Obrolan Sabtu Itu dengan Eyang Ema

Sabtu sepi itu adalah ketika suami dapat kerjaan tambahan di kantor, anak diajak eninnya ke luar kota. Udah kebayang boring banget mana harus ngurusin pertukangan. Sebelum boring berkepanjangan, di-sms umi lah disuruh ke rumah eyang karena nampaknya lagi kurang sehat, temenin eyang.
Dan sabtu boring itu akhirnya gak kejadian dengan obrolan santai (santai gak yah) seperti ini,
“Yang, ada kabar baik. Jokowi dah sowan ke Prabowo.”
“Wah, bagus pemimpin harus seperti itu.”
*Dalam hati, edan naha jadi bagus gini citranya Jokowi*
“Tapi yang, Prabowo juga bagus statusnya di FB.”
Dan karena HP kecil, jadi eyang gabisa baca, dan minta saya bacain status panjang itu.
*saya bacain sampe berbusa. Panjang pisan*
“Bagus kata-katanya.”
*Nah,,, imbang kan sekarang. Hahaha. Ketawa jahat*
Dari situ mulailah obrolan bahwa memang kita mudah sekali terpecah belah. Indonesia ini beragam banget. Hal itu sudah kejadian sejak jaman Belanda. Kita berbeda mah memang sudah berbeda. Tetapi kadang perbedaan ini dimanfaatkan oleh kepentingan-kepentingan tertentu. Padahal walaupun kendaraan, pakaian, kulit, bahasa dan lain-lain yang beda itu, sebenarnya semua manusia ingin kehidupan yang progresif, aman, damai dan segala yang bagus-bagus. Kita semua sama-sama manusia. Continue reading

Advertisements

Tagihan Listrik di Korea Selatan

Kaget banget rasanya liat tagihan listrik bulan ini. Jadi ini kali pertamanya saya menggunakan electric heater sebagai penghangat. Karena penghangat di rumah yang biasanya menggunakan gas gak cukup panas. Entah disebabkan ruangan yang terlalu tinggi, jendela yang bolong, atau bagaimana. Tapi yang jelas, jauh berbeda dengan rumah yang terdahulu yang cukup dengan menggunakan gas.

Setelah saya cek, ternyata penggunaan wattnya 4 kali lebih besar dibandingkan sebelumnya. Dimana sebelumnya hanya dihitung 10 hari. Jadi saya dan suami mengiranya hanya akan berlipat empat kalinya tagihan. Tapi ternyata, salah. 😀 Dan disini cara menghitungnya.

Jadi perhitungan listrik tidak sesimpel 100kWh = 5000. Maka 200kWh = 10.000 dan 300 kWh 15.000. Jadi perhitungannya itu ada  tingkatannya. Di tagihan rekening saya, ada 6 tingkatan. Yang mana setiap tingkatannya, dihitung per 100kWh. Bingung? Continue reading

Drink With Manner

Baru aja ikut makan-makan lab yang entah dalam rangka apa. Awalnya berat sekali rasanya ikut. Karena saat ini saya sering sekali meludah. Dan merasa gak nyaman kalau harus berdiam lama, tanpa kudapan atau tanpa tempat membuang ludah. Terlebih menunggu profesor datang, lama sekali, rasanya tersiksa mulut ini. Dingin. Pusing. Sempurna.

Sampai akhirnya profesor datang, dan kami berangkat. Ke rumah makan Korea. MEndengar rumah makan Korea, saya agak mual. Entah kenapa akhir-akhir ini jadi agak sensi sama rasa masakan Korea yang menurut saya cenderung kurang nampol. Dan ujung-ujungnya malah bikin eneg. Dan sesi itu pun terlewati. Sampailah ke rumah makan yang dimaksud, rupanya kita makan kalguksu.

Diawali dengan pindahnya saya ke meja tepat di depan profesor, akhirnya pembicaraan dimulai. Awalnya basa-basi kabar dll. Sampai sempet nyangkut ke pembicaraan tentang mimpinya untuk membantu orang2 yang tinggal di tempat terpencil di Indonesia atau amerika latin dan tinggal selamanya disana. Sampai ke topik Drink With Manner. Continue reading

Rumah Sakit Traditional di Korea (한의원)

Bukan pengalaman menyenangkan memang sakit di tanah rantau. Tapi boleh lah untuk diceritakan. 🙂 Kali ini saya akan menulis tentang rumah sakit tradisional di Korea. Nama koreanya 한의원 (haneuiwon). Apa sih rumah sakit tradisional? Apakah semacam pengobatan alternatif? Dukun? Nah, penasaran kan (sok iye pisan). Jadi di Korea Selatan ini ada semacam kompetisi dalam bidang kesehatan. Kenapa dibilang kompetisi? Karena keduanya sama-sama bersaing dan punya kekuatan yang serius. 🙂

Kompetisi itu adalah antara , sebut saja, RS modern dan RS tradisional. Pertama kali mendengarnya dari Prof saya, saya pikir rumah sakit tradisional ini tidak terlalu banyak, dan lebih ke arah “alternatif’. Tapi rupanya tidak. KEtika saya menulis 한의원 di naver. Ternyata di daerah saya tinggal, RS tradisional itu jumlahnya banyak. Dan cukup bisa dikatakan, menjamur.

Berdasarkan cerita Prof saya, yang kebetulan istrinya juga dokter di RS modern, jadi dua RS ini punya kekuatan yang sama besar. Dan bisa dibilang bersaing. Karena orang-orang di RS modern, tidak akan merekomendasikan anda untuk mendapat pelayanan dari RS tradisional. Begitu juga sebaliknya. Continue reading

Menukar Rupiah ke Won

Di Korea, mata uang yang digunakan untuk sebagian besar transaksi adalah won. Jadi, buat indonesia-ers sekalian, ada info penting nih. Jangan belanja make rupiah di Korea. Wkk. Penting abis ya infonya. Sebenernya saya lagi pusing aja milih kata pengantar buat tulisan saya yang satu ini. Yang pasti, mari kita obrolin tentang nukerin rupiah ke won atau pun sebaliknya.

Sejauh ini, nilai jual dan beli Won di Indonesia nih gak bagus, sumpeh. Misal, kalau misalnya kita beli bisa sampai 9, sedangkan jual bisa 7 koma besar (7.8, 7.9, dll). Jadi jangan beli Won di Indonesia, mahal. Dan jangan jual Won di Indonesia, murah. Berbeda dengan dollar di Indonesia, yang mana harga jual dan belinya gak terlalu beda. Dan kayaknya sih, nilai tukar aslinya di antara nilai jual dan beli. Dibandingkan Euro, Poundsterling, juga dollar kayaknya paling bagus. Apalagi kalau dibandingkan dengan Won. 😀

Jadi, kalau mau ke Korea, mendingan tuker Won di Indonesia sebutuhnya aja, sampai nanti di Korea bisa ke bank setempat nuker uang. Atau di money changer terdekat. Yang pasti bukan di bandara yah. 😀 Jelek aja di bandara mah. Continue reading

Empati dan Kesulitan (?)

Membangun rumah tangga di usia pernikahan yang sangat muda sambil mengenyam pendidikan di tanah rantau adalah suatu hal yang menantang untuk saya dan suami. Jiwa muda identik dengan kebebasan dan semangat yang menggebu. Jika ada beban berat yang harus dipikul, sebuah keniscayaan menjadi lebih ringan saat dibagi bersama. Selalu ada teman berbagi yang akan menerima kita di saat senang atau pun susah. Apalagi? Banyak hal indah yang bisa dirasakan. Tapi hidup tetap lah hidup. Tidak akan selamanya indah dan tidak akan selamanya susah.

Dalam menjalani masa-masa yang sulit, perlu ditanamkan dalam persepsi, bahwa disini lah kita ditempa. Disinilah kita membentuk batas kesabaran yang seharusnya semakin dibuka lebar, semakin luas dan semakin dewasa. Banyak hal yang perlu diselesaikan oleh waktu, dengan cara bersabar. Dan di titik terendah, disitu kita membentuk idealisme. Bertahan pada satu keyakinan, yang tidak boleh sedikitpun pudar apalagi hancur oleh masa-masa sulit itu.

Satu hal positif yang cenderung dipaksa hadir dalam masa sulit adalah empati. Kenapa saya bilang ‘terpaksa’? Karena memang sulit membentuk empati ini. Tidak ada jaminan, ketika kita keluar dari masa-masa sulit, empati itu tetap ada. Tapi biasanya, saat sulit, empati ‘terpaksa’ keluar.

Sekarang bagaimana kita tetap bisa membenamkan empati kita jauh ke alam bawah sadar, menjadi karakter. Bukan hanya sekedar teman yang datang dan pergi oleh kondisi.

Bismillah…

Semua Mata Mengarah Kepadaku

Kalau ngeliat judulnya, pasti pernah denger. Hehe. Kayak iklan produk kecantikan di Indonesia. 🙂 Tapi bentar dulu. Kali ini bukan karena cantiknya diriku. Hag hag hag. Tapi karena anehnya diriku di Korea ini. Ganti lagi nama panggilnya jadi saya ah. 🙂

Jadi di Korea, khususnya summer atau musim panas. Orang-orang berkerudung macam saya ini termasuk unik. Mungkin mereka bingung, buset, ini orang lagi panas banget bukannya make celana pendek dan kaos oblong. Malah make tutup kepala sampe dada, baju lengan panjang. Celana panjang lagi (yaiyalah masa kerudungan make rok mini). 😛 Continue reading