Campur Aduk Hari Pertama di Yangon

Berita wafatnya abi masih menggaung di kepala saya. Bingung. Kosong. Tapi semua harus sesuai jadwal. Anak-anak harus terurus. Maka tak ada waktu untuk sekedar meratapi kepergian Abi. Senyum harus dipasang agar mood anak-anak juga bagus sepanjang perjalanan KL-Yangon. Alhamdulillah. Lancar.

Sampai Yangon, dijemput suami. Diajak angsung ke hotel dan menaruh semua barang di tempat yang mudah diakses. Tak terasa hari sudah mendekati Maghrib. Suami mengajak untuk berbuka di Masjid KBRI Yangon. Membawa anak-anak yang masih lelah perjalanan panjang dua hari ini ke tempat ramai itu menurut saya peer banget. Dan bener, di hari pertama, Khaleed berkata makanan tidak enak. Tidak mau buka shaum. Alisha gak mau ditinggal barang satu meter pun. Lelah sekali buka shaum pertama di Yangon ini.

Melihat di sekitaran hotel yang kumel dan jarak ke supermarket yang kagok. Jalan kejauhan, naik taksi kedeketan, plus Alisha yang masih rewel minta digendong gak mau jalan itu… membuat hari-hari awal di Yangon. Berat jendrallllll….

Suami mencoba menghibur istrinya ke Mall. Tapi mallnya pun dekil. Ada bau-bau gak enak. Errrr… Sampai-sampai kalau ada orang nanya, gimana Yangon? No one wants to be here. >_< Lebay yak gueh.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s