Black.ish: Make Time for “Us”

images

Hihi. Judulnya sok Inggris banget yah. Harap maklum yah. Btw, sekarang saya mau ngebahas sebuah film yang banyak membuat saya berfikir tentang hidup, terutama keluarga. Sebelumnya saya kasih intro dikit yah, Black.ish ini adalah serial dari ABC TV yang menceritakan tentang Dre dan Bow. Mereka adalah suami istri dengan 4 anak, awalnya, lalu di episode sekian jadi 5, yeay, banyak yah untuk jaman sekarang. Dre adalah seorang black american. Bow, dia mixed.

Film ini menarik karena banyak menggambarkan masalah-masalah yang ril dalam masyarakat amerika dan keluarga disana. Dalam konteks masyarakat, film ini membahas pentingnya mereka menghargai sejarah black american, bersuara untuk keadilan yang banyak mendeskreditkan black american, dll. All about black. Tentang keluarga, film ini bercerita tentang komunikasi anak-anak dan ortunya yang kadang tidak mudah, pra baligh, counting the blessings, agama, tradisi, dll.

Semua topik itu terasa sangat nyata tapi tetap lucu. Sampai season 4, saya merasa ini film komedi keluarga yang value-nya solid. Konflik yang disajikan selalu dilengkapi dengan “how they handle it, in the end“.  Nampaknya benang merah yang saya coba tarik dari bagaimana mereka menangani konflik dalam keluarga adalah jujur dengan apa yang dirasakan, menerimanya dan mengkomunikasikannya dengan baik.

Tapi begitu sampe season 5. Terutama di 3 espisode terakhir, saya bener-bener ngerasa, omaigat, this is drama. Fiuh. Siapin tisu. Kesel deh karena kenapa jadi film sedih gini sih? Why? I enjoyed the previous’ so much. Kenapa harus end up like this.

Season dan episode sebelumnya silahkan nikmatin sendiri yah. Saya nonton di Hooq. Tapi 3 episode terakhir ini pengen banget saya tulis tentang pengalaman perasaan saya saat menontonnya. I watched those three times. Hah. Awalnya kesel, tapi entah kenapa, kok lama-lama jadi doyan ngeliat film penuh konflik batin gini. Apakah saya salah? >_<

Anw, jadi yang bikin saya mengulang-ngulang 3 episode itu adalah, saya pengen belajar, how a marriage ends up like hell. Why did it happen? And how?

Kayaknya susah mendefinisikannya kenapa suatu rumah tangga bisa terasa dingin, datar bahkan horor. Tapi yang saya tangkap adalah ketika mereka melupakan bagaimana mereka memulai rumah tangga. Mereka sibuk dengan capaian masing-masing, dan lupa dengan mereka berdua, dua manusia yang dulu memulai sebuah rumah tangga ini. Mereka lupa masa-masa dimana mereka masih bisa tersenyum lebar, dag dig dug, saat bertemu pasangan. Saat mereka dengan bahagianya menyebarkan undangan pernikahan. Berdiri berdua di atas mempelai jadi ratu dan raja sehari.

Tapi pernikahan bukan tentang kesenangan semata. Mereka mulai sadar ketika mereka harus berdiri berdua saja untuk membangun hidup sendiri. Mereka berjuang membangun semuanya dari nol. Membagi pekerjaan. Sambil berusaha menyeimbangkan tugas-tugas harian dengan kewarasan. Belum lagi menemukan banyak hal dari pasangan yang ternyata banyak yang di luar harapan.

Kondisi semakin sibuk, ketika mereka memiliki anak. Mereka perlu bener-bener belajar banyak hal baru dalam mengasuh anak-anak yang selalu ada aja tantangan di setiap fase perkembangannya. Selain itu, semakin bertambah jumlah anggota keluarga, kebutuhan keluarga pun makin besar. Gak ada cara lain selain bekerja semakin keras, dan keras. Sampai akhirnya mulai merasa, this my career. I will pursue my dream. Yes, “mine”.

Perlahan tapi pasti mereka berhasil sedikit demi sedikit memenuhi kebutuhan mereka, bahkan lebih dari cukup. Semua hal itu ternyata men-challenge mereka untuk lebih baik lagi. Tapi di sisi lain jadi lebih demanding. Mereka melihat ke belakang, dan merasa mereka telah melakukan banyak hal hebat. Di sisi lain, mereka tidak sadar, ketika mereka kembali ke rumah dan melihat pasangannya, ternyata, mereka telah berjarak. Yup. Bahkan terlalu jauh jaraknya.

Jarak yang diciptakan karena mereka tidak lagi saling melihat satu sama lain. Karena mereka sibuk memikirkan banyak hal yang terjadi “akibat pernikahan”. Di akhir mereka menyadari, sudah banyak hal yang berubah di dirinya dan pasangannya. Mereka bahkan lupa hal-hal apa saja yang paling diinginkan dan disukai oleh pasangannya. Uhm. Mungkin bukan lupa. Tapi tidak peduli lagi. Dan ternyata itu menyebalkan bagi pasangannya.

Itu yang terjadi pada Dre dan Bow. Karena jarak itu, maka masalah kecil yang biasanya bisa diakhiri dengan baik, tapi kali ini tidak. Mereka jadi lebih sering menilai pasangannya dengan kacamatanya masing-masing. Uzur jadi jarang diberikan atas kesalahan pasangan, suasana jadi sangat menyesakkan dan menegangkan. Mereka jadi lebih jujur tentang ketidaksukaannya dengan pasangannya, daripada menunjukan kesukaannya terhadap pasangannya. Less appreciation, more judging. Akhirnya semua berubah jadi kondisi yang super duper melelahkan.

Mereka akhirnya memilih untuk pisah rumah. Memberikan ruang satu sama lain. Namun ternyata itu tidak banyak membantu. Keadaan makin parah ketika mereka semakin berusaha kuat untuk menyenangkan anak-anak mereka bahwa perpisahan sementara ini akan berhasil, dan ternyata tidak. Ya. Akhirnya mereka berpisah.

Sampai suatu malam, Bow menelepon Dre dan mengabarkan Ayahnya meninggal dan malam itu juga, Dre mendatangi rumah Bow. Dan memberikan dukungan penuh untuk Bow melewati masa-masa berduka kehilangan ayahnya. Bow merasa sangat terbantu mengatasi situasi sulit itu. Dia menawarkan Dre untuk tetap bersamanya, kalau Dre mau. Dan Dre menerimanya. Pelukan hangat dan tulus dari Dre untuk menghilangkan kesedihan Bow atas kepergian ayahnya, bagi Bow terasa seperti “This is what I need“.

Dan kali itu mereka jujur, dan menyerah, bahwa sebenarnya, hidup bersama memang penuh perjuangan. Namun berpisah pun penuh perjuangan. Ketika ruang untuk kembali bersama itu terbuka dengan sangat natural saat kepergian ayahnya Bow, maka mereka memilih untuk tetap berusaha dan berjuang lagi untuk kebersamaan mereka.

Di akhir episode, seorang terapis berusaha menjelaskan kondisi mereka dengan analogi thanksgiving dan kalkun. Mungkin saya gak akan menuliskan itu disini. Tapi saya ingin menerjemahkan saja. Ketika kita menikah, kita akan sibuk dengan banyak hal baru yang harus kita selesaikan. Pekerjaan itu kadang terlalu banyak, sehingga pasangan lupa tentang “kita” sebagai “pasangan”, bukan sebagai ayah/ibu, pekerja, anak/mantu, anggota masyarakat dll. Kita menaruh “kita” di prioritas terakhir dari semuanya. Bahkan seringkali tidak dikerjakan.

Kita lupa membangun kita. Kita lupa menghangatkan kita. Kita lupa memperhatikan satu sama lain. Kita bekerja untuk bayaran rumah, sekolah, makan sehari-hari, liburan keluarga, haji, dan lain-lain. Tapi kita lupa bekerja untuk kita. Yang memang harus dikerjakan, diusahakan, tidak bisa “take it for granted“.

So, couples, let’s make time for “us”. 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s