Postingan untuk Pecinta Snack Yummy

Ehm… Ehm… Gak bosen nih pengen nawarin dagangan. Jadi ceritanya, dari dulu pengen banget belajar bisnis. Tapi gak pernah nemu mau bisnis apa. Cita-cita sih bisnis yang masih ada kaitannya dengan dunia elektro atau pendidikan. Tapi nampaknya belum cukup ilmu. Akhirnya memilih untuk berbisnis makanan. Kenapa makanan? Karena saya suka banget makan. Jadi lebih bisa milih produk berkualitas dan enak. Seperti yang mau saya tawarin sekarang…

Apa aja produknya?

  • Kebab

Hmmmm. Kebab itu snack yang menurut saya… Memuaskan. Kenapa? Karena gak banyak digoreng-goreng, rasanya enak dan mengenyangkan. Terus kan kalau kebab biasanya kudu dibeli di tempat khusus macam gerobak merk tertentu, gak segampang beli nasgor atau gorengan. Jadi asik banget kalau kita punya stok camilan macam kebab di rumah. Oia, kebabnya juga non-MSG loh…. Nih contoh gambarnya…

f0cf393d-6e0b-4fb3-9766-a22555c95a44

Jenisnya macem-macem,

  1. Mini beef. Isi 10.
  2. Mini chicken. Isi 10.
  3. Mini mozarella beef. isi 8.
  4. Premium beef. Isi 5.
  5. Premium chicken. isi 5.

Bedanya pemium sama mini apa? Ukurannya. 🙂 Yang premium gede-gede. Yang mini ya mini-mini.

Untuk harga, mangga hubungi kontaknya di bawah.

  • Dim Sum

Nah, makanan yang satu ini kenapa saya pilih? Karena saya suka banget dimsum. Terutama pas tinggal di Korea. Dulu setiap abis makan, sering banget orang-orang Korea mesen yang namanya Mandu. Dan mandu itu adalah salah satu makanan yang gak bisa saya makan karena biasanya mengandung Pork. Alhasil saya cuman bisa kabita setiap kali ngeliat orang makan Mandu. Mandu kalau diliat penampakannya mirip-mirip siomay atau dimsum. Nah, kalau suka banget makan dimsum, pasti tau dong mana dimsum abal-abal (kebanyakan tepung) sama dimsum yang yummy (bener-bener kerasa seafoodnya atau ayamnya). Nah… Ini saya punya jualan dimsum enak banget. Dah dikasih coba ke beberapa orang dari mulai batita sampe eyang-eyang, dan komennya… “ENAK BANGET!!!!!” nih penampakannya. Isinya 15 biji per bungkus.

ee98c535-e50f-4523-9cdb-db859ff84f13

  • Risoles

Nah, kalau risoles ini juga ada sejarahnya. Dulu jaman ngidam Khaleed, syaa pengen banget makan risoles, dan akhirnya kesampean juga bikin banyak dan nyetok di kulkas. Sekarang? Saya nemuin risoles yummy frozen untuk stok snack di rumah. 🙂 Isinya daging asap, telur dan mayo. Simple isinya, tapi enak banget dimakan apalagi kalau ujan-ujan gini. Dicocol sambel. Hmmmmm…. Ini dia risolnya. Isinya 10 biji per bungkus.

98fb6395-3587-4b44-8424-fa6419400a8d

  • Minuman

Kalau minumannya, bener-bener kekinian banget deh dan untuk jenis minuman ini emang dah banyak yang jual, tapi bisa bandingin rasanya. Boba nih lebih mantep dibandingkan beberapa minuman sejenis yang pernah saya coba. Rasanya ada Thai Tea, Taro dan Green Tea. Ukurannya 250ml. Untuk Markisanya, ukurannya 260ml. Tapi semua harganya sama kok.

a1fdd54f-300f-46b6-9e02-333dcc9c6689

Mangga yang mau mesen… Langsung kontak aja…

Kontak pemesanan:

Adinda (081222909590). WA lebih baik. 🙂

Advertisements

Gak Ada Khaleed, Baca Buku Parenting

Tiba-tiba perasaan ini jadi sedih pas mulai baca buku parenting. Kesimpulan sementara saya, menjadi Ibu-Ibu itu harus menjaga kewarasan. Harus memahami anak dengan sangat baik. Nah, salah satu ngemaintain kewarasan ini, berdasarkan pengalaman saya adalah terus belajar mengenai anak. Entah lewat baca buku, entah lewat seminar atau diskusi dengan seseorang yang ahli atau berpengalaman dalam mengasuh anak dengan baik.

Karena manusia ini emang dasarnya suka lupa. Jadi perlu diingetin terus. Nah, dulu, saya sering dan rajin banget ikut seminar parenting pas Khaleed masih bayi. Dan menurun sekarang. Bahkan baca buku juga. Pas kemarin ditinggal Khaleed liburan, saya jadi gak banyak kerjaan. Saya memilih buku dan kemudian membaca buku Positive Parenting. Intinya tentang kedisiplinan.

Kalau dulu pas lagi rajin, Khaleednya masih bayi, jadi cuman afal cangkem aja. Nah, sekarang pas Khaleed masuk usia Pre-Schooler, baca buku ini lebih tersentuh dan mikir. Jadi sedih sendiri sih. Karena jadi sempat teringat masa-masa emosional yang membuat saya memperlakukan Khaleed secara tidak adil dan positif. Maafin Bunda ya Mas.

Sekarang saya jadi lebih termotivasi lagi untuk mengendalikan emosi. Dimana biasanya emosi saya juga dikendalikan oleh beban pikiran saya. Semoga saya bisa lebih baik lagi dalam mengelola emosi dan mengasuh Mas Khaleed, juga adeknya, setelah mendapatkan pengetahuan dari buku yang sedang dibaca sekarang.

Meriksa Adeknya Mas Khaleed

Mulai minggu ini, pemeriksaan ke dokter kandungan semakin intens. Yang awalnya satu bulan sekali, kini menjadi dua minggu sekali. Kali ini, pemeriksaan ditemani suami saja. Karena Khaleed sedang berlibur dengan Enin dan Abah.

Di pemeriksaan kali ini, saya memutuskan untuk memilih dokter kandungan yang tetap. Selama kehamilan ini, saya sudah mengunjungi tiga dokter. Sebenarnya awalnya cuman dua. Tapi pernah suatu waktu dua-duanya tidak ada, jadi terpaksa ada pilihan ketiga. Alhamdulillah dengan beberapa pertimbangan, akhirnya saya memutuskan dokter kedua.

Pertimbangan penting saya, di antaranya adalah… Dokter komunikatif dan menjawab pertanyaan dengan baik. Kedua, antriannya logis. Berbeda dengan dokter anak yang masih belum move on, untuk diri saya mah saya lebih suka yang logis antriannya. Kalau buat Khaleed saya masih stuck sama Aki Alex. Belum ada yang bisa semenangkan dan semanjur Aki Alex. Alhamdulillah dokter kedua ini gak pernah bikin saya exhausted nunggunya. Terakhir adalah kredibilitasnya di bidang kandungan. Nah, kalau ini saya dapet infonya dari gosip. Hehe.

Jadi saya percaya banget sama kredibilitas dokter nomor satu. Nah, tapi gak kuat sama antriannya dan kalah enakeun komunikasinya sama dokter dua. Tapi dokter dua ini, konon, kalau dokter satu berhalangan, sering mempercayakan pasiennya ke dokter nomor dua ini. Jadi bismillah ya.

Hasil pemeriksaan terakhir, kata dokter anaknya perempuan, sehat, posisi kepala udah di bawah dan berat badannya OK. 🙂 Kalau diliat dari BB bayi selama di perut, nampaknya adek nya Mas Khaleed ini bakal lebih gede dikit dari Masnya. Tapi semoga gak menghambat proses lahiran normal ya.

Ain’t Nobody Perfect

Sebut saja di usia segini saya lagi sibuk memperhatikan bagaimana orang tua-orang tua di sekitar saya menjalani kehidupan dan bagaimana pencapaiannya. Sepertinya saya sedang mencari sosok terdekat yang dapat dijadikan contoh, teladan. Semakin saya mempelajari, semakin saya merasa bahwa gak ada yang sesuai dengan harapan saya. Kenapa ya? Apa saya yang terlalu menerapkan standar yang tinggi? Atau terlalu mudah bagi saya illfeel ketika melihat kekurangan orang tua-orang tua tersebut?

Sebelumnya saya memiliki beberapa list orang keren terdekat dalam hidup saya. Namun semakin mengenal, semakin bisa menemukan kekurangan. Sampai akhirnya suami saya menjawab curhatan saya.

Kenapa ya sekarang jadi susah respect sama mantan idola saya? Sulit sekali mengembalikan kepercayaan, penghargaan, kepada orang-orang tersebut yang akhirnya saya menemukan kelemahannya?

Jawaban suami simple. Emang perlu saya mengembalikan tingkat respect saya seperti sebelum saya mengetahui sesuatu hal yang buruk? Gak akan beres. Sekarang yang penting, ambil yang baik. Fokus pada kebaikan orang tersebut. Ain’t nobody perfect, and so you are.