Alisha Aidilla Fauzi

Kalau biasanya Sabtu pagi adalah hari bermalas-malasan karena akhir minggu jarang ada agenda yang dimulai sepagi jadwal sekolah Khaleed atau kuliah Bunda, kali ini Sabtu pagi menjadi jadwal kami bangun pagi-pagi sekali. Bahkan lebih pagi dari biasanya karena jadwal kontrol kehamilan Bunda. Sabtu itu, 20 Februari 2016, Bunda diperiksa oleh dokter cantik, namanya dokter Irna. Orangnya ramah sekali dan sangat care dengan detil perkembangan kehamilan Bunda. Saat itu, kata dokter Irna, Bunda sudah bukaan 1.

Mendengar kata ‘bukaan 1’, membuat Bunda gak sabar menunggu lahirnya adik Mas Khaleed. Bunda menunggu-nunggu mules berikutnya. Tapi sampai hari Selasa, Bunda gak pernah lagi merasakan mules. Hari Rabu Bunda kerja di Perguruan seperti biasa. Tapi ada sedikit yang berbeda. Bunda sulit sekali fokus. Badan pegal sangat. Ruangan berasa pengap. Dan… tiba-tiba Bunda merasakan keram-keram di perut. Bunda memang lupa gimana sakitnya bukaan. Karena ragu, Bunda memilih untuk meluncur sendiri ke RSIA Limijati untuk mengejar dokter Irna yang kebetulan sedang praktek disana siang menuju sore itu. Sebelumnya, Bunda nanya ke Nenek Uwi dan Ambu apa benar ini namanya kontraksi. Dan mereka merekomendasikan untuk mengecek langsung ke RS.

Bunda mendaftar dan saat giliran Bunda masuk ke ruangan dokter Irna, tiba-tiba dokter Irna keluar terburu-buru. Rupanya ada yang lahiran dan perlu bantuan dokter Irna. Akhirnya, Bunda menunggu lagi kurang lebih satu jam. Setelah bertemu dokter Irna, Bunda diperiksa lagi. Katanya sudah bukaan 2. Dokter meminta Bunda melakukan rekam jantung. Direkam jantung lah Bunda. Hasilnya, memang sudah mulai kontraksi. Tapi 10 menit sekali.

Setelah periksa bukaan, Bunda jemput Mas Khaleed di Daycare. Kami pulang. Besoknya karena takut gak sempet ngurus-ngurus revisi di kampus, Bunda ke kampus. Bunda download software-software untuk di laptop Bunda ngerjain revisi kalau ternyata gak sempat revisi sebelum lahiran. Di hari itu, sama sekali Bunda gak merasakan kontraksi lagi. Bunda jadi mikir, yak, masih lama kayaknya.

Besoknya, Bunda ajak Mas Khaleed nemenin Bunda berjalan kaki sore-sore supaya bukaannya semakin nambah. Alhamdulillah Mas Khaleed mau nemenin Bunda. Bahkan semangat sekali. Kami berjalan ke Cisitu Indah Baru, lanjut ke Kampung Padi, ke Cisitu Indah VI. Dilanjut lagi ke Kampung Biru, keluar Dago Asri dan menyusuri jalan pulang layaknya kami biasa berjalan dari DH. Melelahkan tetapi menyegarkan. Mas Khaleed semangat sekali sampai-sampai mengajak melakukan satu kali putaran lagi, tapi Bunda gak sanggup. >_< Selama berjalan kaki, Bunda merasakan beberapa kali kontraksi. Namun jaraknya masih jauh.Tapi setidaknya, sudah mulai kontraksi lagi. Alhamdulillah.

Malamnya, mules yang Bunda rasakan sedikit berbeda. Sakit tak tertahankan. Dan Bunda minta Enin nganterin ke RS Hermina malam harinya. Kembali Bunda rekam jantung. Dan kontraksi mulai semakin sering. 10 menit sekali. Namun masih bukaan 2. Dan bidan disana menelepon dokter Irna dan dokter Irna menyuruh Bunda pulang dan kembali lagi hari Sabtu untuk kontrol. Bunda mengabarkan Ayah dan entah kenapa, lagi-lagi karena feeling Ayah, Ayah memutuskan untuk ke Bandung malam itu juga. Malamnya, sambil menunggu Ayah pulang, Bunda, Mas Khaleed, Om Aa dan Enin makan ke Madtari dulu.

Kami makan indomie dan minum jahe panas. Di sepanjang jalan, mules masih kerasa. Sampai rumah, mules semakin dahsyat dan sering. Bunda terus merekam kontraksi di HP. Sempat tertidur bentar, dan Ayah akhirnya sampai Bandung. Ayah tampak lelah, tapi Bunda mules sangat. Pengen bangunin Ayah nemenin Bunda yang lagi mules, tapi gak ngaruh juga ternyata ditemenin Ayah. Tetap saja mules tak tertahankan.

Malam itu, Bunda sama sekali gak bisa tidur. Bunda bilang ke Ayah, “Ay, kita ke RS lagi yuk! Ini mulesnya sakit banget ay, dan udah sering banget.” Dan sama seperti jaman lahiran Mas Khaleed dulu, Ayah tetap santai dan bilang, “Feeling Ayah nanti jam 6 Bun kita ke RS, langsung lahiran.” Dan Ayah pun tertidur lagi. Errrr…

Mules terus dicatat. Dan mulai 5 menit sekali. Bunda memutuskan untuk mandi pagi. Dari kamar mandi Bunda teriakin ayah, untuk mencatat setiap kali Bunda merasakan mules sangat di kamar mandi. Dan Ayah mengabari hasil catatannya, “Bun, udah 2 menit sekali Bun!” Wow. Yang tadinya mau makai baju biasa di rumah sambil menikmati mules, berubah jadi baju pergi yang nyaman buat nunggu bersalin. Setelah itu, kami pun bergegas ke RSIA Hermina Pasteur. Sebelumnya, kami menitipkan Mas Khaleed yang harus sekolah pagi itu ke Enin. Alhamdulillah Mas Khaleed mau, tanpa drama dulu.

Untuk mencapai parkiran mobil, Bunda perlu berjalan kaki kurang lebih 100m dari rumah Enin. Di jalan, Bunda berhenti beberapa kali karena gak sanggup menahan mulesnya sambil berjalan. Setelah naik mobil pun, beberapa kali Bunda merasakan mules yang sangat. Alhamdulillah masih sangat pagi, jalanan lancar, dan akhirnya kami sampai di RS jam 7.00.

Bunda berjalan ke IGD dan bilang ke suster disana Bunda mau lahiran. Tapi suster meminta Bunda menunggu karena kursi roda belum tersedia. Bunda meminta untuk jalan kaki saja. Karena Bunda gak kuat kalau harus menunggu diam. Apalagi duduk di kursi roda. Kami berjalan ke lantai 2. Selama perjalanan, lagi-lagi Bunda berhenti untuk menahan mules. Beberapa orang nampak kebingungan melihat Bunda meringis sendiri menahan mules. Ayah sedang cari parkir.

Sesampainya di ruang bersalin, Bunda diminta untuk tiduran. Tapi Bunda gak kuat. Akhirnya Bunda turun dari kasur dan berusaha menyamankan diri dengan berbagai posisi. Sudah siap-siap nunggu dokter Irna dari rumahnya di Kota Baru Parahyangan, tapi, ternyata…. gak perlu! Dokter Irna sedang disitu. Jam 6 pagi beliau melakukan operasi caesar. Alhamdulillah, gak perlu menunggu lama. Awalnya Bunda deg-degan banget kalau harus lama nunggu dokter dateng. Apalagi hari itu hari jumat, dokter Irna gak ada jadwal di RSIA Hermina Pasteur. Terimakasih ya Allah.

Mental Bunda sudah Bunda siapin untuk menunggu 4-5 jam di RS sampai bukaan lengkap. Layaknya orang-orang yang sering Bunda tanyain berapa lama di RS sampai akhirnya lahiran. Melihat ke belakang juga, Mas Khaleed lahir 5 jam setelah Bunda masuk RS. Namun, pas dokter Irna mengecek bukaan Bunda, beliau pun bilang, “Ya, sudah lengkap. Kita lahiran sekarang. Ayo disiapin peralatannya.” Bunda nanya, “Lengkap itu maksudnya bukaan berapa dok?” “Sembilan!” Alhamdulillah.

Sambil menunggu bidan dan suster bersiap, Bunda lihat Dokter Irna bersantai senyum-senyum sendiri melihat HP. Ketika ditanya Bidan, jawabnya supaya gak tegang.🙂 Sambil meringis kesakitan, Bunda tersenyum. Bunda merasa tenang sekali ikut-ikutan tenangnya dokter Irna. I love this obgyn.🙂

Ketika semua sudah siap, dokter Irna menuntun Bunda untuk mengejan kalau Bunda merasa mulas. Lama ditunggu malah gak mules-mules. Pas akhirnya mules, 3-5 kali mengejan, akhirnya pas jam 07.35, bayi perempuan cantik itu lahir. Rasanya kalau lebih dari itu Bunda gak sanggup. Waktu mengejan terakhir, Bunda sempet hopeless, duh kayaknya gak ada tenaga gini. Badan Bunda lemas sekali karena belum sarapan dan begadang tadi malam. Tapi alhamdulillah, di saat Bunda hampir nyerah mengejan karena lemes, justru Adik bayi keluar.

Alhamdulillah semua sehat. Adik bayi dibersihkan, diadzanin Ayah dan dibiarkan 1.5 jam di dada Bunda untuk IMD. Walaupun tidak berhasil mencari puting, tapi kebahagiaan Bunda pagi itu benar-benar gak bisa bunda ungkapkan dengan kata-kata. Bunda bahagia melihat bayi yang 9 bulan di perut Bunda akhirnya lahir, sehat dan aktif.

Namun kebahagiaan Bunda, tiba-tiba berubah menjadi kegalauan yang amat sangat. Dokter Irna di hari kedua sudah memperbolehkan Bunda untuk pulang, tetapi menunggu apakah dokter anak, Dokter Yulia, juga sudah mengijinkan Adik bayi pulang. Akhirnya tetap bermalam semalam lagi menunggu kondisi Adik. Di hari ketiga, Bunda akhirnya direkomedasikan untuk pulang, tapi Adik bayi justru harus fototerapi di RS. Sendiri. Tidak sama Bunda.

Awalnya Bunda merasa tegar dan optimis. Karena Bunda yakin ASI Bunda banyak. Tetapi ketika Bunda mompa pertama kali, dan menemukan bahwa ASI Bunda sedikit sekali (dibandingkan Mas Khaleed dulu), Bunda jadi sedih. Bunda jadi ngerasa bersalah memutuskan untuk pulang duluan. Badan Bunda mulai lelah karena pikiran Bunda yang sedih ngeliat ASI bunda gak banyak. Bunda mikirin, gimana kalau adik kehausan, dehidrasi karena ASI bunda gak cukup seperti yang dikatakan dokter. Bahkan dokter merekomendasikan untuk meberikan formula kalau ASI Bunda sedikit. Sedangkan Bunda gak mau adek bayi mencicip susu formula. Bunda galau sangat malam itu. Bunda sedih tapi gak bisa milih apa-apa lagi selain berusaha mompa ASI sesering dan sebanyak yang Bunda bisa.

Malamnya, Bunda mengajak Ayah ke RS. Bunda ingin menyusui langsung. Sedihnya, setelah berhasl menyusui langsung, suster disana bilang, gak akan efektif kalau Bunda menyusui langsung terus. Bunda bingung. Semakin capek. Semakin stress. Semakin sedikit ASI nya. Bunda minta Ayah untuk mengurus check in lagi di RS supaya Bunda dekat dengan Adik dan mudah mengirim ASI yang masih sedikit. Setidaknya kalau dekat, ASI sedikit bisa sering dikirim. Tapi ternyata Bunda tidak bisa check in lagi.

Sempat Bunda kepikiran untuk booking hotel di dekat RS, tapi ketika sampai di depan hotel, justru Bunda sendiri yang gak yakin itu solusi yang tepat. Bunda bilang ke AYah kalau Bunda bingung gimana caranya biar bisa nyaman mompa ASI sehingga hasilnya banyak. Akhirnya Ayah yang memutuskan, sudah di rumah saja Bundanya. Ayah rela bolak-balik RS bahkan sejam sekali untuk nganterin ASI. Pokoknya Bunda fokus mompa aja tiap jam. Gak usah mikirin kirim ASI, itu tugas Ayah.

Di rumah, dengan perasaan yang masih galau karena pulang tanpa adik, Bunda terus berusaha memompa tiap jam. Sedikiiiit sekali dapetnya. Sehingga setiap dapat ASIP, Ayah harus langsung mengantar ke RS. Luar biasanya, Ayah gak kenal lelah harus bolak-balik mengambil dan mengantar ASI untuk Adik. Makasih Ayah. :*

Besoknya, Bunda merasa sudah cukup istirahat setelah semalaman memompa. Perasaan Bunda juga mulai lebih baik dan lebih nerima. Siangnya Bunda memutuskan untuk ke RS dan menyusui langsung. Tapi rupanya adik sedang tidur. Jadi Bunda hanya memompa saja di RS. Saat mompa, Bunda bergabung dengan Bunda-Bunda lain. Rupanya apa yang dialami adik gak seberapa dibandingkan bayi-bayinya Bunda-Bunda lain itu. Mereka ada yang anaknya sudah 3 bulan di ICU, ada yang jantungnya belum sempurna dan masih banyak lagi. Yang Bunda pelajari dari mereka, mereka tetap semangat memompa ASI. Bahkan beberapa lebih sedikit dari Bunda persediaannya namun tetap tenang dan terus memompa. Disitu Bunda kembali semangat.

Bunda jadi lebih tenang dan bersyukur karena adik hanya 48 jam rencananya di ICU. Dan disitu mulai ASI Bunda mengalir deras. Bunda jadi percaya kalau ASI itu harus diperjuangkan. Bunda harus yakin Bunda bisa ngasih ASI untuk Adik dan yang penting, Bunda harus bahagia.🙂

Setelah itu semua terasa lancar. ASI banyak. Ayah tidak perlu sesering itu bolak-balik RS, karena ASI yang dikirm selalu cukup. Bahkan lebih. Malamnya Bunda mau menyusui langsung. Tapi gak bisa masuk karena ada yang sedang kritis di ICU. Saat Bunda menunggu Adik bangun untuk menyusu langsung, teman adik di ICU justru meninggal dunia. Suasana di ruang tunggu menjadi mengharukan. Suasana seperti itu lama sekali, bikin Bunda gak kuat lama-lama disitu. Akhirnya Bunda memutuskan untuk memompa di tempat lain, menyerahkan ASIP ke suster dan langsung pulang ke rumah.

Besoknya, sore-sore, Bunda ke RS untuk menjemput Adik. Sempat deg-degan apakah keadaan Adik semakin baik. Setelah menunggu kurang lebih 2 jam, akhirnya Adik diijinkan pulang. Alhamdulillah. Alhamdulillah. Bunda bahagia sekali. Melihat Adik dipakaikan baju pilihan Bunda yang masih belajar dandanin anak perempuan.🙂

Kami meluncur ke rumah dan di rumah, Bunda bilang ke Ayah, “Ay, Bunda bahagia sekali sekarang. Kayaknya sekarang bahagianya sempurna.” Dan bayi cantik yang melengkapi kebahagiaan Bunda itu, Ayah dan Bunda beri nama Alisha Aidilla Fauzi. Alisha adalah Perempuan yang akan ditinggikan derajatnya. Aidilla yang mampu berlaku adil di setiap peran yang dipilihnya. Fauzi, semoga Adik termasuk orang-orang yang beruntung.

Robbana hablana minasshaalihiin. Berikanlah kami kekuatan untuk mengasuh dan mendidiknya, sehingga kelak doa di namanya menjadi kenyataan. Dan juga, semoga kelak Alisha menjadi anak yang aliman, shalihan, mujahidan… Aamiiin

IMG-20160226-WA0022

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s