Marital Success Training (Part 2)

Hari pertama kami datang terlambat. Sedikit. 20 menit. Hehe. Banyak yah. Dah siap rugi sih. Kayaknya bakal ketinggalan materi awal-awal. Qadarullah, Pak Asep nya juga telat. Dan saat acara dimulai, Pak Asep meminta kami semua bicara satu-satu tentang alasan dan tujuan kami mengikuti training ini. Macam-macam ternyata yah. Dan banyak yang menarik. Disitu saya mikir keras, kenapa yah? Buat apa yah? Yah, simple ternyata, saya ingin belajar sebelum mengarungi rumah tangga saya dan Anas lebih lama lagi. Dan saya ingin memiliki rumah tangga yang sakinah mawaddah warrahmah. Awet lengket istilahnya Pak Asep mah.

Lalu materi dimulai dengan menentukan tujuan berumah tangga sama suami. Disitu aja saya dah hampir berantem. Wkwkwkwkwk. Masalah mana yang mirip dan mana yang prioritas. Tapi ditahan dan diungkapkan kekesalannya. Krek.

Lalu break istirahat. Dan ada kejadian unik lain yang bikin saya emosi ke suami. Dan pas banget setelah kejadian dua itu, materi nya tentang masalah yang bikin emosi. Lalu saya mengungkapkan itu ke Pak Asep. Disadari, bahwa ternyata saya dan suami memiliki isu budaya. Pak Asep tidak mengistilahkan saya orang bandung, sunda. Tetapi orang Aceh. Gak tahu kenapa. Apa karena saya lahir di Aceh? Dan saya harus memahami bahwa suami saya itu Orang Jawa. Disitu kami mencoba memahami bagaimana budaya dapat mempengaruhi kepribadian seseorang. Pilihannya banyak, mencari titik tengah dari dua budaya tersebut, mengalah, atau memaksakan diri untuk menang?

Hanya saja menurut Pak Asep, untuk hubungan yang diharapkan long time…. maka jangan Menang-Kalah, Kalah-Menang, atau kompromi. Sebaiknya polanya adalah kolaborasi. Maka harus mau terbuka, menerima, memahami dan mencari titik nyamannya sehingga tidak perlu menjadi orang lain. Tentukan di tema-tema mana suatu karakter menjadi masalah. Di tema-tema mana suatu karakter itu bisa kita terima. Kan biasanya gak semua karakter itu buruk di semua tema. Jadi kita belajar lebih spesifik menemukan tema-tema sensitif itu. Untuk kemudian, menyepakati. Insya Allah kalau seseorang hanya dituntut untuk merubah karakter nya di tema spesifik, lebih mudah dan gak bikin yang mau diubah itu frustasi, daripada kita merubah karakter orang itu secara menyeluruh. Jadi kita bisa menjadi pasangan yang nyaman sama diri kita sendiri dan juga nyaman untuk pasangan kita.

Berikutnya adalah geneologi keluarga. Nah, saya lupa sih materi ini dulu atau materi yang tadi dulu. Yang jelas materi ini juga sangat berkesan bagi saya dan suami. Kami diminta untuk menggambarkan diagram keluarga batih kami masing-masing. Kami bedakan mana laki-laki dan perempuan. Kami tuliskan nama, umur, pendidikan dan sifat. Lalu kami buat garis yang memetakan, siapa aja yang saling mirip, siapa aja yang saling dekat, dan siapa aja yang seringkali konflik.

Sebelum direfeleksikan sama Pak Asep kami senyum-senyum sendiri. Wah, dapet peta nih. Peta konflik. Dapet bayangan, ah elah pantes aja selama ini begini. Begitu. Dan ternyata geneologi layaknya peta. Maka sebelum menikah, baiknya taaruf itu begini. Menjelaskan perpolitikan keluarga. Bukan untuk menghindari. Tapi justru untuk menyesuaikan. Untuk menyiapkan hati. Gambaran keluarga baru yang akan kita hadapi. Jangan peta ini dijadikan sebagai peta konflik. Tapi anggaplah kita ini mau berjuang untuk mencapa tujuan kita tadi. Nah, berdasarkan tujuan itu, kira-kira harus bagaimana nanti kita menyikapi geneologi keluarga pasangan kita. Selain itu kita juga jadi tahu, bagaimana kita akan membawa pasangan kita ke keluarga kita. Sebaiknya suami itu menjadi penunjuk jalan istri di keluarga suami. Begitu juga sebaliknya. Jangan dibiarkan terjun bebas.

Dan yang lebih penting lagi, geneologi keluarga ini harus disikapi secara positif dan penuh maklum atau kalau bisa penuh maaf. Ini juga bisa jadi rencana kita bersama ke depan, hal-hal apa yang wajib diperbaiki dari hubungan di keluarga sehingga tujuan berkeluarga yang ditetapkan di awal tadi, tercapai. Jadi inget, untuk selalu kembali ke tujuan awal. Geneologi keluarga harusnya membawa kita bersikap lebih luwes dan elegan menghadapi dinamika keluarga pasca pernikahan. Lebih spesifik di Indonesia, ketika kita menikahi pasangan, maka secara tidak langsung kita sedang menikahi keseluruhan keluarganya. Kita terima pasangan dengan keragaman sejarahnya. Kita belajar akrab dengan orang orang yang tidak ideal. Karena tidak ada orang yang buruk hanya saja orang yang tidak sesuai dengan harapan kita.

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s