Nyobain Hidup Sehat

Jadi, setelah liburan Tour de Asean kemarin, berat saya nambah 5 kilo. Masya Allah, bahagia kali yak. Sekarang demi menjaga kesehatan, saya berniat untuk hidup sehat yang insya Allah bisa bantu nurunin berat badan juga. Akhirnya saya memilih coach untuk hidup sehat.

Coach saya membimbing saya bertahap. Pertama-tama belajar menggantikan nasi putih engan nasi merah. Setelah terbiasa, mulai mencoba mengganti makanan yang digoreng dengan yang dibakar. Berikutnya, menghindari santan. Dan yang tetap dari awal adalah minum air putih 3.5L per hari. Alhamdulillah, setelah 2 minggu dijalani, badan jadi gak gampang lelah dan berat badan turun 3.7 kg.

Awalnya pusing mencari waktu untuk bergerak selama 30 menit, tapi lama-lama sudah bisa menjadwalkan 30 menit shubuh-shubuh saat anak-anak belum bangun. Kalaupun bangun, mencoba meluangkan waktu di sore hari menjelang maghrib.

Coach saya membantu saya melek kesehatan. Melek bahwa kebiasaan saya memang sangat memungkinkan saya untuk merasa lelah dan lesu. Plus berat nambah banyak. Hidup sehat ini juga salah satu upaya saya, untuk bisa memainkan aktivitas super di depan mata, being full-time mom sambil ngejar target kelulusan S3.

Bismillah. Mohon doanya yah teman-teman.

Advertisements

Sebulan di Tempat Baru

Alhamdulillah, hari ini tepat sebulan kami pindah ke tempat baru. Ingat bagaimana deg-degannya kami memutuskan untuk tinggal bersama mulai saat itu. Kami takut bagaimana nasib S3 saya, bagaimana sekolah anak-anak, bagaimana lingkungan baru kami nanti, bagaimana jarak Ayah ke kantor, dll. Namun, saya selalu ingat, bahwa Allah yang bisa menenangkan hati kita. Maka terus berdoa ke Allah agar mendapatkan tempat baru yang semakin mendekatkan kita ke tempat peningkatan Ilmu dan Iman yang baik. Qadarullah, sampailah kami di BSD City ini.

Di tempat baru, kami mendapati tetangga-tetangga yang menyenangkan hati. Tempat sayur yang menyenangkan hati dan dompet. Masjid yang menyenangkan hati juga karena masya Allah, tabarakallah, ramai kajian dan menjangkau baik anak-anak maupun dewasa. Selain itu, disini ketemu komunitas mentoring parenting. Dimana ketemu teman-teman yang selain sholehah, semangat untuk belajar ilmu pendidikan anaknya pun tinggi, asyik pulak. Alhamdulillah.

Sekarang yang masih PR adalah bagaimana bisa mengerjakan riset di tengah mengasuh anak dan beradaptasi di lingkungan baru. Kemarin saya mengijinkan diri saya untuk adjust selama sebulan sampai bisa kerja lagi. Alhamdulillah hari ini saya sudah menemukan polanya. Doain yah, semoga selain berkumpul lagi sama suami, anak-anak dekat dengan kedua orang tuanya, Bundanya punya banyak waktu untuk memperhatikan anak-anak dan suami, Bundanya bisa juga lulus S3 nya.

Laa haula wa laa kuwwata illaaa billaaah. Bismillah! Semangat!!!!

Kehidupan Kami di Yangon

Yup. Kami tinggal disana sebulan saja. Karena suami kembali ditempatkan di Jakarta. Alhamdulilah.

Di Yangon, hiburan kami sedikit. Mall lagi, mall lagi. Tapi disini yang bikin nyaman apa coba? Orang-orangnya kebanyakan bisa bahasa Inggris dan ramah-ramah. Gak banyak liat orang teriak-teriak atau nyolot. Lebih banyak liat orang senyum. Mereka juga gak aneh sama orang asing. Gak kayak, duh gmau ngomong gw, lo aja.

Harga disini pun beda-beda tipis sama di Bandung. Di Bandung yah, bukan di Jakarta. Jadi relatif lebih murah di Yangon. Terutama grab/taksi nya. Mungkin karena jalanan gak terlalu macet juga yah dan karena mobilnya mobil tua semua. Konon katanya, mereka banyak mengimpor mobil bekas dari Jepang. Jadi mobil-mobilnya banyak yang jadul. Jadi Yangon ini bisa jadi pilihan liburan hemat atau kalau kerja disini, dijamin savingnya banyak. 😀

Kami datang ke Yangon, di musim yang memang kurang asyik, jadi gak gitu banyak bisa nikmatin ruangan terbukanya. Istilah mereka moonsoon. Jadi musim hujan. Dan hujannya disini tuh guede banget. Deras dan anginnya kencang. Jadi beneran bikin males kemana-mana. Plusssss, tiap hari. Non stop. Jadi kalau mau berkunjung kesini enaknya Desember-Maret, katanya.

Mereka punya ruang terbuka banyak banget. Tamanya banyak. Ada yang unik yang ditemukan di banyak taman disini. Yaitu peraturan dilarang bercumbu. Hehe. Sampe-sampe ditempel dan digambar di setiap taman. Ternyata emang ya ampuuunnnn, disini orang pacaran pada di taman dan bisa berbuat yang aneh-aneh emang. Jagain anak-anaknya dan pilih waktu yang gak gelap aja.

Selain taman, ruang terbuka yang banyak dikunjungi, PAGODA. Dimana-mana bakal nemu banyak pagoda. Buat saya sih ini hanya wisata foto aja. Hehe. I am not that interested to learn other religion’s story. Lah, belajar Islam aja masih belang betong.

Karena lagi musim ujan, jadi beneran banyak ke Mall. Sampai-sampai Alisha kalau pagi-pagi baru bangun, sarapan, dan mandi, langsung nanya, Bun, kita ke Mall ? kkkk. Alhamdulillah walaupun mall-hotel lagi, anak-anak tetep seru dan berkesan. Karena banyak keunikan yang ketangkap sama anak-anak.

Salah satunya, tanaka. Tanaka adalah serbuk kayu yang dicampur air, lalu dioleskan di kulit. Banyak sekali orang menggunakan tanaka. Lebih sering dijumpai di anak-anak dan perempuan dewasa. Katanya, si Tanaka ini bisa bikin kulit adem, bersih dan lembut. Suatu hari, kami pergi ke pasar untuk beli Tanaka. Alisha semangat dipakein. Eh, Khaleed sebel banget. Apalagi pas saya make, dia sampe nangis-nangis minta saya ngehapus tanaka. >_<

Pengalaman unik lain buat anak-anak adalah, bahasa. Bisa dibilang kami disini Full English, karena hampir semua orang yang kami temui mampu berbahasa Inggris. Di hotel, di restoran, di supermarket, di taksi, semua bisa bahasa inggris walaupun sedikit. Anak-anak jadi belajar bahasa baru. Selain bahasa inggris, untuk ungkapan-ungkapan sederhana dalam bahasa Burma, anak-anak pun mencoba mengerti, seperti Chesuba (terimakasih), Minglabar (halo), dll.

Berhubung kami tinggal di hotel, jadi kami tidak bisa masak seru. Paling masak nasi atau indomie. Sisanya makan di luar terus. Alhamdulillahnya, makanan-makanan Myanmar ini enak-enak. Jadi kami sangat menikmati makanan disini. Banyak juga yang halal. Bisa dibilang, bumbu-bumbu yang mereka pakai, banyak yang mirip dengan yang dipakai di Indonesia.

Perkumpulan Orang Indonesia disini menjadi tempat yang menarik untuk kami. Dulu, saat merantau terakhir, kami masih baru menikah, tanpa anak, status mahasiswa, sekarang saya masih sih statusnya mahasiswa. kkkk. Sekarang gengnya jadi expat. Enaknya apa? Makanannya enak-enak kalau ngumpul. Kkkk. Dulu mah kan makanannya perjuangan, secara mahasiswa-mahasiswa yang mau makan tiga kali sehari aja udah syukur.

Jumlah expat disini banyak. Tapi beda kali yah orang kerja. Kalau mahasiswa kan sering hura-hura walaupun gak punya duit juga, kalau disini jadi banyak nya lebih kumpul ma keluarga masing-masing dan menikmati hidup. Hehe.

Alhamdulillah, selama sebulan disini, kami belajar banyak. Saya dan suami, mulai bisa adaptasi tinggal bersama. Anak-anak pun mulai terbiasa main setiap hari sama Ayahnya, menunggu-nunggu ayahnya pulang, karena apa? Karena ayah selalu punya yang seru untuk dibawa pulang. Entah makanan, entah cerita atau ngajak kami jalan-jalan ke tempat baru.

Thanks Yangon for being nice to us.

Campur Aduk Hari Pertama di Yangon

Berita wafatnya abi masih menggaung di kepala saya. Bingung. Kosong. Tapi semua harus sesuai jadwal. Anak-anak harus terurus. Maka tak ada waktu untuk sekedar meratapi kepergian Abi. Senyum harus dipasang agar mood anak-anak juga bagus sepanjang perjalanan KL-Yangon. Alhamdulillah. Lancar.

Sampai Yangon, dijemput suami. Diajak angsung ke hotel dan menaruh semua barang di tempat yang mudah diakses. Tak terasa hari sudah mendekati Maghrib. Suami mengajak untuk berbuka di Masjid KBRI Yangon. Membawa anak-anak yang masih lelah perjalanan panjang dua hari ini ke tempat ramai itu menurut saya peer banget. Dan bener, di hari pertama, Khaleed berkata makanan tidak enak. Tidak mau buka shaum. Alisha gak mau ditinggal barang satu meter pun. Lelah sekali buka shaum pertama di Yangon ini.

Melihat di sekitaran hotel yang kumel dan jarak ke supermarket yang kagok. Jalan kejauhan, naik taksi kedeketan, plus Alisha yang masih rewel minta digendong gak mau jalan itu… membuat hari-hari awal di Yangon. Berat jendrallllll….

Suami mencoba menghibur istrinya ke Mall. Tapi mallnya pun dekil. Ada bau-bau gak enak. Errrr… Sampai-sampai kalau ada orang nanya, gimana Yangon? No one wants to be here. >_< Lebay yak gueh.

Berpulang

Pagi itu menjadi pagi yang sibuk bagi saya. Karena dengan 3 koper besar dan dua anak, saya harus melakukan penerbangan di pagi hari menuju Kuala Lumpur. ALhamdulillah adik saya bersedia mengantarkan kami sampai ke Bandara. Sampai bandara, anak-anak lapar. Qadarullah, saya juga lagi gak puasa, jadi kita sama-sama sarapan di Bandara. Anak-anak sangat senang dan bersemangat sarapan dan menunggu pesawat tiba.

Saat sudah naik pesawat, anak-anak menggambar, bercanda, membaca buku, dan tidur. Alhamdulillah perjalanan kali ini lancar. Mendaratlah kami di Kuala Lumpur. Check in. Istirahat. Di tengah lelah yang amat sangat, saya biarkan anak-anak bereksplorasi di kamar. Menggambar, makan, mandi, main lompat-lompat. Yang penting saya bisa istirahat dan mereka aman.

Sampai maghrib tiba, alhamdulillah anak-anak mudah sekali dikondisikan. Saatnya kami bertemu teman kami saat dulu tinggal di Cheongju, Sarah beserta Eliana dan Pesh, anak dan suaminya. Itu pun alhamdulillah lancar. Anak-anak senang, Bundanya senang.

Begitu sampai di hotel, kami bersiap tidur. Karena sangat lelah, anak-anak cepat tidurnya. Saya bingung. Tidur, kemaleman, takut ketinggalan pesawat esok hari yang shubuh banget. Kalau gak tidur, kecapekan. Tapi sebelum saya memutuskan itu, suara telepon berdering. Ummi. Ada apa Ummi menelepon semalam ini?

Dengan suara yang sendu, Ummi mengabarkan bahwa Abi sudah tidak ada. Cepat-cepat Umi menutup telepon. Saya hanya bisa terdiam. Masih tidak percaya dengan apa yang baru saja saya dengar. Saya hanya ingat, bahwa Abi terakhir sakit syaraf kejepit. Tapi apa bisa separah itu sampai cepat sekali berpulang? Saya diam. Tidak bisa menangis. Tidak bisa apa-apa. Saya kosong.

Tak lama kemudian telepon berdering dari suami di Yangon dan mang di JKT. Keduanya mengabarkan hal yang sama. Tapi saya, masih bingung. Kosong.

Saat mencoba untuk beristirahat, saya baru mulai merasakan sakit teramat dalam. Saya mulai berfikir kemana-mana. Saya mulai memutar memori-memori bersama Abi. Saya mulai memutar bagaimana dulu tubuh saya yang kecil, dibonceng motor menyusuri jalanan di Aceh. Saya memutar bagaimana dulu saya dan kakak saya mengelilingi Jatim dengan bis dan motor dengan Abi saya. Memutar bagaimana dulu saya bersepeda bersama menyusuri jalan raya untuk pertama kalinya di sekitar tempat tinggal kami. Sampai akhirnya, diberi kepercayaan untuk bersepeda sendiri ke sekolah.

Dan mengingat memori-memori indah itu, rasanya menyesal karena diri ini tidak terlalu baik mengingatnya di saat-saat terakhir kehidupan beliau.

Banyak janji saya kepada diri saya yang tidak saya tepati. Saya berjanji, kalau saya tinggal di Jakarta, saya akan ajak beliau tinggal bersama keluarga kami. Memperhatikan kesehatannya, aktivitasnya, dll. Saya berjanji, akan mengajaknya ke optik untuk memeriksakan mata dan mengganti kacamatanya yang nampak sudah tidak terlalu nyaman dipakai, saat saya ke Jakarta.

Sebelum semuanya terjadi, ternyata Allah sudah berkehendak lain. Hilang sudah kesempatan.

Bahkan untuk bilang, “Abi, Nda sayang banget sama Abi” pun sudah hilang.

Saya gak tahu kapan terakhir membuat beliau bahagia. Di pertemuan terakhir, Abi minta diantar ke tempat terapi. Tapi tempat terapinya sudah tutup. Saya ajak makan siang, Abi menolak, karena sedang diet mengurangi berat badan agar lebih sehat. Agar berkurang sakit akibat syaraf kejepit. Tapi rupanya bukan itu sakit Abi yang menjemput ajalnya.

Abi sudah sempat bermain dengan Alisha. Walaupun saat itu, Alisha sedang ngantuk. Tapi sampai saya menulis tulisan ini, Alisha masih ingat. “Abah sakit.”

Ya Allah ampuni dosa Abi kami. Lapangkan kuburnya. Terima amal ibadahnya. Jauhkanlah dari fitnah setelah wafat.

Ya Allah mohon petunjuk-Mu selalu agar saya bisa menjadi anak yang sholihah yang doa-doanya dapat menolong Abi kami.

 

Diskusi Siang Itu

Nasehat adalah hadiah berharga yang diberikan manusia untuk manusia lainnya. Hari ini, setelah bertemu seseorang yang sangat berpengaruh dalam hidup saya, saya mendapatkan banyak nasihat.

  1. Banyak rumah tangga tidak pernah dibangun. Karena mati dalam rutinitas. Membangun rumah tangga lebih baik diawali dengan tinggal bersama dan membangun rutinitas yang baik dan sehat untuk semua anggota.
  2. Jangan ada dua matahari dalam rumah tangga. Tentukan tujuan bersama dan tentukan peran masing-masing.
  3. Karir istri adalah karir suami. Begitu juga karir suami adalah karir istri. Saat istri memilih untuk berhenti bekerja dan mendukung suami dari rumah, maka itu pun karir istri, yaitu mendukung suaminya berkarir. Tidak ada persaingan. Yang ada adalah saling mendukung.
  4. Jika dihadapkan antara karir atau keluarga, pilih keluarga. Lakukan yang terbaik untuk menyelematkan keutuhan dan kehangatan keluarga. Karena mengulang karir lebih baik daripada mengulang membangung keluarga.
  5. Move on. Jangan terjebak pada masa lalu. Perbaiki apa yang bisa diperbaiki ke depan. Jangan sampe masa lalumu merusak masa depan mu. Perjuangkan masa depan karena tidak ada memperjuangkan masa lalu itu. Masa lalu sudah terjadi.

Terimakasih Pak utuk diskusi siang ini. Sungguh melegakan. Sungguh menenangkan. Sungguh ini adalah bekal yang sangat berarti bagi saya. Sampai kapanpun.

Bandung, Mei 2018

Sebuah Keputusan

Saat mimpi sudah semakin dekat. Saat raga mulai lelah menggapainya. Tiba-tiba sesuatu yang tidak diinginkan datang. Mengganggu diri sampai ke relung sukma. Menusuk hingga ke dalam. Dan menyisakan luka teramat dalam. Dalam kondisi terpuruk, rasanya ingin menghilang dari keramaian. Menyendiri. Berdua, bersama Allah saja.

Ya Allah, tidak ada yang lebih baik dari pilihan-Mu. Tidak ada yang lebih indah daripada keputusan-Mu. Aku memohon, berikanlah aku selalu hidayah-Mu. Jauhkan aku dari pandangan yang semu yang membuatku menjadikan diriku illah, menjadikan dunia ini illah. Jernihkanlah pandanganku, dalam menggapai ridha-Mu.

Andaikan sesuatu itu baik bagiku, maka mudahkanlah ya Allah. Andaikan sesuatu itu buruk bagiku, maka jauhkanlah dengan cara yang baik menurut Engkau. Ya Allah, diri ini masih menggunung dosa-dosa dan maksiat, ampunilah ya Allah. Ampuni aku, beri aku hidayah-Mu.

Jika aku mengecewakan orang lain atas keputusan ini, maka lapangkanlah hatinya Ya Allah. Untuk menerima keputusan ini.

Tetapkanlah segala hal dalam hidup ku, sehingga apapun yang menjadi jalannya, adalah jalan menuju peningkatan ilmu kami dan iman kami kepada-Mu. Aamiiin.

Bismillahirrahmaanirrahiiim. Keputusan ini dibuat.

Bandung, Mei 2018