Maafkan Saya Pak

Rutinitas pagi hari saya adalah mendrop kedua anak saya. Yang sulung ke sekolahnya. Yang kedua ke daycare. Dan selalu saya melewati suatu jalan dimana saya harus memutar balik mobil saya. Berhubung kami tinggal di Bandung, sudah biasa di setiap putaran, belokan yang ramai, pasti ada yang namanya polisi cepek. Kadang polisi cepek ini sangat membantu, tetapi juga kadang sangat mengganggu. Tapi kesan yang paling kuat di saya adalah mereka mencari uang, tapi kadang kontribusi melancarkan lalu lintasnya, nyaris gak ada. Karena polisi cepek membela yang bayar.

Tanpa dipungkiri, ada juga polisi cepek yang beneran kerja. Tapi mungkin 1 dari 100 lah. *Sok kuantitatif banget padahal ngasal* Nah, di putaran balik yang sering saya lewati setiap pagi, ada polisi cepek yang sudah tua renta. Kadang saya suka kesel, karena tua, bapak tersebut pergerakannya jadi lambat. Bahkan kadang bukannya membantu tapi malah menghalangi saya berputar. Karena beliau menginginkan posisi yang dekat dengan jendela saya sehingga mudah mengambil uang. *tapi itu suudzon saya aja*. Jadi suka kesel banget. Jarang saya kasih akhirnya. Karena kurang membantu. Paling kadang-kadang kalau sedang kasihan.

Tapi pagi ini, kebetulan saya harus ke ATM tepat di seberang putaran itu. Dan saya memarkirkan mobil saya. Ketika markir mobil bapak tua tersebut menghampiri saya. Menanyakan keperluan saya markir disitu. Saya jelaskan saja, saya mau ke ATM. Ketika urusan transfer mentransfer selesai. Saya segera menuju mobil dan bergegas pergi. Tak lupa menyiapkan 2000 rupiah untuk membayar parkir kepada si bapak. Tapi anehnya? Beliau tidak mendekati jendela saya. Beliau malah berdiri di belakang mobil saya, fokus menyuruh saya mundur supaya bisa mudah keluar. Saat saya menjulurkan uang 2000 tersebut, apa jawabnya?

“Neng, teu kedah neng. Da ngan sakedap atuh. Teu sawios.”

Ehk. Dada ini terasa sempit. Malu. Sedih sudah bersuudzon selama ini sama Bapak Tua tersebut. Rasanya di usia setua itu beliau harusnya sudah santai di rumah. Melakukan aktivitas yang beliau sukai. Namun beliau masih bekerja keras. Saya kurang setuju jika bapak itu bekerja sebagai polisi cepek. Tapi siapa saya? Saya doakan saja, supaya beliau bisa sehat terus, diperbanyak rezekinya dan diberikan kebahagiaan. Aamiiin.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s