Merawat Kebahagiaan Mereka

Banyak hal yang terjadi yang pernah membuat saya terluka. Membuat segalanya menjadi gelap. Sesaat. Saya sempat takut menghadapi hari esok. Dengan ketakutan-ketakutan itu, saya belajar. Saya belajar memaafkan, tanpa harus ada yang meminta maaf. Saya belajar untuk ikhlas, meski kondisi tidak mudah. Saya belajar untuk mencari tujuan hidup, meskipun sulit sekali melihat dengan jernih, dengan jelas.

Kenyataannya, hari ini saya menikah. Memiliki dua anak. Memori itu tidak perlu saya hapus. Tidak perlu saya terus menerus mengingatnya. Yang terpenting hari ini, saya harus belajar. Terutama belajar bagaimana mengikhlaskan semua yang terjadi pada diri saya. Belajar percaya, bahwa Allah itu Maha Baik. Allah itu Maha Tahu. Allah itu Maha Segalanya. Jadi kalau pun ada yang harus saya takutkan dalam hidup adalah… Allah itu sendiri. Bukan yang lain.

Manusia itu lemah. Manusia itu banyak alfa. Manusia itu egois dan terkadang serakah. Tapi Allah tidak. Manusia itu memilih kebenaran. Allah itu Maha Benar.

Masa depan akan terus menjadi misteri. Melakukan yang terbaik hari ini bukan sebuah pilihan. Tetapi keharusan. Maka hasil adalah hak prerogatif Allah.

Ya Allah… Jadikan hati ini lembut untuk selalu tunduk pada-Mu. Jadikan hati ini selalu bersyukur kepada-Mu, agar bahagia didapat selalu.

Saya pandang lagi wajah-wajah suami dan anak-anak. Saya ingin merawat kebahagiaan mereka.

Saya ingin ketika kami terjatuh, saya menjadi yang terkuat yang akan mengambil tangan mereka untuk berdiri lagi. Sampai akhirnya mereka kuat untuk berdiri sendiri saat saya tidak lagi membersamai.

Saya ingin merawat kebahagiaan mereka, dengan menjadi teladan yang terbaik dalam bersyukur kepada-Mu. Karena kebahagiaan mereka bukan didapat dari jabatan yang akan mereka pangku, harta yang akan mereka kumpulkan, atau gelar yang akan mereka raih, melainkan hati mereka yang terus bersyukur kepada-Mu.

 

 

 

Advertisements

Aku Berjuang Melawan Rasa Takut

Pernah punya trauma? Mungkin yah. Ada gak sih orang gak punya trauma? Dulu, waktu kecil saya pernah dipatok ayam dalam jumlah yang banyak. Bayangin badan saya masih kecil yak, belum segede ini. Terus pas sudah SMP an, beberapa kali turun angkot, langsung dipatok ayam. Sakit? Sakit pisan. Saya kira ayam teh kecil lah. Tapi paruhnya teh keras dan ujungnya tajem yah. Nyebelin. Ayo kita makan saja mereka! *Nyambung yes*

Nah, kalau dulu level ketakutannya adalah “cuma ayam”, pas sekarang dah jadi mamak-mamak, alhamdulillah gak takut lagi. Soalnya kesian anak saya kalau saya takut. Ntar dia juga takut ngikutin saya.

Eh, setelah berani sama ayam, ada suatu kejadian yang membuat saya tertusuk… hatinya. *Eaaaa*. Dan ternyata saya lebih memilih kegores silet sekalian dibanding tertusuk hati. *Makin eaaa*. Karena kegores silet bisa sembuh cepet. Apalagi make betadine.

Dan setelah hatiku tertusuk tajam itu. Sejujurnya, ada sesuatu yang terus membayang-bayangi pengelihatan saya tentang masa depan. Di saat dulu saya sangat optimis untuk melangkah, sekarang saya menjadi seorang peragu. Semua dilihat dari kacamata paling pesimis yang mungkin terjadi.

Sedih? Sedih. Tapi kesedihan itu bisa berkurang ketika saya melihat keluarga kecil saya yang penuh keceriaan. Lalu saya berkata pada diri saya, be strong, for them!

Tapi ternyata menghilangkan trauma itu tidak mudah. Sekali saya memaafkan, tapi bayangan itu bisa terus muncul. Saat sulit tidur, saat merencanakan banyak hal ke depan. And I think, I am sick. I need pain killer.

Kalau dalam situasi ini, saya selalu ingat firman Allah, “Jadikanlah shalat dan sabar menjadi penolongMu.”

Disitu saya merasa, ok. Ini bagian dari hidup yang harus saya jalani. It all already happened. Sekarang, kebahagiaan saya, saya yang tentukan. Mau terus menderita dengan bayangan masa lalu? Atau mau menjadikan bayangan itu suatu motivasi, untuk memperbaiki hidup ke depannya jauh lebih baik?

Mau kacau dengan segalanya? Apa mau menjadi jauh lebih hebat karena mampu membalikkan keadaan menjadi jauuuuuuuuuuuuuuuuuuh lebih baik?

Thank you Allah for the pain you gave. Now I know, that life isn’t for a childish girl. Life is well served for the toughest one, and you know I can handle it as you gave me all the things I need. Please guide me to always be thankful for everything. Ya rahman, Ya rahiim, please guide me, guide me to always be on Your way.

Belajar Membaca Paper

Oia, sebelum cerita yang berkaitan dengan judul ini, saya pengen ngabarin kalau dari postingan terakhir, dimana saya menggalau karena masalah gak selesai di alat yang dibuat, alhamdulillah, dua bulan ke belakan sudah berhasil implementasi dan ambil data. Dan sekarang, saatnya nulis paper.

Dapet data buat saya, adalah suatu yang sangat menjanjikan ke depannya. Keyakinan akan kelulusan yang makin dekat jadi semakin besar. Data. Ya Data. Eits, tapi jangan seneng dulu. Kenapa? Karena semua hasil dalam penelitian itu harus mampu dituliskan. Dijelaskan ke khalayak. Dan rule of thumbnya kata pembimbing saya adalah, “As simple as possible, but as clear as possible”. Disitu yang susah.

Dan kali ini pembimbing memberi tantangan yang sedikit berbeda. Kalau kemarin-kemarin saya sudah publikasi dua buah paper di conference IEEE, dan salah satunya dapet award best paper, itu sebenarnya bukan pencapaian yang diharapkan. Kenapa? Karena level conferencenya masih “gampang”, menurut pembimbing yah, bukan menurut saya. Soalnya tetep aja saya kemarin jumpalitan nulisnya juga ampe nangis darah. *lebay lu din* *iya gw lebay*

Kali ini saya ditantang untuk submit ke conference yang bisa dibilang reputasinya termasuk yang terbaik di dunia dalam bidang yang saya geluti. Sejujurnya, dengan reputasi conference yang bagus setidaknya membuat niat saya ngerjainnya beda. Lebih niat. Lalu saya menulis digest pertama kali. Dan……………… JELEK BANGET! GAK BERMUTU! MAU NGOMONG APA SIH LU NDA? Kira-kira begitu lah ekspresi orang yang baca digest saya yangs aya tulis pertama kali.

Lalu saat liburan lebaran kemarin, saya dikasih angpau sama pembimbing. Penasaran gak berapa angpaunya? 40. Ya. 40 paper berkualitas di topik yang saya tekuni sekarang. Dan jujur, saya pengen pingsan pertama kali dikasih tahu suruh mempelajari itu. Dalam waktu 3 minggu sebelum submit digest.

Tapi, bukan Adinda namanya, kalau nyerah begitu aja, dan bilang, “Pak, saya gak jadi aja deh submit ke conference itu. Cari conference lain yang biasa aja lah Pak.” Tapi sebaliknya, saya jadi tertantang dan semangat buat baca paper. Awalnya. Haha. Karena baca paper pas liburan buat emak dua anak yang lagi superaktif ini, nearly, impossible. Hufh.

Akhirnya baru nyempetin di akhir-akhir ketika anak-anak banyak yang mau ngasuh, yaitu pas silaturahmi lebaran. Dengan waktu yang singkat, tentunya diperlukan strategi dalam membacanya. Masalahnya, saya harus bukan sekedar membaca, tapi juga menganalisis kelemahan dan kekuatan paper-paper tersebut.

Thanks to Kuliah Pak Dwi yang ngajarin gimana cara nganalisis paper. Lalu setelah belajar sedikit paper dari 40 itu, saya edit digest saya. Dan hasilnya? MASIH JELEK! Ampun. Stress saya. Heuheu.

Lalu saya berdiskusi panjang dengan senior di lab. Dan mendapat pencerahan. Motivasi bagaimana mennackle paper orang dan menunjukkan signifikansi pekerjaan kita. Ulala. Merasa semangat lagi. Dan berusaha mencuri waktu di tengah sibuknya silaturahmi lebaran yang ternyata belum usai. Padahal deadlinenya bentar lagi. Tapi berhubung saya tipe orang yang put family first, jadi gak mungkin ngorbanin agenda silaturahmi. Maka saya baca paper dan menganalisisnya dari tadi jam 1 malam.

Berharap otak encer. Tapi ternyata gak. Haha. Gapapa. Kadang dalam hidup ini bukan cuman sekedar cerdas, tapi juga harus persistent. Dan kebodohan saya dalam mencerna paper, gak boleh menghentikan saya untuk berhenti mengerjakannya. Karena hidup itu ya berproses. Mana bisa jago kalau gak nyoba dan nyoba terus. Mana bisa berhasil kalau sekali gagal, udahan. Jadi, mari kita belajar lagi. Dan sekarang judulnya belajar baca paper.

Semoga akan tiba suatu saat dimana saya gak perlu stabilo dan excel untuk summary analisis paper saya. Karena kelak otak saya sudah otomatis bekerja menganalisis dan menyimpan hasilnya sendiri. Ceileh. Bismillah. Doakan saya yah manteman.

Salam super! Wkwkwkwk

Menemukan Titik yang Sama

Dalam riset, ada kalanya kita stuck. Dan kali ini, saya merasa di titik yang sama saat dulu S2. Stuck. I have to fix something. But the more I fix it, it getting worse. Sampai ada di titik jenuh. Ini harus diapain lagi. Kemana saya harus belajar? Dulu mikir, kalau di Indonesia enak nih, banyak yang bisa ditanyain, di Korea dulu, pengen nanya-nanya, tapi jelasinnya pakai bahasa Korea, ya susyeh juga akhirnya. Sekarang? Dah di Indonesia, tapi lupa, kalau temen-temen yang bisa ditanyain itu sekarang sudah kemana-mana. Lalu saya bingung. Apa yang harus saya lakukan?

Akhirnya saya memutuskan untuk menulis saja di blog. Berharap setelah menulis, otak agak renggang, terus encer, terus dapet ide harus melakukan apa. Mode saat ini mode yang sangat nggemesin. Ketika masuk ke tataran yang konrit (terdefinisi) tapi justru stuck. Gak tahu harus diapain.

Karena udah gak tahu mau nulis apa lagi. Jadi saya mau meminta doa saja dari saudara, teman yang kebetulan lagi baca blog saya. Doain saya yah. Biar cepat lulus. Biar dapat ide, dapat solusi dari ke-stuck-an saya hari ni. Nggemesin mbak sis, mas bro. Kok ya kayaknya selalu bisa dibayangin, tapi pas dikerjain, gagal lagi, gagal lagi.

Katanya sih Thomas Alfa Edison dulu juga gagal berkali-kali sampai akhirnya bisa bikin lampu pijar. Yah, nyoba nyama-nyamain diri aja deh sama Om Thomas. Intinya jangan gampang nyerah. Jangan pundungan. Apalagi sama benda mati kayak FPGA, sensor arus, ADC, jangan! Relax dulu aja sebentar. Padahal deadline tinggal 11 hari lagi (Setelah diextend 14 hari). Gila, saya merasa bodoh, dah diextend tetep gak jalan alatnya.

Oh Tuhan, sungguh ini postingan tergalau tingkat dewa. Kegakpentingannya ngalahin omongan ahok soal password WIFI. Loh kok malah nyambung ke Ahok? Wkwkwkwk. Dah ah. Lumayan dah bisa nulis sambil ketawa-ketawa sendiri di lab. Sudah adzan ashar juga. Dan mau nginep di enin juga. Jadi berharap bisa begadang malam ini. Bercumbu dengan codingan Verilog untuk FPGA ku tersayang. Semoga kelak kau mampu membaca sensor arus analog secara benar. Konsisten. Tidak berubah-rubah layaknya ABG yang baru masuk SMP (Eh, sekarang mah anak SD juga dah ABG yak).

 

Pembuatan Visa Korea

Nah, berikutnya adalah pembuatan visa. Di awal saya ingin sekali mengurus visa sendiri tanpa menggunakan biro. Alasan pertama, karena penasaran. Alasan kedua, untuk jumlah turis 21 orang ini, pasti lebih hemat di travel. Dimana travel di Bandung rata-rata menawarkan 750.000 rupiah. Hemat sih kalau bikinnya 1, tapi kalau banyak? Lumayan ruginya. Bisa saya konversikan ke makanan enak di Korea atau hotel yang agak bagusan.

Akhirnya dengan modal liat di web kedutaan korea dan nelepon langsung ke kedutaan, semua syarat saya penuhi dan berangkat. Sampai di kedutaan, ternyata sudah pindah dari terakhir duu saya buat. Jaman saya terakhir kesana, bikin visa masih di Plaza Indonesia. Sekarang sudah kembali lagi ke gatsu. Walaupun jalanan macet, alhamdulillahnya, masih buka visa sectionnya. Tapiiiiiii berhubung visa yang mau dibuat 22 orang (eh salah yah, dr kemarin bilang 21 orang, 1 bayi diitung kalau buat visa mah, jadi 22 orang), jadi gabisa jalur yang biasa. Harus jalur grup yang mana sudah tutup dari jam 10.00. Okelah. Gagal.

Berhubung effortnya besar ke Jakarta, plus kerjaan numpuk di bulan Oktober ini, akhirnya saya coba perhitungkan lagi dengan matang persyaratannya, jangan sampai pas berikutnya kesana, gagal lagi, balik lagi, jadi mahal deh. Nah, sebelum ngurus lagi, di suatu malam yang galau, saya menemukan ezytravel (http://ezytravel.co.id/visa). Yup travel agent online yang ada di banyak negara. Dan sedang menawarkan diskon pembuatan visa kalau membayar dengan doku wallet. Akhirnya saya cari-cari info deh gimana cara punya doku wallet. Dan… Yuhuuuu. Dapet. Tapi effortnya adalah harus satu-satu transaksinya, karena diskonnya per transaksi. Daaaaaaan…. Satu doku wallet hanya bisa transaksi 5 juta. Jadi deh, saya bikin 3 doku wallet a.n. Saya, SUami dan Ummi. Sukses!

Nah, ini enak nih, komunikasi persyaratan via email. Berikut adalah persyaratan visa yang harus dipenuhi dari eztravelnya:

  1. Passport masa berlaku 7 bulan + Paspor lama
  2. Pas Foto berwarna 4 x 6 = 2 lembar background putih
  3. Fotocopy bukti keuangan rekening atau tabungan dan ada stamp bank
  4. Surat Referensi Bank (jika diperlukan/bagi paspor baru dan belum ada visa lainnya)
  5. Surat Sponsor dari perusahaan (Bahasa Inggris)
  6. Fotocopy SIUP (jika pemilik)
  7. Fotocopy KK
  8. Fotocopy Akte Nikah
  9. Fotocopy Akte Lahir (anak)
  10. Fotocopy Kartu pelajar/surat ketrerangan sekolah
  11. Fotocopy Surat Ganti Nama (Jika ada)
  12. Fotocopy SPT (PPH 21) bagi Paspor baru / belum ada visa Korea dan visa lain
  13. Bagi istri yang bepergian sendiri harus ada surat ijin dari suami,  bagi anak yang bepergian sendiri harus ada surat ijin dari orang tua
  14. Copy semua paspor yang ada stamp dan visa

Nah, dari semua persyaratan itu yang paling banyak failnya adalah, foto nya rusak, kelipet, SPT PPH 21 banyak yang belum lapor pajak atau baru punya NPWP, dan yang terakhir, untuk surat-surat keterangan, jangan ada yang tulis tangan atau beda tinta. Itu aja sih.

Seminggu kemudian, visa kami ber 21 jadi. Oow. What? 21? Katanya tadi 22? Iya, yang satu nyangkut. Jadi karena gak punya SPT, teman saya satu nyangkut. Alhasil dia harus bikin surat keteragan yang menyatakan dia gak punya SPT karena baru bikin NPWP. Begitu surat itu diurus, 4 hari kerja beres deh. Last minute pisan. Senin berangkat, jumat siang beres. Itu ge dah alhamdulillah. 🙂

Dan alhamdulillah akhirnya 22 orang berangkat semua setelah mengantongi visa di paspornya masing-masing.

Rencana Perjalanan

Yak, mari kita mulai dengan rencana perjalanan, yang mana orang keren bilangnya itinerary. Sebelum kesana, sedikit cerita dulu tentang pesawat. Berhubung judulnya ini backpackeran ke Korea, jadi kami mencari airlines termurah yang kami bisa dapatkan. Awalnya kami memiliki 3 pilihan:

  • Cathay airways
  • Garuda Indonesia
  • Airasia

Mari kita bandingkan kelebihan dan kekurangannya.

  • Cathay Airways
    • Plus
      • Dapat makanan dan bagasi
      • Transit di Hongkong, kalau lama bisa keluar tanpa visa
      • Kalau yang suka ketemu orang macem-macem, pilihan yang tepat, karena hongkong tempat transit dari berbagai negara
      • Pilihan durasi transitnya banyak
      • ada entertainment kitnya lengkap di pesawat
    • negative
      • harga murah jika return dan jauh-jauh hari banget. Misalnya 6 bulan sebelum keberangkatan. Jadi rencana harus pasti. Cuti harus dibuat jauh-jauh hari.
      • Pesawatnya, gak baru. Agak dekil. *penting yah*
      • Ada makanan halal di pesawat, tapi masakan india gitu, menurut saya gak enak.
  • Garuda Indonesia
    • Plus
      • Buat saya ini airlines banyak plusnya. Salah satunya adalah makanannya enak.
      • Dapet bagasi.
      • Tidak transit-transitan. Ada sih yang transit di Bali, tapi direct juga ada dan harga gak terlalu jauh beda.
      • Ada bahasa Indonesianya.
      • Pesawatnya interiornya bagus
      • Ada entertainment kit lengkap di pesawat
    • negatif
      • mahal. kalau pun ada promo, beneran susah dapetinnya. mesti ngantri-ngantri niat. gabisa ngantri setengah hati.
  • Airasia
    • Plus
      • Murah kapan saja. Ya gak kapan saja juga sih. Tapi lebih banyak promonya dibandingkan airlines lain.
      • Pesawat bagus.
    • Negative
      • Gak dapet makanan. Tapi bisa mesen. Kira-kira sekali makan 55rb plus minum.
      • Gak dapet bagasi. Kalau untuk backpackeran sih Oke. Tapi kalau gak mau pusing sama bagasi emang jadi nyebelin. Jadi harus diitung sama beli bagasi murahan mana sama airlines lain. Tapi biasanya sih tetep lebih murah, tapi lebih murahnya jadi gak jauh.
      • Gak ada entertainment kit. Untuk perjalanan Korea-Jakarta yang kalau direct flight bisa 7-8 jam, naik airasia ini emang bosenin. Kecuali malem. Perjalanan yang lama dari KL ke Incheonnya. Tapi untuk backpacker mah, bisa diakalin, dengan bawa tab atau laptop yang udah didownloadin film-film seru. Atau bawa ipod yang udah diisi musik2 enak.
      • Akhir-akhir ini suka delay. Yup. Perjalanan saya ke Korea dua kali terakhir menggunakan airways ini. Iya sih dia kasih kompensasi. Contoh dikasih makanan. Diganti pesawatnya, karena ketinggalan delay di pesawat sebelumnya. Tapi perkara delay ini menurut saya membuat eneg. Dan malesin. Karena resikonya itu, ketinggalan pesawat berikutnya, atau bisa aja kita keangkut, tapi bagasinya delay karena gak sempat keangkut di pesawat berikutnya. Males kan?

Nah, awalnya kami berniat naik garuda indonesia. DImana saat itu harga yang ditawarkan paling murah 6 juta. Tapi itu tidak masuk budget kami di awal. Walaupun kalau perjalanan sendiri sih, saya akan ngehemat makan di Korea dan hotel di Korea untuk naik Garuda. Tapi berhubung kami grup, jadi saya memilih tetap makan enak dan hotel yang gak terlalu menyedihkan di Koreanya.

Sebagai tambahan informasi, tiket 6 juta itu harus didapat melalui antri-antrian di pameran. Jadi kalau mau dapet, kuatkan niat dan tekad. Tapi sekali lagi, menurut saya, ini worth it. Tahun 2010 saya dapet return tiket termurah di 4.2 juta make garuda. Tapi heloooo. itu 6 tahun yang lalu. kkkk.

Nah, kenapa gak make cathay? Sebenarnya cathay ini menurut saya pilihan yang lebih asik sih dibandingkan naik airasia. Sayangnya kami memutuskan untuk jadinya kelamaan. Keburu harga murahnya cathay ini lenyap. Saya dua kali mendapatkan cathay dengan harga bagus. Dan itu, hanya ketika memesannya jauuuuuuuuuuh jauh hari. Sedangkan pas suami dulu dadakan harus ke Indonesia, harus bayar 8 jutaan. Fiuh.

Jadi, silahkan pilah pilih airways yang sesuai dengan budget dan kebutuhan anda.

Nah, kalau udah jelas pesawatnya kan jadi enak bikin itinerarynya. Berhubung kami dapatnya airasia, jadi kami memilih tanggal yang sesuai murahnya, yaitu 24-28 oktober 2016. Berikut itinerary kami:

Hari pertama:

  • Mendarat di Incheon
  • Kunjungan ke SMA Perempuan Hyehwa di Seoul
  • Yeouinaru
  • Seoul Tower

Hari kedua:

  • Kunjungan ke TK dan SD Gireum di Seoul, sementara yang lainnya berbelanja di dongdaemun
  • Bukchon village
  • Gyeongbokgung palace
  • Seoul Mosque, Itaewon
  • Abis itu ada yang ke Myeongodong ada yang ke Dongdaemun

Hari ketiga:

  • Nami Island
  • Rencannaya ke Petite France (tapi gda duit.kkk. di luar rencana awal)
  • Myeongdong
  • Chyeonggyechon river
  • Ada yang ke dongdaemun lagi, ada yang ke myeongdong lagi.

Hari keempat:
Pulang ke Indonesia.

Demikian rencana perjalanan kami. Kalau anda berpergian berdua atau bertiga, mungkin sehari bisa dapet banyak. Tapi berhubung kami grup dan bukan travel, a.k.a. backpacker, jadi memang agak lama moving satu tempat ke tempat lainnya.

Ngeguide ke Korea

Yup. Beberapa waktu lalu, saya berkesempatan menjadi guide 21 orang Indonesia yang ingin berkunjung ke Korea. Mereka semua membiayai sendiri perjalanan mereka, namun di dalam perjalanan ini, kami juga memiliki agenda lain, yaitu kunjungan ke sekolah-sekolah di Korea. Karena sebagaian besar anggota grup ini adalah guru.

Cerita ini akan saya buat menjadi beberapa seri. Akan saya bagi seperti ini:

  • Rencana perjalanan
  • Pembuatan visa
  • Pengkondisian peserta sebelum keberangkatan
  • Telekomunikasi di Korea
  • Pertengahan musim gugur di Korea
  • Penginapan murah
  • Jika pesawat kita transit
  • Kunjungan ke SMA di Korea
  • Jalan-jalan hari pertama
  • Kunjungan ke TK dan SD di Korea
  • Jalan-jalan hari kedua
  • Ke Nami Island
  • Belanja di Myeongdong
  • Peroleh-olehan dari Korea

Nah, berhubung banyak banget yang pengen saya share disini, jadi nyicil yah buatnya. Sebagai informasi awal, keberangkatan kami waktu itu adalah tanggal 24-28 Oktober 2016. Dimana saat itu adalah musim gugur.

Segitu dulu yah, ditunggu postingan berikutnya.