Belajar Membaca Paper

Oia, sebelum cerita yang berkaitan dengan judul ini, saya pengen ngabarin kalau dari postingan terakhir, dimana saya menggalau karena masalah gak selesai di alat yang dibuat, alhamdulillah, dua bulan ke belakan sudah berhasil implementasi dan ambil data. Dan sekarang, saatnya nulis paper.

Dapet data buat saya, adalah suatu yang sangat menjanjikan ke depannya. Keyakinan akan kelulusan yang makin dekat jadi semakin besar. Data. Ya Data. Eits, tapi jangan seneng dulu. Kenapa? Karena semua hasil dalam penelitian itu harus mampu dituliskan. Dijelaskan ke khalayak. Dan rule of thumbnya kata pembimbing saya adalah, “As simple as possible, but as clear as possible”. Disitu yang susah.

Dan kali ini pembimbing memberi tantangan yang sedikit berbeda. Kalau kemarin-kemarin saya sudah publikasi dua buah paper di conference IEEE, dan salah satunya dapet award best paper, itu sebenarnya bukan pencapaian yang diharapkan. Kenapa? Karena level conferencenya masih “gampang”, menurut pembimbing yah, bukan menurut saya. Soalnya tetep aja saya kemarin jumpalitan nulisnya juga ampe nangis darah. *lebay lu din* *iya gw lebay*

Kali ini saya ditantang untuk submit ke conference yang bisa dibilang reputasinya termasuk yang terbaik di dunia dalam bidang yang saya geluti. Sejujurnya, dengan reputasi conference yang bagus setidaknya membuat niat saya ngerjainnya beda. Lebih niat. Lalu saya menulis digest pertama kali. Dan……………… JELEK BANGET! GAK BERMUTU! MAU NGOMONG APA SIH LU NDA? Kira-kira begitu lah ekspresi orang yang baca digest saya yangs aya tulis pertama kali.

Lalu saat liburan lebaran kemarin, saya dikasih angpau sama pembimbing. Penasaran gak berapa angpaunya? 40. Ya. 40 paper berkualitas di topik yang saya tekuni sekarang. Dan jujur, saya pengen pingsan pertama kali dikasih tahu suruh mempelajari itu. Dalam waktu 3 minggu sebelum submit digest.

Tapi, bukan Adinda namanya, kalau nyerah begitu aja, dan bilang, “Pak, saya gak jadi aja deh submit ke conference itu. Cari conference lain yang biasa aja lah Pak.” Tapi sebaliknya, saya jadi tertantang dan semangat buat baca paper. Awalnya. Haha. Karena baca paper pas liburan buat emak dua anak yang lagi superaktif ini, nearly, impossible. Hufh.

Akhirnya baru nyempetin di akhir-akhir ketika anak-anak banyak yang mau ngasuh, yaitu pas silaturahmi lebaran. Dengan waktu yang singkat, tentunya diperlukan strategi dalam membacanya. Masalahnya, saya harus bukan sekedar membaca, tapi juga menganalisis kelemahan dan kekuatan paper-paper tersebut.

Thanks to Kuliah Pak Dwi yang ngajarin gimana cara nganalisis paper. Lalu setelah belajar sedikit paper dari 40 itu, saya edit digest saya. Dan hasilnya? MASIH JELEK! Ampun. Stress saya. Heuheu.

Lalu saya berdiskusi panjang dengan senior di lab. Dan mendapat pencerahan. Motivasi bagaimana mennackle paper orang dan menunjukkan signifikansi pekerjaan kita. Ulala. Merasa semangat lagi. Dan berusaha mencuri waktu di tengah sibuknya silaturahmi lebaran yang ternyata belum usai. Padahal deadlinenya bentar lagi. Tapi berhubung saya tipe orang yang put family first, jadi gak mungkin ngorbanin agenda silaturahmi. Maka saya baca paper dan menganalisisnya dari tadi jam 1 malam.

Berharap otak encer. Tapi ternyata gak. Haha. Gapapa. Kadang dalam hidup ini bukan cuman sekedar cerdas, tapi juga harus persistent. Dan kebodohan saya dalam mencerna paper, gak boleh menghentikan saya untuk berhenti mengerjakannya. Karena hidup itu ya berproses. Mana bisa jago kalau gak nyoba dan nyoba terus. Mana bisa berhasil kalau sekali gagal, udahan. Jadi, mari kita belajar lagi. Dan sekarang judulnya belajar baca paper.

Semoga akan tiba suatu saat dimana saya gak perlu stabilo dan excel untuk summary analisis paper saya. Karena kelak otak saya sudah otomatis bekerja menganalisis dan menyimpan hasilnya sendiri. Ceileh. Bismillah. Doakan saya yah manteman.

Salam super! Wkwkwkwk