Diary Ibuk, Desember 2010

Atas seijin pemilik diary… Saya publish tulisan ini…

Tulisan mengenang Bapak Romli….

25 Desember 2010, Hari Sabtu. Bapak banyak lupa. Ibuk menanyakan ini itu, tetapi Bapak jawabnya ngalor ngidul. Ibuk menangis sejadi-jadinya waktu itu. Adik (anak pertama) bingung harus ngapain. Hanya bisa peluk Ibuk dan ikut menangis. Masa Bapak menanyakan dimana Mas Arif (anak pertama) dan Mas Anas (anak kedua). Padahal kan lagi jauh, sudah lama tinggal di luar rumah untuk kuliah dan bekerja. Ada lagi yang Bapak lupa, Bapak pikir bulan itu adalah bulan Maret 2006. Wah, Bapak mainan lorong waktu ya, pikirku. Itulah awal Bapak sakit. Continue reading

Kamu Sayur, Aku Gorengan

Bersama suami menjadi mahasiswa di negeri orang, adalah suatu berkah yang tak ternilai bagi saya dan suami. Disini kami benar-benar mengenali satu sama lain ‘sebenarnya’. Kenapa? Karena dengan waktu luang yang tidak banyak, kami selalu menghabiskannya berdua. Tidak seperti jaman kami pacaran, yang waktunya terbatas ketika kami harus pulang ke rumah atau kosan masing-masing. Atau ketika kami harus bermain dengan kegiatan dan teman yang juga berbeda. πŸ™‚ Entah apapun aktivitasnya. Sekarang ini, dari mulai membersihkan rumah, memasak, belanja, nonton TV (Streaming), bahkan kadang belajar pun berdua. Karena sedikit banyak ada beberapa pengetahuan di research kami yang masih nyambung.

Aktivitas yang paling menyenangkan adalah memasak. Karena kami berdua tipe orang yang doyan makan. Gampang laper. πŸ™‚ Kalau pacaran, gak ada jamannya kami nangkring di cafe, nonton bioskop atau menghabiskan aktivitas mahal tanpa mengenyangkan. Tapi so far, kami masih belum gendut-gendut amat. Hehe. Jadi lanjuttt. πŸ˜€ Continue reading

Kekuatan Pikiran

Sebenernya saya bukan tipe orang yang hobi datang ke pelatihan-pelatihan yang trainernya berjas rapih, membakar semangat dan aneka training pengembangan diri lainnya. Tapi saya pernah mendengar tentang kekuatan pikiran dari salah satu training macam itu.

Dan semakin lama hidup, semakin mulai memahami bener gak sih kekuatan pikiran itu ada?

Ada pelatihan yang bisa membuat peserta nya yakin untuk jalan di atas api tanpa merasa kesakitan atau takut akan panas. Bener kah?

Sekali lagi, saya gak pernah ikut training begituan, jadi gak tahu. πŸ™‚ Tapi yang pasti, saya percaya. Kalau pikiran kita itu berperan sangat penting dalam kehidupan kita. Yang bisa membuat kita berbeda dengan mahluk Tuhan lainnya, ya pikiran kita itu. Makanya wajar kalau itu disebut satu kekuatan.

Pikiran bisa berubah karena kita merasakan sesuatu yang berbeda, mendengar sesuatu yang berbeda dan melihat sesuatu yang berbeda. Tapi tahukah? Sebenarnya tidak begitu. Sebenernya kita bisa melihat, mendengar dan merasakan sesuatu yang berbeda karena pikiran kita mengijinkan kita untuk itu. Bulak balik? Yes, you’re totally right.

Nah, sekarang, mana yang lebih kita percaya? Pikiran yang mengubah ketiga indra tersebut? Atau indra tersebut yang merubah ppikiran kita?

Disangka Pacaran

Tulisan yang pengenbanget dishare hari ini adalah pacaran. Dari kisah ini lah saya gak jadi males nyari bahasa koreanya suami dan menikah. πŸ™‚

Jadi, waktu pertama kali datang ke Korea Selatan, setahun yang lalu, saya pergi sendiri. Sempat tinggal di asrama sekamar sama teman Indonesia. Lalu pindah keluar, dan, tinggal sendiri di luar. Tinggal di luar berarti berteman dengan orang yang baru. Di antara mereka adalah penjaga toko deket rumah dan Β yang punya kos-kosan. Tinggal sendiri selama kurang lebih 7 bulan, cukup untuk menciptakan image kalau saya single dan masih kuliah di Chungbuk Dae.Β Sampai akhirnya saya menikah pada bulan Juli kemarin di Indonesia. Dan kembali bersama suami ke Korea Selatan.

Pertama kali datang rasanya sudah keliling. Memperkenalkan suami ke yang punya kos-kosan. Terus saya ajak belanja ke toko deket rumah. Dan jelasin dia suami saya. Tapi emang waktu pertama kali saya gak tau bahasa koreanya suami apa. Jadi menggunakan bahasa Inggris, Husband.

Waktu berjalan, dan kejadian-kejadian yang cape deh terjadi. Berkali-kali belanja sendiri ke toko, beli air atau cuman coklat-coklat gitu aja. Dan selalu ditanyain, “Kok gak sama pacarnya?” -_-

Lain lagi dengan yang punya rumah, perasaan dulu pernah nanya, di rumah ada siapa? Terus pernah ngurusin mesin cuci rusak, dan ketemu suami di rumah. Apalagi yah, kayaknya banyak moment ketemu. Tapi beberapa waktu lalu, nanya gini, “Adinda, kamu sekarang gak tinggal sendiri?”

“Gak, kenapa?”

“Jadi sekarang kamu tinggal dengan pacar kamu kan?”

“Zzzz… Bukan pacar, tapi husband”

Dan sepertinya sudah saatnya mencari dan menyebutkan dengan benar apa suami dalam bahasa Korea. Nampyeon. Bukan nampyeong. Dan berharap bukan mereka gak percaya kalau saya tinggal dengan “beneran suami” saya. πŸ™‚ Tapi emang karena bahasa yang mereka tidak mengerti.

But, her readers, truly, Me and Anas fauzi are married. πŸ˜€

Saling Mengenal dalam Perjalanan

Huaaaaaaaaa. Senangnya hidup. Kenapa? Karena seberat apapun hidup, kita tetap punya teman. Teman walaupun tidak akan pernah bisa bantuin riset kita, bayarin uang jajan sehari-hari, beliin kita apa yang kita mau, tapi ada yang gak bisa diganti dengan semua itu. Namanya kebersamaan. Waktu, menghabiskan waktu bersama, merasakan banyak hal bersama. That is what friends are for. πŸ™‚

Akhir minggu kemarin, alhamdulilah diberi kesempatan untuk pergi bersama-sama teman-teman sekota di Cheongju. Kami pergi ke Everland dan berjalan-jalan di Seoul. Melalui perjalanan bersama yang memakan waktu cukup panjang, 2 hari satu malam, saya jadi semakin mengenal karakter teman-teman seperjalanan. Ada yang banci toilet, ada yang banci ketinggalan, ada yang banci duduk, ada yang macem-macem… πŸ™‚

Dalam perjalanan, biasanya kita menunjuk satu tempat dengan tujuan sama. Yaitu refreshing, belanja atau ingin melihat pertama kali. Mungkin itu yang menyatukan. Yang bikin jadi kompak.

What a life. Thanks God, I have friends. πŸ˜€