Jangan Malu Temenan Sama Saya :)

Pertama-tama saya ingin minta maaf jika postingan saya membuat anda, yang orang Indonesia, malu. 🙂 Karena saya, di Korea ini, merepresentasikan orang Indonesia. Dan tahu apa yang saya kerjakan disini yang akan membuat anda -mungkin- malu? Hehe. Saya memulung.

Sejak tinggal di luar, kesempatan untuk mengeksplorasi kehidupan sehari-hari di Korea semakin besar. Karena lingkungan tidak terisolasi seperti waktu di asrama. Di asrama ada jam malam. Tempat di dalam kampus, agak jauh kalau mau jalan-jalan ke daerah pasar atau perumahan. Dan fasilitas asrama yang cukup lengkap membuat cukup nyaman untuk tinggal saja di asrama.

Eksplorasi kali ini, hehe, disebabkan oleh furniture di kosan yang masih belum lengkap. Bulan-bulan awal, saya harus cukup puas dengan meja laptop terbuat dari kardus kecil ditambah tempat duduk dengan alas kursi. Dimana alas kursinya saya dapatkan dengan memulung juga. Lama kelamaan, saya mencari kenyamanan dalam menggunakan laptop. Akhirnya saya jalan-jalan ke satu supermarket besar. Dan menemukan meja dan kursi yang cocok dengan kosan saya sedang diskon. Hmmm. Tetapi masih mahal untuk ukuran penerima beasiswa pas-pasan seperti saya. Akhirnya cuman bisa gigit jari dan terus berfikir gimana caranya biar bisa berinternet ria dengan nyaman di kosan. Continue reading

Takut Esok

Pernah gak merasakan yang namanya gundah gulana? Hidup yang hampir menginjak usia 23 tahun, membuat saya merasa, itu bagian dalam hidup. 🙂 Maksudnya selalu ada masanya gundah gulana. Tanpa ada penyebab yang jelas, dan hilang juga, tanpa ada obat yang jelas. Mungkin ada beberapa bagian hidup yang mesti kita lewati dengan hanya berjalan biasa dan melaluinya begitu saja.

Saya pribadi senang memikirkan apa yang akan saya lakukan di esok hari. Dan gundah gulana lain yang terjadi pada diri, ada yang penyebabnya jelas. Yaitu ketika saya memikirkan esok hari. Memikirkan sesuatu yang dekat atau jauh, tetapi berhubungan dengan masa depan. Hal baik, hanya saja semua hal kalau berlebihan, tetap jadinya tidak baik. 🙂

Kalau esok adalah mimpi indah, maka biasanya saya tidak sabar untuk menanti esok. Tetapi ketika esok adalah prediksi yang membuat saya akan sakit. Menderita. Sulit. Kadang hati menjadi sedih. Bahkan mungkin lebih sedih daripada kelak saat saya melaluinya. Karena ada rasa takut akan hari esok yang masih samar-samar itu.  Continue reading

Hampir Lengkap

Hampir lengkap nih konotasinya seperti positif. Tapi yang saya ingin ceritakan adalah pengalaman sedih. Hiks. Hehe. Tapi gak sedih-sedih amat. Soalnya saya selalu merasa selalu ada hikmah dan pesan yang ingin Allah sampaikan dalam setiap kejadian dalam hidup. Maka walaupun kejadian ini sulit, tetapi saya tetap bersyukur atas pemberian kejadian ini.

Jadi ceritanya, untuk kali pertama, saya merasakan 2 jam bersama internist di Korea. 🙂 Beruntung punya Prof. yang baik hati. Kebetulan istrinya juga dokter dan pandai berbahasa Inggris. Sejak bulan september, saya terkena penyakit. Yang saya sendiri tidak tahu itu apa. Sampai akhirnya saya banyak konsultasi ke dokter di Indonesia, dan banyak yang menyarankan untuk tes blablablaskopi. Lupa terus namanya, intinya untuk ngetes saluran pencernaan gitu. Adakah infeksi atau kanker usus? Continue reading

Saya, Bagian dari Umat Islam di Indonesia

Bagaimana hukum mengatur perbedaan keyakinan? Kita tidak bisa menyamakan semua hukum di dunia. Karena kesepakatan bersama masyarakat yang harus membentuk hukum. Dan kemudian dijalankan sesuai kesepakatan, secara fair. Kalau di Malaysia, hukum mengikuti syariat Islam untuk orang Islam di Malaysia, ya sudah kesepakatannya begitu. Tapi di Indonesia? Kita bukan Malaysia. Kita punya hukum sendiri, yang berdasarkan pada pancasila. Pada UUD. Dan peraturan lainnya.

Pertanyaan yang sangat mengganggu dalam diri saya saat ini adalah, apakah kebebasan beragama di Indonesia itu dijamin? Bagaimana caranya? Saya bukan anak hukum. Tetapi apa yang diajarkan dari SD sampai kuliah, saya tahu, ada 5 agama yang diakui di Indonesia. Dan kelimanya dilindungi undang-undang mengenai kebebasan beragamanya. Lantas bagaimana dengan agama lain? Khong hu cu misalnya? Ahmadiyah?

Ok. Saya menyebut aliran yang saat ini sedang sensitif di Indonesia. Ahmadiyah. Mungkin sebagian orang akan bilang, lah itu kan Islam juga. Nah, disini lah yang membuat saya bingung. Saya sebagai Muslim, kemusliman saya didasarkan pada syahadat yang mengakui Allah sebagai Tuhan saya. Dan Muhammad sebagai nabi saya. Implikasi dari bersyahadat itu salah satunya adalah menjalankan dan meyakini ajarannya, Alqur’an dan Sunnah. Dalam Al-Qur’an jelas, mengatakan bahwa Rasulullah sebagai nabi terakhir. Tidak ada lagi nabi selain dia, yang ada hanya ulama. Tidak ada lagi wahyu yang turun dari Allah dan menjadi kitab, selain Al-Qur’an dan pada masa setelah Rasulullah wafat. Selain wahyu yang turun berangsur-angsur kepada Muhammad.

Sedangkan Ahmadiyyah mengakui nabi baru, yaitu Ahmad. Dan meyakini wahyu-wahyu baru yang diterima oleh Ahmad ini. Maka, jelas, ajaran ahmadiyah secara mendasar sudah beda dengan Islam. Seperti halnya Islam dengan Kristen, Katolik, Hindu dan Budha. Mungkin urusan lainnya, ya sama. Berbuat baik kepada manusia dll. Tapi secara mendasar, berbeda. Saya jadi ingat tentang Kristen dan Islam. Orang Kristen kan tidak mengakui Muhammad sebagai Nabi. Tapi Islam mengakui adanya Isa Al-masih sebagai nabi. Dan injil sebagai kitab Allah namun dijelaskan di Injil akan ada nabi penutup, yaitu Muhammad. Mungkin bedanya seperti itu yah. Jadi dah beda agama aja itu mah. Dan tidak perlu diperdebatkan siapa yang benar. Cukup difahami aja, bahwa Islam dan Kristen itu berbeda. Islam dan Ahmadiyah itu berbeda. Continue reading

Diisi oleh Siapa?

Liburan panjang membuat saya ingin mengisinya dengan hal-hal yang menyenangkan. Menyenangkan menurut saya yah. Tiga hari berturut-turut saya bersenang-senang. Sampai terakhir hari keempat. I did it well. For sure. Tapi kemudian kesenangan saya itu ditampar keras oleh seorang narasumber di salah satu stasion TV swasta di Indonesia. Yang mengatakan, kalau hati kita ini ada bagian, dimana dia tidak dapat diisi hal-hal lainnya, kecuali Tuhan. Kita mebutuhkannya untuk diisi oleh Allah.

Bagian hati itu tidak bisa dipuaskan dengan kehadiran teman, keluarga, persahabatan, perhatian, apresiasi manusia. Hati itu hanya diisi oleh kehadiran Allah. Kehadiran zat yamg menguasai kita. Disitu lah kita menjadi cukup. Menjadi lengkap. Tak perlu lagi mungkin diisi oleh yang lain. Membuat hati kita merasa cukup. Bahkan penuh.

Dalam kehampaan hati yang penuh dengan canda tawa. Dalam kesepian hati di tengah ramainya orang-orang di sekitar kita. Kita perlu, kita butuh, menghadirkan yang memang selalu hadir dalam kehidupan kita. Our Rabb, Allah SWT.

Kita Biasa Mengenalnya dengan Imlek

Yup. Imlek. Kalau di Indonesia, libur panjang yang sedang saya benar-benar nikmati saat ini di Korea lebih dikenal dengan nama Imlek. Sedangkan disini populer dengan nama Seolal (sebenarnya tulisannya Seolnal). Yang mana Seolal itu adalah tahun baru dalam kalender lunar. Ini sepertinya adalah libur terbesar di Korea. Entah sebenarnya lebih besar mana dengan libur Chuseok. Tetapi keduanya sama-sama besar. Libur di kalender 3 hari. Semua orang berkumpul dengan keluarga.

Sebagai foreigner yang tidak biasa merayakan imlek. Liburan Seolal kali ini benar-benar libur bur bur. 🙂 Karena ditaruhnya menjelang weekend. Jadi libur 3 hari ganjil menjadi 5 hari (hehe. bahasa opo iki).  Continue reading