Marital Success Training (Part 3)

Konflik. Hidup itu penuh dengan konflik. Dan konflik itu sesuatu yang bisa membawa kita ke level yang lebih atas atau jatuh. Itu pilihan. Kenapa ? Karena sangat bergantung pada bagaimana kita menyikapi konflik itu. Konflik terjadi biasanya karena ada sumber daya yang terbatas, tetapi yang berkeptingannya banyak. Konflik itu bisa ada dua, konflik pikiran dan konflik emosi. Jika konflik ini cuman ada di pikiran, gapapa, fine. Contohnya kita beda pendapat. Wajar. Yang masalah ini kalau konflik ini ada di tataran emosi.

Karena emosi itu menguras energi. Dan ketika energi kita habis untuk emosi negatif, maka kita menjalani hidup ini dengan sisa sisa energi. Padahal untuk mencapai tujuan awal yang ditetapkan itu kan kita butuh banyak energi. Sayang kan kalau udah habis duluan. Banyak energi aja masih berliku jalannya, apalagi kalau energi ini udah abis duluan sebelum sampe di tujuan.

Yang dibutuhkan dari suatu konflik itu adalah resolusi konflik yang baik. Ingat, untuk long term relationship, maka resolusi ini harus yang sifatnya kolaboratif. Menang sama menang dan ini SUPER TIDAK MUDAH. Maka memerlukan waktu untuk duduk bareng dan komunikasi yang baik. Dalam konflik itu biasanya ada kebutuhan. Cari kebutuhan yang sebenarnya itu apa. Komunikasikan dengan jujur dan lugas. Lalu sepakati apa yang bisa diperbaiki. Sabar dalam menjalankan resolusi ini.

Nah, bicara masalah konflik ini, biasanya ada tema-tema yang menjadikan konflik ini rentan terhadap perceraian. Beberapa di antaranya adalah ketika konflik ini bertemakan self worth, komunikasi, aturan keluarga dan kaitannya dengan society.

Mari kita bahas lebih detil ke tulisan berikutnya….

Advertisements

Marital Success Training (Part 2)

Hari pertama kami datang terlambat. Sedikit. 20 menit. Hehe. Banyak yah. Dah siap rugi sih. Kayaknya bakal ketinggalan materi awal-awal. Qadarullah, Pak Asep nya juga telat. Dan saat acara dimulai, Pak Asep meminta kami semua bicara satu-satu tentang alasan dan tujuan kami mengikuti training ini. Macam-macam ternyata yah. Dan banyak yang menarik. Disitu saya mikir keras, kenapa yah? Buat apa yah? Yah, simple ternyata, saya ingin belajar sebelum mengarungi rumah tangga saya dan Anas lebih lama lagi. Dan saya ingin memiliki rumah tangga yang sakinah mawaddah warrahmah. Awet lengket istilahnya Pak Asep mah.

Lalu materi dimulai dengan menentukan tujuan berumah tangga sama suami. Disitu aja saya dah hampir berantem. Wkwkwkwkwk. Masalah mana yang mirip dan mana yang prioritas. Tapi ditahan dan diungkapkan kekesalannya. Krek.

Lalu break istirahat. Dan ada kejadian unik lain yang bikin saya emosi ke suami. Dan pas banget setelah kejadian dua itu, materi nya tentang masalah yang bikin emosi. Lalu saya mengungkapkan itu ke Pak Asep. Disadari, bahwa ternyata saya dan suami memiliki isu budaya. Pak Asep tidak mengistilahkan saya orang bandung, sunda. Tetapi orang Aceh. Gak tahu kenapa. Apa karena saya lahir di Aceh? Dan saya harus memahami bahwa suami saya itu Orang Jawa. Disitu kami mencoba memahami bagaimana budaya dapat mempengaruhi kepribadian seseorang. Pilihannya banyak, mencari titik tengah dari dua budaya tersebut, mengalah, atau memaksakan diri untuk menang?

Hanya saja menurut Pak Asep, untuk hubungan yang diharapkan long time…. maka jangan Menang-Kalah, Kalah-Menang, atau kompromi. Sebaiknya polanya adalah kolaborasi. Maka harus mau terbuka, menerima, memahami dan mencari titik nyamannya sehingga tidak perlu menjadi orang lain. Tentukan di tema-tema mana suatu karakter menjadi masalah. Di tema-tema mana suatu karakter itu bisa kita terima. Kan biasanya gak semua karakter itu buruk di semua tema. Jadi kita belajar lebih spesifik menemukan tema-tema sensitif itu. Untuk kemudian, menyepakati. Insya Allah kalau seseorang hanya dituntut untuk merubah karakter nya di tema spesifik, lebih mudah dan gak bikin yang mau diubah itu frustasi, daripada kita merubah karakter orang itu secara menyeluruh. Jadi kita bisa menjadi pasangan yang nyaman sama diri kita sendiri dan juga nyaman untuk pasangan kita.

Berikutnya adalah geneologi keluarga. Nah, saya lupa sih materi ini dulu atau materi yang tadi dulu. Yang jelas materi ini juga sangat berkesan bagi saya dan suami. Kami diminta untuk menggambarkan diagram keluarga batih kami masing-masing. Kami bedakan mana laki-laki dan perempuan. Kami tuliskan nama, umur, pendidikan dan sifat. Lalu kami buat garis yang memetakan, siapa aja yang saling mirip, siapa aja yang saling dekat, dan siapa aja yang seringkali konflik.

Sebelum direfeleksikan sama Pak Asep kami senyum-senyum sendiri. Wah, dapet peta nih. Peta konflik. Dapet bayangan, ah elah pantes aja selama ini begini. Begitu. Dan ternyata geneologi layaknya peta. Maka sebelum menikah, baiknya taaruf itu begini. Menjelaskan perpolitikan keluarga. Bukan untuk menghindari. Tapi justru untuk menyesuaikan. Untuk menyiapkan hati. Gambaran keluarga baru yang akan kita hadapi. Jangan peta ini dijadikan sebagai peta konflik. Tapi anggaplah kita ini mau berjuang untuk mencapa tujuan kita tadi. Nah, berdasarkan tujuan itu, kira-kira harus bagaimana nanti kita menyikapi geneologi keluarga pasangan kita. Selain itu kita juga jadi tahu, bagaimana kita akan membawa pasangan kita ke keluarga kita. Sebaiknya suami itu menjadi penunjuk jalan istri di keluarga suami. Begitu juga sebaliknya. Jangan dibiarkan terjun bebas.

Dan yang lebih penting lagi, geneologi keluarga ini harus disikapi secara positif dan penuh maklum atau kalau bisa penuh maaf. Ini juga bisa jadi rencana kita bersama ke depan, hal-hal apa yang wajib diperbaiki dari hubungan di keluarga sehingga tujuan berkeluarga yang ditetapkan di awal tadi, tercapai. Jadi inget, untuk selalu kembali ke tujuan awal. Geneologi keluarga harusnya membawa kita bersikap lebih luwes dan elegan menghadapi dinamika keluarga pasca pernikahan. Lebih spesifik di Indonesia, ketika kita menikahi pasangan, maka secara tidak langsung kita sedang menikahi keseluruhan keluarganya. Kita terima pasangan dengan keragaman sejarahnya. Kita belajar akrab dengan orang orang yang tidak ideal. Karena tidak ada orang yang buruk hanya saja orang yang tidak sesuai dengan harapan kita.

 

 

Marital Success Training (Part 1)

Pertama kali saya mendengar nama Asep Haerul Ghani, saya langsung googling dan cari tahu pelatihannya. Yang bikin saya shock dan menjadi kesan pertama saya adalah, GILA! MAHAL BANGET TRAININGNYA! 2 juta buat pengembangan diri? WHAT? Gak worth it! Males dah… mending gw belajar yang lain aja…

Lalu saya belajar yang lain. Saya ikut seminar ini, itu. Tetapi akhirnya saya jadi stress. Saya merasa kenapa saya sulit mengimplementasikan semua yang saya tahu? Seringnya, kenapa saya sering baper dan tersulut   sulit bagi saya memenangkan diri saya. Rasanya selalu ada yang menyerobot akal sehat saya.

Lalu saya ceritakan ini sama teman saya dan dia bilang, mending stop belajar dulu deh. Ikutin HIC Pak Asep. Karena itu dasar nya sebelum training-training lain pengembangan diri. Saya dulu mikirnya, apa sih, siapa sih nih orang. Penting amat. #baper

Lalu tiba suatu masa, teman saya share lagi pelatihan Pak Asep di Bandung. Dan PASSSS BANGET, pas saya lagi dapet rejeki dari Allah. Awalnya mikir panjang. Maju mundur. 3.5 juta, berdua ma suami. Bisa buat jalan-jalan nginep di hotel. Bisa buat nraktir ortu di rumah makan mewah. Bisa buat beli obat diet, kkkk. Dan lain sebagainya.

Sampai suatu akhir pekan, saya memutuskan untuk mendaftar. Bismillah ay. Kita pengen berlatih menjadi lebih baik. Yuk, daftar!

Dan disini lah petualangan emosi saya dimulai….

 

Tetot Bunda

Berasa udah melakukan semua yang terbaik untuk pemulihan Khaleed. Anaknyah manjat-manjat, aktivitas teu daek cicing layaknya biasa dari H+1, tapi kok aneh ada yang aneh yah. Bagian jahitan berprogress tapi kok kepala pen** nya masih basah gitu yah. Trus kok kayak gak da perubahan signifikan, kering kek, berubah warna kek.

Rupanya eh rupanyaaaaaa… Pas kontrol hari ke-4 baru ketauan. Ternyata, kepala pen** itu harus ditetesin jga, bukan cuman luka jahitannya aja. >_< Maafkan mask Khaleeeeed… Si suster cuman bisa geleng-geleng aja, kok gak ada progres luka khitannya. Akhirnya saya minta penjelasan detil dan dicontohin bagian-bagian mana nya saja yang ahrus dibersihin dan diobatin. Lulus. Insya Allah.

Masya Allah, ternyata dengan dua hari ditetes aja luka jadi kering. Tapi… Anaknya kan gak bisa diem yah. Pas main sama Alisha pen** nya kejedug benda keras yang saya gak tau apa, karena gak lagi disitu. Pas dibuka, darah segar keluar dengan banyaknyooooo. Ampunnnn lukanya kegores, lebih tepatnya kulit yg luka ngelupas. Dan… ulangi lagi yah pengobatannya sampe kering…

Jadi buibu yang berniat nyunatin anaknya, selain menyiapkan keberanian n kekuatan anak, disiplin dalam penyembuhan, pastikan anaknya tidak melakukan hal-hal yag membahayakan pen** nya. Otherwise, ulangi dari awal yah.

Dan ternyata peernya disini buat saya. Di saat saya dah santai karena Mas Khaleed pas khitan dan pengobatan ampu mengatasi rasa takutnya, ternyata kalau berani pun harus dijaga tingkah polahnya. Akhirnya saya memperpanjang masa kerja di rumah Enin sampai benar-benar pulih. Gak mungkin kan disekolahin anak ini. Mesti diawasin gerak-geriknya dan masih kudu diingetin supaya gak jumpalitan.

 

Pemulihan Khitan Khaleed

Kami memutuskan untuk merawat Khaleed pasca khitan di Enin. Kenapa? Karena saya akan tetap menulis paper. Alisha di Daycare dan Khaleed di rumah sama saya. Ada wifi juga pan. Jadi bakal lebih mudah kalau di Cisitu. Selain itu juga, Enin berniat mengadakan syukuran di rumahnya mengundang saudara dan kerabat.

Khaleed yang belum tidur lagi dari jam 2 pagi, ternyata sampai rumah malah seger. Main. Jongkok. Berdiri. Ngeri sayanya. Tapi mungkin karena obat biusnya masih bekerja, jadi dia gak merasakan sakit. Sampai akhirnya dia sempat santai sebentar dan mengeluh, “Duh, Bun, kok sakit sih.” Nah, mulai deh abis obat biusnya. Mulai juga rewel dan rewelnya, minta teman-temannya datang hari itu juga. Padahal undangan syukuran itu besoknya, hari Sabtu.

Akhirnya saya kontak sepupu saya, Nuvi, menanyakan apakah Farel boleh saya jemput dari sekolahnya untuk main ke rumah dan menemani Khaleed? Qadarallah, boleh dan Farel pun mau pas saya jemput di Sekolah. Awalnya mereka berdua saling bingung mau main apa. Lah yang satunya cuman bisa diem aja make sarung. Hehe. Tapi lambat laun mereka berinteraksi normal. Hanya mainannya aja yang beda. Main Lego. Hehe. Biasanya kan lulumpatan main kesana kemari. Hah? Apa itu lulumpatan? Googling lah…. 😛 Jangan males.

Waktu makan siang pertama, Khaleed masih sedih karena dia merasa sakit. Jadi cuman masuk makanan dikit. Minum obat lalu diobatin lukanya. Masya Allah, gak mau. Khaleed ketakutan pas saya mulai mendekati p***s nya. Saya jelaskan kalau ini untuk kecepatan penyembuhannya. Sambil nangis aakhirnya berhasil juga diobatin.

Waktu sore saya mikir gimana yah caranya agar prosesnya lebih soft. Akhirnya saya inget pelajaran wiring otak anak. Anak itu harus nemu why why why. Akhirnya saya coba deh untuk pas ngelap.

B: Mas, ayo Bunda lap yah badannya.

K: Gak mau.

B: Khaleed mandi kan tadi shubuh, seharian main sama Farel, kira-kira badan Khaleed kotor gak?

K: Kotor.

B: Kalau kotor harus diapain?

K: Dibersihin.

B: boleh gak Bunda mandiin Khaleed?

K: Gak, nanti sakit kena air.

B: Jadi gimana caranya Bunda bersihin badan Khaleed?

K: Di lap.

B: Oke yah, sekarang Bunda lap badan Khaleed.

Alhamdulillah lancar proses pengelapan. Berikutnya adalah mebersihkan bagian sekitar luka dengan rifanol. Karena tumpahan obat jahitan kan kena ke buah zakarnya dan paha. Sarungnya pun kotor.

B: Sekarang Bunda mau bersihin buah zakarnya Khaleed yah.

K: Gak mau.

B: Kenapa?

K: Sakit.

B: Emang kalau buah zakarnya bunda sentuh bakal sakit?

K: Iya.

B: Gak mas, yang bakal sakit kalau disentuh itu adalah luka jahitan. (Saya jelasin make tangan saya, mana luka jahitan, mana buah zakar) Jadi kalau Bunda sentuh yang lain, walaupun itu dekat luka, gak akan sakit. Tapi Khaleed takut, ya kan?

K: Iya.

B: Nah, sekarang Mas Khaleed percaya gak sama Bunda? Kalau Bunda gak akan sentuh luka jahitan Mas Khaleed? Karena Bunda gak mau sakitin Mas Khaleed?

K: Percaya.

B: OK. Kalau gitu sekarang mas angkat tangan Mas Khaleed dan Bunda bakal bersihin sekitar luka mas khaleed, bukan lukanya.

K: Tunggu Bun. Khaleed mau bilang Khaleed berani, Khaleed gak sakit.

B: OK

Dan alhamdulillah lancar proses ngebersihinnya. Begitu seterusnya. Dan amazingnya…. Doi jadi berani jalan, duduk, dan beraktivitas seperti biasa. Kekuatan itu dimulai dari pikiran yah mas. Kalau kamu takut, maka kamu akan takut. Kalau kamu berfikir kamu berani, kamu akan berani. Kalau kamu pikir gak bisa, kamu akan gak bisa. Jadi sekarang peernya gimana caranya supaya Mas bisa selalu berfikir positif.

Dan ini penting mas. Sekarang tantangannya khitan. Besok besok bakal beda lagi. I want you to be a positive man.

Persiapan dan Khitan Khaleed

Cerita tentang khitan sudah lama sekali saya sounding ke Khaleed. Dulu saya membelikan buku tentang Anak yang Berani. Dan salah satu ceritanya ada yang mengenai khitan. Dalam cerita itu dijelaskan kenapa harus khitan, sakitnya khitan dan serunya khitan karena banyak yang kasih hadiah. Yang kuangnya menurut saya dari penjelasan buku ini adalah bagian dapet hadiahnya. Jadi saya harus cuci otak khaleed dulu, benerin kalau niatnya karena Allah. Bahas deh tuh hadits tentang innamal amalu binniat. Semoga masuk yah mas penjelasan Bunda.

Nah, walaupun sudah disounding dan Khaleed sudah mau, tapi sulit sekali bagi saya memilih waktu khitan. Mungkin sudah dua tahun lalu mencari-cari waktu dan akhirnya, saat sepupunya pada mau dikhitan, akhirnya Khaleed yang jadi pengen juga dan pas Khaleed dah mau gitu, langsung deh eksekusi.

Langkah pertama, saya cari info tentang metode khitan. Yang saya denger ada tiga yah, laser, clamp dan konvensional. Saya memilih metode konvensional karena banyak yang memilih dan review orang-orang tentang clamp adalah, penis anaknya harus benar-benar sheat dan normal. Karena emaknya Khaleed males cek-cekan akhinya langsung aja milih yang konvensional. Metode yang dah dipake dari zaman dahulu kala.

Setelah memutuskan metode khitannya, saya langsung hubungi klinik khitannya. Saya memilih Seno Medika. Simple. Karena reputasinya bagus dan katanya prosesnya menyenangkan untuk anak-anak. Oia? Masa? Dan akhirnya saya datang deh kesana. Saat mendaftar, saya langsung konsul. Konsul itu wajib untuk memeriksa apakah anak kita ada kelainan atau gak. Sehat atau gak. Disana juga dijelaskan gimana persiapan khitan. Dan ditemukan, ternyata Khaleed phimosis. Googling sendiri yak apa itu phimosis.

Nah phimosis akan membuat proses penyembuhan Khaleed lebih lama dari anak-anak lain. Kalau yang lain seminggu, mungkin Khaleed dua minggu. Terus kalau yang normal jahitan akan mengering bisasa, kalau kasus Khaleed akan disertai nanah. Alhamdulillahnya, ternyata phimosis itu lebih cepat lebih baik dikhitannya. Saya bersyukur karena menyegerakannya. Karena kalau gak bisa berakibat buruk ke depannya.

Setelah konsul, saya memilih tanggal dan kelas. Tanggalnya seminggu setelah konsul (bisa besoknya langsung juga). Saya daftar khusus. Karena kata perawatnya, umum pun gak apa-apa. Yang berbeda hanya obat biusnya saja dan fasilitas tunggu berbeda kenyamanannya dan souvenirnya juga beda. Banyak dong bedanya. Haha. Lalu saya menceritakan ke Ummi saya tentang pilihan ini. Ternyata beliau was-was cucunya dapet obat yang kurang bagus. Akhirnya beliau mindahin deh ke VIP. 🙂

Sebelum hari H, saya lebih sering ngobrolin lagi tentang khitan. Kali ini lebih spesifik tentang proses hari H seperti yang dijelaskan saat konsul. Salah satunya adalah harus bangun pagi sekali, karena khitan mulai jam 4.30. Selain itu ada aturan seperti dilaang minum susu dan teh manis sebelumnya. Harus sarapan dulu, dll. Semua tentan proses yang dijelaskan pas konsul semuanya saya jelasin ke Khaleed.

Alhamdulillah, semua persiapan lancar. Bangun gak susah. Mau makan dulu. Dan gak pengen minum susu dan teh manis. Ada lagi, disuruh mandi dulu yang bersih juga udah. Tapi saking lancarnya, kami jadi kepagian datengnya. Belum buka. Hehe. Akhirnya kami menikmati muter-muter jalan bandung yang kosong. Kapan lagi kan. 🙂

Begitu sampai di klinik, dapat urutan pertama (karena kepagian tea kan). Kami pun menunggu di ruang tunggu sambil bermain. Alisha pun melek dan seger, jadi menambah keceriaan proses menunggu giliran.

Kurang lebih setengah jam, nama Khaleed akhirnya dipanggil. Hanya boleh dua orang yang naik ke ruang menunggu di atas. Dan kosong melongpong. Di ruang tunggu, kami dijelaskan kalau anak nanti akan masuk sendiri ke ruangan khitan begitu namanya dipanggil. Di ruang tunggu, nyaman, ada snack dan minuman hangat. Enak lah shubuh-shubuh ngopi. Begitu nama Khaleed dipanggil, kami anter Mas Khaleed ke pintu masuk khitan dan kami menunggu di luar. Saya bertanya ke petugas disitu, apakah sempat kalau saya dan suami shalat shubuh dulu. Dia bilang sempat, jadi kami shalat shubuh dulu.

Setelah kembali dari shalat, kami dipanggil lagi. Dijelaskan tentang perawatan pasca khitan yang sangat menentukan kecepatan pemulihan. Ada obat minum anti nyeri, antibiotik dan obat tetes untuk luka jahit. Selain itu ada rifanol untuk membersihkan bagian sekita luka jahit. Dijelaskan juga tata cara pipis. Makanan yang harus dihindari dan yang terkahir, jadwal konsul pasca khitan.

Tak lama setelah itu, Khaleed keluar deh. Dia keluar dengan matanya yang kayaknya habis nangis, bawa souvenir dan foto khitan. Oia, di ruang tunggu juga kami sempat berfoto ada photo corner sama dinosaurus, lucu deh.

 

 

Ajarkan Anak Tentang….

Adakah masalah yang sangat berat? Adakah masalah yang tidak bisa selesai? Adakah masalah yang bisa membuat kita hancur? Ada. Ketika kita tidak tenang. Ketika kita tidak sabar. Ketika kita marah. Ketika kita menginginkan sesuatu yang berlebihan. Ketika kita sulit bersyukur. Ketika kita tidak menggantungkan hati ini kepada Allah. Maka masalah menjadi sangat besar.

Kadang kita sombong dengan akal kita. Kita sombong dengan apa-apa yang Allah berikan, gratis!, sama kita. Kadang kita merasa kita paling pantas mendapatkannya. Kadang kita merasa perlu menunjukkan ke dunia, aku bisa!

Ketika Allah menguji, sedikit saja, kita mudah kecewa. Kita mudah marah. Kita mudah untuk berhenti berusaha. Kita lupa, kalau Allah sudah berfirman, Shalat… Sabar… Shalat… Sabar… Semua kondisi yang mungkin tidak nyaman, tidak enak, tidak sesuai harapan, diterima dengan ikhlas sambil terus berjuang dengan penuh kseabaran. Ya Allah saya sudah sabar lama sekali ya Allah. Terus sabar. Terus berusaha. Tanya ke Allah melalui shalat, apakah sudah benar ya Allah jalan yang aku pilih? Kalau Allah berkehendak, Allah akan meneguhkan hati kita. Juga kalau Allah berkehendak, Allah mantapkan hati kita untuk memilih jalan yang lain. Berusaha dan pasrahkan.

Begitu banyak nikmat yang Allah berikan pada kita. Tanpa bisa kita hitung. Kenapa sulit untuk bersyukur? Kenapa mudah untuk kecewa?

Semua orang bisa bahagia. Baik ketika kita harus tidur di kamar hotel termewah, maupun ketika hanya tidur beralaskan kardus bekas. Semua orang bisa bahagia. Baik ketika harus makan buffet masakan koki terhebat, mapun ketika harus makan segenggam nasi tanpa teman. Semua orang bisa bahagia. Baik ketika sedang menjadi juara, menjadi yang terbaik, di suatu bidang, maupun ketika sedang di pandang sebelah mata oleh manusia.

Ajarkan anak-anak kita untuk bersabar. Ajarkan anak-anak kita untuk ikhlas. Ajarkan anak-anak kita untuk bersyukur. Karena semua orang tua menginginkan anaknya hidup bahagia.