Setelah mengikuti dua kali Triathlon di ITB Jatiluhur, saya merasa performa saya menurun. Salah satu yang pengen saya perbaiki waktu itu adalah lari dan renang. Karena saat melihat rata-rata waktu bersepedanya, masih oke dibandingin yang lain. Renang diperbaiki dengan latihan teknik, nanya-nanya, dan nambah jam terbang. Lari? Akhirnya saya selalu inget kata-kata Paksu. Kalau lari sambil bawa beras 5 kg aja berat, apalagi lebih dari itu. Yes berat badan. Lari adalah bagian yang paling memforsir lutut kita. Semakin berat badannya, semakin sakit lututnya. Semakin besar juga energinya. Karena yang diangkat besar banget.
Akhirnya saya mulai berazam ke diri saya untuk diet ngurangin berat badan (BB). Setelah bertahun-tahun mencoba banyak diet, ada yang berhasil dan ada yang gak, saya mulai mencari dari yang berhasil, mana yang paling saya enjoy melakukannya. Akhirnya saya inget saat dulu konsultasi ke dokter gizi. Mudah sekali. Intinya makan porsi normal dan dengan waktu yang teratur. That’s it. Gak ada tambahan dan porsi berlebihan, apalagi di luar waktu makan.
Ditambah saya menemukan apps MyFitnessPal yang asyik banget. Kita bisa track kalori kita, track berat badan kita, dan track nutrisi kita. Kalau mau manual bisa, tapi kalau mau langganan, kita dimudahkan. Misal, tinggal foto makanan dan tahu berat, bisa dihitungin kalorinya. Bahkan untuk jajanan di supermarket, tinggal scan barcode. Nice.
Awalnya saya punya target agresif. Dibuat batasan kalori harian, kalau lagi ada olahraga, ditambahin sejumlah kalori olahraga. Berhasil turun cukup tajam. Tapi saya kurang suka. Kenapa karena kayak kadang makan banyak kadang nggak. Akhirnya saya memutuskan untuk dibuat gak terlalu agresif. Olahraga atau gak, kalori tetap terkontrol dan lebih longgar. di 1700 kkal per hari. Lebih landai sih penurunannya, tapi saya lebih mindful dan saya suka, karena polanya sama setiap hari.
You know what? Saya gak konsisten. Tentu saja. Kadang ada emotional eating. Tapi satu hal, saya tetap melakukan tracking. Hasilnya? Karena saya konsisten tracking, saya jadi bisa menganalisis. Oh ini toh efek emotional eating kemarin. Naik segini. Oh gini toh kalau saya disiplin, konsisten turunnya. Dan saya menerima ketidakkonsistenan saya. Toh walaupun naik turun daily, bahkan weekly, tapi dalam jangka panjang turun juga. Ada yang sebulan bisa 4 kg. Tapi ada juga yang cuman sekilo per bulan. No problem. Selambat-lambatnya turun 1 kg, kalau setahun juga 12 kg. Banyak kan?
Akhirnya sudah berjalan 162 hari sampai hari ini. Dan penurunannya sudah 9.7 kg. Artinya sebulan kurang lebih turun 1,8 kg. Sedikit yah? Tapi sekali lagi, gak masalah. Yang penting turun.
Luar biasanya yang saya rasain, lari lebih enteng. Berenang jadi lebih cepat, tapi kalau berenang lebih ke teknik sih banyaknya. Dan catatan waktu banyak yang berubah jadi lebih baik. Yang aneh lagi, saya biasa makan makanan tertentu dalam porsi besar. Contoh junk food, cemilan, dan masakan padang. Sekarang? Baru makan sedikit aja, sudah kenyang. Saya jad imulai mengurangi nasi dan tetap happy, ajaib. Gak laper. Nampaknya perut saya jadi biasa makan secukupnya.
Karena rajin tracking dan analisis juga, saya jadi aware makanan-makanan mana yang kaya nutrisi dan sebaliknya, kurang nutrisi tapi kalori besar. Akhirnya secara sadar mulai ngurangin yang buruk buat tubuh. Contoh, dulu kalau laper di pagi hari, bawaannya pengen jajan. Sekarang? Rebus telur 2 biji. Kenyang. Bergizi.
Ya Allah please keep my awaresness yang satu ini yah. I need it.