Dapet Award

Langsung saja ditulis di judul saudara-saudara sekalian. Karena saya baru dikasih award sama neng dhyah yang mana beliau adalah si empunya blog ini. Jadi saya punya kewajiban (lebay) untuk menuliskan hal-hal berikut:

1. Thank and link to the person who awarded me this award.

2. Share 8 things about myself.

3. Pay it forward to 8 bloggers that I have recently discovered.

4. Contact those bloggers and tell them about their awards.

Baiklah, dimulai dari yang pertama… Hatur nuhun Neng Dhyah telah memberikan saya award ini. Udah yah di linknya di atas. πŸ™‚

Terus yang kedua, 8 things about my self. πŸ™‚ Hmmm…. Setelah setengah hari berfikir… Mungkin ini poin-poin tentang diri saya. Jangan percaya!!! Haha. Buktikan sendiri dengan berteman baik dengan saya. Ok? πŸ˜€ Continue reading

Dalam Nikmat dan Nikmat

Sebenarnya saya sangat ingin menulis tentang sabar. Sabar dalam nikmat dan susah. Tapi berat rasanya menulis kata ‘dan susah’. Karena seringkali dalam kesusahan pun kita dapat saja menemukan nikmatnya. Atau jangan kita deh, tapi beberapa orang spesial yang memiliki hati lapang untuk selalu bersyukur. Yang selalu dapat merubah kesesusahan, kepayahan, tetap, menjadi sesuatu yang dapat ia nikmati.

Malam ini saya mengalami satu kejadian yang cukup membuat saya ingat. Bahwa hidup tidak selamanya susah (maaf karena menggunakan kata ini) . Juga tidak selamanya mudah, lapang. Tapi selalu ingat

Jadikanlah shalat dan sabar sebagai penolongmu

Dan malam ini, saya yakin. Penolongnya itu adalah Allah. Dan saya semakin yakin, bahwa saya, sebagai manusia, selalu butuh pertolongan Allah. Dalam susah dan senang. Dalam nikmat dan nikmat. Oleh karenanya, sudah seharusnya, saya mendirikan shalat. Selalu mendirikan shalat. Selalu bersabar. Bersabar dalam kondisi susah atau pun senang. Continue reading

Halal Haram… Ah….

Setelah hampir menjalani 5 bulan di Korea ini. Rasanya makin hari bukannya makin menjaga kehalalan makanan. Malah semakin menurun. Karena berbagai kondisi dan situasi. Awalnya mengijinkan untuk memakan A. Kemudian B. Berikutnya C. πŸ˜₯ Wallahualam halal atau gak. Yang pasti, di awal saya sangat berhati-hati sekali.

Baiklah, mungkin saya bisa bilang, namanya iman naik turun. Iya sih. Tapi ini sepertinya turun terus. Dan baru menyadari setelah melihat tagihan gas yang berangsur-angsur memurah. πŸ˜› Baru juga sebulan. Tapi sumpeh ini murah banget. Karena saya gak pernah masak lagi. Karena saya tidak takut Β lagi makan di luar. Saya tidak takut lagi kalau babi ada dimana-mana disini. Di ramen, di tempat masak di setiap rumah makan. Dimana-mana. >_<

Itu alasan pertama kenapa saya akhirnya memilih untuk tidak terlalu straight. Tapi lama-kelamaan saya mikir. Udah berapa banyak saya makan yang ‘mungkin’ tidak halal? Dah segunung kah? Dah berapa banyak darah yang mengalir dalam tubuh ini dari makanan yang haram? >.< Menyeramkan. Semalas itu kah diri saya menjaga kehalalan makanan saya? Hosh!

Musim dingin, gak enak, sekali-kali… Saya boleh punya seribu alasan. Tapi ketika mengingat bahwa saya pernah sanggup bertahan dengan makanan yang saya yakin itu halal. Ini sebuah kemunduran. πŸ˜₯

Bismillah. Semoga terus bisa menjaga kehalalan maknaan saya dengan segala daya yang paling saya bisa. No excuse. Please… Give me strength ya Allah…

Semangat buat teman-teman lain yang juga sedang menjaga darah dan dagingnya dari hal-hal yang haram. Bisa kok pasti bisa. Gak akan mati. πŸ˜€ Semangat!!

Pipa Air Panas Beku :)

Hehe. Lagi-lagi mau bercerita tentang lika liku hidup di One Room di Korea. Jadi, beberapa hari yang lalu, di pagi hari yang super dingin, saya ingin bergegas pergi ke luar kota. Dan ceritanya mau mandi dulu. Jarang juga sih mandi pagi di Winter gini. Tapi karena mau jalan-jalan, jadinya pengen mandi dulu. Dan? Krik, krik, krik… Air panas gak keluar dong. Alhasil air yang mengalir adalah air yang mengalir di udara luar yang kira-kira waktu itu adalah -16 derajat celcius. Kebayang kan dinginnya?

Bahkan untuk mencuci piring pun malas. Karena airnya terlalu dingin. Tapi saya gak ambil pusing, toh, mau pergi juga. OK lah. Saya pergi. Tapi setelah perjalanan jauh nan dinginnya super duper. Saya jadi kangen pulang ke rumah dan mandi air panas. Hmmm. Nikmat yang gak kerasa kalau itu nikmat banget sebelum air panas mati. πŸ˜€ (dasar manusia). Dan akhirnya saya menghubungi owner kenapa ini air bisa mati?

Dan ternyata dia lupa memberi tahu saya, kalau suhu ekstrim di bawah -10, saya harus mengeset mode boiler tertentu. Lain dari biasanya. -___________-‘ (Huh! Ngomong kek *mulai emosi) Dan si owner pun gak tau mesti gimana selain meset boiler pada mode itu sambil menunggu cuaca menghangat. Baiklah.

Dan pas malam-malam buka FB, melihat banyak orang yang tinggal di korea mengeluhkan hal yang sama. Dan ternyata saya masih cukup beruntung. Karena beberapa teman ada yang toiletnya beku. Dan pastinya, air panas gak mengalir sejak desember. Hufh! Gila. Oke-oke. Bukan saatnya mengeluh. Beresin! Continue reading

Kayaknya Gak Gampang

Hmmmm. Dalam perkembangan usia dari anak-anak banget (yang masih diinget aja), sampai sekarang (hampir menuju gerbang hidup baru), rasanya banyak dinamika yang sudah dilalui. ‘Banyak’ disini compared to anak yang usianya jauh di bawah saya. Hehe. Ngeles aje. Yah, intinya, hampir selesai melewati masa-masa ke-ABG-an. Dimana masa-masa itu dianggap masa ‘sulit’ bagi orang tua menghadapi anak-anaknya.

Saya ketika itu, pun demikian, sedang sulit-sulitnya dihadapi oleh orang tua saya. Karena masa itu saya masih mencari jati diri. Melihat banyak hal yang baru, karena sudah tidak sepolos waktu saya masih anak-anak. Pikiran yang dulu sangat sederhana (main, makan, tidur, dll) jadi lebih kompleks (teman, pacar, orang tua, uang? hah banyak). Dan tentunya, kalau di konvert ke bahasa anak jaman sekarang, sedang labil-labilnya.

Lantas, kalau sudah tua gak labil gitu? Ya, kata siapa orang tua itu sudah melewati masa-masa ABG nya dan menjadi dewasa? Tua itu pasti bung, dewasa itu pilihan. Dan menurut saya itu bener banget. Belum tentu juga sebenarnya saya yang sudah berusia 22 tahun ini sudah berhasil melewati masa-masa labil itu. Dan menjadi dewasa.Β  Continue reading

Sadar akan Perubahan

Saya terkadang merasa selalu ada yang baru dari diri saya. Sekecil apapun. Entah itu jadi lebih baik atau lebih buruk. Tapi yang pasti, selalu ada yang baru dari diri saya. Buktinya? Kalau tidak bertemu dengan teman, 1 tahun saja. Pasti banyak yang berbeda. Atau ada saja yang baru. Itu normal kaleeee. Hehe. Emang normal. =P

Nah, terus kenapa harus dibahas? Soalnya saya merasa kalau perubahan itu pasti. Perubahan itu terjadi karena kita selalu menemukan masalah, dan kita memilih bagaimana untuk bersikap. Dan masalah itu, selalu unik. Makanya jadi masalah. Kalau sama terus, ya lama-lama jadi gak masalah. Huahaha. Redundant banget nih kata-kata. πŸ™‚ Tapi bener, bagaimana kita merespon masalah yang kita hadapi lah, kita membentuk diri kita, menjadi baru. Yang akan menentukan elemen-elemen pembentuk karakter kita. Continue reading

Mengelola Sampah

Saya di awal-awal tinggal di Korea sedikit bingung dengan kebiasaan masyarakat sini. Kenapa? Karena sulitnya saya menemukan tempat sampah. Saya awalnya berfikir, kalau negara bersih, harusnya tempat sampahnya banyak. Tapi ini saya mau ikut jadi bersih, kok malah nyari tempat sampah aja sulit.

Dan saya akhirnya ngeh. Kenapa tempat sampah disini sulit. Kenapanya tidak akan saya jawab langsung disini. Akan tetapi saya jelaskan gimana sih sistem sampah menyampah di Korea ini? πŸ™‚ Saya pun baru tahu sejak mulai tinggal di luar. Karena di Asrama, saya tidak pusing dengan urusan sampah karena ada ajuhma yang setiap pagi mengurus sampah. Oia, penjelasan sistem sampah ini membuat saya mengerti juga, kenapa ajuhma di asrama saya selalu sibuk mendempet-dempetkan sampah. Padahal kan kalau mau gampang, tinggal masukin ke keresek dan buang saja.

Tapi rupanya begini. Sampah itu kan butuh diangkut yah. Dan di Korea ini, tidak akan diangkut sampah yang tidak dibungkus menggunakan plastik dimana plastiknya adalah plastik resmi dari pemerintahan kota tersebut. Atau barang-barang bekas yang tidak diberikan stiker tertentu yang juga dikeluarkan oleh pemerintah setempat. Jadi, kalau kita buang sampah saja tanpa menggunakan plastik atau stiker itu, sumpah, beneran dong sampah kita gak akan diangkut-angkut. Hehe. Saya telah mencobanya.

Terus peraturan tentang membagi sampah pun cukup disiplin. Terutama tentang sampah makanan dan non makanan. Kalau di rumah saya, sampah harus dibagi tiga. Botol kaca, sampah makanan yang lembut (tulang ayam gak termasuk) dan lain-lainnya yang bisa 3R-in (3R sila googling sendiri). Oia, ada lagi sampah barang bekas semisal kasur, TV, boneka danbarang barang lain yang sulit dikeresekin. ;)) Bahasanya makin lama makin aneh yah. πŸ˜›

Kalau sampah botol, saya kurang tahu ini gimana. Termasuk kardus juga. Jarang yang buang kardus. Biasanya disimpen. Di asrama saya, kardus-kardus, terutama yang besar, ada gudangnya sendiri untuk penyimpanan. Kalau sampah yang bisa di 3R-in, dibuang dengan dibungkus plastik yang dijelaskan di atas. Sedangkan sampah makanan pun juga sama. Ada plastik khusus, biasanya beda warna. Dan ada tempat sampah berstiker dan sering saya jumpai berwarna merah dengan ukuran kecil. Jadi tempat sampah berstiker itu diberi plastik sampah makanan di dalamnya, nanti bakal diangkut. Gambar di bawah ini contoh tempat sampah untuk sampah makanan yang sering saya jumpai itu.

Simple ya kelihatannya? Tapi sistem ini terbukti membuat daerah yang saya tinggali bersih. Dan jarang saya temui tumpukan sampah yang bau. Kalau tumpukan sampah yang belum diangkut sih iya, sering. Di tempat saya, sampah diangkut seminggu 3 kali pada jam 5 sore. Continue reading