Marital Success Training (Part 6)

Aspek lain dalam berkomunikasi ini ada yang menarik. Yaitu shadow. Jadi apakah ketika saya sedang berinteraksi dengan suami, apakah saya bisa melihat suami saya itu adalah sebagai suami saya? Atau ada bayangan lain yang saya lihat pada diri suami saya? Pada pelatihan ini, saya berulang kali melihat. Dan saya temukan suami saya adalah suami saya. Mungkin karena bayangan buruk selama ini, sudah tidak terlalu mengganggu saya.

Namun pada paangan lain menjadi unik dan membuat saya belajar. Ternyata ada yang saat melihat pasangannya yang terbersit adalah wajah mertuanya, ibunya, dan orang-orang lainnya yang memiliki unsfinished problem dengan dia. Dan kemudia Pak Asep melakukan psiko drama untuk membantu yang bersangkutan mengobati unfinished problem tersebut. Sepertinya pada plong.

Dan sebenanrnya saya juga sudah merasakan itu saat tengah tahun kemarin saya melakukan konseling. Dan saya melakukan ini. Ternyata selama ini saya melihat suami saya adalah seperti seseorang yang saya benci. Yang saya pikir telah menyakiti saya selama ini. Lalu saya diminta membayangkan kejadian-kejadian traumatik itu. Kemudian saya tumpahkan emosi saya sampai saya puas ke bayangan itu. Lalu saya coba untuk melihat orang itu dengan wajah penuh damai. Dan saya mencoba memaklumi apa yang menyebabkan orang itu melakukan hal kurang berkenan ke saya dan kemudian saya berusaha memaffkan. Setelah proses itu, saya bisa melihat suami saya as he is. Suami saya juga jadi gak bingung dengan respon saya yag seringkali tidak wajar terhadap apa yang dia lakukan ke saya. Ternyata saat saya merespon tidak wajar itu, saya sedang melihat bayangan orang lain pada diri suami saya.

Nah, shadow ini ternyata seringkali muncul dalam hubungan manusia. Kadang stimulasinya bisa macam-macam. Lewat visual, mirip. Lewat bau, baunya mirip. Lewat suara, suaranya mirip. Lewat pengecapan, rasanya mirip. Lewat sentuhan, sentuhannya mirip. Dan kalau ini tidak terselesaikan seringkali kita tidak genuine merespon stimulasi. Dan ini yang menyebabkan masalah baru. Orang tidak paham kenapa kita harus tidak wajar merespon sesuatu ini. Ada masalah ini.

Padahal hubungan yang baik adalah ketika kita mampu merespon sesuatu dengan wajar. Maka? Yuk, selesaikan unfinished problem yang mengganggu kita. Yang menghambat kita dalam berinteraksi dengan pasangan kita. Atau juga orang lain yang kita anggap penting dalam mencapai tujuan-tujuan kita yang ditetapkan di awal tadi.

Yang saya artikan disini, tidak semua hal harus kita maafkan. Karena sungguh, memaafkan itu berat. Kalau tidak bisa memaafkan, minimal kita memaklumi saja lah. Daripada menjadi shadow kita berinteraksi dengan pasangan kita.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s