Survey Paper

Alhamdulillaahirrabbil aalamiin. Akhirnya tugas survey paper beres juga. Senang deh dikasih tugas berat ini. Banyak pelajaran yang diambil. Walaupun sisi menyedihkannya juga ada. Lantai gak disapu dan dipel 2 hari. 2 hari melewatkan kegiatan keluarga yang seru-seru. Makan jadi beli terus da jadi males masak. Dan kasian ngeliat suami dan anak yang ala kadarnya diservice di akhir minggu. 😀 Makasih atas pengertiannya yah Ayah dan Khaleed.

Kadang suka penasaran, kenapa sih Ayah kok dukung banget Bunda buat S3? Selalu jawabannya, karena kayaknya passion Bunda disitu dan itu cita-cita Bunda. :’)

Jadi kemarin dikasih tugas untuk buat survey paper. Dan kebetulan pembimbing baru saja mengubah arah riset saya dua minggu yang lalu. Jadi belum banyak paper yang sudah dibaca. Dari sedikit paper yang dibaca (baca: 13 paper) dan metode bacanya baru skimming dan catet poin-poin menariknya aja, akhirnya menulis survey paper ini menjadi sangat stuck.

Seminggu pertama habis untuk membaca paper. Karena menurut saya menulis itu gampang ketika kita sudah punya knowledge yang cukup tentang apa yang mau kita tulis. Nah, ketika belum baca ya stuck. Jadi gak salah meluangkan banyak waktu dulu untuk membaca.

Sampai akhir deadline tinggal 3 hari lagi, baru saya mulai menulis. Dan ternyata, oops! Masih gak cukup bacanya. Dibaca lagi lah paper yang sudah dibaca itu. Dipahami betul. Bedanya apa satu sama yang lain. Apa poin-poin yang mencerahkan yang bisa memperkaya tulisan saya. Dibuat struktur kasarnya. Dirapihkan referensi setiap pendapat. Dan yup! Jadi introduction dan abstract. Saya merasa puas dengan dua section ini.

Pas menulis body nya malah yang pusing tujuh keliling. Apalagi dengan waktu yang terbatas. Akhirnya mau gak mau stop lagi nulisnya. Baca lagi paper-paper yang propose hal-hal penting dan pionir. Amazingnya ternyata pembimbing saya kayaknya nih pionirnya di bidang survey paper yang saya tulis.

Kelelahan dan kejenuhan akhirnya menghampiri. Keseriusan mengerjakan body tidak seserius saat mengerjakan abstract dan introduction. Akhirnya ya, copas sini, gambar juga. Langsung taro-taro aja. Duh, gak bener ini. Mikirnya nanti aja deh kalau ada waktu digambare ulang dan cari kalimat yang agak beda. Dan agak gak puas sama proses body of papernya.

Terakhir, bikin spesial issue, kesimpulan dan peluang penelitian. Pas bikin spesial issues, dah dapet poin-poinnya. Tapi gak bisa menjabarkannya dengan baik. Pas buat kesimpulan bolehlah agak puas. Pas bikin future works juga poin-poin aja jadinya.

Sampai senin pagi jam 3 baru beres. Dan baru bisa tidur jam 3 itu. Badan remuk. Tapi saya belajar banyak sekali. Membaca itu penting. Dan harus bisa bedain mana bacaan yang cukup dengan skimming atau analitis. Semakin dapet motivasi riset ke depan setelah membuat survey paper yang jauh dari sempurna ini. Semakin jelas aja rasanya. Walaupun saya yakin, untuk mengembangkan hal baru perlu perjuangan lebih lagi.

Tapi, jujur, saya sangat menikmati kuliah S3 ini. Suami yang sangat pengertian. Anak yang gak rewel dan ceria mampu diajak berkomunikasi dengan baik, membuat saya semakin semangat untuk do the best di riset S3 ini. Ayo Adinda! You already have all you need to be successful in your research! Ganbatte!

Inget! You cannot fail if you don’t give up!

Bangkit Lagi

Kalau lihat cerita hidup ke belakang. Begitu banyak kegagalan, tapi juga banyak keberhasilan. Dan yang bisa merubah kegagalan menjadi keberhasilan adalah semangat untuk bangkit lagi. Melupakan lelah. Meniadakan sakit. Mengenyahkan kemalasan.

Sekarang tiba masa menghadapi riset sesungguhnya. Setelah selesai membaca-baca paper yang menurut saya adalah masa-masa yang indah, sekarang mulai melakukan sesuatu untuk memperbaiki riset-riset sebelumnya. Apa yang dapat dijadikan lebih baik?

Hufh! Secara ide sudah ada mau diapain. Tetapi pas mencoba dan gagal. Tiba-tiba jadi sakit perut, pusing, kedinginan, dan bawaannya malah pengen pulang dan tidur bermimpi yang indah. Heuheu.

Akhirnya memutuskan untuk mengurungkan niat itu. Dan keluar mencari angin segar. Meneguk secangkir kopi. Mencari kudapan manis.

Kembali ke lab ada perasaan yang lebih baik dari sebelumnya. Yaitu perasaan ketika ternyata saya berkali-kali gagal tuning PI untuk current controller yang sederhana. I feel stupid. But, hey! Jangan jadi anak manja! Coba lagi!

Sejak kapan usaha sejam dua jam bisa dibilang gagal dan cukup jadi alasan untuk menyerah? Sejak kapan? Ayo bangkit! Semangat! Kalau saya bersungguh-sungguh pasti akan bisa. Ingat apa yang dibilang Pak Richard di awal semester, “You can’t fail if you don’t give up!”

Terimakasih blog, atas kesempatan merefleksikan perasaanku hari ini.

Bismillah! Bangkit!!