Gives Me a Little Empathy

Mungkin sejak melahirkan Khaleed hidup dan topikku lebih banyak tentang Khaleed. Kali ini saya ingin bercerita tentang empati yang baru saja muncul di diri saya.

Kemarin terjadi miss-komunikasi antara saya, officer, manager dan co-manager (istilah disamarkan). Tapi salah satu ada yang terlalu emosi. Sehingga membentak-bentak saya. Dan saya marah. Karena dibentak-bentak. Saya benci. Saya gak suka orang yang bentak-bentak saya. Pikiran saya belum terpakai saat itu. Hanya satu yang saya rasakan, I hate that person.

Setelah beberapa jam kemudian, baru saya pikirkan apa yang sebenarnya beliau inginkan. Dan sebenarnya sederhana dan dapat saya pahami. Sangat logis. Tetapi saya tidak suka nada tinggi apalagi bentak-bentak. Beberapa jam terbuang percuma untuk membenci orang tersebut.

Lalu saya berfikir tentang bagaimana saya dibesarkan. Ya, saya dibesarkan dengan tanpa, atau mungkin sedikit sekali, kekerasan. Kekerasan fisik maupun lisan. Beberapa kali dalam hidup (jarang mungkin ukurannya bagi orang lain), saya merasa marah dan benci sekali dengan orang yang berbicara penuh emosi. Apalagi sampe bentak-bentak. Sudah pasti isinya tidak akan saya dengar. Karena saya keburu benci dibentak-bentak.

Esoknya kami bertemu. Berbicara. Dengan suasana yang lebih baik. Dan ya, gak ada masalah yang fundamental selain, saya gak suka dibentak-bentak. Dan sulit membuat saya menyukasi atau merasa baik-baik saja dengan orang yang telah membentak saya.

Di perjalanan keluar setelah pertemuan itu, saya berfikir tentang Khaleed yang pernah saya bentak karena permintaannya yang terlalu sulit untuk saya penuhi dan cara meminta dengan berteriak dan menangis kencang. Huf! Akankah Khaleed membenci saya yang telah membentaknya setelah itu sama seperti saya membenci orang yang membentak saya?

Apakah membentak itu salah?

Apakah perlu belajar rasanya dibentak supaya sekalinya dibentak, seperti saya, gak lebay benci orang?

Atau memang seharusnya membentak itu salah total?

Ah, bingung. Tapi saya mencoba berempati. Jika Khaleed adalah saya. Yang sakit hati dan kemudian tidak mencoba mendengar pesan orang yang membentak. Maka, yes, I don’t have to yell at him, at any situation. Belajar mengontrol diri. Dibentak itu gak enak. Dan orang gak bisa mendapatkan pesan kita secara langsung. Tapi yang pasti akan ada, sedikit atau banyak, kebencian ketika dibentak.

Hufh! Thanks Allah for give me a chance to see and know the kind of person. Semua pasti ada maksud. Ada hikmahnya.

Mari terus berlatih mengontrol diri. Sampaikan hal yang baik dengan cara yang baik. Kepada siapapun.

Bismillah.

Mengenalkan Anak Kepada Kehidupan Nyata

Mungkin tahun 2011, pertama kali saya memiliki smartphone dengan layar sentuh yang bikin nyaman untuk menyelami dunia digital. Tetapi buat anak saya, Khaleed, sejak umur beberapa hari, dia sudah dapat menikmati lantunan lagu “Blue is The Color” nya Chelsea. Yup, kehidupan anak-anak zaman sekarang sudah bukan hanya dekat dengan gadget, bahkan menyatu.

Masalahkah? Saya mungkin tidak terlalu paham. Namun, yang saya pahami, segala sesuatu yang berlebihan tentu tidak baik. Dan sayangnya, gadget seringkali membuat orang menjadi berlebihan. Lupa waktu, lupa orang di sekitarnya, lupa makan, dan masih banyak lagi. Menghabiskan banyak waktu di depan gadget, menghilangkan momen dimana kita melihat dunia nyata. Yang mungkin lebih sedikit kebohongannya, ilusinya.

Ketika sejak lahir saja saya tidak merencanakan mengenalkan gadget kepada anak saya, tetapi dia sudah pasti mengenal. Tentu yang harus direncanakan saat ini adalah mengenalkan kehidupan nyata kepada anak saya. Ya, Khaleed harus dikenalkan merasakan, melihat dan mendengar di kehidupan nyata.

Khaleed harus diajarkan mengunjungi teman, kerabat dan saudara. Khaleed harus diajarkan bermain tatap muka dan berinteraksi langsung dengan teman-temannya. Mari dibuat rencananya. 🙂