi kok kepala pen** nya masih basah gitu yah. Trus kok kayak gak da perubahan signifikan, kering kek, berubah warna kek.

Rupanya eh rupanyaaaaaa… Pas kontrol hari ke-4 baru ketauan. Ternyata, kepala pen** itu harus ditetesin jga, bukan cuman luka jahitannya aja. >_< Maafkan mask Khaleeeeed… Si suster cuman bisa geleng-geleng aja, kok gak ada progres luka khitannya. Akhirnya saya minta penjelasan detil dan dicontohin bagian-bagian mana nya saja yang ahrus dibersihin dan diobatin. Lulus. Insya Allah.

Masya Allah, ternyata dengan dua hari ditetes aja luka jadi kering. Tapi… Anaknya kan gak bisa diem yah. Pas main sama Alisha pen** nya kejedug benda keras yang saya gak tau apa, karena gak lagi disitu. Pas dibuka, darah segar keluar dengan banyaknyooooo. Ampunnnn lukanya kegores, lebih tepatnya kulit yg luka ngelupas. Dan… ulangi lagi yah pengobatannya sampe kering…

Jadi buibu yang berniat nyunatin anaknya, selain menyiapkan keberanian n kekuatan anak, disiplin dalam penyembuhan, pastikan anaknya tidak melakukan hal-hal yag membahayakan pen** nya. Otherwise, ulangi dari awal yah.

Dan ternyata peernya disini buat saya. Di saat saya dah santai karena Mas Khaleed pas khitan dan pengobatan ampu mengatasi rasa takutnya, ternyata kalau berani pun harus dijaga tingkah polahnya. Akhirnya saya memperpanjang masa kerja di rumah Enin sampai benar-benar pulih. Gak mungkin kan disekolahin anak ini. Mesti diawasin gerak-geriknya dan masih kudu diingetin supaya gak jumpalitan.

 

Advertisements

Pemulihan Khitan Khaleed

Kami memutuskan untuk merawat Khaleed pasca khitan di Enin. Kenapa? Karena saya akan tetap menulis paper. Alisha di Daycare dan Khaleed di rumah sama saya. Ada wifi juga pan. Jadi bakal lebih mudah kalau di Cisitu. Selain itu juga, Enin berniat mengadakan syukuran di rumahnya mengundang saudara dan kerabat.

Khaleed yang belum tidur lagi dari jam 2 pagi, ternyata sampai rumah malah seger. Main. Jongkok. Berdiri. Ngeri sayanya. Tapi mungkin karena obat biusnya masih bekerja, jadi dia gak merasakan sakit. Sampai akhirnya dia sempat santai sebentar dan mengeluh, “Duh, Bun, kok sakit sih.” Nah, mulai deh abis obat biusnya. Mulai juga rewel dan rewelnya, minta teman-temannya datang hari itu juga. Padahal undangan syukuran itu besoknya, hari Sabtu.

Akhirnya saya kontak sepupu saya, Nuvi, menanyakan apakah Farel boleh saya jemput dari sekolahnya untuk main ke rumah dan menemani Khaleed? Qadarallah, boleh dan Farel pun mau pas saya jemput di Sekolah. Awalnya mereka berdua saling bingung mau main apa. Lah yang satunya cuman bisa diem aja make sarung. Hehe. Tapi lambat laun mereka berinteraksi normal. Hanya mainannya aja yang beda. Main Lego. Hehe. Biasanya kan lulumpatan main kesana kemari. Hah? Apa itu lulumpatan? Googling lah…. 😛 Jangan males.

Waktu makan siang pertama, Khaleed masih sedih karena dia merasa sakit. Jadi cuman masuk makanan dikit. Minum obat lalu diobatin lukanya. Masya Allah, gak mau. Khaleed ketakutan pas saya mulai mendekati p***s nya. Saya jelaskan kalau ini untuk kecepatan penyembuhannya. Sambil nangis aakhirnya berhasil juga diobatin.

Waktu sore saya mikir gimana yah caranya agar prosesnya lebih soft. Akhirnya saya inget pelajaran wiring otak anak. Anak itu harus nemu why why why. Akhirnya saya coba deh untuk pas ngelap.

B: Mas, ayo Bunda lap yah badannya.

K: Gak mau.

B: Khaleed mandi kan tadi shubuh, seharian main sama Farel, kira-kira badan Khaleed kotor gak?

K: Kotor.

B: Kalau kotor harus diapain?

K: Dibersihin.

B: boleh gak Bunda mandiin Khaleed?

K: Gak, nanti sakit kena air.

B: Jadi gimana caranya Bunda bersihin badan Khaleed?

K: Di lap.

B: Oke yah, sekarang Bunda lap badan Khaleed.

Alhamdulillah lancar proses pengelapan. Berikutnya adalah mebersihkan bagian sekitar luka dengan rifanol. Karena tumpahan obat jahitan kan kena ke buah zakarnya dan paha. Sarungnya pun kotor.

B: Sekarang Bunda mau bersihin buah zakarnya Khaleed yah.

K: Gak mau.

B: Kenapa?

K: Sakit.

B: Emang kalau buah zakarnya bunda sentuh bakal sakit?

K: Iya.

B: Gak mas, yang bakal sakit kalau disentuh itu adalah luka jahitan. (Saya jelasin make tangan saya, mana luka jahitan, mana buah zakar) Jadi kalau Bunda sentuh yang lain, walaupun itu dekat luka, gak akan sakit. Tapi Khaleed takut, ya kan?

K: Iya.

B: Nah, sekarang Mas Khaleed percaya gak sama Bunda? Kalau Bunda gak akan sentuh luka jahitan Mas Khaleed? Karena Bunda gak mau sakitin Mas Khaleed?

K: Percaya.

B: OK. Kalau gitu sekarang mas angkat tangan Mas Khaleed dan Bunda bakal bersihin sekitar luka mas khaleed, bukan lukanya.

K: Tunggu Bun. Khaleed mau bilang Khaleed berani, Khaleed gak sakit.

B: OK

Dan alhamdulillah lancar proses ngebersihinnya. Begitu seterusnya. Dan amazingnya…. Doi jadi berani jalan, duduk, dan beraktivitas seperti biasa. Kekuatan itu dimulai dari pikiran yah mas. Kalau kamu takut, maka kamu akan takut. Kalau kamu berfikir kamu berani, kamu akan berani. Kalau kamu pikir gak bisa, kamu akan gak bisa. Jadi sekarang peernya gimana caranya supaya Mas bisa selalu berfikir positif.

Dan ini penting mas. Sekarang tantangannya khitan. Besok besok bakal beda lagi. I want you to be a positive man.

Persiapan dan Khitan Khaleed

Cerita tentang khitan sudah lama sekali saya sounding ke Khaleed. Dulu saya membelikan buku tentang Anak yang Berani. Dan salah satu ceritanya ada yang mengenai khitan. Dalam cerita itu dijelaskan kenapa harus khitan, sakitnya khitan dan serunya khitan karena banyak yang kasih hadiah. Yang kuangnya menurut saya dari penjelasan buku ini adalah bagian dapet hadiahnya. Jadi saya harus cuci otak khaleed dulu, benerin kalau niatnya karena Allah. Bahas deh tuh hadits tentang innamal amalu binniat. Semoga masuk yah mas penjelasan Bunda.

Nah, walaupun sudah disounding dan Khaleed sudah mau, tapi sulit sekali bagi saya memilih waktu khitan. Mungkin sudah dua tahun lalu mencari-cari waktu dan akhirnya, saat sepupunya pada mau dikhitan, akhirnya Khaleed yang jadi pengen juga dan pas Khaleed dah mau gitu, langsung deh eksekusi.

Langkah pertama, saya cari info tentang metode khitan. Yang saya denger ada tiga yah, laser, clamp dan konvensional. Saya memilih metode konvensional karena banyak yang memilih dan review orang-orang tentang clamp adalah, penis anaknya harus benar-benar sheat dan normal. Karena emaknya Khaleed males cek-cekan akhinya langsung aja milih yang konvensional. Metode yang dah dipake dari zaman dahulu kala.

Setelah memutuskan metode khitannya, saya langsung hubungi klinik khitannya. Saya memilih Seno Medika. Simple. Karena reputasinya bagus dan katanya prosesnya menyenangkan untuk anak-anak. Oia? Masa? Dan akhirnya saya datang deh kesana. Saat mendaftar, saya langsung konsul. Konsul itu wajib untuk memeriksa apakah anak kita ada kelainan atau gak. Sehat atau gak. Disana juga dijelaskan gimana persiapan khitan. Dan ditemukan, ternyata Khaleed phimosis. Googling sendiri yak apa itu phimosis.

Nah phimosis akan membuat proses penyembuhan Khaleed lebih lama dari anak-anak lain. Kalau yang lain seminggu, mungkin Khaleed dua minggu. Terus kalau yang normal jahitan akan mengering bisasa, kalau kasus Khaleed akan disertai nanah. Alhamdulillahnya, ternyata phimosis itu lebih cepat lebih baik dikhitannya. Saya bersyukur karena menyegerakannya. Karena kalau gak bisa berakibat buruk ke depannya.

Setelah konsul, saya memilih tanggal dan kelas. Tanggalnya seminggu setelah konsul (bisa besoknya langsung juga). Saya daftar khusus. Karena kata perawatnya, umum pun gak apa-apa. Yang berbeda hanya obat biusnya saja dan fasilitas tunggu berbeda kenyamanannya dan souvenirnya juga beda. Banyak dong bedanya. Haha. Lalu saya menceritakan ke Ummi saya tentang pilihan ini. Ternyata beliau was-was cucunya dapet obat yang kurang bagus. Akhirnya beliau mindahin deh ke VIP. 🙂

Sebelum hari H, saya lebih sering ngobrolin lagi tentang khitan. Kali ini lebih spesifik tentang proses hari H seperti yang dijelaskan saat konsul. Salah satunya adalah harus bangun pagi sekali, karena khitan mulai jam 4.30. Selain itu ada aturan seperti dilaang minum susu dan teh manis sebelumnya. Harus sarapan dulu, dll. Semua tentan proses yang dijelaskan pas konsul semuanya saya jelasin ke Khaleed.

Alhamdulillah, semua persiapan lancar. Bangun gak susah. Mau makan dulu. Dan gak pengen minum susu dan teh manis. Ada lagi, disuruh mandi dulu yang bersih juga udah. Tapi saking lancarnya, kami jadi kepagian datengnya. Belum buka. Hehe. Akhirnya kami menikmati muter-muter jalan bandung yang kosong. Kapan lagi kan. 🙂

Begitu sampai di klinik, dapat urutan pertama (karena kepagian tea kan). Kami pun menunggu di ruang tunggu sambil bermain. Alisha pun melek dan seger, jadi menambah keceriaan proses menunggu giliran.

Kurang lebih setengah jam, nama Khaleed akhirnya dipanggil. Hanya boleh dua orang yang naik ke ruang menunggu di atas. Dan kosong melongpong. Di ruang tunggu, kami dijelaskan kalau anak nanti akan masuk sendiri ke ruangan khitan begitu namanya dipanggil. Di ruang tunggu, nyaman, ada snack dan minuman hangat. Enak lah shubuh-shubuh ngopi. Begitu nama Khaleed dipanggil, kami anter Mas Khaleed ke pintu masuk khitan dan kami menunggu di luar. Saya bertanya ke petugas disitu, apakah sempat kalau saya dan suami shalat shubuh dulu. Dia bilang sempat, jadi kami shalat shubuh dulu.

Setelah kembali dari shalat, kami dipanggil lagi. Dijelaskan tentang perawatan pasca khitan yang sangat menentukan kecepatan pemulihan. Ada obat minum anti nyeri, antibiotik dan obat tetes untuk luka jahit. Selain itu ada rifanol untuk membersihkan bagian sekita luka jahit. Dijelaskan juga tata cara pipis. Makanan yang harus dihindari dan yang terkahir, jadwal konsul pasca khitan.

Tak lama setelah itu, Khaleed keluar deh. Dia keluar dengan matanya yang kayaknya habis nangis, bawa souvenir dan foto khitan. Oia, di ruang tunggu juga kami sempat berfoto ada photo corner sama dinosaurus, lucu deh.

 

 

Ajarkan Anak Tentang….

Adakah masalah yang sangat berat? Adakah masalah yang tidak bisa selesai? Adakah masalah yang bisa membuat kita hancur? Ada. Ketika kita tidak tenang. Ketika kita tidak sabar. Ketika kita marah. Ketika kita menginginkan sesuatu yang berlebihan. Ketika kita sulit bersyukur. Ketika kita tidak menggantungkan hati ini kepada Allah. Maka masalah menjadi sangat besar.

Kadang kita sombong dengan akal kita. Kita sombong dengan apa-apa yang Allah berikan, gratis!, sama kita. Kadang kita merasa kita paling pantas mendapatkannya. Kadang kita merasa perlu menunjukkan ke dunia, aku bisa!

Ketika Allah menguji, sedikit saja, kita mudah kecewa. Kita mudah marah. Kita mudah untuk berhenti berusaha. Kita lupa, kalau Allah sudah berfirman, Shalat… Sabar… Shalat… Sabar… Semua kondisi yang mungkin tidak nyaman, tidak enak, tidak sesuai harapan, diterima dengan ikhlas sambil terus berjuang dengan penuh kseabaran. Ya Allah saya sudah sabar lama sekali ya Allah. Terus sabar. Terus berusaha. Tanya ke Allah melalui shalat, apakah sudah benar ya Allah jalan yang aku pilih? Kalau Allah berkehendak, Allah akan meneguhkan hati kita. Juga kalau Allah berkehendak, Allah mantapkan hati kita untuk memilih jalan yang lain. Berusaha dan pasrahkan.

Begitu banyak nikmat yang Allah berikan pada kita. Tanpa bisa kita hitung. Kenapa sulit untuk bersyukur? Kenapa mudah untuk kecewa?

Semua orang bisa bahagia. Baik ketika kita harus tidur di kamar hotel termewah, maupun ketika hanya tidur beralaskan kardus bekas. Semua orang bisa bahagia. Baik ketika harus makan buffet masakan koki terhebat, mapun ketika harus makan segenggam nasi tanpa teman. Semua orang bisa bahagia. Baik ketika sedang menjadi juara, menjadi yang terbaik, di suatu bidang, maupun ketika sedang di pandang sebelah mata oleh manusia.

Ajarkan anak-anak kita untuk bersabar. Ajarkan anak-anak kita untuk ikhlas. Ajarkan anak-anak kita untuk bersyukur. Karena semua orang tua menginginkan anaknya hidup bahagia.

 

Empowering Not Exploiting

Menjadi orang tua dari Anak Laki-Laki berusia 5 tahun memiliki tantangan tersendiri. Ketika anak mulai bersekolah, godaan sebagai Ibu-Ibu adalah mengembangkan potensi anaknya. Saat anak suka nyanyi, pengennya anaknya les atau ikut lomba nyanyi. Ketika anaknya suka motorik kasar, pengennya anaknya les olah raga atau ikut lomba olah raga. Ketika anaknya suka permainan konstruksi, pengennya belikan mainan yang menunjang kesukaannya itu. Salahkah?

Pertanyaan itu sulit sekali saya jawab. Rasanya kalau uang saya tidak berbatas ingin mengembangkan semua minat dan bakat anak. Tapi apakah itu yang mereka perlukan? Saya bingung sekali menjawab ini. Apakah itu yang diperlukan anak usia 5 tahun? Kamu perlu nanya psikolog? Eits, bentar dulu. Ya. Saya adalah orang yang ketagihan psikolog. Sampai akhirnya saya bertanya sendiri, kenapa kamu gak PD banget sih jadi orang? Tiap ambil keputusan harus ada rekomendasi psikolog? Hehe. Bukan berarti merendahkan peran psikolog. Tapi saya jadi berfikir, kan manusia juga diberkati akal dan pikiran, juga pengalaman, maka belajar lah Bunda, untuk melihat, mendengar dan merasakan sendiri. Apa sebenarnya yang buah hati Bunda butuhkan?

Setelah mencoba melihat, mendengar dan merasakan, menurut saya anak saya butuh menjadi anak yang bahagia. Yang merasa bahwa Bunda sayang sekali sama dia dan sangat berharap ia menjadi anak yang bahagia, dunia dan akhirat. Nah, masalahnya susah banget nih nurunin itu semua untuk menjawab pertanyaan dasar yang pertama saya ajukan tadi.

Nah langsung lah saya analisis dua hal yang sedang dia gak suka sekarang ini:

  • Khaleed bosan berenang.

Khaleed suka sekali berenang. Sejak bayi. Dia belajar renang secara natural. Bahkan sebelum saya leskan, anak ini sudah bisa meluncur dengan kaki yang digerakan. Walaupun belum berani di kolam yang dalam. Saat saya leskan berenang, dia menjadi semakin PD dengan kemampuannya. Dia berani mengarungi kolam dalam. Dia mencoba bergaya bebas.

Namun belakangan ini, Khaleed sulit sekali mendengar guru lesnya. Yang dilakukannya kabur ke atas kolam. Bermain sendiri. Sampai saya mencoba memberikan pengertian setiap mau les berenang untuk mendengar apa yang guru lesnya katakan. Setelah frustasi, akhirnya pesan saya ganti, bersenang-senanglah mas di kolam renang. Sejauh ini masih tetap seperti itu. Dan juga sepertinya, salah satu guru renang yang expert belum sanggup menguasai Khaleed.

Dan akhirnya, saya dan suami memutuskan untuk berdialog sama Khaleed. Apa yang sebenarnya dia inginkan? Khaleed ingin berenang sama Bunda. Khaleed bosan berenang dengan guru les. Padahal guru lesnya sudah dipilih yang terbaik di tempat les itu. Lalu kami membuat beberapa kesepakatan. Pertama, Mas latihan renang dulu sama Bunda, baru boleh bebas renangnya. Kedua, saat Bunda olah raga (renang), Mas Khaleed boleh bermain di dekat Bunda berenang. Ketiga, Mas Khaleed menunggu Bunda ganti baju di tempat yang aman.

Ternyata keinginan kami sebagai orang tua yang menginginkan anak kami menguasai berenang sejalan dengan keinginan Khaleed yang juga sebenarnya ingin berenang tetapi bosan di tempat lesnya dan berharap Bundanya yang mengajari dia berenang. Selagi saya masih bisa menghandle, gak ada salahnya kita ikutin. Mungkin nanti ketika mas semakin matang dan belajar mengatasi rasa bosan, Mas bisa join lagi ke Klub Renang.

  • Khaleed tidak suka bermain angklung.

Saya dulu senang sekali bermain angklung. Saat di Korea, saya mengenalkan angklung. Di event internasional, saya kenalkan angklung. Bahkan di pelatihan leadership, saya memilih Angklung untuk ditampilkan. Kali ini, Mas Khaleed mendapat kesempatan dari sekolah (setelah diseleksi) untuk bermain Angklung. Namun dia menolak. Menolak degan serius. Ya Allah…. Mas… Kenapa atuh?

Akhirnya kami berdiskusi lagi. Menggali. Dan jawabannya adalah, Angklung itu bukan kesukaan Khaleed. Main Angklung itu pegal karena harus berdiri terus gak ada duduk dan tidurannya. Khaleed lebih suka ikut shalat berjamaah sama nari. Karena pas nari dan sholat itu, kadang-kadang kita berdiri, kadang-kadang kita duduk, kadang-kadang kita tidur. Khaleed juga gak suka Bun baris, karena harus berdiri lama. Khaleed juga kan mau jadi pebuat robot bukan jadi tentara, jadi gak perlu baris.

Jawaban ini sungguh membuat Bundanya bingung. DI satu sisi, saya menangkap apa yang dia sukai dan tidak sukai. Sepertinya anak ini bisa diam kalau bermain robot, lego atau lasy. Tapi di sisi lain juga gak pengen anaknya jadi quitter. Karena kan untuk periksa paspor, masuk pesawat, naik kereta, kita kan harus baris dan antri. Semoga kamu bisa membedakan yah nak, mana yang wajib mana yang sunnah. Kali ini Bunda kategorikan Angklung sunnah buat kamu. Hehe. Jadi diterimalah alasannya.

Kenapa saya ambil dua cerita ini? Karena di dua cerita ini saya merasa tipis bedanya antara empowering atau exploiting. Di satu sisi ingin memberdayakan bakat anak. Tapi jangan sampai exploitasi bakat anak. Dengarkan juga suaranya. Berdialoglah. Kalau menurut kita ini sesuatu yang wajib, maka siapkanlah manuver untuk dialognya. Kalau sunnah, lebih renggang. Gitu aja dulu sambil trus belajar menjadi orang tua yang lebih baik lagi ke depannya.

Bimbinglah saya Ya Allah…

Tangisan Khaleed Malam Tadi

Tadi malam, jadwal semua kacau. Kenapa? Karena saya masang mode santai. Tapi, rupanya, untuk anak-anak perubahan pola bisa cukup mengganggu dan bikin rungsing. Alhasil adek isengin mas. Mas nangis. Mas isengin ade. Dan Ade kembali isengin Mas pas baca Iqra. Akhirnya Mas sulit sekali fokus dan malah bercanda terus. Karena Mas sudah kelewat bercandanya, sama Saya diingatkan konsekuensi kalau sikap Mas Khaleed kurang baik, Bunda tidak akan temani mas tidur (FYI, kami sudah berpisah kamar, tetapi sebelum tidur masih dibacakan cerita dan ditemenin dulu). Dan… Mas mengulang lagi bercanda ke Adiknya.

Baiklah. Konsekuensi dilaksanakan. Saya dan Adik tidur di kamar saya (padahal biasanya Adik pun tidur sama Mas), Mas di kamar dia sendiri. Mas masuk dengan biasa aja ke kamarnya. Saya pun masuk ke kamar saya. Beberapa detik kemudian tangisnya Mas pecah. “Bun, Mas gak mau tidur sendiri.” Lalu mas mulai menangis meminta saya untuk menemaninya tidur. Kami berdialog terpisah pintu. Tentunya Mas berdialog sambil menangis.

Saya ingatkan kembali kalau kita sudah deal, kalau Mas keterlaluan bercandanya, Mas tidur tanpa ditemani Bunda dulu. Dialog cukup alot (ni anak hebat banget deh negonya). Sampai akhirnya, nego deadlock dan Mas balik lagi ke kamar. Tanpa nangis.

Tapi dari kamar saya terdengar tangisan lagi. Tapi tangisan kali ini, tidak kencang. Seperti tersedu-sedu dan sambil berbicara. Karena tidak kencang, saya tidak bisa mendengar.

Tak lama kemudian. Ada suara anak lelaki menarik nafas di depan pintu dan berkata, “Bunda, Khaleed sudah tarik nafas. Khaleed sudah tenang. Khaleed juga sudah berdoa ke Allah tadi di kamar supaya Bunda maafin Khaleed dan mau nemenin Khaleed tidur. Karena Mas masih takut tidur sendiri.”

*dan emaknya terenyuh. Masya Allah di kondisi dia yang lagi sedih dan putus asa, yang dilakukan adalah menenangkan diri dan berdoa ke Allah*

*Bunda aja masih belajar Nak untuk seperti itu*

Akhirnya saya keluar. Adik sudah tidur lelap. Kami berdialog lagi. Bagaimana seharusnya sikap kita kalau kondisi seperti tadi. Kemudian Mas nego, “Bun, sekarang Adik sudah tidur, Khaleed bisa baca Iqro lagi. Karena kalau ada Adik Khaleed gak fokus jadi pengen bercanda terus. Habis itu Bunda temani Khaleed tidur yah.”

Deal.

Lalu Masya Allah, tabarakallah Nak, bacaanmu bagus. Lancar. Berarti alasanmu tadi bukan mengada-ada. Kamu perlu fokus saat membaca Iqra. Besok-besok Adik yang harus dikondisikan dulu kalau Mas lagi belajar Iqra.

Akhirnya malam ini kutemani Khaleed tidur sampai terlelap, baru pindah kamar.

Ya Allah lindungilah jiwa-jiwa anak-anak kami. Dekatkan selalu padaMu. Sandarkanlah selalu padaMu. Sungguh saya hanya bisa menjaga sekejap titipanMu. Sungguh yang Maha Menjaga adalah Engkau.

Ngumpulin Draft Itu…

Jerawat bucat. Momok nulis hasil percobaan yang dah selesai kira-kira 4 bulanan lalu, beres juga. Dengan hasil, tidak memuaskan. Huhuhuhu. Akhir-akhir ini sulit sekali fokus dan melakukan tugas dengan berkualitas. Kebanyakan belanja, browsing, galau, halah.

Terus kemarin akhirnya dengan kecepatan kura-kura, draft SK 2 selesai ditulis. Saatnya dikasih ke promotor. Nah, kemarin diemail ternyata belum dibaca. Hari ini saya ngasih draftnya langsung deh tatap muka.

Tahu gak gimana rasanya? Rasanya… Kayak abis lempar bom ke orang. Terus pengen lari, tutup telinga, kali aja meledak. Huahahahaha. Yakin sih pasti dicoret sana-sini, dikatain gak bagus, ya ya ya… Lama-lama dah kebal. Wkwkwk. Bahaya.

Udah ah. Mari kita berdoa, semoga segera diapprove, sidang. Dan mulai tugas berikutnya untuk SK ke-3. Allohumma yassir wa laa tuassir.