Catatan Belajar: Konsep Diri Seorang Ibu

Alhamdulillah. Allah selalu mengabulkan doa hambanya. Salah satu yang saya harapkan dalam doa saya adalah agar Allah berikan ilmu yang bermanfaat. Saya ingin menjadi pembelajar sampai akhir hayat. Dan sekarang sedang fase menjadi Bunda dari anak-anak kecil yang masih memerlukan perhatian besar dari Bundanya, lebih dari apapun. Maka sangat tepat bagi saya untuk belajar pengasuhan.

Salah satu materi yang menarik bagis saya adalah konsep diri seorang ibu. Saya mendapatkan materi ini dari Bu Siska, founder Daycare, KB, TK dan SD Batutis Al-Ilmi Bekasi. Bu Siska pada bulan ramadhan ini membuka kelas CURHAT untuk Ibu-Ibu yang mau mengasuh anak lebih baik lagi.

Belajar pengasuhan dari beberapa sumber, tidak lantas menjadikan kita menjadi Ibu yang lebih baik. Rasanya kalau ikut seminar, kelas, atau apapun itu mencerahkan pikiran banget. Namun pas implementasi? Susahnya minta ampun. Suka bingung dan bertanya-tanya, what is wrong with me? Namun setelah mendapatkan materi tentang Konsep Diri Seorang Ibu, saya merasa semakin mudah dalam mengimplementasikan ilmu-ilmu yang pernah didapat. Seperti menemukan serpihan yang hilang dalam diri. Tentunya, tetap dengan segala kekurangan. Tapi setidaknya, saya merasa lebih baik.

Nah, apa sih itu konsep diri? Konsep diri adalah bagaimana kita menilai diri kita dan bagaimana kita merespon penilaian orang lain terhadap diri kita. Simple yah? Tapi ternyata konsep diri ini sangat mempengaruhi cara kita berfikir, merasa dan bertindak. Konsep diri meliputi body image, bagaimana kita menilai penampilan fisik kita, dan juga ide atau harapan kita.

Kita bahas dulu body image yah. Body image ini juga mempengaruhi konsep diri. Tapi yang menarik, tidak semua orang yang memiliki fisik yang dianggap banyak orang baik, pasti memiliki konsep diri yang baik. Kenapa? Bisa jadi sebenarnya fisiknya banyak yang menganggap baik, tetapi dia selalu merasa kurang ini, kurang itu. Maka agar konsep diri kuat, mari kita mulai menerima apapun kondisi fisik kita, termasuk di dalamnya warna kulit, bentuk hidung, bentuk badan, seksualitas, gender dan lain-lain.

Kita syukuri kulit yang agak kegelapan ini karena harus mengantar jemput anak-anak naik motor di siang terik. Kita syukuri bentuk hidung kita sebagai orang Indonesia yang memang Allah takdirkan agak ke dalem 😀 . Kita syukuri bentuk badan kita yang mungkin agak lebar atau bahkan lebar banget, kurus atau kurus banget, ideal, apapun, sebagai versi terbaik kita hari ini. Kita syukuri takdir kita sebagai perempuan. Mengalami menstruasi, bisa hamil, bisa labil, bisa menyusui, berubah bentuk tubuh saat melahirkan, sakit saat melahirkan, harus mengalami masa galau karir dan keluarga, dll. All shall pass. Dengan penerimaan ini, kita lebih siap dalam menghadapi setiap fase dalam hidup kita.

Kalau kita masih mempertanyakan fisik kita, tidak menerima kondisi fisik kita, masih menuntut ini itu terhadap fisik kita, hal tersebut dapat melemahkan konsep diri kita. Maka yuk kita syukuri kondisi yang ada. Perihal ada harapan yang memang membuat kita merasa lebih baik, lebih sehat, lebih bahagia, maka dijadikan harapan yang realistis. Realistis itu berarti kita sadar kita mulai dari titik mana, sehingga kita bisa menetapkan tujuan yang sanggup kita perjuangkan. Jangan hanya sekedar ambisius.

Menjadi Ibu juga merupakan fase hidup. Maka kita harus bisa menerima kondisi ini. Menghayati semua prosesnya. Menyadari bahwa ini adalah anugerah Allah yang tidak semua orang mau dan mampu mendapatkannya. Berbahagialah menjadi seorang Ibu. Anak yang hadir dalam rahim kita adalah hasil perjuangan sperma terbaik yang menembus dinding telur kita. Anak kita adalah yang terbaik yang Allah berikan kepada kita. Begitu juga suami kita. Dia adalah yang terbaik yang Allah berikan kepada kita. Kita harus belajar menerima kondisi diri kita, anak kita dan suami kita sebagai anugerah terbaik dari Allah.

Mari kita jalankan peran Ibu ini dengan bahagia. Dimulai dengan mensyukuri setiap fasenya. Dengan menjalaninya, sejatinya kita sedang membangun jati diri kita yang baru, sebagai Ibu. Dan kita akan dijadikan panutan oleh anak-anak kita. Maka jadilah Ibu yang bahagia dan membagikan kebahagiaan kita kepada anak-anak kita dengan hadir sebagai sosok yang membawa kebahagiaan. Jangan dilihat anak sebagai Ibu yang sibuk beberes, masak, cuci baju, ngetik di depan laptop, yang kebahagiaannya tidak tertular kepada anak. Nikmati juga kebahagiaan membersamai anak-anak.

Pembahasan konsep diri ini menjadi penting, kenapa? Karena konsep diri Ibu ini akan mempengaruhi konsep diri anak.

Setelah bersyukur, kita coba bangun konsep diri kita sebagai Ibu dengan cara memenuhi kebutuhan diri kita sebagai Ibu. Apa saja kebutuhan kita sebagai Ibu? Kita butuh belajar. Karena fase ini jelas berbeda sama fase kita saat gadis dan fase kita saat baru menikah tanpa anak. Kita perlu mempelajari perubahan ini. Penuhi diri kita dengan ilmu.

Setelah dapat ilmu, jangan lupa, tahan ambisi. Kita mungkin sudah tahu, sudah berubah, tahan diri untuk tidak berambisi mengubah anak dan suami dengan tiba-tiba. Tidak semua yang menjadi kebutuhan kita, menjadi kebutuhan orang lain. Maka pelan-pelan kalau mau merubah orang-orang di sekitar kita. Jangan memaksa. Jadi teladan dulu.

Agar menjadi teladan, kita perlu mendefisinisikan kebutuhan keluarga kita. Ingat. Kebutuhan setiap keluarga itu tidak sama. Jangan ngeliat anak orang hafidzh, kita langsung pengen anak kita jadi hafidzh. Ngeliat anak orang jago gambar, pengen anak kita juga jago gambar. Ingat, bukan masalah jadi apanya, menguasai apanya, tapi lihat dulu kondisi anak kita. Ada dimana? Lihat kondisi suami kita. Ada dimana? Jangan gara-gara melihat kondisi keluarga lain, terus kita paksa anak dan suami, juga termasuk diri kita, harus menjadi seperti orang lain. Gak gitu caranya. Tetapkan dulu apa yang menjadi tujuan kita sebagai keluarga. Cari irisannya dan bangun step-stepnya sesuai garis start nya dimana. Jangan jadi orang yang ambisius. Tapi jadi orang yang tahu diri dan punya mimpi. Itu berbeda. Kita jadi sabar atas proses dan ajeg dalam menggapainya. Tidak mudah goyah.

Apa sih bedanya kita meniru orang lain sama kita belajar dari orang lain? Meniru itu serta merta ambisi. Sedangkan belajar dari orang lain, itu kita tanya bagaimana prosesnya, bagaimana kondisi keluarganya dan kita cocokan, apakah baik juga untuk keluarga kita. Kalau baik pelajari caranya dan bersabar dengan prosesnya sesuai start nya dimana. Poinnya, kita harus selalu sadar diri, kita ada dimana.

Kalau lihat Facebook, Youtube, Instagram, bikin kita iri dan kepingin ini itu dan tidak sadar kondisi kita kayak apa, maka tutup dulu. Itu artinya konsep diri kita masih lemah. Perkuat dulu konsep diri kita. Penuhi apa yang sebenarnya dibutuhkan dari diri kita terlebih dulu. Kalau kita merasa terganggu dengan apa yang ada di sosmed, artinya kita belum sanggup. Gapapa hentikan dulu. Yang penting kita tidak melakukan hal yang merusak konsep diri kita.

Berikutnya kita tuntaskan dulu masa lalu dan ambisi kita. Jika ada bagian dari masa lalu yang tidak sesuai harapan, maka kita perlu evaluasi dan mengambil ibrah dari kegagalan. Evaluasi juga target-target hidup kita, pastikan itu merupakan hal-hal yang kita butuhkan. Kembali lagi mengukur kemampuan diri dan terimalah fase yang sudah dilalui tersebut.

Yuk, kita bangun konsep diri kita sebagai Ibu terlebih dahulu sebelum membangun konsep diri anak. Jadilah Ibu yang berbahagia. Menerima semua takdir Allah atas diri kita. Syukuri bahwa menjadi Ibu adalah anugerah terbesar Allah dan karenanya kita dimuliakan oleh Allah. Dan tuntaskan masa lalu kita agar menjadi pembelajaran, bukan sekedar penyesalan.

Terakhir, ada quote dari Bu Siska yang makjleb banget,

Ibu yang berbahagia akan menebarkan aura kebahagiaan di rumahnya, dan semoga kelak menebarkan wangi surga untuk keluarganya

_Siska Yudhistira Massardi_

Demikian catatan belajar saya dengan Bu Siska minggu lalu. Semoga bermanfaat