Campur Aduk Hari Pertama di Yangon

Berita wafatnya abi masih menggaung di kepala saya. Bingung. Kosong. Tapi semua harus sesuai jadwal. Anak-anak harus terurus. Maka tak ada waktu untuk sekedar meratapi kepergian Abi. Senyum harus dipasang agar mood anak-anak juga bagus sepanjang perjalanan KL-Yangon. Alhamdulillah. Lancar.

Sampai Yangon, dijemput suami. Diajak angsung ke hotel dan menaruh semua barang di tempat yang mudah diakses. Tak terasa hari sudah mendekati Maghrib. Suami mengajak untuk berbuka di Masjid KBRI Yangon. Membawa anak-anak yang masih lelah perjalanan panjang dua hari ini ke tempat ramai itu menurut saya peer banget. Dan bener, di hari pertama, Khaleed berkata makanan tidak enak. Tidak mau buka shaum. Alisha gak mau ditinggal barang satu meter pun. Lelah sekali buka shaum pertama di Yangon ini.

Melihat di sekitaran hotel yang kumel dan jarak ke supermarket yang kagok. Jalan kejauhan, naik taksi kedeketan, plus Alisha yang masih rewel minta digendong gak mau jalan itu… membuat hari-hari awal di Yangon. Berat jendrallllll….

Suami mencoba menghibur istrinya ke Mall. Tapi mallnya pun dekil. Ada bau-bau gak enak. Errrr… Sampai-sampai kalau ada orang nanya, gimana Yangon? No one wants to be here. >_< Lebay yak gueh.

Advertisements

Berpulang

Pagi itu menjadi pagi yang sibuk bagi saya. Karena dengan 3 koper besar dan dua anak, saya harus melakukan penerbangan di pagi hari menuju Kuala Lumpur. ALhamdulillah adik saya bersedia mengantarkan kami sampai ke Bandara. Sampai bandara, anak-anak lapar. Qadarullah, saya juga lagi gak puasa, jadi kita sama-sama sarapan di Bandara. Anak-anak sangat senang dan bersemangat sarapan dan menunggu pesawat tiba.

Saat sudah naik pesawat, anak-anak menggambar, bercanda, membaca buku, dan tidur. Alhamdulillah perjalanan kali ini lancar. Mendaratlah kami di Kuala Lumpur. Check in. Istirahat. Di tengah lelah yang amat sangat, saya biarkan anak-anak bereksplorasi di kamar. Menggambar, makan, mandi, main lompat-lompat. Yang penting saya bisa istirahat dan mereka aman.

Sampai maghrib tiba, alhamdulillah anak-anak mudah sekali dikondisikan. Saatnya kami bertemu teman kami saat dulu tinggal di Cheongju, Sarah beserta Eliana dan Pesh, anak dan suaminya. Itu pun alhamdulillah lancar. Anak-anak senang, Bundanya senang.

Begitu sampai di hotel, kami bersiap tidur. Karena sangat lelah, anak-anak cepat tidurnya. Saya bingung. Tidur, kemaleman, takut ketinggalan pesawat esok hari yang shubuh banget. Kalau gak tidur, kecapekan. Tapi sebelum saya memutuskan itu, suara telepon berdering. Ummi. Ada apa Ummi menelepon semalam ini?

Dengan suara yang sendu, Ummi mengabarkan bahwa Abi sudah tidak ada. Cepat-cepat Umi menutup telepon. Saya hanya bisa terdiam. Masih tidak percaya dengan apa yang baru saja saya dengar. Saya hanya ingat, bahwa Abi terakhir sakit syaraf kejepit. Tapi apa bisa separah itu sampai cepat sekali berpulang? Saya diam. Tidak bisa menangis. Tidak bisa apa-apa. Saya kosong.

Tak lama kemudian telepon berdering dari suami di Yangon dan mang di JKT. Keduanya mengabarkan hal yang sama. Tapi saya, masih bingung. Kosong.

Saat mencoba untuk beristirahat, saya baru mulai merasakan sakit teramat dalam. Saya mulai berfikir kemana-mana. Saya mulai memutar memori-memori bersama Abi. Saya mulai memutar bagaimana dulu tubuh saya yang kecil, dibonceng motor menyusuri jalanan di Aceh. Saya memutar bagaimana dulu saya dan kakak saya mengelilingi Jatim dengan bis dan motor dengan Abi saya. Memutar bagaimana dulu saya bersepeda bersama menyusuri jalan raya untuk pertama kalinya di sekitar tempat tinggal kami. Sampai akhirnya, diberi kepercayaan untuk bersepeda sendiri ke sekolah.

Dan mengingat memori-memori indah itu, rasanya menyesal karena diri ini tidak terlalu baik mengingatnya di saat-saat terakhir kehidupan beliau.

Banyak janji saya kepada diri saya yang tidak saya tepati. Saya berjanji, kalau saya tinggal di Jakarta, saya akan ajak beliau tinggal bersama keluarga kami. Memperhatikan kesehatannya, aktivitasnya, dll. Saya berjanji, akan mengajaknya ke optik untuk memeriksakan mata dan mengganti kacamatanya yang nampak sudah tidak terlalu nyaman dipakai, saat saya ke Jakarta.

Sebelum semuanya terjadi, ternyata Allah sudah berkehendak lain. Hilang sudah kesempatan.

Bahkan untuk bilang, “Abi, Nda sayang banget sama Abi” pun sudah hilang.

Saya gak tahu kapan terakhir membuat beliau bahagia. Di pertemuan terakhir, Abi minta diantar ke tempat terapi. Tapi tempat terapinya sudah tutup. Saya ajak makan siang, Abi menolak, karena sedang diet mengurangi berat badan agar lebih sehat. Agar berkurang sakit akibat syaraf kejepit. Tapi rupanya bukan itu sakit Abi yang menjemput ajalnya.

Abi sudah sempat bermain dengan Alisha. Walaupun saat itu, Alisha sedang ngantuk. Tapi sampai saya menulis tulisan ini, Alisha masih ingat. “Abah sakit.”

Ya Allah ampuni dosa Abi kami. Lapangkan kuburnya. Terima amal ibadahnya. Jauhkanlah dari fitnah setelah wafat.

Ya Allah mohon petunjuk-Mu selalu agar saya bisa menjadi anak yang sholihah yang doa-doanya dapat menolong Abi kami.

 

Diskusi Siang Itu

Nasehat adalah hadiah berharga yang diberikan manusia untuk manusia lainnya. Hari ini, setelah bertemu seseorang yang sangat berpengaruh dalam hidup saya, saya mendapatkan banyak nasihat.

  1. Banyak rumah tangga tidak pernah dibangun. Karena mati dalam rutinitas. Membangun rumah tangga lebih baik diawali dengan tinggal bersama dan membangun rutinitas yang baik dan sehat untuk semua anggota.
  2. Jangan ada dua matahari dalam rumah tangga. Tentukan tujuan bersama dan tentukan peran masing-masing.
  3. Karir istri adalah karir suami. Begitu juga karir suami adalah karir istri. Saat istri memilih untuk berhenti bekerja dan mendukung suami dari rumah, maka itu pun karir istri, yaitu mendukung suaminya berkarir. Tidak ada persaingan. Yang ada adalah saling mendukung.
  4. Jika dihadapkan antara karir atau keluarga, pilih keluarga. Lakukan yang terbaik untuk menyelematkan keutuhan dan kehangatan keluarga. Karena mengulang karir lebih baik daripada mengulang membangung keluarga.
  5. Move on. Jangan terjebak pada masa lalu. Perbaiki apa yang bisa diperbaiki ke depan. Jangan sampe masa lalumu merusak masa depan mu. Perjuangkan masa depan karena tidak ada memperjuangkan masa lalu itu. Masa lalu sudah terjadi.

Terimakasih Pak utuk diskusi siang ini. Sungguh melegakan. Sungguh menenangkan. Sungguh ini adalah bekal yang sangat berarti bagi saya. Sampai kapanpun.

Bandung, Mei 2018

Sebuah Keputusan

Saat mimpi sudah semakin dekat. Saat raga mulai lelah menggapainya. Tiba-tiba sesuatu yang tidak diinginkan datang. Mengganggu diri sampai ke relung sukma. Menusuk hingga ke dalam. Dan menyisakan luka teramat dalam. Dalam kondisi terpuruk, rasanya ingin menghilang dari keramaian. Menyendiri. Berdua, bersama Allah saja.

Ya Allah, tidak ada yang lebih baik dari pilihan-Mu. Tidak ada yang lebih indah daripada keputusan-Mu. Aku memohon, berikanlah aku selalu hidayah-Mu. Jauhkan aku dari pandangan yang semu yang membuatku menjadikan diriku illah, menjadikan dunia ini illah. Jernihkanlah pandanganku, dalam menggapai ridha-Mu.

Andaikan sesuatu itu baik bagiku, maka mudahkanlah ya Allah. Andaikan sesuatu itu buruk bagiku, maka jauhkanlah dengan cara yang baik menurut Engkau. Ya Allah, diri ini masih menggunung dosa-dosa dan maksiat, ampunilah ya Allah. Ampuni aku, beri aku hidayah-Mu.

Jika aku mengecewakan orang lain atas keputusan ini, maka lapangkanlah hatinya Ya Allah. Untuk menerima keputusan ini.

Tetapkanlah segala hal dalam hidup ku, sehingga apapun yang menjadi jalannya, adalah jalan menuju peningkatan ilmu kami dan iman kami kepada-Mu. Aamiiin.

Bismillahirrahmaanirrahiiim. Keputusan ini dibuat.

Bandung, Mei 2018

 

ASYIK untuk Jabar!

Dah lama yah gak posting perpolitikan. Dan kalau pun dulu posting politik, tidak pernah seeksplisit ini dalam menyatakan dukungan. Eh, pernah deng, waktu piwalkot RK! Ini adalah sebuah tanda, ketika saya menyatakannya, maka saya meyakini pilihan saya 98%. Tidak ketika saya baru meyakininya 60%, 80% dan berapapun yang gak bulat 100%.

Kita cerita perjalanan memilih ini dulu yah. Pertama kali mengetahui Ridwan Kamil maju sebagai Jabar 1, saya merasa, sedih. Sedih kenapa? Sedih karena menurut saya, masih bayak PR di Kota Bandung yang belum beres. Dan ketika posisi walkot jadi seseksi ini (jujur, RK bikin posisi walkot jadi WOW di mata saya), saya jadi takut orang-orang modal ambisi bakal rebutan naik jadi walkot padahal gak kompeten. Semoga yang menang nanti benar-benar yang kompeten ngurus Bandung. Aamiiin. Agak membekas nih kesedihannya, tapi melihat IG nya, suka jadi paham juga, kayaknya kebermanfaatannya bisa lebih luas kalau jadi gubernur. Dan emang rasanya kapan taun, saya yang pernah komen, di IG beliau, untuk maju jadi presiden. #SalahNgomongDeh. Padahal dari lubuk hati yang paling dalam menginginkan beliau dua periode. 😥

Waktu masih belum jelas berapa pasang dan kombinasinya, masih biasa aja. Cuek aja sayanya. Cuman pas udah publish, saya mencoba menentukan kriteria. Buat saya yang penting untuk memimpin JABAR adalah orang yang:

  1. Sholeh. Taat dan sungguh-sungguh dalam beragama. Ini buat saya syarat mutlak. Karena saya gak tahu ada pegangan yang lebih kokoh selain Tuhan.Dan di tengah era informasi yang masya Allah deras banget, saya memerlukan pemimpin yang punya nilai dan keyakinan yang jelas untuk dianut. Bukan liberal. Dan bukan juga atheis. So sorry.
  2. Nyunda. Tapi belum tentu orang Sunda. Kenapa? Karena masyarakat Jabar walaupun pluralis di kota-kota besar seperti Bandung dan Bekasi, namun cara berfikir orang-orangnya banyak yang Sunda banget. Dan itu unik. Maka, untuk memahami orang Sunda, you better a sundanese orrrrrrrrr…. you Nyunda. Menginternalisasi nilai-nilai kesundaan. Memimpin itu bukan hanya sekedar menjabat. Mempimpin itu perlu menggerakan. Dan menggerakan suatu kaum itu akan lebih efektif ketika pemimpinnya paham nilai-nilai dan budaya orang Sunda.
  3. Cerdas. Orang cerdas ini masalahnya ada yang introvert dan ada yang ekstrovert. Yang ekstrovert bakalan mudah ngeceknya. Tapi yang introvert ini yang kadang PR. Karena jadi harus ngeliat kebijakan atau cara dia menyelesaikan masalah-masalah sebelumnya, baru ketahuan. Masalah masyarakat itu generally dasarnya sama, putaran ekonomi, pendidikan, inrastruktur, dll. Tapi kadang bentuk dan konflik yang munculnya yang berbeda. Kecerdasan seorang pemimpin diperlukan untuk mengatasi masalah. Solusi. Solusi. Solusi. Solution oriented. Orang gak cerdas menurut saya mungkin juga bisa menyelesaikan masalah. Tapi yang membedakan orang cerdas dan gak itu menurut saya adalah kemampuan meminimalkan kerugian dari solusi yang diberikan. Baik itu jangka pendek maupun jangka panjang.
  4. Profesional. Kata-kata ini mengingatkan saya pada tokoh-tokoh di Indonesia seperti Pak Habibie, Ahok, RK, Aher, siapa lagi? Banyak yah. Di Indonesia ini banyak kok kalau mau dicari-cari orang yang profesional. Seseorang harus terampil dalam mengerjakan pekerjaannya dan penuh dengan tanggung jawab. Keterampilan ini didapatkan dari pengalaman. Walaupun perlu kecerdasan ketika pengalaman yang dimiliki tidak bersesuaian dengan jabatan gubernur/wakil gubernur, misalnya. Jadi elemen ini harus diseimbangkan juga dengan kecerdasan.
  5. Open minded. Butuh orang yang memiliki pemikiran terbuka. Kenapa? Karena meskipun Jabar ini nyunda, tetap saja banyak suku yang tinggal disini. Walaupun 90an persen muslim, tetap saya ada agama lain. Intinya open minded ini penting agar mau mendengar suara lain, memahami kebutuhan lain, yang gak mainstream. Karena kesejahteraan dan keadilan itu bukan hanya milik mayoritas, tetapi semuanya. Kenapa gak bilang aja toleran? Karena buat saya kata ini sudah sering disalahgunakan oleh pihak-pihak yang seringkali mengangkat isu yang mengundang perpecahan. Jadi saya memilih open minded. Terkadang kita gak perlu setuju, tetapi ketika kita berfikiran terbuka, setidaknya kita bisa memahami yang berbeda dan menunjukan penghormatan.

Pengennya sih punya kriteria banyak. Tapi bisi jadi idealis gak realistis. Ya kali manusia ada yang sempurna? Gak kan?

Nah, setelah menentukan kriteria ini, saya kemudian menggoggling rekam jejak Semua paslon. Dan tiga teratas yang memikat hati saya adalah, Ridwan Kamil, Sudrajat dan Ahmad Saikhu.

Ridwan Kamil, kepiawaian dalam memimpin atau menggerakan masyarakat sudah terbukti di Kota Bandung. Beliau juga orang yang bisa dikatakan sholeh. Kalau masalah nyunda mah, gausah ditanya. Cara dia ngejoke dan pendekatan-pendekatan yang diambil dalam menyelesaikan masalah, eta nyunda pisannnnn. Dan soal kecerdasan, menurut saya beliau sangat cerdas. Profesional? Cek URBANE. And it will tell you about his profesionalism. Open minded? Juga. Sempurna? Sementara iya. 🙂

Berikutnya adalah yang saya gak sangka. Saya tertarik sama Sudrajat. Walaupun tingkat ketertarikannya gak kayak ke RK. Oia, sebagai informasi, saya gak pernah lihat dan ketemu. Cuman liat track recordnya. Yang bikin saya kaget, track recordnya. Gak nyangka. Beliau kayaknya bukan militer yang STANDAR gitu. Tapi agak BEDA. Kebayangnya dia sedisiplin militer, tapi juga luwes, karena pemikirannya terbuka. Cuman masalahnya apakah dia Nyunda? Apakah dia taat? Itu yang mesti saya cari tahu.

Terakhir, Pak Saikhu. Kalau liat partai pendukungnya, jumlah anaknya, jilbab istrinya, kayaknya sih nih beda level taatnya ma manusia kebanyakan. 🙂 Insya Allah percaya. Nyundanya? Nah, ini, doi adalah warga jabar asli yang kebetulan lahirnya di Cirebon, yang punya bahasa sedikit berbeda dan juga sekarang tinggal di Bekasi. Jadi Jabar Asli tapi bukan mayoritas. But that is OK. Gak seblank Pa Ajat nampaknya. Apakah beliau cerdas? Kayaknya iya. Kenapa? Jadi lulusan STAN itu ternyata bikin dia dapet ilai plus di mata saya. Hehe. Anak STAN itu pinter lohhhhhh… 11-12 lah ma ITB. Profesionalisme, saya gak lihat dia sebagai DPRD dan walikota sih. Karena biasanya multi persepsi. Dan saya gak rasain langsung. Jadi cuman liat kalau beliau pernah bekerja di kemenkeu yang menurut saya merupakan salah satu kementrian yang bener dan profesional. Pengalaman di LPDP dan adik n kakak ipar yang bekerja di KEMENKEU.

Yang lainnya gimana? Yang lainnya saya tertarik sama track recordnya. Aktor dan sutradara, tentara yang dekat dengan orang nomor 1, bupati yang pendidikannya biasa aja, pengalamanya juga gak ada yang wah. Dahlah, tiga itu aja. 🙂 Jangan ada yang tersinggung yah kalau pilihannya gak kesebut.

Setelah memilih tiga dengan track record terbaik, saya kemudian mendalami lika-liku politiknya. Pertanyaan dengan RK adalah, kenapa gak bisa deal sama Gerindra dan PKS layaknya dulu pas maju piwalkot? Ini masih jadi pertanyaan besar buat saya. Yang mana jawabannya akan langsung bisa membuat saya memilih dengan tegas RINDU atau ASYIK. Ini soalnya buat saya agak membingungkan. Di satu sisi RK yang paling terlihat sempurna di mata saya. Tapi di sisi lain, partai pendukungnya, NASDEM, adalah partai yang saya sungguh tidak respect. Terus partai yang bikin saya respect apa? So far sih PKS. Terutama, spesial di Jawa Barat yah. Di daerah lain belum tentu saya respect sama PKS. Politik itu dinamis soalnya. Sosok Aher dan Bu Netty bener-bener bikin citra PKS di Jabar baik di mata saya. Lalu ada Teh Patra juga yang jadi ketua itbmh. Itu bikin saya respect sama PKS. Dan membuat saya berfikir  kalau PKS beneran masih sebagai partai perjuangan. Bukan sekedar jualan kepentingan sesaat. Teman-teman ITB yang jadi TA di fraksi PKS juga semakin bikin saya respect sama partai ini. Relatif dibandingkan partai lainnya yah. PKS juga gak sempurna. I know it.

Nah, sekarang saatnya memilih. Pertanyaan yang mengganjal soal RK itu belakangan ini terjawab. Tapi yah jelas, dari orang PKS dan GERINDRA. Konon katanya RK terlalu pragmatis. Mengalir kepada siapa saja yang akan memudahkan jalannya selama menjabat. Gak mau susah-suah melawan penguasa saat ini. Benarkah? Nah ini yang masih saya ragu iya gak nya. Karena kalau benar alasannya itu, sungguh, saya gak bisa terima pemimpin yang kayak gitu. Bukan tipe gue. Terus wakilnya, Uu juga buat saya kurang OKE. Pendidikannya yah. Kalah ma Saikhu kayaknya kapasitas ketaatan n pendidikannya. B aja lah kayaknya.

Nah persoalan Ajat dan Saikhu ini adalah saya gak terlalu kenal. Ujug-ujug masuk dalam pikiran saya pas pilkada ini aja. Saya kira PKS bakal memajukan Bu Netty. Sejauh ini baru liat live mereka di IG aja sih. Dan B aja. Haha. Tapi pas nonton di CNN, wawancara Pak Ajat, saya kagum dengan kecerdasannya dalam ‘berdiskusi’. Haha. Diskusi doang kan. Kerjanya mah meneketehe.

Jadi sampai sini masih berat ke ASYIK! Karena couplenya komplit dan gak terlalu ada beban politis ketika mereka menjabat. Soalnya didukung sama partai yang lg di posisi gak nyaman. Lebih besar kemungkinannya gak aneh-aneh. Diawasi lawan dan dukungan netizen bukan mayoritas.

Mungkin banyak teman yang bilang, isu toleransi? Buat saya sih simple jawabnya. Ketiga orang yang saya kagumi ini memiliki nilai dan keyakinan yang sama sama saya. Dan cocok di kelima aspek di atas. Katanya, kecenderungan orang itu menyukai orang yang sama. Haha. Terus kalian pasti bakal nuduh saya merasa nyunda, cerdas, profesional dan lain-lain itu? Yah kalau pun gak, at least I am trying lah. kkkkk. Dan dengan kelima nilai yang saya pegang itu, saya tidak merasa ada masalah dengan toleransi. Adakah teman saya yang berbeda agama, jurusan, suku, IP, dengan saya merasa saya tidak toleran? Jawaban anda, apapun itu, adalah cara saya menilai ketiga pasangan ini toleran atau tidak juga. Karena nilai kami, sama. Clear yah?

Wassalam

Pilkada JABAR! Pilkada ASYIK!

Marital Success Training (Closure)

Saya sangat bersyukur bisa berkesempatan mengikuti pelatihan ini. Walaupun saya sadar kalau pelatihan ini tidak bisa membantu saya menjadi lebih baik dalam berumah tangga, kecuali ada motivasi besar dalam diri saya untuk membuat rumah tangga ini lebih baik.

Ada pesan dari Pak Asep kepada penyelengara, tolong pastikan peserta yang ikut adalah yang memang butuh untuk berubah.

Ini menurut saya bener banget. Kalau gak ada keinginan untuk berubah, maka ini hanya akan menjadi pengetahuan. Dan perubahan itu adalah tanggung jawab masing-masing. Maka saya mohonkan doa dari pembaca blog saya, untuk mendoakan saya dan suami saya agar bisa mengimplementasikan ilmu ini dalam berumah tangga.

Saya doakan juga supaya pembaca memiliki keluarga yang luar biasa. Bahagia dunia dan akhirat.

Karena saya sudah memilih untuk menikah dan berbahagia dengan Anas Fauzi. Kekasih hati saya.

Marital Success Training (Part 9)

Jurus Tango suami istri. Ini menarik deh. Jadi ada banyak tema dalam berumah tangga yang harus clear dari awal. Yaitu adalah mana tema-tema yang itu masing-masing sifatnya bagi suami istri? Mana yang harus dilaksanakan bareng-bareng suami dan istri? Mana yang harus ikut suami aja di tema itu? Mana yang harus ikut istri aja di tema itu? Dan mana tema-tema yang masih versus? Artinya masih suka konflik. Gak jelas ini mau ikut siapa, mau dikerjakan bagaimana?

Nah, ini harus coba dilist dulu tema-tema apa yang sering muncul di keseharian. Dan tentukan. Diharapkan dengan jelas begini, jadi enak jalaninnya. Ingat potensi masing-masing juga. Jangan menaruh tema-tema dengan salah. Siapa yang lebih baik memegang tanggung jawab pada tema itu?

Nah ini nanti ada kaitannya juga soal keuangan. Dan keuangan itu masih menjadi momok cikal bakal perceraian. Maka kalau tidak disikapi dengan bijak, bisa menjadi bencana dalam rumah tangga.

Ada beragam tipe mengelola keuangan. Uang suami=uang suami, uang istri=uang istri. Uang suami=uang suami, uang istri=uang suami. Uang suami=uang istri, Uang istri=uang istri. Uang suami=uang istri, uang istri=uang suami. Nah, mana yang diinginkan? Ini harus jelas di awal.

Dan dalam mencari rejeki, banyak hal yang sering mengganggu. Apa itu? GENGSI! Maka ketika rejeki datang dari segala arah, kita menepisnya dengan GENGSI!

Pak Asep cerita soal mengisi parenting di stasiun TV swasta yang gajinya itu kecil sekali. Bahkan mahalan ongkos Tasik-Jakartanya daripada gajinya. Tapi suatu ketika dia pernah bantu benerin mobil orang, eh uangnya yang didapat puluhan kali lipat dari gaji di TV swasta itu. DI TV swasta dia make jas, dikenal orang, intelektualitasnya nampak. Saat benerin mobil itu yang dipake tenaga, kerjanya keras. Dan bisa dilakukan oleh orang yang gak perlu kuliah psikologi susah-susah. Termasuk bisnis domba.

Selain gengsi, ada masalah lain. Manajemen keuangan. Ini kadang tidak ada bekal. Sehingga gak sadar punya kebiasaan boros, berhutang dan kalau ini berlebihan, bisa mengganggu tatanan rumah tangga. Jangan sepelekan.

Mulailah komunikasikan keinginan masing-masing. Tentukan pengelolaan keuangan yang bisa mencapai tujuan berkeluarga di awal. Belajar lah juga mengelola keuangan kalau gak punya skill nya.