ASYIK untuk Jabar!

Dah lama yah gak posting perpolitikan. Dan kalau pun dulu posting politik, tidak pernah seeksplisit ini dalam menyatakan dukungan. Eh, pernah deng, waktu piwalkot RK! Ini adalah sebuah tanda, ketika saya menyatakannya, maka saya meyakini pilihan saya 98%. Tidak ketika saya baru meyakininya 60%, 80% dan berapapun yang gak bulat 100%.

Kita cerita perjalanan memilih ini dulu yah. Pertama kali mengetahui Ridwan Kamil maju sebagai Jabar 1, saya merasa, sedih. Sedih kenapa? Sedih karena menurut saya, masih bayak PR di Kota Bandung yang belum beres. Dan ketika posisi walkot jadi seseksi ini (jujur, RK bikin posisi walkot jadi WOW di mata saya), saya jadi takut orang-orang modal ambisi bakal rebutan naik jadi walkot padahal gak kompeten. Semoga yang menang nanti benar-benar yang kompeten ngurus Bandung. Aamiiin. Agak membekas nih kesedihannya, tapi melihat IG nya, suka jadi paham juga, kayaknya kebermanfaatannya bisa lebih luas kalau jadi gubernur. Dan emang rasanya kapan taun, saya yang pernah komen, di IG beliau, untuk maju jadi presiden. #SalahNgomongDeh. Padahal dari lubuk hati yang paling dalam menginginkan beliau dua periode. ๐Ÿ˜ฅ

Waktu masih belum jelas berapa pasang dan kombinasinya, masih biasa aja. Cuek aja sayanya. Cuman pas udah publish, saya mencoba menentukan kriteria. Buat saya yang penting untuk memimpin JABAR adalah orang yang:

  1. Sholeh. Taat dan sungguh-sungguh dalam beragama. Ini buat saya syarat mutlak. Karena saya gak tahu ada pegangan yang lebih kokoh selain Tuhan.Dan di tengah era informasi yang masya Allah deras banget, saya memerlukan pemimpin yang punya nilai dan keyakinan yang jelas untuk dianut. Bukan liberal. Dan bukan juga atheis. So sorry.
  2. Nyunda. Tapi belum tentu orang Sunda. Kenapa? Karena masyarakat Jabar walaupun pluralis di kota-kota besar seperti Bandung dan Bekasi, namun cara berfikir orang-orangnya banyak yang Sunda banget. Dan itu unik. Maka, untuk memahami orang Sunda, you better a sundanese orrrrrrrrr…. you Nyunda. Menginternalisasi nilai-nilai kesundaan. Memimpin itu bukan hanya sekedar menjabat. Mempimpin itu perlu menggerakan. Dan menggerakan suatu kaum itu akan lebih efektif ketika pemimpinnya paham nilai-nilai dan budaya orang Sunda.
  3. Cerdas. Orang cerdas ini masalahnya ada yang introvert dan ada yang ekstrovert. Yang ekstrovert bakalan mudah ngeceknya. Tapi yang introvert ini yang kadang PR. Karena jadi harus ngeliat kebijakan atau cara dia menyelesaikan masalah-masalah sebelumnya, baru ketahuan. Masalah masyarakat itu generally dasarnya sama, putaran ekonomi, pendidikan, inrastruktur, dll. Tapi kadang bentuk dan konflik yang munculnya yang berbeda. Kecerdasan seorang pemimpin diperlukan untuk mengatasi masalah. Solusi. Solusi. Solusi. Solution oriented. Orang gak cerdas menurut saya mungkin juga bisa menyelesaikan masalah. Tapi yang membedakan orang cerdas dan gak itu menurut saya adalah kemampuan meminimalkan kerugian dari solusi yang diberikan. Baik itu jangka pendek maupun jangka panjang.
  4. Profesional. Kata-kata ini mengingatkan saya pada tokoh-tokoh di Indonesia seperti Pak Habibie, Ahok, RK, Aher, siapa lagi? Banyak yah. Di Indonesia ini banyak kok kalau mau dicari-cari orang yang profesional. Seseorang harus terampil dalam mengerjakan pekerjaannya dan penuh dengan tanggung jawab. Keterampilan ini didapatkan dari pengalaman. Walaupun perlu kecerdasan ketika pengalaman yang dimiliki tidak bersesuaian dengan jabatan gubernur/wakil gubernur, misalnya. Jadi elemen ini harus diseimbangkan juga dengan kecerdasan.
  5. Open minded. Butuh orang yang memiliki pemikiran terbuka. Kenapa? Karena meskipun Jabar ini nyunda, tetap saja banyak suku yang tinggal disini. Walaupun 90an persen muslim, tetap saya ada agama lain. Intinya open minded ini penting agar mau mendengar suara lain, memahami kebutuhan lain, yang gak mainstream. Karena kesejahteraan dan keadilan itu bukan hanya milik mayoritas, tetapi semuanya. Kenapa gak bilang aja toleran? Karena buat saya kata ini sudah sering disalahgunakan oleh pihak-pihak yang seringkali mengangkat isu yang mengundang perpecahan. Jadi saya memilih open minded. Terkadang kita gak perlu setuju, tetapi ketika kita berfikiran terbuka, setidaknya kita bisa memahami yang berbeda dan menunjukan penghormatan.

Pengennya sih punya kriteria banyak. Tapi bisi jadi idealis gak realistis. Ya kali manusia ada yang sempurna? Gak kan?

Nah, setelah menentukan kriteria ini, saya kemudian menggoggling rekam jejak Semua paslon. Dan tiga teratas yang memikat hati saya adalah, Ridwan Kamil, Sudrajat dan Ahmad Saikhu.

Ridwan Kamil, kepiawaian dalam memimpin atau menggerakan masyarakat sudah terbukti di Kota Bandung. Beliau juga orang yang bisa dikatakan sholeh. Kalau masalah nyunda mah, gausah ditanya. Cara dia ngejoke dan pendekatan-pendekatan yang diambil dalam menyelesaikan masalah, eta nyunda pisannnnn. Dan soal kecerdasan, menurut saya beliau sangat cerdas. Profesional? Cek URBANE. And it will tell you about his profesionalism. Open minded? Juga. Sempurna? Sementara iya. ๐Ÿ™‚

Berikutnya adalah yang saya gak sangka. Saya tertarik sama Sudrajat. Walaupun tingkat ketertarikannya gak kayak ke RK. Oia, sebagai informasi, saya gak pernah lihat dan ketemu. Cuman liat track recordnya. Yang bikin saya kaget, track recordnya. Gak nyangka. Beliau kayaknya bukan militer yang STANDAR gitu. Tapi agak BEDA. Kebayangnya dia sedisiplin militer, tapi juga luwes, karena pemikirannya terbuka. Cuman masalahnya apakah dia Nyunda? Apakah dia taat? Itu yang mesti saya cari tahu.

Terakhir, Pak Saikhu. Kalau liat partai pendukungnya, jumlah anaknya, jilbab istrinya, kayaknya sih nih beda level taatnya ma manusia kebanyakan. ๐Ÿ™‚ Insya Allah percaya. Nyundanya? Nah, ini, doi adalah warga jabar asli yang kebetulan lahirnya di Cirebon, yang punya bahasa sedikit berbeda dan juga sekarang tinggal di Bekasi. Jadi Jabar Asli tapi bukan mayoritas. But that is OK. Gak seblank Pa Ajat nampaknya. Apakah beliau cerdas? Kayaknya iya. Kenapa? Jadi lulusan STAN itu ternyata bikin dia dapet ilai plus di mata saya. Hehe. Anak STAN itu pinter lohhhhhh… 11-12 lah ma ITB. Profesionalisme, saya gak lihat dia sebagai DPRD dan walikota sih. Karena biasanya multi persepsi. Dan saya gak rasain langsung. Jadi cuman liat kalau beliau pernah bekerja di kemenkeu yang menurut saya merupakan salah satu kementrian yang bener dan profesional. Pengalaman di LPDP dan adik n kakak ipar yang bekerja di KEMENKEU.

Yang lainnya gimana? Yang lainnya saya tertarik sama track recordnya. Aktor dan sutradara, tentara yang dekat dengan orang nomor 1, bupati yang pendidikannya biasa aja, pengalamanya juga gak ada yang wah. Dahlah, tiga itu aja. ๐Ÿ™‚ Jangan ada yang tersinggung yah kalau pilihannya gak kesebut.

Setelah memilih tiga dengan track record terbaik, saya kemudian mendalami lika-liku politiknya. Pertanyaan dengan RK adalah, kenapa gak bisa deal sama Gerindra dan PKS layaknya dulu pas maju piwalkot? Ini masih jadi pertanyaan besar buat saya. Yang mana jawabannya akan langsung bisa membuat saya memilih dengan tegas RINDU atau ASYIK. Ini soalnya buat saya agak membingungkan. Di satu sisi RK yang paling terlihat sempurna di mata saya. Tapi di sisi lain, partai pendukungnya, NASDEM, adalah partai yang saya sungguh tidak respect. Terus partai yang bikin saya respect apa? So far sih PKS. Terutama, spesial di Jawa Barat yah. Di daerah lain belum tentu saya respect sama PKS. Politik itu dinamis soalnya. Sosok Aher dan Bu Netty bener-bener bikin citra PKS di Jabar baik di mata saya. Lalu ada Teh Patra juga yang jadi ketua itbmh. Itu bikin saya respect sama PKS. Dan membuat saya berfikirย  kalau PKS beneran masih sebagai partai perjuangan. Bukan sekedar jualan kepentingan sesaat. Teman-teman ITB yang jadi TA di fraksi PKS juga semakin bikin saya respect sama partai ini. Relatif dibandingkan partai lainnya yah. PKS juga gak sempurna. I know it.

Nah, sekarang saatnya memilih. Pertanyaan yang mengganjal soal RK itu belakangan ini terjawab. Tapi yah jelas, dari orang PKS dan GERINDRA. Konon katanya RK terlalu pragmatis. Mengalir kepada siapa saja yang akan memudahkan jalannya selama menjabat. Gak mau susah-suah melawan penguasa saat ini. Benarkah? Nah ini yang masih saya ragu iya gak nya. Karena kalau benar alasannya itu, sungguh, saya gak bisa terima pemimpin yang kayak gitu. Bukan tipe gue. Terus wakilnya, Uu juga buat saya kurang OKE. Pendidikannya yah. Kalah ma Saikhu kayaknya kapasitas ketaatan n pendidikannya. B aja lah kayaknya.

Nah persoalan Ajat dan Saikhu ini adalah saya gak terlalu kenal. Ujug-ujug masuk dalam pikiran saya pas pilkada ini aja. Saya kira PKS bakal memajukan Bu Netty. Sejauh ini baru liat live mereka di IG aja sih. Dan B aja. Haha. Tapi pas nonton di CNN, wawancara Pak Ajat, saya kagum dengan kecerdasannya dalam ‘berdiskusi’. Haha. Diskusi doang kan. Kerjanya mah meneketehe.

Jadi sampai sini masih berat ke ASYIK! Karena couplenya komplit dan gak terlalu ada beban politis ketika mereka menjabat. Soalnya didukung sama partai yang lg di posisi gak nyaman. Lebih besar kemungkinannya gak aneh-aneh. Diawasi lawan dan dukungan netizen bukan mayoritas.

Mungkin banyak teman yang bilang, isu toleransi? Buat saya sih simple jawabnya. Ketiga orang yang saya kagumi ini memiliki nilai dan keyakinan yang sama sama saya. Dan cocok di kelima aspek di atas. Katanya, kecenderungan orang itu menyukai orang yang sama. Haha. Terus kalian pasti bakal nuduh saya merasa nyunda, cerdas, profesional dan lain-lain itu? Yah kalau pun gak, at least I am trying lah. kkkkk. Dan dengan kelima nilai yang saya pegang itu, saya tidak merasa ada masalah dengan toleransi. Adakah teman saya yang berbeda agama, jurusan, suku, IP, dengan saya merasa saya tidak toleran? Jawaban anda, apapun itu, adalah cara saya menilai ketiga pasangan ini toleran atau tidak juga. Karena nilai kami, sama. Clear yah?

Wassalam

Pilkada JABAR! Pilkada ASYIK!

Advertisements