Kehidupan Kami di Yangon

Yup. Kami tinggal disana sebulan saja. Karena suami kembali ditempatkan di Jakarta. Alhamdulilah.

Di Yangon, hiburan kami sedikit. Mall lagi, mall lagi. Tapi disini yang bikin nyaman apa coba? Orang-orangnya kebanyakan bisa bahasa Inggris dan ramah-ramah. Gak banyak liat orang teriak-teriak atau nyolot. Lebih banyak liat orang senyum. Mereka juga gak aneh sama orang asing. Gak kayak, duh gmau ngomong gw, lo aja.

Harga disini pun beda-beda tipis sama di Bandung. Di Bandung yah, bukan di Jakarta. Jadi relatif lebih murah di Yangon. Terutama grab/taksi nya. Mungkin karena jalanan gak terlalu macet juga yah dan karena mobilnya mobil tua semua. Konon katanya, mereka banyak mengimpor mobil bekas dari Jepang. Jadi mobil-mobilnya banyak yang jadul. Jadi Yangon ini bisa jadi pilihan liburan hemat atau kalau kerja disini, dijamin savingnya banyak. 😀

Kami datang ke Yangon, di musim yang memang kurang asyik, jadi gak gitu banyak bisa nikmatin ruangan terbukanya. Istilah mereka moonsoon. Jadi musim hujan. Dan hujannya disini tuh guede banget. Deras dan anginnya kencang. Jadi beneran bikin males kemana-mana. Plusssss, tiap hari. Non stop. Jadi kalau mau berkunjung kesini enaknya Desember-Maret, katanya.

Mereka punya ruang terbuka banyak banget. Tamanya banyak. Ada yang unik yang ditemukan di banyak taman disini. Yaitu peraturan dilarang bercumbu. Hehe. Sampe-sampe ditempel dan digambar di setiap taman. Ternyata emang ya ampuuunnnn, disini orang pacaran pada di taman dan bisa berbuat yang aneh-aneh emang. Jagain anak-anaknya dan pilih waktu yang gak gelap aja.

Selain taman, ruang terbuka yang banyak dikunjungi, PAGODA. Dimana-mana bakal nemu banyak pagoda. Buat saya sih ini hanya wisata foto aja. Hehe. I am not that interested to learn other religion’s story. Lah, belajar Islam aja masih belang betong.

Karena lagi musim ujan, jadi beneran banyak ke Mall. Sampai-sampai Alisha kalau pagi-pagi baru bangun, sarapan, dan mandi, langsung nanya, Bun, kita ke Mall ? kkkk. Alhamdulillah walaupun mall-hotel lagi, anak-anak tetep seru dan berkesan. Karena banyak keunikan yang ketangkap sama anak-anak.

Salah satunya, tanaka. Tanaka adalah serbuk kayu yang dicampur air, lalu dioleskan di kulit. Banyak sekali orang menggunakan tanaka. Lebih sering dijumpai di anak-anak dan perempuan dewasa. Katanya, si Tanaka ini bisa bikin kulit adem, bersih dan lembut. Suatu hari, kami pergi ke pasar untuk beli Tanaka. Alisha semangat dipakein. Eh, Khaleed sebel banget. Apalagi pas saya make, dia sampe nangis-nangis minta saya ngehapus tanaka. >_<

Pengalaman unik lain buat anak-anak adalah, bahasa. Bisa dibilang kami disini Full English, karena hampir semua orang yang kami temui mampu berbahasa Inggris. Di hotel, di restoran, di supermarket, di taksi, semua bisa bahasa inggris walaupun sedikit. Anak-anak jadi belajar bahasa baru. Selain bahasa inggris, untuk ungkapan-ungkapan sederhana dalam bahasa Burma, anak-anak pun mencoba mengerti, seperti Chesuba (terimakasih), Minglabar (halo), dll.

Berhubung kami tinggal di hotel, jadi kami tidak bisa masak seru. Paling masak nasi atau indomie. Sisanya makan di luar terus. Alhamdulillahnya, makanan-makanan Myanmar ini enak-enak. Jadi kami sangat menikmati makanan disini. Banyak juga yang halal. Bisa dibilang, bumbu-bumbu yang mereka pakai, banyak yang mirip dengan yang dipakai di Indonesia.

Perkumpulan Orang Indonesia disini menjadi tempat yang menarik untuk kami. Dulu, saat merantau terakhir, kami masih baru menikah, tanpa anak, status mahasiswa, sekarang saya masih sih statusnya mahasiswa. kkkk. Sekarang gengnya jadi expat. Enaknya apa? Makanannya enak-enak kalau ngumpul. Kkkk. Dulu mah kan makanannya perjuangan, secara mahasiswa-mahasiswa yang mau makan tiga kali sehari aja udah syukur.

Jumlah expat disini banyak. Tapi beda kali yah orang kerja. Kalau mahasiswa kan sering hura-hura walaupun gak punya duit juga, kalau disini jadi banyak nya lebih kumpul ma keluarga masing-masing dan menikmati hidup. Hehe.

Alhamdulillah, selama sebulan disini, kami belajar banyak. Saya dan suami, mulai bisa adaptasi tinggal bersama. Anak-anak pun mulai terbiasa main setiap hari sama Ayahnya, menunggu-nunggu ayahnya pulang, karena apa? Karena ayah selalu punya yang seru untuk dibawa pulang. Entah makanan, entah cerita atau ngajak kami jalan-jalan ke tempat baru.

Thanks Yangon for being nice to us.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s