Persiapan Seminar Lab

Besok adalah seminar lab dimana pertama kali saya harus melaporkan hasil belajar saya selama satu bulan ini. Nah, kalau sudah mulai begini, biasanya baru sadar, bahwa kerja saya di lab masih kurang keras dan fokus. Huf!

Semoga malam ini bisa maksimal mempersiapkannya. I can not fail if I don’t give up!

Advertisements

Menjadi Dosen Seperti Mereka

Entah mengapa, dari sekian jenjang pendidikan, yang benar-benar saya nikmati adalah kuliah. Di pendidikan dasar mungkin saya menikmati tapi lupa. Tapi kalau saya evaluasi keseluruhannya, hari ini, saya bisa bilang, “I love learning in college.” Dan saat kuliah juga saya bertemu model yang menginspirasi saya.

Semakin tinggi jenjang pendidikan, saya semakin dituntut untuk ‘terserah saya’. Disini lah saya mencari jati diri yang sebenarnya. Jujur, cara belajar saya yang paling efektif adalah mengkopi bagaimana orang lain bekerja/belajar. Kadang ada yang cocok kadang ada yang tidak. Hari ini, saya tiba-tiba teringat bagaimana Prof. Choi membimbing saya di Korea. Dan bagaimana Prof. Armein (sekarang beliau ternyata sudah profesor) menjelaskan saya tentang konsep Pengolahan Sinyal Digital. Mereka adalah sosok dosen yang luar biasa bagi saya. Kelak, jika Allah meridhai saya menjadi dosen, saya ingin menjadi dosen seperti mereka. Continue reading

You Cannot Fail If You Don’t Give Up

Pagi ini kuliah seminar diisi spesial oleh dua orang yang tidak perlu saya sebutkan namanya. Tapi jujur, ini yang saya kangenin dari berkuliah di ITB. Dosen-dosen seringkali bukan hanya menyampaikan kuliah, tetapi memberi semangat untuk melakukan yang terbaik.

Berawal dari data bahwa 50 dari 100 orang diterima sebagai mahasiswa S3 di STEI ITB. Lalu ternyata dari 50 hanya 16 yang mampu lulus. Sehingga mengundang tanda tanya, apa yang salah? Kenapa sedikit sekali mahasiswa yang berhasil menyelesaikan program doktor di STEI ITB? Continue reading

Karena Allah Selalu Dekat

Kepala ini selalu berfikir bagaimana caranya ini, bagaimana caranya itu. Saya ingin ini diselesaikan, itu diselesaikan. Sampai kita bertemu dengan batas, saya tidak tahu lagi bagaimana seharusnya ini dikerjakan. Tenang… tenang… tarik nafas dulu. Duduk santai. Dan ingat, saya punya Allah. Have you done your best? Insya Allah. Nah itu apalagi. Harusnya lebih tenang. Karena Allah selalu dekat dengan kita. Sedekat urat nadi kita.

Cuman kadang, sombongnya saya, saya suka menempatkan Allah di akhir seperti kejadian di prolog tulisan ini di atas. Andaikan sejak awal berusaha, berfikir, bekerja dan lain-lain itu saya sudah berserah kepada Allah dan yakin semua akan Allah kasih yang terbaik melalui hasil, hati ini akan menjadi lebih tentram dan kekuatan ini akan lebih besar. Karena saya percaya dan yakin Allah selalu dekat. Tanpa saya yakin pun Allah selalu dekat. Tetapi keyakinan saya tentang dekatnya Allah dengan saya sebenarnyalah  yang saya butuhkan untuk menambah kekuatan diri. Saya yang butuh. Allah maha besar dan tidak butuh saya percaya apalagi menyembah.

Ya Allah, maafkan saya karena selalu berfikir terbalik seperti itu.

Makan Siang di ITB: Belum Menemukan yang Joss

Dah hampir sebulan jalan di ITB, dan menghabiskan waktu makan siang hampir sebagian besar hari-hari saya di ITB. Sudah mencoba beberapa kantin. Pertimbangannya harga, rasa dan kesehatan. Nah, harga murah menurut saya adalah yang bias didapat dengan harga tidak lebih dari 10.000. Rasa yang enak menurut saya, adalah makanan yang bias membuat hormone kebahagiaan saya bertambah setelah makan. Sedangkan kesehatan menurut saya adalah makanan yang satu porsinya bias menyediakan karbohidrat, protein hewani, protein nabati dan sayur mayor. Satu lagi, serta disajikan dengan proses yang bersih.

Nah, setelah mereview ke beberapa tempat, sebut saja Prancis, Kantin Madiun, Kantin GKU Barat, Kantin Borju, Kantin Bengkok, Kantin Koperasi Karyawan ITB dan warteg belakang kampus, maka menurut saya yang paling cocok di hati itu adalah Prancis dan warteg belakang kampus. Mari kita review satu-satu. Continue reading