Masih Dalam Ingatan

Pernah aku bertanya

Allah Engkau dimana?

Dan iya pun menjawab, “Aku Dekat Saja”

Allah maha melihat

Apa yang kuperbuat

Allah pengabul doa

Hambanya yang meminta

Penggalan lirik lagu dari siapa, saya kurang ingat. Yang pasti memori mengikuti pesantren kilat ketika kelas 6 SD itu sampai sekarang gak bisa dilupakan. Dan lirik lagu itu, walaupun saat pesantren hanya dinyanyikan sekali, tapi masih dapat saya ingat sampai sekarang.

Ied Mubarok!

Alhamdulillah saya masih bisa bertemu dengan ramadhan, merampungkannya selama 29 hari. Dan di penghujungnya menyambut idul fitri, 1430 H. Banyak yang berbeda dalam idul fitri kali ini, namun semuanya harus disyukuri.

Pagi sekali bersiap menuju masjid Al-Ihsan Dago. MErasa sangat bersyukur karena selain jemaat nya banyak, khotbah yang disampaikannya pun sangat bagus. Disampaikan oleh seorang professor dari UNINUS, Prof. Dedi.

Isi khotbah sangat menyentuh, selain disampaikan dengan bahasa yang baik, isinya pun sangat dekat dengan problematika manusia Indonesia. Yang paling saya ingat adalah pesan yang dikutip melalui salah satu hadits. Tentang calon penghuni surga.

Dalam suatu majlis Rasulullah SAW berkata, “Sebentar lagi akan datang seorang ahli surga”. Tak berapa lama datanglah seorang pemuda dengan jenggot dibahasi oleh air wudhu. Semua orang pun memperhatikan pemuda tersebut. KEjadian itu berulang sampai tiga kali, pemuda itu yang selalu hadir.

Pemuda lain ingin tahu. Ibadah apa yang ia lakukan sehingga Rasulullah menyebutnya dengan calon penghuni surga. Pemuda lain itu kemudian menghampiri pemuda calon penghuni surga itu, dan berkata “wahai hamba Allah, saya sedang memiliki masalah ddengan ayah saya. Dan saya berjanji tidak akan menemuinya selama tiga hari. Dapatkah saya bermalam selama itu di rumah saudara?” emuda calon penghuni surga iitu kemudian mengijinkan.

Diperhatikannya ibadah pemuda itu, tidak ada yang menonjol. Bahkan dapat dikatakan, pemuda yang mengamati itu memiliki amalan-amalan lebih. Sampai hari ketiga akhirnya pemuda yang menginap itu berkata, “Wahai hamba Allah, sesungguhnya tidak ada masalah antara saya dan ayah saya. Hanya saja aku ingin mengetahui amalan-amalan saudara. KArena Rasulullah menyebutkan saudara adalah calon penghuni surga. Tapi ternyata ibadah mu tidak lah ada yang berbeda”

Kemudian pemuda calon penghuni surga itu menjawab, ” Sungguh tidak ada yang berbeda dari ibadahku dan ibadahumu.”

PEmuda itu pun kebingungan. Kemudian bertanya, “Lantas apa yang membuatmu menjadi calon penghuni surga?”

“Semua ibadah yang aku lakukan sama dengan yang engkau lakukan. Dan Semua ibadahku diniatkan hanya untuk Allah SWT”

Subhanallah. Betapa masalah nya sesederhana ‘niat’. Innamal ‘amalu binniat.

Di hari yang fitri ini, mari kita semua mensucikan diri, dimulai dengan meluruskan niat dalam setiap aktivitas yang insya Allah bernilai ibadah manakala ikhlas dalam menjalankannya.

Ied Mubarok! Saya merasa sangat beruntung hari ini mendapatkan nasihat berharga dalam khutbah Ied. Dan karena itu pula saya menyampaikan isinya dalam blog ini, semoga menjadi rahmat untuk semua.

Terakhir, Taqoballallaahu minna wa minkum shiyaamanaa wa shiyaamakum.

Selamat Idul Fitri 1430 H. Mohon maaf lahir dan batin… 🙂

Keep On Reading

Saya bukan orang yang rajin sekali membaca. Tapi juga bukan orang yang terlalu malas untuk membaca. Saya menyebut diri saya, suka membaca.

Alasan saya membaca sebenarnya terus berubah dan atau kalau boleh dikatakan, berkembang, dari waktu ke waktu. Saat SD saya membaca hal-hal yang menarik bagi saya. Sebenarnya sampai saat ini pun begitu. Hanya saja dengan pengetahuan yang terbatas, ‘menarik’ disini benar-benar sempit. Terbatas pada dunia saya waktu itu, bermain dan belajar.

Sedangkan SMP adalah masa-masa aktualisasi diri saya sangat tinggi. Saya membaca buku-buku yang ayah saya baca (yang tipis saja) dan banyak buku-buku pengembangan diri yang lebih menunjang pada kegiatan sekolah saya. Saat itu saya sudah mulai tidak tertarik dengan komik, novel (sedikit) dan aneka buku-buku fiksi.

SMA? SMA ini dipenuhi sikap-sikap labil. Banyak melakukan sesuatu yang orang lain juga lakukan. Oleh karenanya bacaan-bacaan saya cenderung sifatnya populer. Apa yang orang banyak baca? Saya baca. Itu sangat membantu dalam pergaulan. Setidaknya saya merasa apa yang orang tahu, saya juga tahu lah. Kebiasaan membaca yang masih minim di Indonesia membuat saya bangga bisa mengetahui sesuatu yang diketahui orang-orang spesial di masyarakat kita. Orang-orang spesial : orang yang suka membaca. 🙂

Saat kuliah, dunia mulai sering mengobrak-abrik idealisme saya. Sedikit banyak mempengaruhi selera membaca saya. Populer? Identik dengan buku-buku dengan nilai dan idealisme yang dikemas dengan begitu (nyaris) sempurna. Sehingga banyak membuat orang terpukau dan sesegera berminat untuk membaca.
Tapi saya mulai ‘sakit hati’ dengan teori-teori indah. Karena nyatanya tidak semudah itu. Tidak cukup dengan membaca, kemudian kita bisa menjadi apa yang diajarkan di buku itu. Sempat beberapa saat saya tidak suka membaca.

Namun puji syukur, Allah mengatur sedemikian rupa, sehingga saya haus akan bacaan. Minat membaca itu kemudian muncul lagi. Namun kali ini saya benar-benar kebingungan. Saya harus baca apa? Saya sempat tidak mau membaca kalau ternyata sia-sia. Saya mencoba untuk memulai saja dulu. Sering ke toko buku untuk melihat-lihat. Mana yang menarik? Mungkin lama-lama bisa menemukan minat saya lagi. Tapi rupanya tidak terbaca. Buku yang saya pilih terlalu beragam.

Lama-lama saya kesal. Dan tidak mau berhenti membaca. Tapi akhirnya saya menemukan alasan membaca.

Setiap manusia dianugerahi Allah banyak harta yang tak ternilai harganya, salah satunya adalah akal. Otak tidak pernah berhenti bekerja. Pengalaman hidup selalu memaksa dia untuk terus berfikir. Informasi tidak hanya direkam. Tapi rupanya diolah dan kemudian dimasukkan ke dalam memori yang sudah punya identifikasi informasi sendiri-sendiri. Dari sana nilai-nilai terbentuk. Nilai-nilai diri. Tanpa membaca, orang sebenarnya sudah banyak tahu.

Jadi buat apa? Hum,.. buata pa yah? Hehe.

Jadi paragraf agak panjang terakhir itu membuat saya sadar. Jadi manusia jangan sombong. Merasa sudah tahu seluk beluk dunia dan kemudian merasa cukup dengan apa yang ada di dirinya. Ilmu Allah itu luas. Otak saya pun punya banyak slot yang harus dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya.

Jadi? MEmbaca sajalah! Jangan banyak tanya. Membaca itu jadi referensi hidup saja.

MENGUATKAN SAYAPKU

Sampai saat ini saya masih percaya bahwa hidup membutuhkan pegangan. Hidup itu sangat kompleks. Dan membutuhkan seni tinggi untuk mengarunginya. Masalah dalam hidup unik dan tidak ada habisnya. Memaknai salah satu ayat dalam Al-Qur’an, bahwa masalah itu selalu ada. Selesaikanlah satu urusan kemudian selesaikan urusan yang lain. Insya Allah, setiap masalah yang kita hadapi akan mendewasakan kita.

Masalahnya, pegangan kita itu apa? Sepanjang usia saya, hampir 21 tahun, saya mengenal cukup banyak orang. Ternyata tidak semua orang hidup dengan pegangan yang jelas. Sehingga hidupnya menjadi tak tentu (teu puguh). Yang tak tentu itu biasanya memiliki satu pegangan (boleh kita sebut pegangan). Yaitu lingkungan yang ia anggap ideal. Yang dilakukannya adalah meniru.

Pegangan yang jelas juga tidak serta merta hadir. Namun melalui proses yang panjang. Saat kecil, apa sih yang kita jadikan pegangan dalam hidup? Saya rasa jawabannya adalah meniru. Dalam hidup ada proses pencarian. Anggap saja meniru itu adalah bagian dari proses pencarian.

Saat mulai berorganisasi, yang saya lakukan adalah meniru. Meniru abi, meniru ummi, meniru orang-orang yang saya kagumi. Namun pada zamannya, saya menyadari. Bahwa saatnya bukan lagi meniru. Tapi mulai memilah.
Mana yang cocok untuk ditiru, dan yang tidak. Saya mulai menyadari, bahwa yang baik untuk orang lain, belum tentu baik untuk saya.

Sampai akhirnya saya terjebak dengan membandingkan diri saya selalu dengan orang lain. Dalam batas tertentu mungkin ada baiknya. Namun kalau berlebihan kadarnya, seringkali membuat kita tidak berkembang. Maka bagi saya jawabnya adalah, terbanglah Adinda. Terbanglah sebagai Adinda Ihsani Putri sebagaimana mestinya…

Saat memilih untuk terbang sendiri, saya kemudian meragu. Sudah cukup kuatkah sayap ini? Angin mana yang akan saya ikuti? Daratan mana yang akan saya tuju? Disini saya membutuhkan nilai. Nilai yang benar-benar dapat saya pegang. Yang selalu dapat menuntunku dalam segala situasi. Dan insya Allah, nilai itu adalah Islam.

AJARI AKU, SYUKUR…

Duduk tegak di depan sebuah notebook agak tua.

berfikir tentang hari ini, masa lalu dan esok…

mengingat-ingat semuanya…

yang pernah terjadi sampai detik ini…

menyesal…

ternyata setelah hampir 21 tahun berjalan…

ada yang selalu terlewatkan…

syukur…

terlalu banyak cinta Tuhan yang dinikmati begitu saja tanpa syukur….

ajari aku untuk bersyukur… tampar aku…

sampai aku benar-benar mengerti…

sampai aku benar-benar mampu… mensyukuri semua… dengan cara yang paling tepat…

KATA PAK HABIBIE

Semakin gencar kampanye capres dan cawapres akhir-akhir ini, membuat saya sedikit tertarik (lagi) dengan dunia perpolitikan di Indonesia. Tapi alih-alih belajar banyak tentang politik, saya malah semakin banyak mengkritik keadaan. Habisnya, sepeti tidak ada pasangan yang pas di hati. Kalau kata adek saya yang berusia 12 tahun sih, “Teh, mereka teh kayak anak-anak yah..”

Bayangin, anak kecil saja bilang calon-calon pemimpin kita tingkahnya kayak anak-anak. 🙂 Dan setelah dipikir-pikir, iya juga. Pengungkapan ide dan gagasan para capres dan cawapres jauh lebih sedikit dibandingkan pengungkapan kelemahan calon-calon pesaingnya. JAdinya kok malah seringan ngeliat mereka perang opini gak jelas dibandingkan terkagum-kagum dengan ide dan gagasannya.

Pencarian data dan fakta untuk menentukan pilihan kemudian stuck ketika saya semakin terkagum-kagum dengan beberapa sosok politikus di luar pasangan yang tersedia sekarang. 😛 Yaitu Rizal Ramli dan Prof. Dr. B. J. Habibie. Namun informasi tentang Rizal Ramli masih terlalu sedikit yang saya tahu. Tidak seperti Habibie yang nyaris banjir siaran di beberapa TV.

Sosok Habibie menurut saya, sangat berbeda dengan sosok pemimpin yang ada di negeri ini. Ia begitu apa adanya, cerdas, powerful, dan banyak lah menurut saya (wong saya ini pengagumnya. pasti banyak lah ya). Terlalu banyak pemimpin yang hidup di atas kenaifan. Jadi kurang sampai pengaruhnya di hati saya. Tidak seperti bapak yang satu ini.

Dalam sebuah wawancara khusus, saya selalu teringat pesan Pak Habibie. Ada dua hal yang ia ajarkan pada keponakannya, Adi Soebono, yang kemudian terekam dalam memori saya. Pertama, selalu hormat kepada orang yang lebih tua. Kedua, Fokus. Ia mengibaratkan batu yang terus menerus ditetesi air. Walaupun air yang menetes itu hanya sedikit demi sedikit, namun kalau berlangsung dalam waktu yang lama dan tetesannya tepat pada sisi batu yang sama. Akhirnya batu itu akan berubah bentuknya. Menjadi lebih cekung pada bagian yang terkena tetesan terus menerus.

Fokus nda! Kejar dan terus perjuangkan mimpi…

JANGAN MAIN-MAIN SAMA PENYAKIT MAAG

Pagi-pagi tadi bangun-bangun langsung baca sms dari seorang sahabat sejak SMP:

Nda, lo lg apa? gw di opname nih…

Sms yang cukup singkat namun membuat hati ini tergerak. Wah, Icha diopname. Jadi kepingin ngejenguk nih. Dan gak lama kemudian, saya tahu kalau dia dirawat dimana. Akhirnya saya mengajak beberapa sahabat untuk ikut juga menjenguk. Sekalian silaturahmi dah cukup lama gak kumpul.

Setelah sampai di RS, baru tahu deh. Ternyata teman saya ini terkena maag kronis. Beberapa hari muntah-muntah bahkan minum obat pun tidak berpengaruh. Karena harus keluar lagi. Umminya bercerita ketika ketemu ICha di Bandung, rupanya sudah pucat sekali. Tepar di kamar kos.  Dalam hati… Hah? Maag doang bisa kayak gini? Ampuuun…

Saya juga punya sakit maag. Dan terkadang suka kambuh karena telat makan atau makan terlalu sedikit atau terlalu banyak. Untuk seseorang yang punya penyakit maag yang paling baik adalah makan dengan terjadwal dan dengan porsi yang pas. Beberapa bulan yang lalu juga teman ada yang masuk RS karena pencernaan. Setelahnya, diduga karena penyakit maag.

Walaupun tidak tahu efek panjangnya. Tapi masuk Rumah Sakit dan menelan waktu serta biaya bagi saya sudah cukup menyeramkan. Jadi? Sudah saatnya bagi kita-kita ini untuk membayar kesehatan kita dengan makan teratur dan dengan porsi yang pas. Kesulitan biasanya terjadi kalau kta sedang asyik mengerjakan sesuatu. Makan sebisanya dan sekenanya. Kadang bisa lupa dah hampir seharian blom makan. Dan nemunya roti, ya langsung makan roti. Karena malas mencari.

Intinya, diulang ulang nih. makan dengan terjadwal dan dengan porsi yang pas. buat anak kos juga. Walaupun terkadang di akhir bulan suka rada seret, tetep diatur jadwal makannya… inga’ inga’!!!