Persiapan dan Khitan Khaleed

Cerita tentang khitan sudah lama sekali saya sounding ke Khaleed. Dulu saya membelikan buku tentang Anak yang Berani. Dan salah satu ceritanya ada yang mengenai khitan. Dalam cerita itu dijelaskan kenapa harus khitan, sakitnya khitan dan serunya khitan karena banyak yang kasih hadiah. Yang kuangnya menurut saya dari penjelasan buku ini adalah bagian dapet hadiahnya. Jadi saya harus cuci otak khaleed dulu, benerin kalau niatnya karena Allah. Bahas deh tuh hadits tentang innamal amalu binniat. Semoga masuk yah mas penjelasan Bunda.

Nah, walaupun sudah disounding dan Khaleed sudah mau, tapi sulit sekali bagi saya memilih waktu khitan. Mungkin sudah dua tahun lalu mencari-cari waktu dan akhirnya, saat sepupunya pada mau dikhitan, akhirnya Khaleed yang jadi pengen juga dan pas Khaleed dah mau gitu, langsung deh eksekusi.

Langkah pertama, saya cari info tentang metode khitan. Yang saya denger ada tiga yah, laser, clamp dan konvensional. Saya memilih metode konvensional karena banyak yang memilih dan review orang-orang tentang clamp adalah, penis anaknya harus benar-benar sheat dan normal. Karena emaknya Khaleed males cek-cekan akhinya langsung aja milih yang konvensional. Metode yang dah dipake dari zaman dahulu kala.

Setelah memutuskan metode khitannya, saya langsung hubungi klinik khitannya. Saya memilih Seno Medika. Simple. Karena reputasinya bagus dan katanya prosesnya menyenangkan untuk anak-anak. Oia? Masa? Dan akhirnya saya datang deh kesana. Saat mendaftar, saya langsung konsul. Konsul itu wajib untuk memeriksa apakah anak kita ada kelainan atau gak. Sehat atau gak. Disana juga dijelaskan gimana persiapan khitan. Dan ditemukan, ternyata Khaleed phimosis. Googling sendiri yak apa itu phimosis.

Nah phimosis akan membuat proses penyembuhan Khaleed lebih lama dari anak-anak lain. Kalau yang lain seminggu, mungkin Khaleed dua minggu. Terus kalau yang normal jahitan akan mengering bisasa, kalau kasus Khaleed akan disertai nanah. Alhamdulillahnya, ternyata phimosis itu lebih cepat lebih baik dikhitannya. Saya bersyukur karena menyegerakannya. Karena kalau gak bisa berakibat buruk ke depannya.

Setelah konsul, saya memilih tanggal dan kelas. Tanggalnya seminggu setelah konsul (bisa besoknya langsung juga). Saya daftar khusus. Karena kata perawatnya, umum pun gak apa-apa. Yang berbeda hanya obat biusnya saja dan fasilitas tunggu berbeda kenyamanannya dan souvenirnya juga beda. Banyak dong bedanya. Haha. Lalu saya menceritakan ke Ummi saya tentang pilihan ini. Ternyata beliau was-was cucunya dapet obat yang kurang bagus. Akhirnya beliau mindahin deh ke VIP. 🙂

Sebelum hari H, saya lebih sering ngobrolin lagi tentang khitan. Kali ini lebih spesifik tentang proses hari H seperti yang dijelaskan saat konsul. Salah satunya adalah harus bangun pagi sekali, karena khitan mulai jam 4.30. Selain itu ada aturan seperti dilaang minum susu dan teh manis sebelumnya. Harus sarapan dulu, dll. Semua tentan proses yang dijelaskan pas konsul semuanya saya jelasin ke Khaleed.

Alhamdulillah, semua persiapan lancar. Bangun gak susah. Mau makan dulu. Dan gak pengen minum susu dan teh manis. Ada lagi, disuruh mandi dulu yang bersih juga udah. Tapi saking lancarnya, kami jadi kepagian datengnya. Belum buka. Hehe. Akhirnya kami menikmati muter-muter jalan bandung yang kosong. Kapan lagi kan. 🙂

Begitu sampai di klinik, dapat urutan pertama (karena kepagian tea kan). Kami pun menunggu di ruang tunggu sambil bermain. Alisha pun melek dan seger, jadi menambah keceriaan proses menunggu giliran.

Kurang lebih setengah jam, nama Khaleed akhirnya dipanggil. Hanya boleh dua orang yang naik ke ruang menunggu di atas. Dan kosong melongpong. Di ruang tunggu, kami dijelaskan kalau anak nanti akan masuk sendiri ke ruangan khitan begitu namanya dipanggil. Di ruang tunggu, nyaman, ada snack dan minuman hangat. Enak lah shubuh-shubuh ngopi. Begitu nama Khaleed dipanggil, kami anter Mas Khaleed ke pintu masuk khitan dan kami menunggu di luar. Saya bertanya ke petugas disitu, apakah sempat kalau saya dan suami shalat shubuh dulu. Dia bilang sempat, jadi kami shalat shubuh dulu.

Setelah kembali dari shalat, kami dipanggil lagi. Dijelaskan tentang perawatan pasca khitan yang sangat menentukan kecepatan pemulihan. Ada obat minum anti nyeri, antibiotik dan obat tetes untuk luka jahit. Selain itu ada rifanol untuk membersihkan bagian sekita luka jahit. Dijelaskan juga tata cara pipis. Makanan yang harus dihindari dan yang terkahir, jadwal konsul pasca khitan.

Tak lama setelah itu, Khaleed keluar deh. Dia keluar dengan matanya yang kayaknya habis nangis, bawa souvenir dan foto khitan. Oia, di ruang tunggu juga kami sempat berfoto ada photo corner sama dinosaurus, lucu deh.

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s