Set Your Positive Mind

Pagi ini saya berlari 17 km. Ini sebenarnya bukan lari terjauh saya. Tapi yang menarik adalah pelajaran yang saya dapatkan dari berlari hari ini. Bagaimana saya mampu mengembalikan pikiran positif saya agar saya mampu menghilangkan keraguan yang terkadang, atau malah sering ya, menghampiri pikiran.

Jadi, saya sedang dalam menu latihan menuju UI Ultra 35k bersama senior saya di Elektro. Dan menu long run minggu ini adalah 17k. Namun, di hari yang sama, saya harus menghadiri zoom meeting pukul 07.30 pagi. Dari malam saya meragukan diri saya. Apakah saya bisa bangun shubuh? Apakah saya bisa lari cepat agar cukup waktu untuk istirahat dan bersiap ke agenda berikutnya? Apakah saya akan cukup istirahat agar bisa fit pas larinya? Apakah aman lari shubuh-shubuh?

Yup. Pikiran-pikiran tersebut terus menghantui dan membuat bahu ini terasa berat, nafas jadi lebih pendek. Semalaman berusaha tidur, semakin berusaha, semakin susah tidur. Tapi akhirnya tidur juga dan tidak terlalu malam.

Alhamdulillah juga bisa bangun tepat saat adzan. Bangun, bersiap, dan masih saja pikiran negatif itu datang. 17k gak yah? Apa 10k saja? Malah semakin nambah, nanti water stationnya gimana yah? Duh serem gelap gini.

Akhirnya, pemanasan. Dan setelah pemanasan suami bersiap. Yeay. Suami mau nemenin 10k pertama. Alhamdulillah. Hilang kekhawatiran akan faktor keamanan. Lari lah kami. Saat lari, kok agak sesak yah nafas. Badan lemas. Sampai akhirnya sadar, saat berlari, terlalu banyak pikiran, kekhawatiran.

Saya kemudian mengurangi pace dan menata pikiran. Set positive mind. Saya bisa menyelesaikan 17k ini. Saya sudah berlatih berminggu–minggu sebelumnya untuk menu ini. Saya pasti bisa. Dan ternyata itu berarti banyak. Saya bisa menaikan pace dengan HR yang terjaga. Wow. Badan terasa ringan. Larinya terasa semakin nyaman.

Tidak terasa 4k berlalu dengan bahagia. Menemukan alfamart sudah buka dan bisa cepat membeli minum di water station pertama. Lancar. Lari pun semakin semangat dengan jalur yang nyaman. Jalanan lebih sepi. Dan ditemanin suami. Berasa semangatnya beda.

Akhirnya 10k berlalu. Dan karena memilih jalur puta yang lebih jauh jadi suami nemenin lebih dari 10k. Yes, tinggal nambah dikit di dalam komplek. Sempat merasa berat di km 13. Tapi, ingat cara pas awal. Set positive mind. Ayo Nda, kalau lelah, berhenti dulu, tarik nafas, ambil minum. Dan yes, perasaan negatif itu hilang lagi. Berlari lagi. Ternyata pace juga masih terjaga.

Sampai akhirnya bisa finish 17k dengan HR terjaga dan pace sesuai harapan. Masya Allah tabarakallah. Penting banget yah menjaga pikiran positif. Apalagi berkaitan sama kemampuan diri. Rasanya saat merubah pikiran menjadi positif, tenaga itu hadir.

Bayangkan seberapa sering kita berfikir negatif tentang diri, pasangan, anak, dan lainnya? Bagaimana efeknya ke energi tubuh kita? Ternyata banyak ruginya. Pun kita khawatir tentang sesuatu di depan yang belum pasti, kenapa kita tidak memilih untuk berfikir kemungkinan positif? Kemungkinan terbaik? Toh efeknya lebih baik ke diri kita. Daripada kita memilih untuk ragu dan negatif.

Yuk, keep positive mind. It works!

Catatan Mentoring: Membangun Konsep Diri Positif pada Anak

Konsep diri lagi. Ya. Lagi. Karena sebelumnya saya pernah membahas juga soal konsep diri Ibu. Kali ini giliran konsep diri anak. Kenapa bahas konsep diri itu penting? Karena konsep diri itu memang penting banget dalam hidup seseorang. Kemarin kita sudah membahas bagaimana pentingnya seorang Ibu memiliki konsep diri yang kuat, pada tulisan ini saya ganti judulnya bukan kuat, tapi positif. Nah penting gak pentingnya konsep diri ini akan terjawab dengan sendirinya melalui penjelasan berikutnya. Yuk kita simak.

Pertama, apa sih itu konsep diri? Kita ulang lagi yah. Gapapa. Biar makin nancep. Konsep diri itu adalah pandangan suatu individu terhadap dirinya sendiri. Pernah gak mikirin, gimana sih kita menilai diri kita sendiri? Pernah gak mikirin, gimana sih anak kita menilai dirinya sendiri?

Apakah kita menilai diri kita ini cantik? Baik? Pintar? Kuat? Pemberani? Senang membantu? Senang bergaul? Atau kita menilai diri kita, jelek? Jahat? Bodoh? Lemah? Penakut? Senang menarik diri? Atau seperti apa? Dan kira-kira, apa dampaknya kalau kita menilai diri kita positif atau menilai diri kita negatif dalam kehidupan kita sehari-hari? Pasti bakal beda banget kan yah perilaku orang yang memiliki konsep diri positif atau negatif?

Nah, ternyata benar. Cara kita menilai diri kita akan mempengaruhi banyak hal. Begitu juga anak kita. Bagaimana dia menilai dirinya, akan mempengaruhi banyak hal dalam hidupnya seperti cara berfikir, merasa, bertindak, bergaul dan bahkan bisa mempengaruhi fisiknya.

Anak dengan konsep diri positif, akan berfikir positif, akan merasa bahagia, akan mampu beradaptasi dengan baik, mampu bergaul dengan baik, sehat dan aktif secara fisik. Sebaliknya, anak dengan konsep diri negatif, akan memiliki cara berfikir yang negatif, selalu merasa segala sesuatu adalah ancaman, sulit beradaptasi, lebih senang mengisolasi diri dan cenderung lemah secara fisik.

Sampai sini, kayaknya kita sebagai orang tua sepakat yah, kalau kita semua ingin anak kita memiliki konsep diri yang positif? Nah, kabar baiknya, konsep diri ini bisa dibangun. Caranya?

Beri anak kesempatan untuk mencoba hal baru yang sesuai dengan kemampuan anak. Disini jadi penting bagi kita sebagai orang tua, memahami tahap perkembangan anak. Sehingga kita bisa tahu, anak usia segini, sebaiknya dikasih tugas apa yah yang kira-kira dia mampu. Kenapa tugasnya harus sesuai kemampuan? Agar anak merasakan keberhasilan. Keberhasilan itu akan memperkuat penilaian anak kepada dirinya, bahwa dirinya itu kompeten, bisa melakukannya sendiri dan ini akan membentuk konsep diri yang positif. Ketika anak berhasil, yang tidak kalah penting juga adalah berikan pengakuan yang membuat anak merasa keberhasilannya itu diterima.

Berikutnya, jadilah detektif kebaikan bagi anak. Dalam sehari, tentunya banyak perilaku yang ditunjukan oleh anak kita, baik itu perilaku negatif maupun perilaku positif. Nah, tugas kita sekarang adalah rekam hal-hal positif yang dilakukan oleh anak kita dan kita berikan penguatan atas perilaku itu. Caranya yah macem-macem yang kira-kira dapat membuat anak merasa, “Oh, Bunda senang/Bunda bangga kalau saya melakukan ini.” Contoh sederhana, “Alhamdulillah anak Bunda habis makan langsung menaruh piring ke tempat cuci piring.” Mudah yah? Murah pulak. 🙂

Untuk usia pra sekolah (di bawah 7 tahun) ini menjadi penting juga untuk menanamkan nilai-nilai ke anak-anak apa yang sebenarnya kita harapkan dari perilaku dia. Anak-anak usia ini masih butuh dibimbing tentang apa yang baik dan apa yang buruk. Anak-anak akan cenderung mengulangi hal-hal yang direspon secara positif oleh lingkungannya.

Dari dua bahasan di atas, kita punya kesimpulan yah. Bahwa respon positif dari lingkungan itu sangat amat mempengaruhi konsep diri positif anak. Baik itu saat anak mengerjakan sesuatu dan berhasil atau saat anak menunjukan perilaku yang positif.

Sekarang kita bahas kasus lain, yaitu gimana kalau suatu saat, anak mengalami kegagalan? Padahal tugasnya sudah disesuaikan loh dengan umurnya. Nah, balik lagi ke bahasan sebelumnya itu, bahwa respon lingkungan, bagaimana kita memvalidasi atau memperkuat perilaku positif atau keberhasilannya, itu sangat penting. Bahkan lebih penting daripada keberhasilannya itu sendiri. Bisa loh, anak berhasil, anak berperilaku positif, tapi tanpa pengakuan (validasi), tanpa apresiasi, anak tetap menilai dirinya jadi biasa aja atau cenderung negatif. Jadi disini kita harus garis bawahi pentingnya “pengakuan”.

Hal yang sama juga soal kegagalan anak. Bagaimana orang tua merespon kegagalan anak, akan membedakan akhir penilaian yang akan diberikan anak kepada dirinya sendiri. Ketika gagal, tentunya perasaan negatif pada anak akan muncul seperti kecewa dan marah. Nah sebagai orang tua, kita harus menerima perasaannya. “Kamu sedih yah nak.” “Kamu sepertinya kecewa yah.” “Kamu marah yah”. Terima dulu. Beri label perasaannya. Ini juga sangat membantu anak agar dia tidak bingung dengan perasaannya.

Setelah anak menerima perasaannya, kita bisa membantu anak menormalisasi kegagalannya. Ada masa dimana setiap orang merasakan kegagalan. “Bunda waktu kuliah pernah loh mas, kalah futsal juga….” Ceritakan saja kegagalan yang pernah kita alami juga. Sehingga anak merasa bahwa tidak hanya dia sendiri yang pernah mengalami kegagalan.

Berikutnya, jangan lupa untuk mengizinkan anak mengekspresikan perasaannya terhadap kegagalan tersebut. Biarkan dia menangis kalau memang sedih, biarkan dia cemberut kalau memang merasa kesal, biarkan dia menarik diri dari keramaian kalau dia merasa butuh ruang untuk sendiri.

Setelah itu, perhatikan, dari ekspresi wajah, desahan nafas, ketegangan badan anak, apakah dia sudah mulai merasa lebih baik setelah mengekspresikan perasaannya tersebut. Kalau sudah lebih baik, baru nih kita bisa melakukan reframing. Memberikan sudut pandang lain dalam menghadapi kegagalan. Misalnya fokus dengan usaha yang dilakukan, “Khaleed pasti kecewa yah karena kalah futsal, tapi Bunda bangga loh karena Mas Khaleed sudah berlatih dengan baik.”

Menghargai usaha anak ini menjadi penting bagi anak untuk menyadari keterbatasan diri tanpa merasa dirinya rendah. Kenapa? Karena apapun kondisinya, seburuk apapun hasil yang dicapai, dia tetap merasa aman, diterima dan dicintai orang tuanya.

Dalam kondisi seperti ini juga, jika orang tua sering memberikan penguatan atau apresiasi pada perilaku positif atau keberhasilan anak di bidang lainnya, maka anak akan cenderung merasa tidak terlalu sakit atau pahit dalam menerima kegagalannya. Karena anak jadi tahu bahwa ada kebaikan-kebaikan atau kelebihan-kelebihannya di bidang yang lain.

Terakhir, saya ingin mengajukan pertanyaan kepada diri saya dan juga Ayah/Bunda yang membaca tulisan ini. Apakah cara kita merespon perilaku anak kita selama ini lebih banyak membangun konsep diri positif atau negatif?

Catatan Mentoring: Anak Gak Nurut?

Konon katanya satu dari tiga masalah yang dikeluhkan oleh orang tua adalah “anak gak nurut”. Hmmm. Sounds familiar? 🙂 Saya begitu soalnya. Banyak dari kita menginginkan anak-anak kita untuk nurut sama kita. Salah kah? Tenang, tulisan ini tidak akan menghakimi salah atau benar memiliki keinginan itu. Tapi kita akan bahas sisi lainnya aja. Yaitu, bahwa “nurut” atau kepatuhan itu harus dibangun.

  • Kelekatan itu penting

Sebelum kita mulai, sekarang kita coba bayangkan dulu yah, kalau ada orang yang amat sangat kita cintai, meminta kita melakukan sesuatu, peluang kita untuk memenuhinya besar atau tidak? Gimana kalau yang meminta kita melakukan sesuatu itu adalah orang yang kita benci? Lebih berpeluang mana kita untuk nurut? Sama orang yang kita sayangi atau yang kita benci? Sepertinya semua bisa bersepakat yah, bahwa peluang kita nurut akan lebih besar jika yang memintanya itu adalah orang yang kita amat sangat sayangi. Maka kelekatan itu adalah modal kita untuk menyeleraskan keinginan kita dan anak. Kalau ini tidak ada, maka kita seperti orang lain, tidak penting untuk didengarkan anak kita. Apalagi kalau harapan kita tidak sekedar “asal nurut”, tapi ada tambahan “harus ikhlas”, wah lebih challenging lg. 🙂

  • Tetap hargai anak kita dengan mengijinkan mereka mengeluh atau cemberut dalam kepatuhan

Siap gak sih kita dengan “ke-gak ikhlas-an” anak kita? Misal aja nih, saya meminta Khaleed untuk menaruh semua barang ke tempatnya setelah dia pulang sekolah. Disitu badannya lelah. Pengennya tidur. Lalu dia tetap melakukan seperti yang saya minta, tapi sambil cemberut atau ngedumel. Gimana tuh? Cukup kah untuk saya? Sebaiknya memang saya tetap perlu bersyukur bahwa Khaleed mau memenuhi perintah saya. Perkara mengeluhnya, ini yang nanti bisa kita perbaiki di lain waktu saat suasana hatinya tidak lagi bermasalah. Karena kalau saya semprot pada saat itu juga, “Yang ikhlas dong mas… itu kan juga buat kebaikan mas Khaleed dan bla bla bla…” Anak justru malah merasa kalau sia-sia juga diturutin, tetap aja negatif respon kitanya. Jadi jangan lupa tetap menghargai anak kita yah. Kalau bisa gunakan kata-kata ajaib juga seperti tolong dan terimakasih.

  • Pada dasarnya anak itu ingin menyenangkan hati kita

Yang perlu diingat juga, pada dasarnya, anak-anak itu ingin sekali menyenangkan orang tuanya. Kenapa? Karena mereka butuh untuk disayang oleh kita. Namun, kebutuhan ini akan semakin berkurang ketika anak-anak mulai mandiri. Karena mereka tidak lagi bergantung dengan kita. Itulah kenapa, semakin anak kita besar akan semakin sulit untuk kita berharap anak-anak menuruti semua harapan dan kemauan kita.

  • Pemberontakan kecil wujud kemandirian anak

Sebagai orang tua, kita juga harus siap-siap dengan pemberontakan-pemberontakan kecil. Hal ini wajar ketika anak-anak mulai berkembang kemampuan berfikirnya, sehingga dia memiliki lebih banyak alternatif dalam suatu hal, dibandingkan ketika dia masih kecil. Pilihan-pilihan itu akan semakin terbuka ketika anak-anak semakin megeksplor lingkungannya, seperti sekolah, tetangga, keluarga, dll. Maka pemberontakan ini jangan selalu dianggap negatif, karena sisi positif dari pemberontakan ini adalah wujud kemandirian. Anak yang mandiri, dia mampu menyelesaikan masalahnya tanpa bantuan orang lain.

Nah sampai sini, saya boleh yah bertanya, apakah kita benar-benar yakin bahwa kita mau punya anak yang penurut?

Buat saya sendiri, pertanyaan ini agak sulit dijawab. Karena di satu sisi, saya senang jika anak saya mampu berfikir dan memilih (mandiri), tapi apakah saya siap juga untuk menerima ketidaksetujuan? Nah, akhirnya saya berfikir, at some points, saya pengen anak saya nurut. Tapi, at other points, saya akan membebaskannya memilih. Mungkin ini yang paling bijak, karena kita gak mungkin terus menerus mengontrol hidup anak kita sesuai kemauan kita.

  • Refleksi diri: apakah kita selalu mematuhi orang tua kita?

Hal tesebut akan lebih mudah kita pahami dengan menjawab pertanyaan, apakah kita, sebagai anak, selalu menuruti semua yang orang tua kita mau? Kalau jawabannya tidak selalu, apakah itu membuat kita menjadi anak yang buruk? Kita jawab masing-masing aja. Mungkin dari situ kita bisa lebih bijak dalam hal “nurut-nurutan” ini sama anak-anak kita. Dan kita akhirnya punya fokus, hal-hal apa saja yang benar-benar kita ingin anak kita menurutinya. Karena semakin banyak dan gak fokus, ujung-ujungnya akan menambah tabungan emosi negatif kita dan anak kita, lebih jauh lagi kita jadi kehilangan hal-hal penting yang akan kita ajarkan ke anak kita.

  • Jelaskan hikmah dan berikan alternatif untuk anak

Sekarang mari kita lanjutkan dengan menjawab pertanyaan tersebut dengan, “ya, bahwa di beberapa hal, kita ingin anak kita nurut.” Nah gimana tuh caranya? Yuk kita pelajari bagaimana Al-Qur’an melarang dan menyuruh sesuatu kepada manusia. Dalam Al-Qur’an, semua perintah dan larangan itu memiliki penjelasan. Misal, berzina. Allah melarang kita berzina karena itu adalah perbuatan yang keji. Selain itu hal tersebut dapat merusak nasab, transfer penyakit dan menodai kehormatan.

Berikutnya, ketika Allah melarang berzina, tapi keinginan itu ada, maka Allah berikan alternatifnya, yaitu berpuasa atau kalau ada pasangan yang siap ya menikah. Jadi kalau kita melarang sesuatu, pastikan kita memberikan alternatif yang bolehnya apa? Alternatif ini membuat anak lebih berdaya karena memiliki pilihan yang mungkin lebih dia sukai. Jadi gak sekedar distop keinginannya. Buat anak ini adalah bagian dari proses pendewasaaan. Dimana manusia dewasa itu akan selalu mampu berfikir dan memilih, untuk selanjutnya mengembangkan kemampuan memutuskan dan merelakan.

  • Biarkan anak belajar dari kesalahan

Tapi gimana kalau anak kita memilih hal yang tidak sesuai dengan keinginan kita dan ternyata itu salah? Nah, disini kita bisa menerapkan sejauh apa ketidaksesuaian itu, jika itu melanggar agama yah mungkin kita bisa lebih kuat lagi memberikan alasan atau konsekuensinya. Tapi jika itu masih tolerable, kita dapat memberikan anak kita kesempatan untuk menjalani pilihan yang salah agar dia belajar.

  • Jurus terakhir: Award and Punishment

Tahap terakhir yang dapat kita tempuh saat kita ingin anak kita nurut adalah menerapkan award and punishment. Karena dalam hidup, ada beberapa hal yang kita yakini sebagai kebenaran yang solid dan sangat penting. Sehingga kita ingin anak kita benar-benar melakukannya. Namun yang perlu diketahui dari cara terakhir ini adalah award and punishment ini tidak perlu diterapkan di terlalu banyak hal. Dan pastikan untuk mendiskusikan terlebih dahulu, jangan ujug-ujug menghukum tanpa ada perjanjian atas konsekuensinya dulu. Ketika sudah diskusi, maka eksekusi semua kesepakatan secara konsisten. Jangan kendor atau berlebihan. Selain itu, pastikan hukuman adalah sesuatu yang akan dihindari anak. Karena tujuan kita bukan anak mengambil opsi hukuman, tetapi berusaha menghindari hal tersebut dengan mengikuti aturan.

Dari topik ini sebenernya saya belajar, bahwa kuasa kita pada anak kita itu terbatas. Ada usaha yang dapat kita tempuh, tapi semua itu tetap tidak pasti hasilnya. Karena anak kita adalah manusia dengan kemampuan berfikirnya sendiri. Kita kelak akan sampai pada titik tidak mudah dalam mengatasi keinginan yang berbeda. Tapi saya merasa perlunya berdoa dan bertawakkal kepada Allah. Terutama berdoa agar apapun pilihan yang anak-anak saya pilih, semoga selalu dalam ridho Allah.

Catatan Mentoring: Persaingan Antar Saudara

Bismillaahirrahmaanirrahiim. Tulisan kali ini adalah awal dari tulisan saya bertema “Catatan Mentoring” yang benar-benar merupakan catatan selama saya ikut mentoring bersama bu Yeti Widiati. Disclaimer, karena ini catatan pribadi, mohon untuk tetap kritis dalam membacanya. Jika dirasa benar dan bermanfaat, sila diteruskan. Jika dirasa salah, mohon dikoreksi.

Saya menulis ini dengan tujuan mengikat ilmu. Setelah kurang lebih 1.5 tahun mengikuti mentoring psikologi mingguan, saya merasa perlu menuliskan ulang beberapa catatan penting. Tujuannya adalah agar semakin masuk ke dalam diri saya pemahamannya dan juga semoga bisa bermanfaat bagi banyak orang.

Untuk tema pertama, kita mulai dengan persaingan antar saudara atau sering kita dengar istilah kerennya sibling rivalry. Dalam persaudaraan, tak jarang kita temukan kebencian dan rasa iri muncul. Hal tersebut sebenarnya wajar dan juga diperlukan. Anak yang tidak mengalami konflik antar saudara memungkinkan dia melewatkan kesempatan untuk melatih diri mengatasi masalah.

Sibling rivalry ini  dimulai sejak memiliki saudara baru, yaitu ketika adik lahir. Yang perlu kita ingat sebagai orang tua, kehadiran adik baru ini dapat membuat perasaan yang tidak mudah untuk kakak. Kita sebagai orang tua harus membuat masa transisi ini menjadi lebih mudah untuk anak kita. Caranya? Jangan paksa anak untuk langsung menyukai adik baru.

Kehadiran orang baru dalam hidup itu tidak mudah. Bisa kita bayangkan misalnya, suami mengenalkan kepada kita seorang perempuan yang akan jadi istri barunya. Dia lebih cantik, lebih muda dan semua orang sangat tertarik dengan dia. Lalu suami meminta kita untuk menyayangi calon istri barunya tersebut. Mudahkah? Tentu tidak. Yes. Mungkin itu contoh ekstrimnya. Tapi intinya, kehadiran orang baru itu tidak selalu mudah untuk semua orang.

Kita bisa mengenalkan lebih awal dulu saat kita hamil, tentang kehamilan kita. Bagaimana nanti proses yang terjadi selama kehamilan di diri kita dan 9 bulan kemudian akan hadir adik bayi. Tidak perlu berlebihan untuk langsung bilang, ” kamu harus sayang yah. Gak boleh menyakiti” dan kata-kata lain yang akan menambah kecemasan kepada kakak. Dan tetap berikan perhatian penuh kepada kakak selama kehamilan kita.

Kita tahu, hormon kita ketika hamil itu tidak biasa. Bisa jadi ada perubahan dalam emosi diri kita dan itu dapat berpengaruh terhadap sikap kita kepada orang di sekitar kita, termasuk kakak. Jangan merasa lemah jika harus meminta suami untuk memberikan kita kenyamanan selama proses ini agar bisa bersikap lebih baik kepada kakak. Kelelahan dapat menjadi salah satu sumber perubahan emosi kita. Jadi yuk suami, bantu istri agar dapat lebih nyaman selama kehamilan.

Ketika adik lahir, jangan sampai perubahan ini terasa drastis untuk kakak. Biasanya, semua orang fokus pada adik yang baru lahir. Antusias. Lalu sang kakak akan merasa asing dan tidak diperhatikan. Penuhi kebutuhan bayi sesuai porsinya. Berbagi tugas dengan suami, terutama dalam hal-hal yang tidak memerlukan kita sebagai ibu. Selama adik bayi di-handle ayah atau support system lain, tetap luangkan waktu untuk kakak. Jangan sampai kakak kehilangan banyak momen yang sebelumnya dia dapatkan. Percayalah, semakin kakak merasa nyaman dengan perubahan ini, akan membuka peluang lebih cepat untuk kakak menyukai bahkan mencintai adik baru ini.

Pada proses selanjutnya ketika anak semakin besar, perhatikan hal-hal berikut ini:

  • Mencintai anak dengan unik

Setiap anak memiliki keunikan sendiri-sendiri. Temukan hal yang unik dari setiap diri anak yang kita sukai. Apresiasi anak-anak atas keunikannya itu. Selain anak-anak merekam keunikannya dan merasa penuh, kita juga sebagai orang tua jadi lebih aware terhadap keunikannya dan dijauhkan diri dari memperlakukan semua anak “dengan cara yang sama”.

  • Perlakukan anak dengan adil

Setelah memahami bahwa anak itu unik, maka berikutnya kita harus adil dalam memperlakukan anak. Adil itu tidak sesederhana membagi satu potogan kue menjadi dua dengan sama besar untuk dua anak. Karena belum tentu kakak suka kue tersebut kan? Belum tentu juga dua-duanya sama-sama sedang lapar dan ingin makan kue? Gak sesederhana itu. Ini baru urusan kue. Gimana urusan yang lain yang lebih abstrak, misalnya kasih sayang?

Nah, maka adil itu harus dimulai dari mengenali kebutuhan setiap anak kita. Kakak punya kebutuhan emosi apa yang perlu kita penuhi, adik punya kebtuhan emosi apa yang kita penuhi. Ini harus dilakukan sebagai orang tua dengan pengamatan dan coba-coba. Respon dari mereka yang akan bisa meyakinkan kita apakah yang kita berikan itu sudah tepat atau belum. Sudah sesuai kebutuhannya atau belum.

Dalam konflik misalnya, tidak harus selamanya menjadi kakak itu harus mengalah dengan adik. Ada saatnya adik yang memang harus mundur dan mengakui, bahkan menerima konsekuensi. Gak ada rumus untuk adil, maka kita harus terus berusaha dan memperbaiki perilaku adil kita. Satu hal yang pasti, keadilan itu dapat dirasakan oleh anak.

  • Persiapkan anak untuk menghadapi konflik

Dalam hubungan saudara, ada saatnya segala sesuatu tidak berjalan dengan baik. Pasti akan ada konflik. Makanya kita sebagai orang tua, jangan nambah-nambahin konflik di anak dengan sikap membanding-bandingkan, tidak adil, dll. Nah jika anak konflik, apa yang harus kita lakukan? Kita latih sedikit demi sedikit mereka untuk menyelesaikan masalahnya sendiri. Jangan jadi wasit terus. Kenapa? Karena gak selamanya kita akan bisa hadir menjadi wasit bagi mereka.

Kita bertindak ketika sudah ada yang mulai saling merusak atau berbahaya. Jangan sampai kita hilangkan kesempatan mereka menyelesaikan masalah dengan terus menerus menjadi ratu adil bagi mereka. Apa yang harus kita siapkan? Ajari anak untuk mengenali perasaannya, menerimanya dan menyampaikan kebutuhannya dengan baik. Disitu kita mengajari anak untuk fokus pada perasaan yang dia rasakan. Sehingga konflik lebih terarah.

Anak yang mampu mengenali, menerima dan menyampaikan perasaannya dengan baik maka akan lebih mudah melakukan dialog. Kemampuan anak untuk berdialog menjadi penting dalam menyelesaikan masalah antar mereka. Bangun kedekatan antar anak. Karena dialog tidak akan terjadi kalau anak-anak merasa saling berjauhan.

Tantangan paling besar buat saya sebenernya ketika ada salah satu anak yang mengadu. Karena mau tidak mau mereka melibatkan saya dalam konflik mereka. Disitu kita harus berusaha bersikap adil. Tapi kalau tidak mengadu, biasanya tantangan yang saya rasakan adalah berisik. Yah ketika mereka adu mulut bahkan kalau sampai teriak-teriak dan mencemooh. Nah, untuk berisik ini, saya lebih memilih menyampaikan kepada mereka untuk merendahkan dan memelankan suara, tidak harus terlibat langsung ke permasalahannya.

  • Perlakukan anak secara individual

Jangan biasakan berdialog untuk isu individual anak di depan umum. Umum ini berarti di depan saudaranya juga. Jebakan buat saya itu adalah berbicara sambil ngapa-ngapain, beberes misalnya, untuk mengingatkan Khaleed akan sesuatu. Jadi adiknya bisa dengar. Kalaupun pesan yang akan disampaikannya perlu juga diketahui adik, belum tentu sang kakak nyaman adiknya tahu. Biasakan berdialog secara individual dengan anak. Disitu harga diri anak lebih terjaga. Kondisi sulit yang biasanya saya hadapi itu ketika ingin menasehati. Seringkali menjebak diri menasehati salah satu anak di depan anak lain. Ini perlu dihindari.

  • We-time

Atur waktu, tenaga dan biaya untuk membersamai setiap anak sacara bergantian. Karena anak-anak perlu waktu dengan kita, dimana dia merasa fokus ortunya adalah hanya kepadanya. Perasaan itu akan sangat penting dalam membangun kepercayaan anak bahwa kita sayang sama dia.

Saya bukan tipe yang sudah bisa membuat jadwal untuk we time dengan setiap anak secara rutin. Namun jika ada gejala ke-jealous-an muncul di salah satu anak, seperti “Ah Bunda mah lebih sayang sama Alisha daripada sama Khaleed.” Nah, barulah saya ajak nge-date berdua. Dulu sebelum memahami kebutuhan ini, saya bereaksi dengan ucapan, “Gak lah mas. Bunda sayang sama Khaleed sama dengan sayang sama Alisha bla bla bla.” Intinya membeberkan fakta yang membuktikan kalau itu salah, sayang saya untuk mereka sama. Ternyata gak seefektif langsung memberikan perhatian khusus seperti we-time.

Sebagai penutup, sibling rivalry tidak selalu harus kita pandang buruk yah. Buruk itu ketika itu terjadi tanpa pernah ada solusi sehingga menjadi unfinished bussiness yang mempengaruhi emosi jangka panjang. Sibling rivalry bisa jadi sumber melatih keterampilan anak dalam berinteraksi dengan orang lain. Tidak juga sibling rivalry ini dapat kita hilangkan, karena ini natural terjadi. Maka yang penting bagi kita adalah memanage sibiling rivalry ini. Hal ini menjadi penting karena ada juga orang tua yang berusaha mengihlangkan sama sekali. Contohnya, biar gak berantem, semua dibeliin mainan yang sama, dll. Ya, mungkin anak jadi anteng dan tidak berantem. Tapi anak kehilangan banyak kesempatan untuk belajar berinteraksi dengan baik pada saudaranya.

wallahu’alam bishawab

Black.ish: Make Time for “Us”

images

Hihi. Judulnya sok Inggris banget yah. Harap maklum yah. Btw, sekarang saya mau ngebahas sebuah film yang banyak membuat saya berfikir tentang hidup, terutama keluarga. Sebelumnya saya kasih intro dikit yah, Black.ish ini adalah serial dari ABC TV yang menceritakan tentang Dre dan Bow. Mereka adalah suami istri dengan 4 anak, awalnya, lalu di episode sekian jadi 5, yeay, banyak yah untuk jaman sekarang. Dre adalah seorang black american. Bow, dia mixed.

Film ini menarik karena banyak menggambarkan masalah-masalah yang ril dalam masyarakat amerika dan keluarga disana. Dalam konteks masyarakat, film ini membahas pentingnya mereka menghargai sejarah black american, bersuara untuk keadilan yang banyak mendeskreditkan black american, dll. All about black. Tentang keluarga, film ini bercerita tentang komunikasi anak-anak dan ortunya yang kadang tidak mudah, pra baligh, counting the blessings, agama, tradisi, dll.

Semua topik itu terasa sangat nyata tapi tetap lucu. Sampai season 4, saya merasa ini film komedi keluarga yang value-nya solid. Konflik yang disajikan selalu dilengkapi dengan “how they handle it, in the end“.  Nampaknya benang merah yang saya coba tarik dari bagaimana mereka menangani konflik dalam keluarga adalah jujur dengan apa yang dirasakan, menerimanya dan mengkomunikasikannya dengan baik.

Tapi begitu sampe season 5. Terutama di 3 espisode terakhir, saya bener-bener ngerasa, omaigat, this is drama. Fiuh. Siapin tisu. Kesel deh karena kenapa jadi film sedih gini sih? Why? I enjoyed the previous’ so much. Kenapa harus end up like this.

Season dan episode sebelumnya silahkan nikmatin sendiri yah. Saya nonton di Hooq. Tapi 3 episode terakhir ini pengen banget saya tulis tentang pengalaman perasaan saya saat menontonnya. I watched those three times. Hah. Awalnya kesel, tapi entah kenapa, kok lama-lama jadi doyan ngeliat film penuh konflik batin gini. Apakah saya salah? >_<

Anw, jadi yang bikin saya mengulang-ngulang 3 episode itu adalah, saya pengen belajar, how a marriage ends up like hell. Why did it happen? And how?

Kayaknya susah mendefinisikannya kenapa suatu rumah tangga bisa terasa dingin, datar bahkan horor. Tapi yang saya tangkap adalah ketika mereka melupakan bagaimana mereka memulai rumah tangga. Mereka sibuk dengan capaian masing-masing, dan lupa dengan mereka berdua, dua manusia yang dulu memulai sebuah rumah tangga ini. Mereka lupa masa-masa dimana mereka masih bisa tersenyum lebar, dag dig dug, saat bertemu pasangan. Saat mereka dengan bahagianya menyebarkan undangan pernikahan. Berdiri berdua di atas mempelai jadi ratu dan raja sehari.

Tapi pernikahan bukan tentang kesenangan semata. Mereka mulai sadar ketika mereka harus berdiri berdua saja untuk membangun hidup sendiri. Mereka berjuang membangun semuanya dari nol. Membagi pekerjaan. Sambil berusaha menyeimbangkan tugas-tugas harian dengan kewarasan. Belum lagi menemukan banyak hal dari pasangan yang ternyata banyak yang di luar harapan.

Kondisi semakin sibuk, ketika mereka memiliki anak. Mereka perlu bener-bener belajar banyak hal baru dalam mengasuh anak-anak yang selalu ada aja tantangan di setiap fase perkembangannya. Selain itu, semakin bertambah jumlah anggota keluarga, kebutuhan keluarga pun makin besar. Gak ada cara lain selain bekerja semakin keras, dan keras. Sampai akhirnya mulai merasa, this my career. I will pursue my dream. Yes, “mine”.

Perlahan tapi pasti mereka berhasil sedikit demi sedikit memenuhi kebutuhan mereka, bahkan lebih dari cukup. Semua hal itu ternyata men-challenge mereka untuk lebih baik lagi. Tapi di sisi lain jadi lebih demanding. Mereka melihat ke belakang, dan merasa mereka telah melakukan banyak hal hebat. Di sisi lain, mereka tidak sadar, ketika mereka kembali ke rumah dan melihat pasangannya, ternyata, mereka telah berjarak. Yup. Bahkan terlalu jauh jaraknya.

Jarak yang diciptakan karena mereka tidak lagi saling melihat satu sama lain. Karena mereka sibuk memikirkan banyak hal yang terjadi “akibat pernikahan”. Di akhir mereka menyadari, sudah banyak hal yang berubah di dirinya dan pasangannya. Mereka bahkan lupa hal-hal apa saja yang paling diinginkan dan disukai oleh pasangannya. Uhm. Mungkin bukan lupa. Tapi tidak peduli lagi. Dan ternyata itu menyebalkan bagi pasangannya.

Itu yang terjadi pada Dre dan Bow. Karena jarak itu, maka masalah kecil yang biasanya bisa diakhiri dengan baik, tapi kali ini tidak. Mereka jadi lebih sering menilai pasangannya dengan kacamatanya masing-masing. Uzur jadi jarang diberikan atas kesalahan pasangan, suasana jadi sangat menyesakkan dan menegangkan. Mereka jadi lebih jujur tentang ketidaksukaannya dengan pasangannya, daripada menunjukan kesukaannya terhadap pasangannya. Less appreciation, more judging. Akhirnya semua berubah jadi kondisi yang super duper melelahkan.

Mereka akhirnya memilih untuk pisah rumah. Memberikan ruang satu sama lain. Namun ternyata itu tidak banyak membantu. Keadaan makin parah ketika mereka semakin berusaha kuat untuk menyenangkan anak-anak mereka bahwa perpisahan sementara ini akan berhasil, dan ternyata tidak. Ya. Akhirnya mereka berpisah.

Sampai suatu malam, Bow menelepon Dre dan mengabarkan Ayahnya meninggal dan malam itu juga, Dre mendatangi rumah Bow. Dan memberikan dukungan penuh untuk Bow melewati masa-masa berduka kehilangan ayahnya. Bow merasa sangat terbantu mengatasi situasi sulit itu. Dia menawarkan Dre untuk tetap bersamanya, kalau Dre mau. Dan Dre menerimanya. Pelukan hangat dan tulus dari Dre untuk menghilangkan kesedihan Bow atas kepergian ayahnya, bagi Bow terasa seperti “This is what I need“.

Dan kali itu mereka jujur, dan menyerah, bahwa sebenarnya, hidup bersama memang penuh perjuangan. Namun berpisah pun penuh perjuangan. Ketika ruang untuk kembali bersama itu terbuka dengan sangat natural saat kepergian ayahnya Bow, maka mereka memilih untuk tetap berusaha dan berjuang lagi untuk kebersamaan mereka.

Di akhir episode, seorang terapis berusaha menjelaskan kondisi mereka dengan analogi thanksgiving dan kalkun. Mungkin saya gak akan menuliskan itu disini. Tapi saya ingin menerjemahkan saja. Ketika kita menikah, kita akan sibuk dengan banyak hal baru yang harus kita selesaikan. Pekerjaan itu kadang terlalu banyak, sehingga pasangan lupa tentang “kita” sebagai “pasangan”, bukan sebagai ayah/ibu, pekerja, anak/mantu, anggota masyarakat dll. Kita menaruh “kita” di prioritas terakhir dari semuanya. Bahkan seringkali tidak dikerjakan.

Kita lupa membangun kita. Kita lupa menghangatkan kita. Kita lupa memperhatikan satu sama lain. Kita bekerja untuk bayaran rumah, sekolah, makan sehari-hari, liburan keluarga, haji, dan lain-lain. Tapi kita lupa bekerja untuk kita. Yang memang harus dikerjakan, diusahakan, tidak bisa “take it for granted“.

So, couples, let’s make time for “us”. 

Catatan Belajar: Konsep Diri Seorang Ibu

Alhamdulillah. Allah selalu mengabulkan doa hambanya. Salah satu yang saya harapkan dalam doa saya adalah agar Allah berikan ilmu yang bermanfaat. Saya ingin menjadi pembelajar sampai akhir hayat. Dan sekarang sedang fase menjadi Bunda dari anak-anak kecil yang masih memerlukan perhatian besar dari Bundanya, lebih dari apapun. Maka sangat tepat bagi saya untuk belajar pengasuhan.

Salah satu materi yang menarik bagis saya adalah konsep diri seorang ibu. Saya mendapatkan materi ini dari Bu Siska, founder Daycare, KB, TK dan SD Batutis Al-Ilmi Bekasi. Bu Siska pada bulan ramadhan ini membuka kelas CURHAT untuk Ibu-Ibu yang mau mengasuh anak lebih baik lagi.

Belajar pengasuhan dari beberapa sumber, tidak lantas menjadikan kita menjadi Ibu yang lebih baik. Rasanya kalau ikut seminar, kelas, atau apapun itu mencerahkan pikiran banget. Namun pas implementasi? Susahnya minta ampun. Suka bingung dan bertanya-tanya, what is wrong with me? Namun setelah mendapatkan materi tentang Konsep Diri Seorang Ibu, saya merasa semakin mudah dalam mengimplementasikan ilmu-ilmu yang pernah didapat. Seperti menemukan serpihan yang hilang dalam diri. Tentunya, tetap dengan segala kekurangan. Tapi setidaknya, saya merasa lebih baik.

Nah, apa sih itu konsep diri? Konsep diri adalah bagaimana kita menilai diri kita dan bagaimana kita merespon penilaian orang lain terhadap diri kita. Simple yah? Tapi ternyata konsep diri ini sangat mempengaruhi cara kita berfikir, merasa dan bertindak. Konsep diri meliputi body image, bagaimana kita menilai penampilan fisik kita, dan juga ide atau harapan kita.

Kita bahas dulu body image yah. Body image ini juga mempengaruhi konsep diri. Tapi yang menarik, tidak semua orang yang memiliki fisik yang dianggap banyak orang baik, pasti memiliki konsep diri yang baik. Kenapa? Bisa jadi sebenarnya fisiknya banyak yang menganggap baik, tetapi dia selalu merasa kurang ini, kurang itu. Maka agar konsep diri kuat, mari kita mulai menerima apapun kondisi fisik kita, termasuk di dalamnya warna kulit, bentuk hidung, bentuk badan, seksualitas, gender dan lain-lain.

Kita syukuri kulit yang agak kegelapan ini karena harus mengantar jemput anak-anak naik motor di siang terik. Kita syukuri bentuk hidung kita sebagai orang Indonesia yang memang Allah takdirkan agak ke dalem 😀 . Kita syukuri bentuk badan kita yang mungkin agak lebar atau bahkan lebar banget, kurus atau kurus banget, ideal, apapun, sebagai versi terbaik kita hari ini. Kita syukuri takdir kita sebagai perempuan. Mengalami menstruasi, bisa hamil, bisa labil, bisa menyusui, berubah bentuk tubuh saat melahirkan, sakit saat melahirkan, harus mengalami masa galau karir dan keluarga, dll. All shall pass. Dengan penerimaan ini, kita lebih siap dalam menghadapi setiap fase dalam hidup kita.

Kalau kita masih mempertanyakan fisik kita, tidak menerima kondisi fisik kita, masih menuntut ini itu terhadap fisik kita, hal tersebut dapat melemahkan konsep diri kita. Maka yuk kita syukuri kondisi yang ada. Perihal ada harapan yang memang membuat kita merasa lebih baik, lebih sehat, lebih bahagia, maka dijadikan harapan yang realistis. Realistis itu berarti kita sadar kita mulai dari titik mana, sehingga kita bisa menetapkan tujuan yang sanggup kita perjuangkan. Jangan hanya sekedar ambisius.

Menjadi Ibu juga merupakan fase hidup. Maka kita harus bisa menerima kondisi ini. Menghayati semua prosesnya. Menyadari bahwa ini adalah anugerah Allah yang tidak semua orang mau dan mampu mendapatkannya. Berbahagialah menjadi seorang Ibu. Anak yang hadir dalam rahim kita adalah hasil perjuangan sperma terbaik yang menembus dinding telur kita. Anak kita adalah yang terbaik yang Allah berikan kepada kita. Begitu juga suami kita. Dia adalah yang terbaik yang Allah berikan kepada kita. Kita harus belajar menerima kondisi diri kita, anak kita dan suami kita sebagai anugerah terbaik dari Allah.

Mari kita jalankan peran Ibu ini dengan bahagia. Dimulai dengan mensyukuri setiap fasenya. Dengan menjalaninya, sejatinya kita sedang membangun jati diri kita yang baru, sebagai Ibu. Dan kita akan dijadikan panutan oleh anak-anak kita. Maka jadilah Ibu yang bahagia dan membagikan kebahagiaan kita kepada anak-anak kita dengan hadir sebagai sosok yang membawa kebahagiaan. Jangan dilihat anak sebagai Ibu yang sibuk beberes, masak, cuci baju, ngetik di depan laptop, yang kebahagiaannya tidak tertular kepada anak. Nikmati juga kebahagiaan membersamai anak-anak.

Pembahasan konsep diri ini menjadi penting, kenapa? Karena konsep diri Ibu ini akan mempengaruhi konsep diri anak.

Setelah bersyukur, kita coba bangun konsep diri kita sebagai Ibu dengan cara memenuhi kebutuhan diri kita sebagai Ibu. Apa saja kebutuhan kita sebagai Ibu? Kita butuh belajar. Karena fase ini jelas berbeda sama fase kita saat gadis dan fase kita saat baru menikah tanpa anak. Kita perlu mempelajari perubahan ini. Penuhi diri kita dengan ilmu.

Setelah dapat ilmu, jangan lupa, tahan ambisi. Kita mungkin sudah tahu, sudah berubah, tahan diri untuk tidak berambisi mengubah anak dan suami dengan tiba-tiba. Tidak semua yang menjadi kebutuhan kita, menjadi kebutuhan orang lain. Maka pelan-pelan kalau mau merubah orang-orang di sekitar kita. Jangan memaksa. Jadi teladan dulu.

Agar menjadi teladan, kita perlu mendefisinisikan kebutuhan keluarga kita. Ingat. Kebutuhan setiap keluarga itu tidak sama. Jangan ngeliat anak orang hafidzh, kita langsung pengen anak kita jadi hafidzh. Ngeliat anak orang jago gambar, pengen anak kita juga jago gambar. Ingat, bukan masalah jadi apanya, menguasai apanya, tapi lihat dulu kondisi anak kita. Ada dimana? Lihat kondisi suami kita. Ada dimana? Jangan gara-gara melihat kondisi keluarga lain, terus kita paksa anak dan suami, juga termasuk diri kita, harus menjadi seperti orang lain. Gak gitu caranya. Tetapkan dulu apa yang menjadi tujuan kita sebagai keluarga. Cari irisannya dan bangun step-stepnya sesuai garis start nya dimana. Jangan jadi orang yang ambisius. Tapi jadi orang yang tahu diri dan punya mimpi. Itu berbeda. Kita jadi sabar atas proses dan ajeg dalam menggapainya. Tidak mudah goyah.

Apa sih bedanya kita meniru orang lain sama kita belajar dari orang lain? Meniru itu serta merta ambisi. Sedangkan belajar dari orang lain, itu kita tanya bagaimana prosesnya, bagaimana kondisi keluarganya dan kita cocokan, apakah baik juga untuk keluarga kita. Kalau baik pelajari caranya dan bersabar dengan prosesnya sesuai start nya dimana. Poinnya, kita harus selalu sadar diri, kita ada dimana.

Kalau lihat Facebook, Youtube, Instagram, bikin kita iri dan kepingin ini itu dan tidak sadar kondisi kita kayak apa, maka tutup dulu. Itu artinya konsep diri kita masih lemah. Perkuat dulu konsep diri kita. Penuhi apa yang sebenarnya dibutuhkan dari diri kita terlebih dulu. Kalau kita merasa terganggu dengan apa yang ada di sosmed, artinya kita belum sanggup. Gapapa hentikan dulu. Yang penting kita tidak melakukan hal yang merusak konsep diri kita.

Berikutnya kita tuntaskan dulu masa lalu dan ambisi kita. Jika ada bagian dari masa lalu yang tidak sesuai harapan, maka kita perlu evaluasi dan mengambil ibrah dari kegagalan. Evaluasi juga target-target hidup kita, pastikan itu merupakan hal-hal yang kita butuhkan. Kembali lagi mengukur kemampuan diri dan terimalah fase yang sudah dilalui tersebut.

Yuk, kita bangun konsep diri kita sebagai Ibu terlebih dahulu sebelum membangun konsep diri anak. Jadilah Ibu yang berbahagia. Menerima semua takdir Allah atas diri kita. Syukuri bahwa menjadi Ibu adalah anugerah terbesar Allah dan karenanya kita dimuliakan oleh Allah. Dan tuntaskan masa lalu kita agar menjadi pembelajaran, bukan sekedar penyesalan.

Terakhir, ada quote dari Bu Siska yang makjleb banget,

Ibu yang berbahagia akan menebarkan aura kebahagiaan di rumahnya, dan semoga kelak menebarkan wangi surga untuk keluarganya

_Siska Yudhistira Massardi_

Demikian catatan belajar saya dengan Bu Siska minggu lalu. Semoga bermanfaat

Dinginnya Hubungan di Tahun Politik

Pada tahun 2014, menjelang pilpres, saya sempat merasa kesal dengan perdebatan politik untuk memperebutkan kursi RI 1 dan 2. Kenapa? Karena pada saat itu terasa bahwa semua orang darahnya mendidih. Ingin sekali menjatuhkan orang lain. Kadang penyerangan karakter itu bukan hanya ke sosok yang diperjuangkan tapi kemana-mana. Ke diri yang membela, ke keluarga yang membela, ke pekerjaan, ke organisasi, kemana-mana lah pokoknya. Dan sepertinya semua debat itu menjadi sengit. Saya sendiri pun beberapa kali terjebak di dalamnya.

2019 agak sedikit berbeda. Sekarang di beberapa grup WA, berangsur dingin. Sepertinya setiap orang menahan untuk tidak membicarakan politik atau apapun yang sedikit kaitannya dengan politik. Bahkan beberapa grup menjadikannya sebagai bagian dari aturan main grup, tidak ada urusan politik disini! Tegas sekali. Bagaimana tidak, kalau saja kita melempar topik politik, pasti akan terjadi perdebatan tiada akhir. Obrolan berubah menjadi siapa yang paling benar, bukan lagi menukar ide, gagasan atau sudut pandang. Begitu juga di sosial media. Suudzon saya, yang saling bertengkar itu sudah mengunfollow temannya, kemudian tersisa hanya teman-teman yang seide saja.

Meninggalkan perdebatan sebenarnya adalah hal yang bagus. Bahkan diwajibkan. Hanya saja, yang saya khawatirkan bukan perdebatannya itu. Tapi diamnya ini, menandakan matinya dialog. Seolah tidak ada topik lain selain politik. Seolah tidak ada topik yang bisa membangkitkan kegembiraan bersama. Kita memang tidak lagi beradu mulut, tetapi secara tidak sadar sebenarnya kita sedang sama-sama menjauh dalam diam.

Perlu kreatifitas untuk kemudian membuka dialog yang menghangatkan, yang menggembirakan atau mungkin yang menyatukan. Kelak ketika kehangatan dan keakraban sudah terbangun kembali, kita bisa mulai lagi belajar bagaimana berdialog yang sehat, yang di dalamnya akan terjadi pertukaran ide, gagasan dan sudut pandang, tidak lagi melulu bertengkar untuk menunjukan saya yang paling benar.

Menghadapi Orang Berfikiran Negatif

Dulu, saya merasa sulit untuk mencapai sesuatu. Banyak kebiasaan-kebiasaan buruk yang sudah terlanjur lama dimiliki. Seperti menunda-nunda, melakukan sesuatu asal-asalan, bangun terlambat, makan tidak sehat dan lain-lain. Pernah beberapa kali berada di titik sadar, ingin merubah semuanya, tetapi pada kenyataannya sulit. Sampai akhirnya saya belajar bagaimana membuang emosi negatif.

Ternyata… Emosi negatif itu menguras banyak pikiran dan otomatis menguras energi kita juga. Seringkali banyak hal berputar di pikiran dan perlu kita uraikan dengan baik. Sehingga tidak terus-menerus berputar dan memakan energi kita. Sehingga tugas-tugas utama di kehidupan dikerjakan dengan energi sisa. Tidak maksimal? Keburu lelah? Bisa mengacaukan semuanya.

Setelah belajar dan berlatih membuang emosi negatif, masya Allah, tabarakallah, ringan sekali melangkah. Menutu hari seingkali dengan senyum. Bangun bergairah di shubuh hari. Dan pekerjaan-pekerjaan sehari-hari tertunaikan dengan baik. Selain itu, proses pedekate sama Allah juga terasa semakin nikmat.

Hal ini kemudian menjadi konsen saya belakangan ini. Membuang emosi negatif. Belajar berfikir positif. Berasumsi, ya jelas asumsi, karena biasanya kita bergerak berdasarkan asumsi kita terhadap sesuatu. Yang mungkin benar dan mungkin salah. Namun asumsi yang dipilih, inginnya menjadi asumsi yang mendorong kita menjadi lebih baik. Seringkali berasumsi, dengan berkhusnudzon, menjadi latihan baru untuk bisa lebih ringan dan bahagia dalam melangkah.

Dengan konsen baru ini, saya seringkali gatal melihat orang yang terus berbicara negatif tentang orang lain. Lebih gatalnya jika cerita itu berulang-ulang, entah orangnya atau kejadiannya. Saya suka berusaha menahan diri. Namun ujung-ujungnya, saya harus meregulasi diri saya. Agar bisa memaafkan orang tersebut. Memaklumi. Walaupun terkadang saya merasa lelah mengkonfirmasi hal positif dari orang yang diomonginnya tersebut.

Teman, betapa terlalu berharganya hidup ini kalau kita tidak habiskan dengan pikiran positif. Pikiran positif ini menggairahkan jiwa. Menimbulkan semangat dan kasih sayang. Pikiran negatif dan tindakan negatif, menguras energi kita untuk hal-hal yang sia-sia. Ayo kita usir emosi negatif kita. Kita lapangkan hati kita dari pikiran negatif terhadap apapun. Insya Allah, langkah akan terasa ringan dan tindakan positif akan mungkin lahir.

Nyobain Hidup Sehat

Jadi, setelah liburan Tour de Asean kemarin, berat saya nambah 5 kilo. Masya Allah, bahagia kali yak. Sekarang demi menjaga kesehatan, saya berniat untuk hidup sehat yang insya Allah bisa bantu nurunin berat badan juga. Akhirnya saya memilih coach untuk hidup sehat.

Coach saya membimbing saya bertahap. Pertama-tama belajar menggantikan nasi putih engan nasi merah. Setelah terbiasa, mulai mencoba mengganti makanan yang digoreng dengan yang dibakar. Berikutnya, menghindari santan. Dan yang tetap dari awal adalah minum air putih 3.5L per hari. Alhamdulillah, setelah 2 minggu dijalani, badan jadi gak gampang lelah dan berat badan turun 3.7 kg.

Awalnya pusing mencari waktu untuk bergerak selama 30 menit, tapi lama-lama sudah bisa menjadwalkan 30 menit shubuh-shubuh saat anak-anak belum bangun. Kalaupun bangun, mencoba meluangkan waktu di sore hari menjelang maghrib.

Coach saya membantu saya melek kesehatan. Melek bahwa kebiasaan saya memang sangat memungkinkan saya untuk merasa lelah dan lesu. Plus berat nambah banyak. Hidup sehat ini juga salah satu upaya saya, untuk bisa memainkan aktivitas super di depan mata, being full-time mom sambil ngejar target kelulusan S3.

Bismillah. Mohon doanya yah teman-teman.

Sebulan di Tempat Baru

Alhamdulillah, hari ini tepat sebulan kami pindah ke tempat baru. Ingat bagaimana deg-degannya kami memutuskan untuk tinggal bersama mulai saat itu. Kami takut bagaimana nasib S3 saya, bagaimana sekolah anak-anak, bagaimana lingkungan baru kami nanti, bagaimana jarak Ayah ke kantor, dll. Namun, saya selalu ingat, bahwa Allah yang bisa menenangkan hati kita. Maka terus berdoa ke Allah agar mendapatkan tempat baru yang semakin mendekatkan kita ke tempat peningkatan Ilmu dan Iman yang baik. Qadarullah, sampailah kami di BSD City ini.

Di tempat baru, kami mendapati tetangga-tetangga yang menyenangkan hati. Tempat sayur yang menyenangkan hati dan dompet. Masjid yang menyenangkan hati juga karena masya Allah, tabarakallah, ramai kajian dan menjangkau baik anak-anak maupun dewasa. Selain itu, disini ketemu komunitas mentoring parenting. Dimana ketemu teman-teman yang selain sholehah, semangat untuk belajar ilmu pendidikan anaknya pun tinggi, asyik pulak. Alhamdulillah.

Sekarang yang masih PR adalah bagaimana bisa mengerjakan riset di tengah mengasuh anak dan beradaptasi di lingkungan baru. Kemarin saya mengijinkan diri saya untuk adjust selama sebulan sampai bisa kerja lagi. Alhamdulillah hari ini saya sudah menemukan polanya. Doain yah, semoga selain berkumpul lagi sama suami, anak-anak dekat dengan kedua orang tuanya, Bundanya punya banyak waktu untuk memperhatikan anak-anak dan suami, Bundanya bisa juga lulus S3 nya.

Laa haula wa laa kuwwata illaaa billaaah. Bismillah! Semangat!!!!