Masalembo

Beberapa minggu terakhir getol banget ngikutin serial TV di NET TV, judulnya Masalembo. Udah lama banget gak pernah rajin ngikutin serial TV, thanks to youtube. :) Soalnya ngikutinnya gak di TV, abis jam 21.30, keburu ngantuk. Maklum dah jadi emak-emak mah beda euy kemampuan begadangnya.

Kenapa suka Masalembo? Soalnya kelihatan filmnya niat. Gak kayak sinetron-sinetron Indonesia lain yang efeknya jelek, tekniknya biasa aja, ceritanya lebay dan kegakjelasan yang lain. Disini scene nya banyak di hutan. Ceritanya ada lebaynya, tapi kadarnya sedikit lah. Terus pemeran-pemerannya juga bagus, gak kelihatan abal-abal kayak di sinetron Indonesia TV tetangga.

Setiap abis nonton selalu penasaran juga dengan cerita selanjutnya. Dan uniknya kadang gak ketebak kejadian-kejadiannya. Tokoh yang paling saya suka di film ini ada beberapa. Saya sebutin aja yah, Ade, Aki dan Lintang. Saya suka Ade karena awalnya saya mikir dia bakal mati di awal-awal karena gak kuat lapar, susah gerak dan manja. Eh, tapi ternyata nggak. Alam menguatkan dia. Dan keberanian dia semakin lama semakin besar dalam menghadapi segala kemungkinan. Tapi sisi-sisi yang “Ade” banget nya juga tetep ada. Salah satunya scene yang berantem di pantai sama orang-orang suku, awalnya dia kuat, tapi pas capek, gayanya lucu banget dan “Ade” banget.

Kedua adalah Aki. Saya suka karena sosoknya damai banget. Gak kebayang kalau di awal-awal Aki dah mati mungkin suasana kelompok korban itu panas dan gak tenang. Dan saya paling sebel dari film Masalembo adalah, kenapa sih Aki matinya cepet banget? >_< Kan kasian Naro. Kasian juga yang lain jadi kurang tenang.

Yang terakhir Lintang. Kalau ini bingung karena apanya. Yang pasti tipe cowok yang saya suka banget. Gak banyak omong. Konkrit. Berani. Sama tanggung jawabnya tinggi. Selain itu kelihatan juga orangnya gak dingin-dingin amat. Tetep punya hati. Ah suka banget deh, macem Ayah-Ayah Anas gitu. :P

Selain sama tokohnya, saya juga suka sama jalan ceritanya yang gak mistis. Yang paling gw gak ngerti sebenarnya, ada yah orang yang iseng nyari harta karun sampe niat gitu jatuhin pesawat? Terus kalau udah nemu dan berhasil bawanya gimana? Gak diceritain sih detil perencanaan dia nya. Harusnya di akhir-akhir agak lama jelasinnya jadi memenuhi hasrat kekepoan orang kepo kayak saya. Trus sama yang kurang terakhirnya kurang nendang. Harusnya mah ditambahin bener-bener sampai ketemu keluarga dan nasib si suku pedalaman dan Bayunya gimana. Haha. Suka-suka saya deh ceritanya.

Yang jelas kerenlah ini untuk serial TV Indonesia mah. Sekarang masih nungguin, ini episode 25 nya ada gak sih? Kok asa gantung ceritanya dari episode 24 ke episode akhir. :D Terus berkarya NET TV!

Ayah dan Khaleed

Hal yang paling membahagiakan saat akhir pekan adalah melihat Khaleed dan Ayah yang seru banget kalau udah bermain berdua. Saya bersyukur mengawali rumah tangga berdua di negeri orang bersama suami. Kami benar-benar mengerti pentingnya pembagian peran dalam menjalankan rumah tangga. Dan itu terbawa sampai sekarang. Kami bersepakat bahwa pengasuhan anak adalah tugas kami berdua. Beberapa pekerjaan rumah kami bagi berdua. Dan jika pekerjaan rumah siapa saja sedang banyak, maka giliran saya atau suami yang merawat Khaleed.

Setiap akhir pekan, kami memulai dengan ibadah dan dilanjutkan dengan sarapan. Setelah sarapan, saya selalu sibuk membersihkan rumah dan jadi time keeper buat kegiatan kita di akhir pekan. Untuk urusan yang di luar seperti memotong rumput, membersihkan mobil, angkat jemuran ke luar, itu urusan Ayah. Nah, dari pembagian kerja yang kami sepakati, memang tugas ayah lebih banyak waktu luang dan lebih seru untuk Khaleed ikut membantu Ayah. Akhirnya setiap akhir minggu memang seolah-olah adalah waktu Ayah dan Khaleed.

Saat saya membersihkan rumah, Ayah berkewajiban mengalihkan Khaleed ke luar rumah. Tentunya supaya rumah yang sedang dibersihkan tidak dikotorin lagi sama Khaleed. Biasanya mereka memilih mencuci mobil. Khaleed mencuci sepeda atau sekedar bermain air di halaman. Dari rumah, terdengar mereka seru sekali berdua. Kalau terasa sudah hampir beres, saya mulai memasak air. Karena Khaleed pasti basah kuyup kalau sudah bermain air di depan. Setelah itu, Khaleed mandi dengan Ayah. Itu juga kesepakatan kami. Untuk urusan toilet dan mandi, dilakukan oleh orang tua sejenis.

Mandi dengan Ayah itu berbeda dengan Bunda. Yang selalu ingin cepat-cepat dan kurang suka kalau mainan banyak masuk ke kamar mandi. Alhasil kalau sama Bunda mandi itu cepat dan gak boleh banyak mainnya. Sedangkan kalau sama Ayah, duh, ampun, berasa masuk ke wahana permainan baru.

Ayah juga selalu memikirkan dan mendownload film yang cocok untuk Khaleed tonton di akhir pekan. Biasanya kami menonton sebelum maghrib. Setelah maghrib, Ayah mulai mengajak Khaleed mengaji. Kalau untuk urusan mengaji ini emang kayaknya Ayah belum nemuin cara seru ngajarin ngaji ke Khaleed. Kalau sama Bunda ngaji iqro, ngajinya make tab jadi Khaleed lebih semangat. Kalau sama Ayah hafalan. Biasanya Khaleed dengar saja sambil bermain mobil-mobilan.

Sebelum tidur di malam hari, Ayah akan mengajak Khaleed pipis dan sikat gigi. Lalu membereskan mainan. Nah, membereskan mainan ini seru. Kenapa? Karena Khaleed itu anaknya ceriwis. Semua dikomentarin. Dan komentar-komentarnya kalau lagi beresin mainan itu suka gemesin, belum lagi ditimpalin sama komentarnya ayah.

Nah, pas tidur, kami mengganti cara. Sebelumnya kami memisahkan Khaleed di kamar lain kalau ada Ayah. Tetapi semenjak saya hamil, saya jadi pengen tidur bertiga. Gak tahu kenapa, lebih nyaman saja kalau ada mereka berdua di kanan dan kiri saya. Saya adalah orang yang susah tidur. Jadi hampir dipastikan mereka berdua tidur duluan. Dan kalau lagi merhatiin mereka tidur, ya Allah, mirip banget. Gayanya, mangapnya, motahnya. I love you, Ayah and Khaleed!

Gak Mau Komen Di Facebook

Jadi kalau ngeliat timeline FB sekarang, lagi banyak orang yang nyinyir Jokowi soal pelemahan rupiah dan Ahok soal penggusuran Kampung Pulo. Sebenarnya saya jadi gak fokus merhatiin masalahnya. Malah lebih menarik melihat perilaku pengamatnya, baik yang nyinyir atau pun mendukung.

Apa yang unik yang saya temukan? Nah, ini yang mau saya ceritain. Jadi zaman SBY dulu, ada tokoh yang paling asyik dibully. Yaitu Habib Rizieq dan Menkominfo. Nah, orang-orang yang sekarang dukung Jokowi banyak banget nih yang dulu nyinyir Habib n Tifatul dengan sinis, sarkastik, dan lain-lain. Pokoknya hal sepele yang salah dari Habib n tifatul bisa jadi bahan nyinyiran asik. Dan parah juga sih kadang menurut saya nyinyirnya. Walaupun saya seringkali juga sepakat sama poinnya.

Di saat itu, kaum-kaum yang ngebela Habib n Om Tifa, juga tipe-tipe naif gitu. Yang bicaranya, lihat sisi positifnya lah. Ah elah, kecil itu mah, lihat karya lainnya yang lebih besar. Dan lain sebagainya. Intinya mah, gak suka kalau orang-orang lebay nyinyir Om Tifa dan Habib. Banyak kasus sebenarnya, bukan hanya Om Tifa dan Habib, tapi ini saya ambil 2 contoh yang paling hits aja.

Nah, keadaan berbalik. Saat ini idola mereka yang dulu suka nyinyir Om Tifa dan Habib jadi pejabat. Jadi pemimpin. Jokowi dan Ahok. Yah, namanya mimpin sesuatu kan emang gak gampang yah. Terus juga pasti ada kurang lebihnya. Nah, tim dulu yang gak suka dinyinyirin tokohnya, eh malah balik nyinyir Jokowi dan Ahok juga. Mungkin saatnya kali yah.

Uniknya lagi, yang belain Jokowi Ahok juga tiba-tiba jadi naif dan gak sekritis dulu pas nyinyir Om Tifa dan Habib. Dengan alasan, yah baru juga setahun. Itu bukan salah Jokowi, semua juga melemah. Bahkan ada yang ngomentarin nyinyiran orang lain dengan naif, kok bisanya ngritik mulu, belum rasain mimpin negara dll.

Gw? Gw cuman bisa ketawa. :)) Kehidupan ini seperti roda yang berputar. Jangan benci sesuatu secara berlebihan, suka juga jangan berlebihan.

Proud Bunda

Ada hal-hal yang luar biasa dari Khaleed setelah mulai menjadi anak sekolah di Pre-K Darul Hikam. Sebenarnya sebelum sekolah, saya berusaha mendidik Khaleed sebagai manusia yang mandiri. Namun sekolah ternyata cukup membantu saya lebih mudah mengajarkan Khaleed kemandirian.

Ada motivasi, ada semangat dari Khaleed untuk datang ke sekolah dan menjadi pribadi lebih baik. Di awal mau sekolah, Saya menjelaskan, bahwa di sekolah nanti Khaleed akan bermain banyak. Gak kayak di rumah atau di Daycare, mainan di sekolah lebih banyak. Bu Guru juga akan mengajak Khaleed bernyanyi dan belajar berdoa yang mungkin baru buat Khaleed. Pertanyaan lucu dari Khaleed setelah saya menjelaskan banyak hal tentang sekolah adalah, “Nanti di TK ada kasur gak Bunda? Buat bobo kalau Khaleed ngantuk.”

Semangat masuk sekolah itu dibuktikan dengan hari-hari sebelum sekolah. Khaleed lebih semangat bangun pagi, mandi dan sarapan. Biasanya suka rada keluar nih urat kalau ngajakin Khaleed pagi-pagi, terutama mandi dan sarapan. Karena sambilannya banyak banget. Masuk sekolah, berbekal pengertian sebelumnya juga berhasil menghilangkan drama “hari pertama sekolah”. Alhamdulillah.

Nah, setelah sekian minggu sekolah, saya dibekali buku iqro. Iseng-iseng saya bacain ke Khaleed. Eh, dia ternyata semangat. Dan karena bacanya di tab, jadi lebih semangat lagi. Kagetnya saya lainnya adalah Khaleed mulai mahir makan dan memakai sepatu sendiri. Belakangan ini malah bisa makai kaos kaki sendiri. Kalau habis bermain juga tidak perlu waktu lama untuk segera membereskannya. Sesudah makan mau menaruh di tempat cuci piring.

Saya kemudian merasa bangga bercampur haru karena ternyata bayiku ini udah bukan bayi lagi. Sepertinya dia memang sudah disiapkan oleh Allah mau jadi mas-mas buat adik-adiknya. :)

Di sisi lain, karena dia semakin besar, dan otaknya juga semakin kaya, ada sedikit perbedaan ketika keinginan kami berdua berbenturan. Kalau dulu yang dilakukannya adalah teriak atau mungkin menangis, sekarang sudah mulai bisa bernegosiasi. Mampu mengungkapkan alasan, bukti dan aneka pendukung keinginannya. Seperti pagi ini, dia berdebat bahwa membawa mainan ke sekolah itu tidak apa-apa. Yang penting kalau ada teman mau pinjam dipinjamin. Lagi pula teman-teman dia ada yang membawa mainan juga.

Namun, akhirnya saya berhasil mengarahkan untuk tidak membawa mainan ke sekolah. Tetapi ditaroh di tas daycare nya saja. Dengan penjelasan, gak semua yang teman Khaleed lakukan itu benar. Gak semua harus diikutin. Kan kata Bu Guru gak boleh bawa mainan. Jadi Khaleed taroh aja ya mainannya di tas daycare. And… Done! :) I am a proud Bunda.

Setelah 3 Bulan

Hari ini mulai berusaha untuk fokus kembali ke riset. Setelah kurang lebih 3 bulan lamanya riset terbengkalai. Gak terlalu diseriusin maksudnya. Ternyata mulai lagi teh gak segampang yang dibayangin. Perlu nyusun strategi lagi. Perlu buka-buka lagi kemarin sampe mana. Perlu reorientasi lagi target-target riset.

Dan belum apa-apa, problem saliva ini membuat rasa mulut menjadi kurang nyaman. Mari kita cari energi dengan membasuh muka dan anggota badan lain dengan berwudhu, shalat dan belajar Al-Quran. Semoga dapet semangat baru. Energi baru untuk menghadapi tantangan riset.

Bismillah.

Allohumma yassir wa laa tuassir.

Kabar Gembira Untuk Kita Semua

Gak usah dilanjutin ya judulnya. Nanti kayak iklan Mastin. :D

Ehm, jadi ceritanya akhir-akhir ini, saya lagi aneh banget. Kalau kata suami sensitif banget. Tapi saya juga gak terima gitu aja, mungkin karena Khaleed akhir-akhir ini juga lagi agak rewel. Suka maksa kalau mau sesuatu jadi emaknya pusing deh. Nah, dengan keanehan akhir-akhir ini, tiba-tiba suami bilang, “Bun, jangan-jangan kamu hamil. Asa beda akhir-akhir ini.”

*dalam hati* Uhuk! Jangan-jangan…

Kemudian kejadian itu berlalu begitu saja. Namun menyisakan penasaran. Diingat-ingat lagi tanggal terakhir dapet dan….. BELUM TELAT! :D

Oke lah. Lalu tiba hari dimana saya lemes seharian. Bawaan pengen tidur aja. Abis gitu coba sehari ke lab, gak jadi, karena harus ngebor ini itu di daycare. Jadi seharian di daycare full ngebor. Badan agak capek. Ah, tapi mungkin aja, ngebor teh capek kan.

Pas nyampe rumah, penasaran, jangan-jangan iya hamil. *Padahal belum telat* Akhirnya dengan nekat, ke apotik dan beli testpack. Dan, oow, testpacknya beda euy sama yang di Korea. Gimana nih cara makenya? Dikupas, dikupas, dikupas, dan…. bingung. Haha. Gimana ini cara makenya? *Baca petunjuk dulllll* Oia. Pas dibaca, tetottttt! Selamat saya baru saja merusak testpack yang mahal itu. Errrrr.

Karena masih penasaran, jadi balik lagi ke Apotik. Kali ini semua petunjuk dibaca sampai detil. OK. Bismillah. Tarik nafas, eh, tapi gak kebelet gini. Haha. Mari kita tunggu saja.

Dan saatnya tiba. Penggunaan sudah sesuai petunjuk. Tunggu 3 menit…. DAN…. TARA!!! Dua garis euy. Walaupun yang satu tebel dan satu tipis. Kata petunjuknya sih, kalau negatif beneran cuman satu yang keluar. Gak ada cerita keluar dua tapi tipis. Ehm. Sebelum lebay bahagia, pastikan dulu ini benar. Dan yak, HP suami lowbat. Aku nanya gak dibales. Padahal kalau nanya juga belum tentu doi ngerti. Jadi diputuskan untuk nanya ke Ummi. Dan gak dibales. Nanya ke Mommy, yak dibales dengan SELAMAT!!!! SEHAT-SEHAT YA BUN BUN!!!!

Ulalaaaaa. Tapi tunggu dulu, kali aja tadi testpacknya error. Mari kita pastikan ke dokter. Nunggu suami? Uh, kapan sampenya, gak tahu. HP nya mati. Sedangkan kalau ke dokter telat antriannya puanjang, nanti kalau ternyata negatif kan dah capek-capek ngantri, negatif lagi, uh… Jadi langsung matiin TV yang lagi ditonton Khaleed, dan ngajak doi ke RSIA berdua.

Alhamdulillah antriannya cuman tiga. Tuh kan, bener kan, untung dateng cepet. Pas ditanya dokter, “Lah, ini kan belum telat? Kok tahu hamil?”

“Feeling aja dok. Sama tadi ditestpack positif”

“Ehm… Mari kita lihat… Wah, iya, hamil. Cuman ini kelihatannya masih kecil sekali bu. Lah iya wong baru 4 minggu. Ok. Positif ya. Selamat ya Mas, mau punya adek.”

“yuhuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuu….. Gw hamil…. !!!”

Keluar dengan riang gembira, gak lupa bayar, terus mikir mau nebus obat apa gak. Soalnya perasaan hamil pertama dulu gak pernah dikasih obat-obatan. >_< Sebelum purchase, eh, suami nyusul. Hoho. Senang.

Suami nyusul karena di depan pintu rumah saya gantungin hasil testpack dan kertas yang gak jelas doi ngerti apa gak. “DItunggu ke RSIA Limijati yah… ” Gak ada jam. Gak ada keterangan lain. Untung feeling suami so good. Jadi ketemu deh. Dan a… Aku merasa gendut *Eh, itu mah udah dari dulu yah* Haha.

Alhamdulillah… Makasih ya Allah atas kepercayaannya… Semoga saya dan bayi dan ayah dan masnya sehat… Aammiiiin…

Orang Tua Kita Sempurna Dalam Ketidaksempurnaannya

Sekarang saya mikir, ilmu parenting itu menjamur sekali. Dari yang bisa didapat dengan gratis sampai seminar berbayar yang diisi oleh psikolog tenar. Berita baik untuk kami para orang tua baru. Makin kesini, ternyata dalam parenting pun ada aliran-alirannya. Saya rajin mengikuti perkembangannya, sampai suatu saat saya merasa bingung. Kenapa dengan ilmu parenting yang banyak itu, saya gak lihat hasil yang begitu keren dari diri saya ataupun orang-orang yang saya kenal aktif juga mengikuti kegiatan parenting. (orang-orang biasa aja yah)

Kemudian setelah berfikir keras, saya merasa, ilmu parenting itu baik tetapi parenting itu memang bukan hal yang mudah. Saya tahu marah itu gak baik, tapi susah untuk saya tidak marah kalau misalnya kejadian sudah begitu rumit. Saya tahu bersikap penuh perhatian itu baik, tetapi gak mudah ternyata jadi orang yang bisa mencurahkan perhatian dengan baik. Tapi bukan berarti salah. Hanya saja setiap orang tidak hanya membutuhkan ilmu, tetapi juga memerlukan daya juang untuk mengimpelentasikannya.

Dengan ilmu saja masih susah, kebayang kan kalau tidak dengan ilmu?

Pikiran saya ini kemudian membuat saya mengingat tentang seringnya dikatakan bahwa ada cara didik yang salah di zaman kita kecil dulu. Generalisir memang. Tetapi itu yang sering diungkapkan di seminar-seminar parenting. Sayangnya, sebagian orang terjebak pada masa lalu. Alias gak move on. Alih-alih membenarkan pola asuhnya, ini malah sedikit sebel sama orang tuanya, karena gak dididik sesuai ilmu parenting. Dan merasa beberapa hal tentang kekurangan dirinya saat ini adalah produk salah asuh. Bahkan ada teman yang bilang, kegagalan bisnisnya salah satunya adalah ia tidak dididik menjadi tough oleh orang tuanya. Astaghfirullaaahaladziim.

Saya pun kadang merasa seperti itu saat disebutkan kesalahan dalam mendidik anak. Tapi akhirnya saya merenung. Sekali lagi, saya keukeuh kalau ilmu parenting itu sangat penting. Penting sekali. Tetapi layaknya ilmu pengetahuan, sebaiknya menghantarkan manusia kepada kebijaksanaan bukan menyalahkan dan menjadi tidak bersyukur. Ada hal yang harus saya ubah dari cara saya memandang masa lalu dan masa depan.

Saya cukup tersadarkan setelah mengevaluasi pola asuh saya ke Khaleed selama ini. Saya merasa masih banyak sekali kekurangan. Yang mungkin di antara kekurangan-kekurangan itu, sebenernya saya tahu saya sebaiknya harus seperti apa. Namun saya tidak berhasil. Saya padahal merasa sudah berjuang keras untuk itu. Tetapi memang sepertinya perlu waktu.

Saya berfikir, bagaimana orang tua saya dulu? Google belum ada, Facebook gudangnya orang ngeshare link ilmu parenting juga gak ada, boro-boro motherhood forum dan kawan-kawannya. Lantas kemana orang tua kita dulu bertanya saat menghadapi kejadian-kejadian “lucu” anaknya yang membuat dia bingung harus bagaimana? Apakah mudah menjadi orang tua zaman kita kecil dulu?

Bukan hanya ilmu parenting, secara teknis mengurus anak saja jauh lebih tidak praktis. Dan tentunya, sebagai perempuan, pasti dapat mempengaruhi emosinya. Gak percaya? Cobain deh pas anak baru lahir gak pake pampers. Trus nyucinya gak make mesin cuci. Dan masih banyak ketidakmudahan lainnya.

Bisa gak kemudian kita memahami kondisi orang tua kita dahulu. It’s not easy to be them. Maka, bersyukurlah temans. Ini untuk saya juga. Bahwa kondisi kita hari ini, adalah hasil didikan orang tua kita yang penuh perjuangan. Alias gak mudah. Saya yakin, jika dibandingkan ilmu parenting yang kita tahu banyak saat ini, pasti banyak sekali kekurangannya. Tapi, lantas kenapa? Toh sekarang kita sadar dan kesadaran itu bukan untuk merubah masa lalu kita. Tetapi memperbaiki sikap kita untuk masa depan yang lebih baik.

Ketika kita sadar awalnya gak mudah bagi kita menjadi mandiri, padahal di ilmu parenting itu penting menjadikan anak mandiri. Ya sekarang kita sudah dewasa. Kita sadar dan kita bisa memilih mau berjuang atau tidak menjadi mandiri. Tidak kemudian, yah, saya mah dulu dididiknya gitu, jadi ya gini deh. Gak gituuuuu. Kita perbaiki diri kita secara pribadi dan sebagai orang tua karena ilmu parenting.

Tetapi jangan lupa juga kita juga harus perbaiki hubungan kita dengan orang tua. Yang telah membesarkan kita dengan susah payah. Sehingga bisa menghantarkan kita sampai saat ini. Kadang kita suka terpengaruh dengan sikap orang tua yang mungkin gak pas dengan kita. Tetapi, ayolah, kita sekarang sudah dewasa. Kita mainkan saja peran kita dengan benar. Tetaplah berbakti dengan khidmat ke orang tua. Berterimakasihlah atas perjuangannya. Jangan berterimakasih hanya pada hal-hal yang menurut kita sesuai dengan ilmu parenting yang kita tahu. Perjuangan mereka jauh lebih berarti dibandingkan kesempurnaan mereka dalam mendidik kita sesuai ilmu parenting.

Dan Allah menyuruh kita untuk berbakti bukan pada orang tua yang mendidik kita dengan ilmu parenting yang benar. Tetapi berbakti kepada orang tua, terutama ibu, yang telah mengandung, melahirkan dan menyusui kita. Belum lagi yang berjuang atas kehidupan kita sampai saat ini. Dan ingat, sekalipun kita berusaha, menurut saya kita juga manusia, yang pasti gak sempurna. Namun ketidaksempurnaaan kita dan orang tua kita sebagai orang tua, tetap akan merindukan bakti anaknya.