Menemukan Titik yang Sama

Dalam riset, ada kalanya kita stuck. Dan kali ini, saya merasa di titik yang sama saat dulu S2. Stuck. I have to fix something. But the more I fix it, it getting worse. Sampai ada di titik jenuh. Ini harus diapain lagi. Kemana saya harus belajar? Dulu mikir, kalau di Indonesia enak nih, banyak yang bisa ditanyain, di Korea dulu, pengen nanya-nanya, tapi jelasinnya pakai bahasa Korea, ya susyeh juga akhirnya. Sekarang? Dah di Indonesia, tapi lupa, kalau temen-temen yang bisa ditanyain itu sekarang sudah kemana-mana. Lalu saya bingung. Apa yang harus saya lakukan?

Akhirnya saya memutuskan untuk menulis saja di blog. Berharap setelah menulis, otak agak renggang, terus encer, terus dapet ide harus melakukan apa. Mode saat ini mode yang sangat nggemesin. Ketika masuk ke tataran yang konrit (terdefinisi) tapi justru stuck. Gak tahu harus diapain.

Karena udah gak tahu mau nulis apa lagi. Jadi saya mau meminta doa saja dari saudara, teman yang kebetulan lagi baca blog saya. Doain saya yah. Biar cepat lulus. Biar dapat ide, dapat solusi dari ke-stuck-an saya hari ni. Nggemesin mbak sis, mas bro. Kok ya kayaknya selalu bisa dibayangin, tapi pas dikerjain, gagal lagi, gagal lagi.

Katanya sih Thomas Alfa Edison dulu juga gagal berkali-kali sampai akhirnya bisa bikin lampu pijar. Yah, nyoba nyama-nyamain diri aja deh sama Om Thomas. Intinya jangan gampang nyerah. Jangan pundungan. Apalagi sama benda mati kayak FPGA, sensor arus, ADC, jangan! Relax dulu aja sebentar. Padahal deadline tinggal 11 hari lagi (Setelah diextend 14 hari). Gila, saya merasa bodoh, dah diextend tetep gak jalan alatnya.

Oh Tuhan, sungguh ini postingan tergalau tingkat dewa. Kegakpentingannya ngalahin omongan ahok soal password WIFI. Loh kok malah nyambung ke Ahok? Wkwkwkwk. Dah ah. Lumayan dah bisa nulis sambil ketawa-ketawa sendiri di lab. Sudah adzan ashar juga. Dan mau nginep di enin juga. Jadi berharap bisa begadang malam ini. Bercumbu dengan codingan Verilog untuk FPGA ku tersayang. Semoga kelak kau mampu membaca sensor arus analog secara benar. Konsisten. Tidak berubah-rubah layaknya ABG yang baru masuk SMP (Eh, sekarang mah anak SD juga dah ABG yak).

 

Advertisements

Kerja di Malam Hari

Gara-gara dapet tugs presentasi tentang manajemen waktu, jadi mikir-mikir, ini dia masalah gw akhir-akhir ini. Entah kenapa progress riset merasa berjalan lamban. Sebenarnya bukan lamban atau tidaknya sih tetapi merasa tidak pernah bekerja penuh fokus dengan waktu yang lama layaknya ketika mengambil S2 dulu.

Nah, usut punya usut, ternyata setiap manusia punya jam produktif masing-masing. Dan saya percaya ini dibangun dari kebiasaan. Jaman dahulu kala, saya sering mengerjakan sesuatu dimulai dengan setelah maghrib. Jadi setelah maghrib itu rasanya sangat fokus, tenang dan siap bekerja keras. Waktu terasa lebih panjang. Alhasil, saya biasa bekerja sampai jam 3 pagi. Kemudian tidur. Shubuh. Tidur lagi. This is the problem.

Sekarang, demi menjadi teladan yang baik bagi anak dan keluarga. Maka saya biasakan tidur cepat dan bangun awal. Tapi rupanya, hari-hari sering berlalu tanpa effort yang besar karena sulit untuk fokus. Tidak ada lagi masa-masa do till the limit di malam hari seperti dahulu kala. Karena nanti Khaleed jadi ikutan begadang ataupun kalau gak, saya gak fresh di saat jam Khaleed fresh. It is not good. Yes I know.

Now? Nah, konon juga, lakukan rutinitas berturut-turut selama 4 minggu dapat merubah kebiasaan. Intinya, sekarang saatnya merenung, mengumpulkan tekad, membuat rencana untuk merubah kebiasaan produktif di malam hari menjadi siang hari. Di awal harus dipaksa fokus. Mungkin setelahnya bisa menjadi kebiasaan baru.

Yuk, mari bekerja di siang hari! Beristirahat di malam hari!

Malas Memasak

Sekarang sedang masuk pada fase malas memasak. Entah kenapa rasanya gak pernah puas dengan hasil karya sendiri. Waktunya lama. Rasanya tidak enak. Ribet pulak. Padahal ada masa-masanya merasa senang masak.

Sepertinya effort memasak untuk sendiri dan memasak dua masakan untuk saya dan Khaleed emang terlalu besar dan time consuming. Pilihannya, stay hemat atau boros. Kalau hemat ya berarti gak usah masak dua kali. Tapi makan aja masakan Khaleed, gak usah ngikutin selera sendiri. Atau jadi boros, dengan cara beli makan di luar aja trus. 😀

Ada solusi lain yang lebih bijak kah?

Obrolan Sabtu Itu dengan Eyang Ema

Sabtu sepi itu adalah ketika suami dapat kerjaan tambahan di kantor, anak diajak eninnya ke luar kota. Udah kebayang boring banget mana harus ngurusin pertukangan. Sebelum boring berkepanjangan, di-sms umi lah disuruh ke rumah eyang karena nampaknya lagi kurang sehat, temenin eyang.
Dan sabtu boring itu akhirnya gak kejadian dengan obrolan santai (santai gak yah) seperti ini,
“Yang, ada kabar baik. Jokowi dah sowan ke Prabowo.”
“Wah, bagus pemimpin harus seperti itu.”
*Dalam hati, edan naha jadi bagus gini citranya Jokowi*
“Tapi yang, Prabowo juga bagus statusnya di FB.”
Dan karena HP kecil, jadi eyang gabisa baca, dan minta saya bacain status panjang itu.
*saya bacain sampe berbusa. Panjang pisan*
“Bagus kata-katanya.”
*Nah,,, imbang kan sekarang. Hahaha. Ketawa jahat*
Dari situ mulailah obrolan bahwa memang kita mudah sekali terpecah belah. Indonesia ini beragam banget. Hal itu sudah kejadian sejak jaman Belanda. Kita berbeda mah memang sudah berbeda. Tetapi kadang perbedaan ini dimanfaatkan oleh kepentingan-kepentingan tertentu. Padahal walaupun kendaraan, pakaian, kulit, bahasa dan lain-lain yang beda itu, sebenarnya semua manusia ingin kehidupan yang progresif, aman, damai dan segala yang bagus-bagus. Kita semua sama-sama manusia. Continue reading

Khaleed dan Car Seat

Di balik sedih karena kangen berats ditinggal Ayah belajar di Korea, ternyata ada hikmahnya juga. Salah satunya adalah bisa secara konsisten membuat Khaleed duduk di car seat saat berkendara. Sejak umur 3 bulan, saya selalu membawa Khaleed kemana pun saya pergi (ya.. kecuali kalau ngantor atau ngajar). Mau tidak mau, sebagai supir andalan Ummi, kapan pun akhirnya selalu saya yang menyetir. Bisa saja sebenarnya Khaleed digendong siapapun penumpang mobilnya. Tapi itu kan tidak selalu. Akhirnya, daripada beubah-ubah, lebih baik secara konsisten, ada tidak ada penumpang lain, Khaleed duduk di car seat.
2013-08-16 16.57.00
Sejauh ini saya merasa menggunakan car seat lebih aman. Anak duduk, disabuk. Kalau ada guncangan tidak terlempar kesana dan kesini. Selain itu, untuk Khaleednya sendiri, dia bisa beristirahat. Duduk dengan nyaman, gak pegel dengan diubah-ubah posisi duduk. Lebih gampang tidur juga. Trus buat orang dewasanya, tidak pegel menggendong. Selain itu juga, orang dewasanya juga bisa istirahat.
Tapi soal car seat ini kita harus persisten. Karena gak selamanya Kh Continue reading

Finally My Digital Controller Works

Alhamdulillah. Hari terakhir minggu ini di LEN dapatkan hasil yang cukup melegakan. Desain kontroler PMSM untuk aplikasi mobil listrik yang saya pelajari dua bulan ke belakang ini alhamdulillah berjalan dengan baik.
Awal minggu ini dibuka dengan kenyataan pahit bahwa kontroler saya yang asalnya analog gak jalan sama sekali. Ancur parah. Pas dipindahin jadi digital.
Ngelihat paper yang ribet sedemikian hingga yang ngebahas cara desain digital control bener-bener bikin mules. Ribet. Dan mesti tekun mempelajarinya.
Dengan kondisi psikologis yang galau dengan kenyataan pahit tadi, bener-bener males belajar dari awal.
Tapi setelah ditanya ke dalam hati. Kamu mau s3 gak? Mauu. Mau sampe kapan menghindar belajar kontrol? Gak tahu. Kok gak tahu? Jawab! Mau sampe kapan lari dari belajar kontrol lebih dalam? #menunduk lesu.
Tiba-tiba saat jenuh belajar kontrol digital. Oprek-oprek lagi simulasi. Dan… Wow! Jalan! Bagus! Seimbang dq nya!
Diapain ya tadi? Gak tau. Lupa. Hahaha. Tapi gapapalah. Alhamdulillah.
Tapi agak sedih juga sih. Karena dah jalan jadi males belajar teori kontrol digital. Kkkk. Next time dh. XD

Bermain Itu Belajarnya Bayi Kita

Permainan bayi ternyata bukan sekedar permainan. Mainan yang telah dimainkan para orang tua dengan bayinya sejak zaman dahulu, ternyata mengandung filosofi yang luar biasa.
Siapa sangka permainan Cilukba yang disukai hampir seluruh bayi di seluruh dunia, permainan yang murah, tapi dapat menbuat orang tua dan bayi yang memainkannya terbahak-bahak dan tak pernah bosan. Ternyata meniliki filosofi bahwa sesuatu yang tidak terlihat belum tentu tidak ada. Saat kita memanggil nama anak kita sambil bersembunyi, bayi kita tahu ada kita. Walaupun saat itu dia tidak dapat melihatnya. Dan saat kita secara mengejutkan hadir, bayi kita membuktikan hipotesanya. Ya, orang tua mereka menang ada.
Dan permainan berikutnya adalah -saya menyebutnya- Touch The Bubble. Permainan ini mudah juga. Cukup menyiapkan cincin dengan ganggangan dari lidi. Kemudian sabun. Dan meniupnya.
Alhamdulillah, adik saya selalu antusias ikut bermain Touch The Bubble dengan Khaleed. Akhirnya kami berbagi peran. Saya meniup balon yang besar satu atau kecil-kecil tapi banyak. Lalu adik saya menjaga bubble agar tidak mudah meletus. Aktivitas menjaga bubble agar tidak hilang ini yang membuat Khaleed terlihat sangat antusias. Kami tertawa-tawa. Sangat antusias menjaga bubble. Mengarahkan bubble kesana kemari. Sampai akhirnya bubble pecah dan wajah Khaleed terlihat sangat bingung. Mungkin dia bingung kenapa bisa tiba-tiba bubble itu menghilang.
Mainan Touch The Bubble ini ternyata turut mengajarkan anak bahwa sesuatu yang pernah ada, bisa tiba-tiba hilang. Nothing last forever.
Semakin semangat ngajak byia anda bermain kan bun? 😀 karena belajarnya anak tuh yaaa…. bermain!