TEMBANG ILALANG: pergolakan cinta melawan tirani

Novel ini telah tiga bulan lamanya berada di rak mukena kamar saya. Pemberian atau pinjaman ya? Hehe. Pokoknya dari seorang sahabat yang pernah beraktivitas di PW PII Jogja Besar. Di tengah gundah gulana, menyusul badai UTS, saya malah jatuh hati ingin membaca novel ini. Alhasil, novel ini baru selesai setelah empat hari. Berikut saya ingin sedikit berbagi hikmah novel ini dengan menulis sebuah resensi. Semoga bermanfaat!

Judul Buku : TEMBANG ILALANG

Penulis : MD. Aminudin

Penerbit : Semesta, Yogyakarta

Tahun terbit : 2008

Dimensi : 14×21 cm

Jumlah halaman : 512 hlm

Secara garis besar, novel ini menceritakan tentang perjalanan cinta Asrul dan Roekmini dengan latar belakang sejarah Indonesia. Dimulai dari masa penjajahan Belanda yang kemudian ditumbangkan oleh Jepang. Kemudian masa dimana bangsa kita sempat menghela sedikit nafas kemerdekaan yang disusul oleh datangnya sekutu kembali untuk menguasai Indonesia. Dari semua kondisi tersebut, ada beberapa hal yang saya sadari, ternyata penjajahan atau penindasan itu tidak hanya dilakukan oleh bangsa asing, melainkan juga oleh pribumi yang bermuka dua. Sebagian besar dari pribumi yang bermuka dua tersebut adalah orang-orang kelompok merah yang kemudian eksis menjadi PKI bertahun-tahun kemudian.

Berkisah tentang pasangan suami istri yang dipertemukan oleh Allah di Kanigoro, suatu daerah di Kediri, Jawa Timur. Roekmini adalah anak semata wayang seorang Kiai terpandang di desanya. Sedangkan Asrul adalah seorang buronan nomor satu kelompok merah kala itu. Karena nurani, ia merubah haluan keyakinannya. Dari seorang komunis cerdas yang sempat mendapatkan pendidikan tentang ajaran-ajaran Marx di Sovjet, menjadi seorang yang kemudian meyakini adanya Tuhan. Dengan keyakinan barunya itu ada dorongan kuat dalam dirinya untuk menghancurkan pergerakan kelompok merah ini. Sehingga konsekuensi logis harus ia terima akibat dari pembangkangannya ini.

Asrul sebagai tokoh utama di novel ini, dihadapkan pada tiga masalah teramat berat paska berpisahnya ia dengan anak dan istrinya. Pertama, perjuangannya melawan segala bentuk imperialisme dan pengkhianatan. Kedua, kewaspadaan terhadap intel-intel kelompok merah yang akan terus memburunya, baik dalam keadaan hidup ataupun mati. Dan terakhir, kerinduan teramat sangat untuk bertemu istri dan anaknya.

Di penantian yang panjang, Asrul sempat menjadi wartawan harian KS di Surabaja dan memimpin Laskar Ilalang yang bergerilya di hutan-hutan untuk melawan penjajah. Sedangkan Roekmini dirampas dari tangan ibunya oleh kepala polisi Belanda. Membuatnya harus berpindah dari Kediri, Surabaja, lalu ke Bandoeng. Dan saat Jepang masuk ke Indonesia, ia bersama tawanan lain dibebaskan dan memberinya harapan baru untuk pulang ke Kediri. Tak lama setelah perjumaannya dengan anak dan Ibunda, ia ditawan oleh Jepang bersama perempuan lain untuk dijadikan aset pelampiasan nafsu binatang mereka. Namun berhasil lolos dengan bantuan kawan lama Asrul, Larto. Kemudian menyusul Ibunda dan anaknya yang lebih dulu mengungsi ke Modjokerto.

Kisah yang teramat pelik dan panjang. Bayangan keputusasaan untuk mendapatkan harapan adalah hal yang terus menerus menghantui. Kondisi bangsa yang tak menentu, dimana bangsa-bangsa penjajah seolah bermain judi dan menjadikan Indonesia sebagai taruhannya, membuat penantian itu semakin berat. Namun kuatnya fondasi cinta mereka berdua seolah menjadi kekuatan yang berlipat-lipat bagi mereka menghadapinya. Cinta yang dikuatkan lagi oleh landasan keyakinannya melalui doa-doa yang terus dikirimkan pada-Nya.

Di akhir cerita, pertemuan pun menjadi nyata adanya. Yaitu kala Roekmini menjadi tawanan PKI yang sedang bersembunyi di hutan belantara, karena semakin terdesaknya kondisi partai pimpinan Moeso tersebut. Di saat bersamaan, Asrul dengan Laskar Ilalangnya terlibat kontak senjata dengan kelompok PKI yang membawa Roekmini. Sehingga pembebasan Roekmini pun berhasil dilakukan.

Novel ini sangat rapih dalam menyajikan sejarah sebagai latar belakangnya. Penggunaan bahasa yang indah, memudahkan saya menyelami setiap detil kisah di dalamnya. Banyak bagian dari novel ini yang menyentak nurani. Novel yang sangat berbobot: menyuguhkan keindahan, nilai-nilai, sekaligus energi untuk terus berjuang dengan segenap keyakinan.

Luar biasa!

NOTE: buku ini ada dua kisah, di satu buku.

PEKERJAAN SEPERTI APA YA?

Tak terasa perkuliahan sudah hampir berada di penghujungnya (Amiin). Rasanya begitu-begitu saja dari dulu. Lulus TK, masuk SD. Lulus SD, mengejar nilai tinggi, masuk SMP. Lulus SMP, mengejar SMAN 3 Bandung, Masuklah SMAN 3 Bandung. Lulus pun dari SMAN 3 Bandung, bekerja keras masuk ke ITB. Sekarang, walaupun belum dari akhir dari yang namanya belajar. Saya tidak ingin kelak, kelulusan ini menjadi ‘biasa-biasa’ saja. Saya harus sudah memulai menekuni sesuatu dari sekarang. Seperti bukan waktunya. Tapi tidak pernah ada kata terlambat.

Namun ada dua hal yang membingungkan bagi seorang perempuan seperti saya, yaitu pilihan antara bekerja atau tidak setelah lulus nanti. Dan kalau harus bekerja, pekerjaan seperti apa yang ideal buat saya. Dua tantangan besar bagi saya. Dunia yang makin lama semakin abu-abu. Tak jelas mana yang benar dan mana yang salah. Tak kuasa rasanya kelak membiarkan anak-anak dipegang langsung oleh tangan-tangan pengasuh. Diajak nonton siaran televisi yang tidak mendidik. Diberi kasih sayang sebatas untuk menebus gaji bulanan, tentunya tak bisa terbayarkan dengan curahan kasih sayang langsung dari seorang Ibu. Di sisi lain, perekonomian global memiliki siklus sendiri. Naik dan turun seperti sudah wajar adanya, namun sulit bagi seorang awam seperti saya memprediksinya. Kelak harus ada penyeimbang ekonomi keluarga. Tidak bisa hanya mengandalkan pada satu sumber pemasukan saja.

Apakah saya harus bekerja?

Zalimkah saya terhadap ilmu yang saya pelajari selama empat tahun ini kalau tidak dapat saya manfaatkan ke depannya?

Mampukah saya kelak menjawab tantangan sebagai seorang perempuan di tengah masyarakat, Ibu bagi anak-anak, dan seorang Istri?

Klise mungkin kedengarannya. Namun ini harus dipikirkan masak-masak. Mungkin bukan hanya untuk saya, tetapi untuk perempuan lain. Karena saya sering tersiksa dengan yang namanya ketidak-TOTAL-an dalam mengerjakan sesuatu.

Saya sering bertanya pekerjaan apa sih yang cocok untuk seorang perempuan supaya dapat menjawab dua tantangan di atas?

Mungkin kawan-kawan memiliki saran atau pendapat… 🙂

UPIN DAN IPIN: ISTIMEWA HARI RAYE

Ada yang pernah mendengar kedua tokoh ini sebelumnya? Saya sih baru mendengar. Hehe. Maklum bukan anak gaul TV atau bioskop. Cerita punya cerita, suatu siang di bulan Ramadhan, Umi saya membawa sebuah film di laptopnya. Kemudian film itu harus ditonton oleh adik saya yang paling kecil (7 tahun), katanya film ini bagus untuk dia.

Saya hanya mendengar saja, tapi lama-kelamaan penasaraan. dari jauh didengar kok sepertinya distel berulang-ulang oleh adik saya, dan ternyata ramai juga. Selain ceritanya yang penuh makna, ada juga kekocakan-kekocakan anak kecil yang menggelikan dan bikin gemas penontonya. Kalau bisa, nonton deh. Saya sangat merekomendasikan film ini untuk ditonton siapa saja. Lucu dan mendidik. Download nya bisa di sini. Yang lengkap ya. =)

Seri yang kebetulan baru saya tonton adalah seri “Istimewa Hari Raye”. Upin dan Ipin adalah pasangan kembar yang sudah yatim piatu. Namun sifat keduanya sangat periang. Mereka tinggal bersama neneknya (Baca: Opa) dan Kak Ros (Kakak perempuannya). Mereka tinggal di rumah sederhana.

Setelah searching terus di Google, ternyata seri film Upin dan Ipin masih banyak dan menarik untuk ditonton. Apalagi untuk adik-adik kita.

BEST RAYE (LAST)

Akhir cerita lebaran kali ini adalah silaturahmi keluarga besar KH. E. Hasbullah Hafidzi. Bertempat di sebuah villa di Cibodas, Lembang. Yang menjadi penyelenggara acara pada tahun ini adalah Keluarga Wa Nina. Dimulai dari penyambutan di depan rumah villa, setiap tamu yang datang disodorkan sebuah dus berisi kertas dengan tiga pilihan warna untuk ditempel. Jadi setiap tamu memiliki tempelan di baju, dengan pilihan warna: hitam, putih dan merah.

Sambil menunggu acara dibuka, semua keluarga melakukan aktivitas di sekitar villa. Ada yang bermain fuutsal, bermain ayunan dkk, ngopi (dalam Bahasa Sunda berarti ngemil dan minum-minum santai), bersantai di Joglo atau Musholla dan lain-lain.

Semua aktivitas di atas terhenti oleh sebuah suara, suara siapa hayo? Yup! Wa Nina, sang tuan rumah. Dengan pengeras suara, beliau memanggil seluruh keluarga untuk berkumpul di lapangan. Ketika semua sudah berkumpul, beliau memandu sebuah permainan. Kami diminta untuk berkumpul berdasarkan warna pada tempelan yang diambil saat pertama kali datang. Kemudian berbaris rapih. Setelah itu, diadakan lomba siapa kelompoknya duluan memakai baju bertuliskan ‘I Love Eyang’ di gawang futsal. Pemenangnya adalah kelompok Hitam.

Game berikutnya, adalah lomba meniup balon, kemudian lomba mengikatkan balon ke kaki, dan terakhir lomba memecahkan balonnya. Permainan ini kocak banget, saya (kelompok putih) awalnya hanya melihat-lihat kelompok merah dan hitam saling memecahkan balon, sehingga kelompok putih aman balonnya. Dan saya, adalah orang terakhir yang balonnya pecah. Karena di tengah sibuknya orang-orang memecahkan balon, tidak ada yang memperhatikan saya, kemudian saya duduk bersantai di sebuah saung, hingga akhirnya mereka semua tersadar dan mengejar saya. Yea…

Setelah lelah dan matahari mulai terasa menyengat, kami berkumpul di Joglo. Ternyata akan diadakan Hasber’s Idol. Setiap kelompok diminta mengirimkan satu orang komentator dan lima orang kontestan. Kebetulan saya menjadi salah satu yang dikirim menjadi kontestan, tapi gagal total. Orang saya baru nyanyi dikit aja Najwa langsung nangis. Jadi aja saya berhenti nyanyinya dan gugur. Hihi. Sedih banget ya. Acara ini kocak banget. Soalnya peserta yang tampil lucu-lucu. Ada yang gayanya Pasha wannabe, ada yang licik cuma lypsing make suara Rossa dan lain-lain lah pokoknya. Komentatornya juga. Udah kayak komentatornya Akhirnya Datang Juga plus plus, jago ngebojeg semua.

Setelah acara Hasber’s Idol selesai, kami semua melanjutkan dengan Shalat Dhuhur di Musholla belakang. Setelah shalat, sambil melepas lelah, kami duduk-duduk di depan musholla dan berfoto-foto. Anak kecil bermain air. Haduh, kasian ibu-ibunya… Semangat ya yang udah jadi Ibu! =)

Gak ada capeknya, setelah merasa udara di luar mulai bersahabat lagi, kami meluncur kembali ke lapangan futsal. Panitia pun sudah menyiapkan perlombaan untuk cucu dan cicit yang masih kecil. Ada lomba berjalan dengan koran, menyambung sedotan dan… apalagi ya? Hehe. Luppa. Lucu-lucu dan bikin heboh. Adek saya, Ila, jagoan banget, dia juara semuanya. Ya iyalah, secara dia yang paling gede. Hehe.

Dah gak ada kerjaan lagi, tiba-tiba ada yang nyawer, yaitu Bi Ima. Spontan semua berkumpul lagi. Awalnya sih tertib pakai acara baris-barisan. Tapi setelah kaum-kaum jail melakukan kelicikan, akhirnya gak ada deh ceritanya bagi-bagi. Uang semua disawer. Dan liat! Saya kayaknya yang paling beruntung hari itu. Hehe. Harus gesit memang. Alhamdulillah! Lumayan buat nambah-nambah tabungan nikah. Haha.

Setelah sawer, acara kembali bebas. Saya iseng-iseng ngajak perempuan bermain futsal. Dan mereka semua seutuju. Dimulailah pertandingan futsal antara cucu-cucu dan anak-anak eyang. Liciknya naudzubillah. Ada yang bawa lari gawang, ada yang gawangnya dibalik, ada yang masukin bola ke baju trus lari ke gawang, haduh, dah gak jelas pokoknya apa nama olahraga nya. Tapi seru! Dan terakhir, Bi Ima ngasih tantangan, siapa yang ngejebol gawang saya dapet uang. Beberapa orang mencoba, dan ternyata Teh Fia yang berhasil. Tapi ditunggu-tunggu Bi Ima gak nepatin janji. Akhirnya saya dan Teh Fia beraksi. Menggunakan segala cara (tapi halal kok) sampai Bi Ima nepatin janji. Dan yea… yea… yea… dapet juga!

Istirahat panjang, diisi dengan shalat dan mandi. Malam nya ada acara resmi. Dibuka dengan pembacaan ayat suci Al-Qur’an dan tausiyah dari Eyang Ema. Kemudian dilanjutkan dengan sungkem dan makan malam. Setelah acara resmi ditutup, sambil menikmati kambing guling dan sate ayam, diselenggarakanlah final Hasbers Idol. Bagi mereka yang diloloskan komentator di acara siang tadi. Kali ini komentatornya ada tiga: komentator vokal (Wa Nur), pakaian (Wa Aa) dan gaya (Mang Asep). Komentator bikin acara semakin seru. Setiap penampilan, diselingi oleh pembacaan award dan pengujian ke mantu-cucu eyang yang baru.
Kali ini lebih kocak dari yang siang. Komentator emang jagoan di bidangnya, jadi super-super kreatif komentar-komentarnya. Mengundang gelak tawa juga haru. Liat aja pose Umi yang lagi khusyuk mengikuti acara tersebut.

Acara diakhiri dengan aksi panggung Mang A***, gak mau disebutin namanya, takut orang kantornya buka blog ini, kan kasian. Hehe. Kami semakin terhibur dan ujung-ujungnya kecapekan dan membubarkan diri.

Malam, ada shalat tahajud bersama, shalat subuh berjamaah dan kuliah subuh. Kemudian semua bergegas mandi dan bersiap foto keluarga. Tahun ini, temanya adalah Batik. Foto-foto nya blom bisa diupload soalnya saya sendiri tidak membawa kamera pada saat itu. Capek dari kemarin moto-moto mulu. Takut tar gak ada di fotonya. Hehe. Jadi aja mengandalkan minta ke orang. Tar kalo udah dapet, janji deh, bakal diupload. Okok?

Segitu aja cerita acara silaturahmi lebaran yang saya rangkai dengan judul “Best Raye” ini. Semoga bisa melepas kerinduan kalian yang belum sempat bergabung dengan keluarga di Bandung.

Selamat bekerja, belajar dan berkarya di luar sana!

Semoga kita tetap terus dapat mensyukuri nikmat berkumpul bersama keluarga…
Salam hangat,

Adinda Ihsani Putri a.k.a. Nda

BEST RAYE (3)

Alhamdulillah. Hari ini menjadi hari yang melelahkan buat keluarga kita. Karena dari tadi pagi hingga malam ada aja acaranya. Sebagai gambaran umum:

  1. Pagi-Siang : Semua berkumpul di silaturahmi Abah Ro’i.
  2. Siang-Sore : Yang muda-muda sempat ikut silaturahmi kelilingin rumah anak-anak eyang (yang daerah dago aja. Yang bapak-bapak dan ibu-ibu lanjut sampai antapani), namun motong acara untuk karaokean di PVJ.
  3. Sore-Malam : Silaturahmi di Dago Pakar, ada yang pulang dan ada yang nonton Laskar Pelangi (Tau nih, pada gak bosen-bosen. hihi)

Selamat datang anggota keluarga besar KH Hasan Ro’i

Ok, cerita berawal dari silaturahmi Keluarga Besar Abah Ro’i, mungkin untuk para mantu, Abah Ro’i adalah bapak dari Eyang Apa. Acara diselenggarakan pukul 8.00 pagi (Tapi keluarga Nda baru dateng jam 9. Molor…hihi). Dibuka dengan lantunan ayat suci al-Qur’an oleh A Zein. Sambutan dari tuan rumah. Kemudian ada sedikit cerita dari Nenek Iyay. Beliau menceritakan bagaimana Abah Ro’i dulu hidup dengan masjidnya.

Intinya sih, beliau mengingatkan kita untuk kembali ke mesjid untuk ikut memakmurkannya. Dahulu kala, Abah Ro’i adalah orang yang setia dalam memakmurkan masjid. Dari mulai merawat masjid, sampai membangun kegiatan-kegiatan untuk masyarakat banyak. Beliau agak menyesalkan, mana ini incu-incu nya? Kok jarang ada yang terlihat aktif untuk memakmurkan masjid. Yah gitulah pokoknya… Hehe. Suasana agak mengharukan saat mendengar cerita Ma’ Ijih (Istri Abah Ro’i) yang merupakan sosok perempuan yang tangguh dan dermawan. Bagaimana usaha beliau, dengan keterbatasan ekonomi keluarga itu, tetap berusaha memenuhi kebutuhan pendidikan dan makan anak-anaknya. Untuk zaman itu, konon menyekolahkan anak ke Yogya (karena pendidikan guru agama yang bagus katanya dulu di Jogja) sungguh sangat berat. Namun Ma’ Ijih menggunakan segala daya upaya untuk tetap memenuhinya. Wah, pokoknya harus denger cerita dari Nenek Iyay langsung kayaknya baru bisa paham. Maafin yah…

Dari tausiyah tersebut juga, Nenek Iyay mengajak kita untuk manjadikan forum silaturahmi ini lebih bermanfaat lagi. Terutama untuk menyelesaikan masalah-masalah dalam keluarga, bersyukur juga kalau dapat membantu masyarakat. Kita harus peka dengan keluarga kita, mungkin ada yang tidak seberuntung kita bisa hadir disini dengan kendaraan, baju baru dan lain-lain. Mungkin ada saudara yang sudah beberapa tahun tidak bisa hadir, pedulikah kita, ada apa gerangan? Atau mungkin ada yang butuh dibantu secara pendidikan dan lain-lain. Lebih lanjut, dibuatlah panitia dari setiap keluarga, untuk mengelola hal tersebut.

Berkumpul bersama agar dapat tolong-menolong

Merekatkan tali persaudaraan semoga dapat memakmurkan

Tausiyah nenek iyay dilanjutkan dengan Wa Teddy. Kemudian ditutup doa oleh Wa Aa. Acara dilanjutkan dengan sungkeman. Urutannya dari generasi pertama, kedua, ketiga hingga keempat. Lalu makan-makan dan bubar.

Doa Penutup dari Wa AA

Pembentukan panitia

Para sepuh mengikuti rangkaian acara pembukaan

Sungkeman

Ngantri sungkeman dengan poto-poto.

Yang gak betah, kabur dan membeli susu bareng-bareng.


Nah, setelah bubar ini, keluarga Apa langsung berkumpul ke rumah Wa Nina di Dago Pojok. Sebentar saja, langsung ke Rumah Nda. KArena mengejar shalat Jum’at di Masjid Al-Jihad. Di rumah Nda ini yang agak lama, karena banyak makanan enak. Hehe (iya gt?). Tapi serius, kayaknya setelah keluar dari rumah Nda, pada penuh langsung perut. Dari makanan ringan, berat mpe penutup yang seru-seru dikeluarin soalnya.

Abis makan di rumah Nda… Hana berpose…

Dari sini, barulah berpencar. Dimana kaum muda mulai bikin acara sendiri. Yaitu ke PVJ untuk karaoekan. Emang sepertinya kurang diberkahin ma para orang tua, sesampainya disana karaokean tutup dan baru buka jam 3. Krik… Krik… Tapi apa boleh buat, jadi kita menunggu dengan berfoto-foto ria. Sayang, saya hanya mengambil sedikit gambar. Soalnya banyak banget yang bawa kamera.

Sebenarnya yang ikut rombongan ada 12 Orang (Nda, Uki, Faqih, Uji, Diar, Miski, Ais, Fia, Asri, Sarah, Ucan, Hanif). Tapi yang kepoto cuma inih.

Setelah berkaraoke selama dua jam, kami pulang ke rumah masing-masing. Namun ketika keluar PVJ, bapak-bapak dan ibu-ibu datang untuk menonton Laskar Pelangi. De diar dan Miski ikut ibu-ibu dan bapak-bapak. Cucu perempuan lain pulang dan cucu-cucu laki-laki sudah siap langsung melaju ke Buah Batu untuk bermain futsal.

Katanya sih setelah dari itu semua, malamnya pada mau berkunjung ke rumah Wa Aa di Dago Pakar. Tapi entah akan kuat atau tidak badannya. Secara besok kami harus lanjut acara silaturahmi keluarga Eyang Ema dan Eyang Apa itu sendiri di Cibodas Lembang. Semoga besok bisa dapat foto-foto yang lebih masif lagi.

Selamat bekerja dan belajar di luar sana! Semoga sukses!

Salam Hangat,

Adinda Ihsani Putri a.k.a. Nda

BEST RAYE (2)

Tulisan ini dibuat untuk keluarga besar Eyang Hasbullah Hafidzi yang berada jauh di luar sana (Anti-Yang lagi di Cibubur untuk karantina ke Jepang, K Irham-yang masih bekerja keras di Oman, A Ijal n Keluarga-di Cannes, A Ipan dan Keluarga di Batam. ada lagi yang belum kesebut?). Mungkin merindukan detik-detik berkumpul dengan keluarga. Maaf kalau foto-fotonya belum bisa mengobati kerinduan kalian. =) Selamat Hari raya semua! Mohon maaf lahir batin ya.

Hari ini, 2 Oktober 2008, ada acara silaturahmi keluarga besar Aki Nonoh (Ayah Eyang Putri) di daerah pasir Jati. Tepatnya di rumah Wa Ndut, Anak dari Nenek Aah. Acara dibuka oleh tuan rumah. Pak Tris berlaku sebagai MC saat itu.

Lantunan ayat suci Al-Qur’an kemudian dibacakan begitu syahdu berikut terjemahannya. Ayat-ayat yang mengingatkan kita untuk selelu menjalin dan menjaga siaturahmi. Anjuran menjauhi diri dari sikap memperolok-olok saudara seiman. Melerai kedua saudara yang sedang bermusuhan. Banyak, saya kurang hafal. Yang jelas cukup manjadi bahan introspeksi saya selama ini dalam menjalin silaturahmi dengan keluarga.

Dari keluarga besar eyang putri hadir keluarga Wa Entat, Wa Eni (spesial kang Rino dan Teh kiki yang sedang menunggu hari kelahiran anak pertama. Ce atau Co ya?), Wa Nina (yang baru saja nambah cucu perempuan di akhir Ramadhan), Wa Aa (sendiri ajah), Wa Neni, Keluarga Nda, dan Bi Ima.

Eyang Putri sebagai yang dituakan, kemudian memberikan wejangan singkat tentang silaturahmi. Keluarga kita semakin banyak dan tumbuh. Sampai-sampai kalau bertemu sudah seperti tidak saling kenal. Atau kagok menyapa duluan. Jadi beliau meminta maaf. kalau bisa, gak usah ragu untuk menyapa dan jangan sombong kalau disapa. Generasi kedua mungkin masih silih kenal. Tapi generasi ketiga? Eyang kemudian memberikan ide untuk membuat acara camping bareng generasi ketiga Aki Nonoh untuk saling menguatkan silaturahmi di antaranya. Ide itu disambut oleh semua hadirin. Setiap keluarga kemudian mengirimkan satu utusan untuk mengelola acaranya.

Acara resmi kemudian ditutup dengan doa oleh Bapak Wildan Hizbullah. Sungkeman sambil berkenalan kemudian menjadi acara selanjutnya. Setiap keluarga kecil (generasi kedua) kemudian dipanggil satu-satu untuk sungkem ma generasi pertama sambil dikenalkan. Setelah itu, acara makan-makan dan ada doorpize kecil-kecilan yang disediakan oleh tuan rumah untuk mencairkan suasana.

Kadang kata tak bisa berkata banyak, foto-foto ini mungkin bisa menggambarkan banyak. =)

Foto-foto di tengah Eyang Putri memberikan wejangan. =)

Ini juga sama aja. hehe.Dari kiri ke kanan: Mang Utang, Wa Didin, Mang Dindin (Abi), K Rino (Suami Teh Kiki), Wa Nur, Abil.Ini setelah makan-makan. Narsisnya cucu eyang gak ketulungan. Sampai-sampai menciptakan foto di tengah foto-foto. Wkkk.Liat aja. Tetep aja moto sendiri (lagi difoto juga).Cari foto yang ada Nda nya ah. Hehe. (Juru potret jadi jarang kepotret padahal yang lainnya dah gak pengen difoto).Eyang putri dan Eyang Apa. (Grow old with love…Nda juga mauuuu…)Jadi ada 2 doorprize spesial. Pertama, siapa yang isi dompetnya paling dikit. Ada yang 10 sen doang dong. Ya Allah watir amat. Butuh THR banget kayaknya. Hehe. Kalau yang ini, Wa Aa, menang karena (rahasia. Tar aja kalau kitta ketemu dikasih tau. hehe). Yang jelas dapet HP Flexi dari A Ndut yang kerja di Telkom. Wah, **HP baru alhamdulillah… Tuk dipakai di hari raya..**Nah, ini budak-budak yang mulai bosan. Akhirnya melihat-lihat HP dan gadget lainnya. (Dah kebelet futsal kali ye…)

Segitu dulu postingan untuk hari ini. Besok masih ada silaturahmi Abah Roi dan lusa keluarga besar Eyang Putri dan Apa. Ditunggu aja ya saudara-saudaraku.

Selamat bekerja dan belajar di luar sana! Semoga sukses!

Salam hangat,

Adinda Ihsani Putri a.k.a. Nda

BEST RAYE (1)

Berangkat siang-siang dari Bandung menuju Jakarta. Pasukan semua lengkap: Abi, Umi, Uki, Nda (supir), Faqih, Abil dan Ila. Di sepanjang jalan, kami bersenda gurau (ila n abil sebagai korban. hehe). Sesampainya di Jakarta, Kami langsung menuju apartemen Menteng Prada. Maklum, keluarga di jakarta sudah mulai banyak. Jadi gak mungkin menginap semua di rumah Nenek. Dulu sih sebagai cucu tertua kedua, masih ngerasain lebaran yang sepi dan bermalam di rumah Nenek. Tapi sekarang rasanya sudah terlalu padat kalau semua menginap disana.

Sore-sore turun ke carrefour buat belanja buka
puasa. Buka puasa terakhir penuh dengan segala yang instan. Karena males masaknya, waktu antara datang dan buka memang tidak terlalu singkat. Tapi capeknya itu loh.

Malam takbiran kami berkunjung ke rumah Nenek di Jl Pemuda. Sekedar bertemu dan mengobrol ringan. Rupanya belum ada keluarga lain yang datang. Sempat mencicipi masakan Nenek yang enak dan penuh citarasa tradisional. Cepat saja, mampir ke apotik untuk beli obat buat Umi yang lagi alergi (salah obat kayaknya), langsung berpulang ke apartemen.

Malam itu susah sekali tidur, saya sekamar dengan Umi dan Ila. Setelah mengajari ila bagaimana bebersih sebelum tidur yang baik, kami berdua ngegosip (bayangkan bahan gosipan anak SD kelas 2 dengan anak kuliahan tingkat 4. Agak gimana gitu). Dan akhirnya kami capek ngomong, lalu terlelap.

Karena tidur terlalu larut, akhirnya ketebak siapa yang bangun duluan. Ya, Umi. Dimana orang-orang tertidur, beliau sudah menyiapkan baju untuk semuanya (nyetrika) dan sudah mandi. Saya yang baru bangun pada saat itu, langsung shalat dan menyiapkan sarapan sederhana, roti coklat dan minuman sisa tadi malam.

Semua satu persatu bangun dan mandi. Lalu bersiap. Ini foto keluarga saya setelah bersiap. Gak ada yang motoin, jadi agak jelek angle nya.


Karena kami berfoto, jadi selain foto ini, kami masih ngambil banyak foto. Tapi gak membuat kami terlambat kok untuk shalat ied. Awalnya berencana shalat ied di Dewan Dakwah. Tapi pas lewat, kok sepi? Ya sudahlah, akhirnya kami ke tempat biasa shalat ied, yaitu di Pulo Mas.

Gini nih bedanya lebaran di Jakarta dengan di Bandung, pas khotbah rasanya matahari sudah terlalu panas. Coba bersabar, eh, diajak ngobrol ma tetangga shalat. Baru kenal. Jadi khotbahnya tidak terlalu bisa mencerna. Yang jelas sih, intinya tentang bagaimana menjadi muslim yang jauh dari kemiskinan iman dan harta. hehe. Begitulah…

Setelah ied, langsung menuju rumah Nenek. Semua keluarga berkumpul. Berusaha mendapati semua berkumpul. Tapi sulit. Jadi saya hanya share beberapa foto. Inilah keluarga ku di Jakarta.

Foto pertama, cucu Nenek yang perempuan (minus Lea aja. Karena mudik ke Madiun)

Foto kedua, cucu Nenek yang cowok (minusnya banyak). Soalnya gen keluarga yang di Jakarta ini kuatan Y daripada X nya. Jadi lebih banyak laki-laki daripada perempuan. Sayangnya, yang laki-laki kurang gemar berfoto.

Foto yang ketiga, anak dan mantu perempuannya Nenek. Kurang satu juga. mamahnya lea.

Segitu aja foto-fotonya. Maaf kurang bagus penempatannya. Maklum, blogger amatiran. Hehe.

Kami stay di rumah nenek aja sampai adzan duhur. Karena Kakek salah satu orang yang dituakan di kampung itu, jadi kami lebih banyak dikunjungi tetangga daripada mengunjungi. Ketika sudah mulai sepi, saya dan keluarga kembali ke apartemen dan bersiap pulang ke Bandung. Tetapi ada acara baruuu. Abang saya kedatangan pacarnya. hehe. Jadi kami penasaran pengen kenalan. Dan akhirnya kami mencari baso enak. Dapat di simpang tiga. Dari sana, sempat kembali ke rumah Nenek untuk berpamitan.

Lalu perjalanan dilanjutkan ke rumah Mbak Indri (sori make mbak), bertemu ayah dan abangnya yang gak ikut mudik ke Solo. Mengobrol sebentar, langit sudah mulai gelap. Sebelum maghrib, kami berpamitan dan dapat bonus mangga. hehe. Makasih ya mbak…

Pulanglah ke Bandung. dan muacet sekali di Cipularang. Weleh-weleh. Sampai saya gantian menyupir dengan Abi. Ngantuk dan pegel berat. Sampai di bandung jam 22.00. Harus langsung istirahat. Karena besoknya ada silaturahmi keluarga Aki Nonoh. 🙂

Berkumpul… Saling membebaskan…