Finally My Digital Controller Works

Alhamdulillah. Hari terakhir minggu ini di LEN dapatkan hasil yang cukup melegakan. Desain kontroler PMSM untuk aplikasi mobil listrik yang saya pelajari dua bulan ke belakang ini alhamdulillah berjalan dengan baik.
Awal minggu ini dibuka dengan kenyataan pahit bahwa kontroler saya yang asalnya analog gak jalan sama sekali. Ancur parah. Pas dipindahin jadi digital.
Ngelihat paper yang ribet sedemikian hingga yang ngebahas cara desain digital control bener-bener bikin mules. Ribet. Dan mesti tekun mempelajarinya.
Dengan kondisi psikologis yang galau dengan kenyataan pahit tadi, bener-bener males belajar dari awal.
Tapi setelah ditanya ke dalam hati. Kamu mau s3 gak? Mauu. Mau sampe kapan menghindar belajar kontrol? Gak tahu. Kok gak tahu? Jawab! Mau sampe kapan lari dari belajar kontrol lebih dalam? #menunduk lesu.
Tiba-tiba saat jenuh belajar kontrol digital. Oprek-oprek lagi simulasi. Dan… Wow! Jalan! Bagus! Seimbang dq nya!
Diapain ya tadi? Gak tau. Lupa. Hahaha. Tapi gapapalah. Alhamdulillah.
Tapi agak sedih juga sih. Karena dah jalan jadi males belajar teori kontrol digital. Kkkk. Next time dh. XD

Advertisements

Bermain Itu Belajarnya Bayi Kita

Permainan bayi ternyata bukan sekedar permainan. Mainan yang telah dimainkan para orang tua dengan bayinya sejak zaman dahulu, ternyata mengandung filosofi yang luar biasa.
Siapa sangka permainan Cilukba yang disukai hampir seluruh bayi di seluruh dunia, permainan yang murah, tapi dapat menbuat orang tua dan bayi yang memainkannya terbahak-bahak dan tak pernah bosan. Ternyata meniliki filosofi bahwa sesuatu yang tidak terlihat belum tentu tidak ada. Saat kita memanggil nama anak kita sambil bersembunyi, bayi kita tahu ada kita. Walaupun saat itu dia tidak dapat melihatnya. Dan saat kita secara mengejutkan hadir, bayi kita membuktikan hipotesanya. Ya, orang tua mereka menang ada.
Dan permainan berikutnya adalah -saya menyebutnya- Touch The Bubble. Permainan ini mudah juga. Cukup menyiapkan cincin dengan ganggangan dari lidi. Kemudian sabun. Dan meniupnya.
Alhamdulillah, adik saya selalu antusias ikut bermain Touch The Bubble dengan Khaleed. Akhirnya kami berbagi peran. Saya meniup balon yang besar satu atau kecil-kecil tapi banyak. Lalu adik saya menjaga bubble agar tidak mudah meletus. Aktivitas menjaga bubble agar tidak hilang ini yang membuat Khaleed terlihat sangat antusias. Kami tertawa-tawa. Sangat antusias menjaga bubble. Mengarahkan bubble kesana kemari. Sampai akhirnya bubble pecah dan wajah Khaleed terlihat sangat bingung. Mungkin dia bingung kenapa bisa tiba-tiba bubble itu menghilang.
Mainan Touch The Bubble ini ternyata turut mengajarkan anak bahwa sesuatu yang pernah ada, bisa tiba-tiba hilang. Nothing last forever.
Semakin semangat ngajak byia anda bermain kan bun? 😀 karena belajarnya anak tuh yaaa…. bermain!

17 Puluh Ribu, Bukan 17 ribu !

Saat ini sedang musim dingin di Korea sana. Saya jadi teringat kisah setahun lalu. Saat sedang hamil Khaleed. Jujur, hamil Khaleed memberikan perubahan yang signifikan dalam hidup saya. Salah satunya dalam hal pengelolaan keuangan. Hidup dengan orang tua, jarang berfikir untuk menabung. Dapat uang, habiskan, minta. Begitu polanya. Sampai awal-awal menikah pun seperti itu. Walaupun beasiswa saya dan suami bisa dibilang lumayan karena kami tinggal bersama, namun kebiasaan, dapat, habiskan, minta (tapi waktu itu bukan minta, melainkan gajian lab) masih saja. Sampai kejadian ini terjadi…

Saat hamil di awal, saya mendapatkan banyak tes. Kebetulan saat itu saya belum memiliki asuransi kesehatan di Korea. Setelah periksa kehamilan dan melakukan tes mendengar detak jantung Khaleed, seperti biasa saya pergi ke kasir untuk membayar. Kebetulan juga waktu itu akhir bulan. Jadi uang kami pas-pasan. Continue reading