Catatan Mentoring: Anak Gak Nurut?

Konon katanya satu dari tiga masalah yang dikeluhkan oleh orang tua adalah “anak gak nurut”. Hmmm. Sounds familiar? šŸ™‚ Saya begitu soalnya. Banyak dari kita menginginkan anak-anak kita untuk nurut sama kita. Salah kah? Tenang, tulisan ini tidak akan menghakimi salah atau benar memiliki keinginan itu. Tapi kita akan bahas sisi lainnya aja. Yaitu, bahwa “nurut” atau kepatuhan itu harus dibangun.

  • Kelekatan itu penting

Sebelum kita mulai, sekarang kita coba bayangkan dulu yah, kalau ada orang yang amat sangat kita cintai, meminta kita melakukan sesuatu, peluang kita untuk memenuhinya besar atau tidak? Gimana kalau yang meminta kita melakukan sesuatu itu adalah orang yang kita benci? Lebih berpeluang mana kita untuk nurut? Sama orang yang kita sayangi atau yang kita benci? Sepertinya semua bisa bersepakat yah, bahwa peluang kita nurut akan lebih besar jika yang memintanya itu adalah orang yang kita amat sangat sayangi. Maka kelekatan itu adalah modal kita untuk menyeleraskan keinginan kita dan anak. Kalau ini tidak ada, maka kita seperti orang lain, tidak penting untuk didengarkan anak kita. Apalagi kalau harapan kita tidak sekedar “asal nurut”, tapi ada tambahan “harus ikhlas”, wah lebih challenging lg. šŸ™‚

  • Tetap hargai anak kita dengan mengijinkan mereka mengeluh atau cemberut dalam kepatuhan

Siap gak sih kita dengan “ke-gak ikhlas-an” anak kita? Misal aja nih, saya meminta Khaleed untuk menaruh semua barang ke tempatnya setelah dia pulang sekolah. Disitu badannya lelah. Pengennya tidur. Lalu dia tetap melakukan seperti yang saya minta, tapi sambil cemberut atau ngedumel. Gimana tuh? Cukup kah untuk saya? Sebaiknya memang saya tetap perlu bersyukur bahwa Khaleed mau memenuhi perintah saya. Perkara mengeluhnya, ini yang nanti bisa kita perbaiki di lain waktu saat suasana hatinya tidak lagi bermasalah. Karena kalau saya semprot pada saat itu juga, “Yang ikhlas dong mas… itu kan juga buat kebaikan mas Khaleed dan bla bla bla…” Anak justru malah merasa kalau sia-sia juga diturutin, tetap aja negatif respon kitanya. Jadi jangan lupa tetap menghargai anak kita yah. Kalau bisa gunakan kata-kata ajaib juga seperti tolong dan terimakasih.

  • Pada dasarnya anak itu ingin menyenangkan hati kita

Yang perlu diingat juga, pada dasarnya, anak-anak itu ingin sekali menyenangkan orang tuanya. Kenapa? Karena mereka butuh untuk disayang oleh kita. Namun, kebutuhan ini akan semakin berkurang ketika anak-anak mulai mandiri. Karena mereka tidak lagi bergantung dengan kita. Itulah kenapa, semakin anak kita besar akan semakin sulit untuk kita berharap anak-anak menuruti semua harapan dan kemauan kita.

  • Pemberontakan kecil wujud kemandirian anak

Sebagai orang tua, kita juga harus siap-siap dengan pemberontakan-pemberontakan kecil. Hal ini wajar ketika anak-anak mulai berkembang kemampuan berfikirnya, sehingga dia memiliki lebih banyak alternatif dalam suatu hal, dibandingkan ketika dia masih kecil. Pilihan-pilihan itu akan semakin terbuka ketika anak-anak semakin megeksplor lingkungannya, seperti sekolah, tetangga, keluarga, dll. Maka pemberontakan ini jangan selalu dianggap negatif, karena sisi positif dari pemberontakan ini adalah wujud kemandirian. Anak yang mandiri, dia mampu menyelesaikan masalahnya tanpa bantuan orang lain.

Nah sampai sini, saya boleh yah bertanya, apakah kita benar-benar yakin bahwa kita mau punya anak yang penurut?

Buat saya sendiri, pertanyaan ini agak sulit dijawab. Karena di satu sisi, saya senang jika anak saya mampu berfikir dan memilih (mandiri), tapi apakah saya siap juga untuk menerima ketidaksetujuan? Nah, akhirnya saya berfikir, at some points, saya pengen anak saya nurut. Tapi, at other points, saya akan membebaskannya memilih. Mungkin ini yang paling bijak, karena kita gak mungkin terus menerus mengontrol hidup anak kita sesuai kemauan kita.

  • Refleksi diri: apakah kita selalu mematuhi orang tua kita?

Hal tesebut akan lebih mudah kita pahami dengan menjawab pertanyaan, apakah kita, sebagai anak, selalu menuruti semua yang orang tua kita mau? Kalau jawabannya tidak selalu, apakah itu membuat kita menjadi anak yang buruk? Kita jawab masing-masing aja. Mungkin dari situ kita bisa lebih bijak dalam hal “nurut-nurutan” ini sama anak-anak kita. Dan kita akhirnya punya fokus, hal-hal apa saja yang benar-benar kita ingin anak kita menurutinya. Karena semakin banyak dan gak fokus, ujung-ujungnya akan menambah tabungan emosi negatif kita dan anak kita, lebih jauh lagi kita jadi kehilangan hal-hal penting yang akan kita ajarkan ke anak kita.

  • Jelaskan hikmah dan berikan alternatif untuk anak

Sekarang mari kita lanjutkan dengan menjawab pertanyaan tersebut dengan, “ya, bahwa di beberapa hal, kita ingin anak kita nurut.” Nah gimana tuh caranya? Yuk kita pelajari bagaimana Al-Qur’an melarang dan menyuruh sesuatu kepada manusia. Dalam Al-Qur’an, semua perintah dan larangan itu memiliki penjelasan. Misal, berzina. Allah melarang kita berzina karena itu adalah perbuatan yang keji. Selain itu hal tersebut dapat merusak nasab, transfer penyakit dan menodai kehormatan.

Berikutnya, ketika Allah melarang berzina, tapi keinginan itu ada, maka Allah berikan alternatifnya, yaitu berpuasa atau kalau ada pasangan yang siap ya menikah. Jadi kalau kita melarang sesuatu, pastikan kita memberikan alternatif yang bolehnya apa? Alternatif ini membuat anak lebih berdaya karena memiliki pilihan yang mungkin lebih dia sukai. Jadi gak sekedar distop keinginannya. Buat anak ini adalah bagian dari proses pendewasaaan. Dimana manusia dewasa itu akan selalu mampu berfikir dan memilih, untuk selanjutnya mengembangkan kemampuan memutuskan dan merelakan.

  • Biarkan anak belajar dari kesalahan

Tapi gimana kalau anak kita memilih hal yang tidak sesuai dengan keinginan kita dan ternyata itu salah? Nah, disini kita bisa menerapkan sejauh apa ketidaksesuaian itu, jika itu melanggar agama yah mungkin kita bisa lebih kuat lagi memberikan alasan atau konsekuensinya. Tapi jika itu masih tolerable, kita dapat memberikan anak kita kesempatan untuk menjalani pilihan yang salah agar dia belajar.

  • Jurus terakhir:Ā Award and Punishment

Tahap terakhir yang dapat kita tempuh saat kita ingin anak kita nurut adalah menerapkan award and punishment. Karena dalam hidup, ada beberapa hal yang kita yakini sebagai kebenaran yang solid dan sangat penting. Sehingga kita ingin anak kita benar-benar melakukannya. Namun yang perlu diketahui dari cara terakhir ini adalah award and punishment ini tidak perlu diterapkan di terlalu banyak hal. Dan pastikan untuk mendiskusikan terlebih dahulu, jangan ujug-ujug menghukum tanpa ada perjanjian atas konsekuensinya dulu. Ketika sudah diskusi, maka eksekusi semua kesepakatan secara konsisten. Jangan kendor atau berlebihan. Selain itu, pastikan hukuman adalah sesuatu yang akan dihindari anak. Karena tujuan kita bukan anak mengambil opsi hukuman, tetapi berusaha menghindari hal tersebut dengan mengikuti aturan.

Dari topik ini sebenernya saya belajar, bahwa kuasa kita pada anak kita itu terbatas. Ada usaha yang dapat kita tempuh, tapi semua itu tetap tidak pasti hasilnya. Karena anak kita adalah manusia dengan kemampuan berfikirnya sendiri. Kita kelak akan sampai pada titik tidak mudah dalam mengatasi keinginan yang berbeda. Tapi saya merasa perlunya berdoa dan bertawakkal kepada Allah. Terutama berdoa agar apapun pilihan yang anak-anak saya pilih, semoga selalu dalam ridho Allah.

Catatan Mentoring: Persaingan Antar Saudara

Bismillaahirrahmaanirrahiim. Tulisan kali ini adalah awal dari tulisan saya bertema “Catatan Mentoring” yang benar-benar merupakan catatan selama saya ikut mentoring bersama bu Yeti Widiati. Disclaimer, karena ini catatan pribadi, mohon untuk tetap kritis dalam membacanya. Jika dirasa benar dan bermanfaat, sila diteruskan. Jika dirasa salah, mohon dikoreksi.

Saya menulis ini dengan tujuan mengikat ilmu. Setelah kurang lebih 1.5 tahun mengikuti mentoring psikologi mingguan, saya merasa perlu menuliskan ulang beberapa catatan penting. Tujuannya adalah agar semakin masuk ke dalam diri saya pemahamannya dan juga semoga bisa bermanfaat bagi banyak orang.

Untuk tema pertama, kita mulai dengan persaingan antar saudara atau sering kita dengar istilah kerennya sibling rivalry. Dalam persaudaraan, tak jarang kita temukan kebencian dan rasa iri muncul. Hal tersebut sebenarnya wajar dan juga diperlukan. Anak yang tidak mengalami konflik antar saudara memungkinkan dia melewatkan kesempatan untuk melatih diri mengatasi masalah.

Sibling rivalry iniĀ  dimulai sejak memiliki saudara baru, yaitu ketika adik lahir. Yang perlu kita ingat sebagai orang tua, kehadiran adik baru ini dapat membuat perasaan yang tidak mudah untuk kakak. Kita sebagai orang tua harus membuat masa transisi ini menjadi lebih mudah untuk anak kita. Caranya? Jangan paksa anak untuk langsung menyukai adik baru.

Kehadiran orang baru dalam hidup itu tidak mudah. Bisa kita bayangkan misalnya, suami mengenalkan kepada kita seorang perempuan yang akan jadi istri barunya. Dia lebih cantik, lebih muda dan semua orang sangat tertarik dengan dia. Lalu suami meminta kita untuk menyayangi calon istri barunya tersebut. Mudahkah? Tentu tidak.Ā Yes. Mungkin itu contoh ekstrimnya. Tapi intinya, kehadiran orang baru itu tidak selalu mudah untuk semua orang.

Kita bisa mengenalkan lebih awal dulu saat kita hamil, tentang kehamilan kita. Bagaimana nanti proses yang terjadi selama kehamilan di diri kita dan 9 bulan kemudian akan hadir adik bayi. Tidak perlu berlebihan untuk langsung bilang, ” kamu harus sayang yah. Gak boleh menyakiti” dan kata-kata lain yang akan menambah kecemasan kepada kakak. Dan tetap berikan perhatian penuh kepada kakak selama kehamilan kita.

Kita tahu, hormon kita ketika hamil itu tidak biasa. Bisa jadi ada perubahan dalam emosi diri kita dan itu dapat berpengaruh terhadap sikap kita kepada orang di sekitar kita, termasuk kakak. Jangan merasa lemah jika harus meminta suami untuk memberikan kita kenyamanan selama proses ini agar bisa bersikap lebih baik kepada kakak. Kelelahan dapat menjadi salah satu sumber perubahan emosi kita. Jadi yuk suami, bantu istri agar dapat lebih nyaman selama kehamilan.

Ketika adik lahir, jangan sampai perubahan ini terasa drastis untuk kakak. Biasanya, semua orang fokus pada adik yang baru lahir. Antusias. Lalu sang kakak akan merasa asing dan tidak diperhatikan. Penuhi kebutuhan bayi sesuai porsinya. Berbagi tugas dengan suami, terutama dalam hal-hal yang tidak memerlukan kita sebagai ibu. Selama adik bayi di-handle ayah atau support system lain, tetap luangkan waktu untuk kakak. Jangan sampai kakak kehilangan banyak momen yang sebelumnya dia dapatkan. Percayalah, semakin kakak merasa nyaman dengan perubahan ini, akan membuka peluang lebih cepat untuk kakak menyukai bahkan mencintai adik baru ini.

Pada proses selanjutnya ketika anak semakin besar, perhatikan hal-hal berikut ini:

  • Mencintai anak dengan unik

Setiap anak memiliki keunikan sendiri-sendiri. Temukan hal yang unik dari setiap diri anak yang kita sukai. Apresiasi anak-anak atas keunikannya itu. Selain anak-anak merekam keunikannya dan merasa penuh, kita juga sebagai orang tua jadi lebih aware terhadap keunikannya dan dijauhkan diri dari memperlakukan semua anak “dengan cara yang sama”.

  • Perlakukan anak dengan adil

Setelah memahami bahwa anak itu unik, maka berikutnya kita harus adil dalam memperlakukan anak. Adil itu tidak sesederhana membagi satu potogan kue menjadi dua dengan sama besar untuk dua anak. Karena belum tentu kakak suka kue tersebut kan? Belum tentu juga dua-duanya sama-sama sedang lapar dan ingin makan kue? Gak sesederhana itu. Ini baru urusan kue. Gimana urusan yang lain yang lebih abstrak, misalnya kasih sayang?

Nah, maka adil itu harus dimulai dari mengenali kebutuhan setiap anak kita. Kakak punya kebutuhan emosi apa yang perlu kita penuhi, adik punya kebtuhan emosi apa yang kita penuhi. Ini harus dilakukan sebagai orang tua dengan pengamatan dan coba-coba. Respon dari mereka yang akan bisa meyakinkan kita apakah yang kita berikan itu sudah tepat atau belum. Sudah sesuai kebutuhannya atau belum.

Dalam konflik misalnya, tidak harus selamanya menjadi kakak itu harus mengalah dengan adik. Ada saatnya adik yang memang harus mundur dan mengakui, bahkan menerima konsekuensi. Gak ada rumus untuk adil, maka kita harus terus berusaha dan memperbaiki perilaku adil kita. Satu hal yang pasti, keadilan itu dapat dirasakan oleh anak.

  • Persiapkan anak untuk menghadapi konflik

Dalam hubungan saudara, ada saatnya segala sesuatu tidak berjalan dengan baik. Pasti akan ada konflik. Makanya kita sebagai orang tua, jangan nambah-nambahin konflik di anak dengan sikap membanding-bandingkan, tidak adil, dll. Nah jika anak konflik, apa yang harus kita lakukan? Kita latih sedikit demi sedikit mereka untuk menyelesaikan masalahnya sendiri. Jangan jadi wasit terus. Kenapa? Karena gak selamanya kita akan bisa hadir menjadi wasit bagi mereka.

Kita bertindak ketika sudah ada yang mulai saling merusak atau berbahaya. Jangan sampai kita hilangkan kesempatan mereka menyelesaikan masalah dengan terus menerus menjadi ratu adil bagi mereka. Apa yang harus kita siapkan? Ajari anak untuk mengenali perasaannya, menerimanya dan menyampaikan kebutuhannya dengan baik. Disitu kita mengajari anak untuk fokus pada perasaan yang dia rasakan. Sehingga konflik lebih terarah.

Anak yang mampu mengenali, menerima dan menyampaikan perasaannya dengan baik maka akan lebih mudah melakukan dialog. Kemampuan anak untuk berdialog menjadi penting dalam menyelesaikan masalah antar mereka. Bangun kedekatan antar anak. Karena dialog tidak akan terjadi kalau anak-anak merasa saling berjauhan.

Tantangan paling besar buat saya sebenernya ketika ada salah satu anak yang mengadu. Karena mau tidak mau mereka melibatkan saya dalam konflik mereka. Disitu kita harus berusaha bersikap adil. Tapi kalau tidak mengadu, biasanya tantangan yang saya rasakan adalah berisik. Yah ketika mereka adu mulut bahkan kalau sampai teriak-teriak dan mencemooh. Nah, untuk berisik ini, saya lebih memilih menyampaikan kepada mereka untuk merendahkan dan memelankan suara, tidak harus terlibat langsung ke permasalahannya.

  • Perlakukan anak secara individual

Jangan biasakan berdialog untuk isu individual anak di depan umum. Umum ini berarti di depan saudaranya juga. Jebakan buat saya itu adalah berbicara sambil ngapa-ngapain, beberes misalnya, untuk mengingatkan Khaleed akan sesuatu. Jadi adiknya bisa dengar. Kalaupun pesan yang akan disampaikannya perlu juga diketahui adik, belum tentu sang kakak nyaman adiknya tahu. Biasakan berdialog secara individual dengan anak. Disitu harga diri anak lebih terjaga. Kondisi sulit yang biasanya saya hadapi itu ketika ingin menasehati. Seringkali menjebak diri menasehati salah satu anak di depan anak lain. Ini perlu dihindari.

  • We-time

Atur waktu, tenaga dan biaya untuk membersamai setiap anak sacara bergantian. Karena anak-anak perlu waktu dengan kita, dimana dia merasa fokus ortunya adalah hanya kepadanya. Perasaan itu akan sangat penting dalam membangun kepercayaan anak bahwa kita sayang sama dia.

Saya bukan tipe yang sudah bisa membuat jadwal untuk we time dengan setiap anak secara rutin. Namun jika ada gejala ke-jealous-an muncul di salah satu anak, seperti “Ah Bunda mah lebih sayang sama Alisha daripada sama Khaleed.” Nah, barulah saya ajak nge-date berdua. Dulu sebelum memahami kebutuhan ini, saya bereaksi dengan ucapan, “Gak lah mas. Bunda sayang sama Khaleed sama dengan sayang sama Alisha bla bla bla.” Intinya membeberkan fakta yang membuktikan kalau itu salah, sayang saya untuk mereka sama. Ternyata gak seefektif langsung memberikan perhatian khusus seperti we-time.

Sebagai penutup, sibling rivalry tidak selalu harus kita pandang buruk yah. Buruk itu ketika itu terjadi tanpa pernah ada solusi sehingga menjadi unfinished bussiness yang mempengaruhi emosi jangka panjang. Sibling rivalry bisa jadi sumber melatih keterampilan anak dalam berinteraksi dengan orang lain. Tidak juga sibling rivalry ini dapat kita hilangkan, karena ini natural terjadi. Maka yang penting bagi kita adalah memanage sibiling rivalry ini. Hal ini menjadi penting karena ada juga orang tua yang berusaha mengihlangkan sama sekali. Contohnya, biar gak berantem, semua dibeliin mainan yang sama, dll. Ya, mungkin anak jadi anteng dan tidak berantem. Tapi anak kehilangan banyak kesempatan untuk belajar berinteraksi dengan baik pada saudaranya.

wallahu’alam bishawab

Black.ish: Make Time for “Us”

images

Hihi. Judulnya sok Inggris banget yah. Harap maklum yah. Btw, sekarang saya mau ngebahas sebuah film yang banyak membuat saya berfikir tentang hidup, terutama keluarga. Sebelumnya saya kasih intro dikit yah, Black.ish ini adalah serial dari ABC TV yang menceritakan tentang Dre dan Bow. Mereka adalah suami istri dengan 4 anak, awalnya, lalu di episode sekian jadi 5, yeay, banyak yah untuk jaman sekarang. Dre adalah seorang black american. Bow, dia mixed.

Film ini menarik karena banyak menggambarkan masalah-masalah yang ril dalam masyarakat amerika dan keluarga disana. Dalam konteks masyarakat, film ini membahas pentingnya mereka menghargai sejarah black american, bersuara untuk keadilan yang banyak mendeskreditkan black american, dll. All about black. Tentang keluarga, film ini bercerita tentang komunikasi anak-anak dan ortunya yang kadang tidak mudah, pra baligh, counting the blessings, agama, tradisi, dll.

Semua topik itu terasa sangat nyata tapi tetap lucu. Sampai season 4, saya merasa ini film komedi keluarga yang value-nya solid. Konflik yang disajikan selalu dilengkapi dengan “how they handle it, in the end“.Ā  Nampaknya benang merah yang saya coba tarik dari bagaimana mereka menangani konflik dalam keluarga adalah jujur dengan apa yang dirasakan, menerimanya dan mengkomunikasikannya dengan baik.

Tapi begitu sampe season 5. Terutama di 3 espisode terakhir, saya bener-bener ngerasa, omaigat, this is drama. Fiuh. Siapin tisu. Kesel deh karena kenapa jadi film sedih gini sih? Why? I enjoyed the previous’ so much. Kenapa harus end up like this.

Season dan episode sebelumnya silahkan nikmatin sendiri yah. Saya nonton di Hooq. Tapi 3 episode terakhir ini pengen banget saya tulis tentang pengalaman perasaan saya saat menontonnya. I watched those three times. Hah. Awalnya kesel, tapi entah kenapa, kok lama-lama jadi doyan ngeliat film penuh konflik batin gini. Apakah saya salah? >_<

Anw, jadi yang bikin saya mengulang-ngulang 3 episode itu adalah, saya pengen belajar, how a marriage ends up like hell. Why did it happen? And how?

Kayaknya susah mendefinisikannya kenapa suatu rumah tangga bisa terasa dingin, datar bahkan horor. Tapi yang saya tangkap adalah ketika mereka melupakan bagaimana mereka memulai rumah tangga. Mereka sibuk dengan capaian masing-masing, dan lupa dengan mereka berdua, dua manusia yang dulu memulai sebuah rumah tangga ini. Mereka lupa masa-masa dimana mereka masih bisa tersenyum lebar, dag dig dug, saat bertemu pasangan. Saat mereka dengan bahagianya menyebarkan undangan pernikahan. Berdiri berdua di atas mempelai jadi ratu dan raja sehari.

Tapi pernikahan bukan tentang kesenangan semata. Mereka mulai sadar ketika mereka harus berdiri berdua saja untuk membangun hidup sendiri. Mereka berjuang membangun semuanya dari nol. Membagi pekerjaan. Sambil berusaha menyeimbangkan tugas-tugas harian dengan kewarasan. Belum lagi menemukan banyak hal dari pasangan yang ternyata banyak yang di luar harapan.

Kondisi semakin sibuk, ketika mereka memiliki anak. Mereka perlu bener-bener belajar banyak hal baru dalam mengasuh anak-anak yang selalu ada aja tantangan di setiap fase perkembangannya. Selain itu, semakin bertambah jumlah anggota keluarga, kebutuhan keluarga pun makin besar. Gak ada cara lain selain bekerja semakin keras, dan keras. Sampai akhirnya mulai merasa, this my career. I will pursue my dream. Yes, “mine”.

Perlahan tapi pasti mereka berhasil sedikit demi sedikit memenuhi kebutuhan mereka, bahkan lebih dari cukup. Semua hal itu ternyata men-challenge mereka untuk lebih baik lagi. Tapi di sisi lain jadi lebih demanding. Mereka melihat ke belakang, dan merasa mereka telah melakukan banyak hal hebat. Di sisi lain, mereka tidak sadar, ketika mereka kembali ke rumah dan melihat pasangannya, ternyata, mereka telah berjarak. Yup. Bahkan terlalu jauh jaraknya.

Jarak yang diciptakan karena mereka tidak lagi saling melihat satu sama lain. Karena mereka sibuk memikirkan banyak hal yang terjadi “akibat pernikahan”. Di akhir mereka menyadari, sudah banyak hal yang berubah di dirinya dan pasangannya. Mereka bahkan lupa hal-hal apa saja yang paling diinginkan dan disukai oleh pasangannya. Uhm. Mungkin bukan lupa. Tapi tidak peduli lagi. Dan ternyata itu menyebalkan bagi pasangannya.

Itu yang terjadi pada Dre dan Bow. Karena jarak itu, maka masalah kecil yang biasanya bisa diakhiri dengan baik, tapi kali ini tidak. Mereka jadi lebih sering menilai pasangannya dengan kacamatanya masing-masing. Uzur jadi jarang diberikan atas kesalahan pasangan, suasana jadi sangat menyesakkan dan menegangkan. Mereka jadi lebih jujur tentang ketidaksukaannya dengan pasangannya, daripada menunjukan kesukaannya terhadap pasangannya. Less appreciation, more judging. Akhirnya semua berubah jadi kondisi yang super duper melelahkan.

Mereka akhirnya memilih untuk pisah rumah. Memberikan ruang satu sama lain. Namun ternyata itu tidak banyak membantu. Keadaan makin parah ketika mereka semakin berusaha kuat untuk menyenangkan anak-anak mereka bahwa perpisahan sementara ini akan berhasil, dan ternyata tidak. Ya. Akhirnya mereka berpisah.

Sampai suatu malam, Bow menelepon Dre dan mengabarkan Ayahnya meninggal dan malam itu juga, Dre mendatangi rumah Bow. Dan memberikan dukungan penuh untuk Bow melewati masa-masa berduka kehilangan ayahnya. Bow merasa sangat terbantu mengatasi situasi sulit itu. Dia menawarkan Dre untuk tetap bersamanya, kalau Dre mau. Dan Dre menerimanya. Pelukan hangat dan tulus dari Dre untuk menghilangkan kesedihan Bow atas kepergian ayahnya, bagi Bow terasa seperti “This is what I need“.

Dan kali itu mereka jujur, dan menyerah, bahwa sebenarnya, hidup bersama memang penuh perjuangan. Namun berpisah pun penuh perjuangan. Ketika ruang untuk kembali bersama itu terbuka dengan sangat natural saat kepergian ayahnya Bow, maka mereka memilih untuk tetap berusaha dan berjuang lagi untuk kebersamaan mereka.

Di akhir episode, seorang terapis berusaha menjelaskan kondisi mereka dengan analogiĀ thanksgivingĀ dan kalkun. Mungkin saya gak akan menuliskan itu disini. Tapi saya ingin menerjemahkan saja. Ketika kita menikah, kita akan sibuk dengan banyak hal baru yang harus kita selesaikan. Pekerjaan itu kadang terlalu banyak, sehingga pasangan lupa tentang “kita” sebagai “pasangan”, bukan sebagai ayah/ibu, pekerja, anak/mantu, anggota masyarakat dll. Kita menaruh “kita” di prioritas terakhir dari semuanya. Bahkan seringkali tidak dikerjakan.

Kita lupa membangun kita. Kita lupa menghangatkan kita. Kita lupa memperhatikan satu sama lain. Kita bekerja untuk bayaran rumah, sekolah, makan sehari-hari, liburan keluarga, haji, dan lain-lain. Tapi kita lupa bekerja untuk kita. Yang memang harus dikerjakan, diusahakan, tidak bisa “take it for granted“.

So, couples, let’s make time for “us”.Ā