KAYA VERSI KELUARGA RICH

richie1Setelah mengantar Ummii bertemu dengan teman SMA nya untuk reunian, saya pulang dan menonton tv di rumah. Salah satu tayangannya adalah Richie Rich. Ya, film lama itu. ENtah kenapa tidak bosan saya menonton film tersebut.

Richie seorang anak dari keluarga kaya raya yang ditinggal pergi oleh orang tuanya. KEmudian kedua orang tuanya dicelakai pesawatnya oleh orang kepercayaan mereka. Dengan menaruh sebuah bom di pesawat. Hanya saja tidak berhasil membunuh kedua orang tuanya.

Kisah ini tentu saja sudah banyak orang yang tahu, termasuk anda. Yang ingin saya bahas adalah nilai-nilai yang dapat diambil dari film ini. Keluarga Richie menyadarkan kita, bahwa sebenarnya, kekayaan adalah sumber kebahagiaan mereka. Dan itu bukan lah emas, uang, istana dan lain sebagainya. MElainkan kenangan-kenangan indah bersama orang terkasih. Kekayaan mereka teukur dari kualitas hubungan dengan orang-orang dekat mereka.

Di akhir cerita, Richie bertanding baseball dengan teman-temannya. KEmudian mereka menang. Ricihie yang menentukan kemenangan tersebut dengan pukulannya yang melemparkan bola menjadi sangat jauh. Setelah menang RIchie disambut riang gembira dengan teman-temannya. MElihat anaknya bahagia dan memiliki banyak teman yang menyayanginya, kedua orang tua Richie kemudian berkata, “Anak kita sekarang sudah benar-benar menjadi anak terkaya sedunia!”

CATATAN HATI BUNDA

Kondisi badan yang kurang sehat beberapa hari terakhir ini ternyata memberikan banyak kenikmatan untuk saya. Hari-hari dijalani dengan lebih santai. Jauh dari hal-hal berbau elektro dan sejenisnya. Hingga pada akhirnya saya berkesempatan melahap sebuah buku karya Asma Nadia yang menarik dijadikan bahan berbagi dengan anda semua. Berikut resensinya:

Judul Buku : Catatan Hati Bunda

Penulis: Asma Nadia

Penerbit: Lingkar Pena

Tahun Terbit: 2008

Dimensi: 20.5cm

Jumlah Halaman: 350 Halaman

Bagi Asma, menjadi Ibu bukan sekadar tugas, tapi sumber inspirasi dan kebahagiaan yang tiada taranya. Selamat untuk Asma Nadia, penulis terbaik, ibu terbaik bagi anak-anak kami.” (Isa Alamsyah)

Buku ini berisi tentang cerita-cerita pendek pengalaman Asma Nadia dan Isa Alamsyah sebagai orang tua mendidik kedua anaknya, Chacha dan Adam. Seperti biasa, kalimat-kalimat Asma begitu sederhana, menarik dan menyentuh para pembacanya.

Anak-anak adalah titipan Tuhan. Orang tuanyalah yang kelak menjadikannya muslim, nasrani atau majusi. Membaca buku ini, membuat saya berfikir bahwa, penting setiap orang tua atau calon orang tua belajar memahami pendidikan anak. Orang tua memiliki tanggung jawab besar untuk menghantarkan anak-anaknya siap menjadi manusia yang baligh, siap mempertanggung jawabkan hidupnya sendiri.

Dalam buku ini, Asma secara tidak langsung memberikan tips-tips berharga bagaimana mendidik anak. Mungkin tidak semua kasus pendidikan anak terwakili disini. Tapi setidaknya, buku ini memberikan kita semua inspirasi untuk mencari cara kreatif untuk menumbuh kembangkan buah hati dengan cara yang tepat.

Membaca buku ini juga membuat saya berfikir, tidak mudah ya sepertinya menjadi orang tua. Soalnya kita harus sudah sangat matang. Gak asal-asalan, gak egois, gak gak jelas…. Hehe. Mungkin ini pikiran gadis ingusan yang belum mengerti seluk beluk dunia ya. Tapi artinya, mendidik anak nantinya akan menjadi tugas yang besar dan bahkan kalau berhasil, dapat dijadikan karya terbesar dalam hidup kita.

Mengingat buku ini merupakan tulisan bersama Asma dan Isa, mendidik anak rupanya bukan melulu tugas seorang Bunda. Kontribusi Ayah pun memiliki pengaruh yang tidak kalah besar. Kerjasama yang baik antara Ayah dan Bunda dalam pendidikan anak sepertinya sangat penting. Ayah yang secara fisik lebih kuat, berani, *terkadang* galak… Bunda yang penuh kekhawatiran, protektif, dll… Kesemuanya dibutuhkan oleh anak-anak.

Kisah ini bukan yang terbaik. Tetapi menjadi yang terbaik karena terdokumentasikan dengan baik dan indah. Sehingga dapat menginspirasi kita. Saya yakin banyak kisah mendidik anak yang jauh lebih menyentuh, menginspirasi… Makanyya, bapak-ibu, Mama-Papa, Mami-Papi, Abi-Umi… ayo menulis dan berbagi kisah yang dapat menjadi pelajaran bagi kami-kami yang masih muda ini untuk belajar menjadi orang tua yang lebih baik suatu saat nanti. 🙂

Terakhir, buku ini, lagi-lagi, sangat saya rekomendasikan untuk dibaca. Oleh perempuan ataupun laki-laki. BIsa jadi kado yang sangat berharga untuk kehidupan kelak.

Terakhir… lagi… hehe… maaf ya ibu-ibu… bunda-bunda… ummi-ummi… kalau pendapat saya ini sotoy… 😛

MALAIKAT JUGA TAHU-DEWI ‘DEE’ LESTARI

Lelahmu jadi lelahku juga
Bahagiamu bahagiaku pasti
Berbagi takdir kita selalu
Kecuali tiap kau jatuh hati

Kali ini hampir habis dayaku
Membuktikan padamu ada cinta yang nyata
Setia hadir setiap hari
Tak tega biarkan kau sendiri

Meski seringkali kau malah asyik sendiri
Karena kau tak lihat terkadang malaikat
Tak bersayap tak cemerlang tak rupawan
Namun kasih ini silakan kau adu
Malaikat juga tahu siapa yang jadi juaranya

Hampamu tak kan hilang semalam
Oleh pacar impian
Tetapi kesempatan untukku yang mungkin tak sempurna
Tapi siap untuk diuji
Kupercaya diri
Cintakulah yang sejati

Namun tak kau lihat terkadang malaikat
Tak bersayap tak cemerlang tak rupawan
Namun kasih ini silakan kau adu
Malaikat juga tahu siapa yang jadi juaranya

Kau selalu meminta terus kutemani
Engkau selalu bercanda andai wajahku diganti
Relakan ku pergi
Karna tak sanggup sendiri

Namun tak kau lihat terkadang malaikat
Tak bersayap tak cemerlang tak rupawan
Namun kasih ini silakan kau adu
Malaikat juga tahu Aku kan jadi juaranya

CATATAN HATI SEORANG ISTRI

catahati Judul Buku : Catatan Hati Seorang Istri

Penulis: Asma Nadia

Penerbit: Lingkar Pena

Tahun Terbit: 2007

Dimensi: 20.5cm

Jumlah Halaman: 220 Halaman

Saat cinta berpaling

Saat rumah tangga dalam prahara

Saat ujian demi ujian-Nya mengguncang jiwa

Kemana seorang istri harus mencari kekuatan agar hati terus bertasbih?

Kata-kata itulah yang mungkin dapat memberikan sedikit gambaran umum mengenai buku ini. Ketika saya ingin membuat resensi. Sebenarnya saya bingung. Apakah saya (perempuan belum menikah) layak untuk menceritakan dan memberi penilaian terhadap buku ini? Namun segera saya menemukannya. Biarlah saya menjadi diri saya sendiri. Semua yang terjadi di dunia ini sudah pasti ada Allah yang menuntunnya. Pasti ada manfaatnya bagi saya membaca buku ini. Dan melalui tulisan ini, inilah penilaian saya (seorang perempuan belum bersuami tetapi ingin sekali bersuami suatu saat nanti. Dan tentunya merasa bahagia dengan itu)…

Buku ini berisi kumpulan kisah curahan hati beberapa ibu/istri. Dengan berbagai problema rumah tangga yang sering terjadi. Masa-masa sulit dalam berumah tangga, yang saya sendiri merasa kaget. Tidak pernah menduga sebelumnya. Indahnya masa pacaran/bertaaruf/sejenisnya kadang berubah menjadi 180 derajat ketika sudah menyandang gelar sebagai pasangan suami/istri atau ayah/bunda.

Beragam jenis istri/ibu yang diceritakan disini. Dari yang mengalami sakitnya dikhianati oleh perselingkuhan, kekerasan dalam rumah tangga (KDRT), sampai membangun kekuatan ketika sang suami yang disayangi harus tiba-tiba pergi meninggalkan dunia. Memberikan inspirasi tentang kekuatan yang dimiliki perempuan. Perempuan yang terlihat lemah sekalipun, ternyata mampu menguatkan dirinya ketika dihadapkan pada permasalahan yang menyakitkan hati sehingga menguras banyak pikiran dan tenaga. Menjadi kuat karena memiliki anak-anak yang harus mendapatkan cinta seorang ibu yang seutuhnya, betapapun besar masalah yang sedang dihadapi.

Pelajaran berharga tentang sulitnya untuk tetap mengedepankan logika, di tengah firasat kuat seorang istri tentang suami yang berubah sikapnya. Perjuangan yang sepertinya hanya untuk ‘bertahan hidup’, namun ternyata dapat mengantarkan seorang wanita ke derajat yang mungkin lebih mulia daripada sebelumnya.

Novel yang mungkin terlihat sederhana, namun dapat menghadirkan pengalaman-pengalaman banyak perempuan untuk direnungi. Sejauh ini saya baru dapat merenungi, karena memang tidak memiliki cukup pengetahuan untuk lebih. Yang saya rasakan awalnya sangat takut mendengar cerita-ceritanya. Membuat kata ‘pernikahan’ menjadi sangat menyeramkan. Seolah semua laki-laki seperti itu. Namun ketika saya mendiskusikannya dengan Anas, saya menemukan cerita versi lelaki. Banyak juga sebenarnya perempuan yang mungkin melakukan hal yang sama, tetapi memang tidak banyak dipublish. Intinya, saya harus lebih bijak dalam memahami cerita-cerita di novel ini. Tidak mudah bagi saya karena belum benar-benar merasakannya.

Namun saya berani mengatakan, kalau Novel ini terlalu berharga untuk dilewatkan. Belajar dari ujian-ujian yang dihadapi orang lain, mungkin dapat sedikit banyak membuat kita siap menghadapi ujian yang mungkin sama atau lebih lagi.

Idealisme Asma Nadia dalam pembuatannya pun menjadi salah satu kekaguman saya. Asma meminta banyak perempuan untuk tidak hanya banyak membaca, tetapi juga menulis. Menceritakan tidak hanya kenangan indah, tetapi juga semua pikiran, beban perasaan, kesedihan, ketakutan, apa saja, sebelum terlambat menuliskannya. Ia meminta janji perempuan Indonesia untuk mencari teman bicara. Menjadikan tulisan itu sebagai cermin dan renungan, sebab mungkin itu akan membawa kita pada jalan keluar, yang sebelumnya teramat buntu.

TEMBANG ILALANG: pergolakan cinta melawan tirani

Novel ini telah tiga bulan lamanya berada di rak mukena kamar saya. Pemberian atau pinjaman ya? Hehe. Pokoknya dari seorang sahabat yang pernah beraktivitas di PW PII Jogja Besar. Di tengah gundah gulana, menyusul badai UTS, saya malah jatuh hati ingin membaca novel ini. Alhasil, novel ini baru selesai setelah empat hari. Berikut saya ingin sedikit berbagi hikmah novel ini dengan menulis sebuah resensi. Semoga bermanfaat!

Judul Buku : TEMBANG ILALANG

Penulis : MD. Aminudin

Penerbit : Semesta, Yogyakarta

Tahun terbit : 2008

Dimensi : 14×21 cm

Jumlah halaman : 512 hlm

Secara garis besar, novel ini menceritakan tentang perjalanan cinta Asrul dan Roekmini dengan latar belakang sejarah Indonesia. Dimulai dari masa penjajahan Belanda yang kemudian ditumbangkan oleh Jepang. Kemudian masa dimana bangsa kita sempat menghela sedikit nafas kemerdekaan yang disusul oleh datangnya sekutu kembali untuk menguasai Indonesia. Dari semua kondisi tersebut, ada beberapa hal yang saya sadari, ternyata penjajahan atau penindasan itu tidak hanya dilakukan oleh bangsa asing, melainkan juga oleh pribumi yang bermuka dua. Sebagian besar dari pribumi yang bermuka dua tersebut adalah orang-orang kelompok merah yang kemudian eksis menjadi PKI bertahun-tahun kemudian.

Berkisah tentang pasangan suami istri yang dipertemukan oleh Allah di Kanigoro, suatu daerah di Kediri, Jawa Timur. Roekmini adalah anak semata wayang seorang Kiai terpandang di desanya. Sedangkan Asrul adalah seorang buronan nomor satu kelompok merah kala itu. Karena nurani, ia merubah haluan keyakinannya. Dari seorang komunis cerdas yang sempat mendapatkan pendidikan tentang ajaran-ajaran Marx di Sovjet, menjadi seorang yang kemudian meyakini adanya Tuhan. Dengan keyakinan barunya itu ada dorongan kuat dalam dirinya untuk menghancurkan pergerakan kelompok merah ini. Sehingga konsekuensi logis harus ia terima akibat dari pembangkangannya ini.

Asrul sebagai tokoh utama di novel ini, dihadapkan pada tiga masalah teramat berat paska berpisahnya ia dengan anak dan istrinya. Pertama, perjuangannya melawan segala bentuk imperialisme dan pengkhianatan. Kedua, kewaspadaan terhadap intel-intel kelompok merah yang akan terus memburunya, baik dalam keadaan hidup ataupun mati. Dan terakhir, kerinduan teramat sangat untuk bertemu istri dan anaknya.

Di penantian yang panjang, Asrul sempat menjadi wartawan harian KS di Surabaja dan memimpin Laskar Ilalang yang bergerilya di hutan-hutan untuk melawan penjajah. Sedangkan Roekmini dirampas dari tangan ibunya oleh kepala polisi Belanda. Membuatnya harus berpindah dari Kediri, Surabaja, lalu ke Bandoeng. Dan saat Jepang masuk ke Indonesia, ia bersama tawanan lain dibebaskan dan memberinya harapan baru untuk pulang ke Kediri. Tak lama setelah perjumaannya dengan anak dan Ibunda, ia ditawan oleh Jepang bersama perempuan lain untuk dijadikan aset pelampiasan nafsu binatang mereka. Namun berhasil lolos dengan bantuan kawan lama Asrul, Larto. Kemudian menyusul Ibunda dan anaknya yang lebih dulu mengungsi ke Modjokerto.

Kisah yang teramat pelik dan panjang. Bayangan keputusasaan untuk mendapatkan harapan adalah hal yang terus menerus menghantui. Kondisi bangsa yang tak menentu, dimana bangsa-bangsa penjajah seolah bermain judi dan menjadikan Indonesia sebagai taruhannya, membuat penantian itu semakin berat. Namun kuatnya fondasi cinta mereka berdua seolah menjadi kekuatan yang berlipat-lipat bagi mereka menghadapinya. Cinta yang dikuatkan lagi oleh landasan keyakinannya melalui doa-doa yang terus dikirimkan pada-Nya.

Di akhir cerita, pertemuan pun menjadi nyata adanya. Yaitu kala Roekmini menjadi tawanan PKI yang sedang bersembunyi di hutan belantara, karena semakin terdesaknya kondisi partai pimpinan Moeso tersebut. Di saat bersamaan, Asrul dengan Laskar Ilalangnya terlibat kontak senjata dengan kelompok PKI yang membawa Roekmini. Sehingga pembebasan Roekmini pun berhasil dilakukan.

Novel ini sangat rapih dalam menyajikan sejarah sebagai latar belakangnya. Penggunaan bahasa yang indah, memudahkan saya menyelami setiap detil kisah di dalamnya. Banyak bagian dari novel ini yang menyentak nurani. Novel yang sangat berbobot: menyuguhkan keindahan, nilai-nilai, sekaligus energi untuk terus berjuang dengan segenap keyakinan.

Luar biasa!

NOTE: buku ini ada dua kisah, di satu buku.

UPIN DAN IPIN: ISTIMEWA HARI RAYE

Ada yang pernah mendengar kedua tokoh ini sebelumnya? Saya sih baru mendengar. Hehe. Maklum bukan anak gaul TV atau bioskop. Cerita punya cerita, suatu siang di bulan Ramadhan, Umi saya membawa sebuah film di laptopnya. Kemudian film itu harus ditonton oleh adik saya yang paling kecil (7 tahun), katanya film ini bagus untuk dia.

Saya hanya mendengar saja, tapi lama-kelamaan penasaraan. dari jauh didengar kok sepertinya distel berulang-ulang oleh adik saya, dan ternyata ramai juga. Selain ceritanya yang penuh makna, ada juga kekocakan-kekocakan anak kecil yang menggelikan dan bikin gemas penontonya. Kalau bisa, nonton deh. Saya sangat merekomendasikan film ini untuk ditonton siapa saja. Lucu dan mendidik. Download nya bisa di sini. Yang lengkap ya. =)

Seri yang kebetulan baru saya tonton adalah seri “Istimewa Hari Raye”. Upin dan Ipin adalah pasangan kembar yang sudah yatim piatu. Namun sifat keduanya sangat periang. Mereka tinggal bersama neneknya (Baca: Opa) dan Kak Ros (Kakak perempuannya). Mereka tinggal di rumah sederhana.

Setelah searching terus di Google, ternyata seri film Upin dan Ipin masih banyak dan menarik untuk ditonton. Apalagi untuk adik-adik kita.