Be a Better Me

Hmmm. Jadi ceritanya, malem kemarin Khaleed tidur baru jam 1. Sebenarnya dah sangat galau sih. Soalnya kalau Jumat kan masuknya lebih pagi setengah jam dari biasanya. Tapi berhubung gak sanggup ngebujuk Khaleed yang lagi antusias sama kedatangan omnya, jadi saya tidur duluan. *padahal gabisa tidur juga* Suasana semakin malam, semakin sepi. Saya kira Khaleed sudah tidur sama Eninnya. Rupanya, jam 12 an Khaleed ke kamar dan minta dipeluk. Bobo.

Shubuh berkumandang. Gak lama setelah itu, Khaleed bangun (ini tumben) biasanya jam 6. “Bun, Khaleed ompol.” *oow* Untungnya Khaleed mau langsung mandi. Pas mandi diceritain, hari ini Khaleed bakal ketemu maisans. Dan apa responnya? Gak mau sekolah! Yak! Tepat sekali! Tarik nafas Bun…

Padahal kemarin kami istirahat di rumah karena saya kurang sehat, begitu juga Khaleed. Masa ya pas sehat kita gak sekolah dan ngampus? Sempet mau emosi, tapi tarik nafas Bun. Khaleed pun saya peluk sambil sesenggukan gak mau pake baju seragam. Sampai akhirnya dia berhenti dan bilang, “Mau main tab bun.” *senyum lebar*

“Well, boleh, tapi kita berangkat sekolah ya?” *DEAL* ALHAMDULILLAH*

Saya siapkan sarapan dan rutinitas pagi lainnya. Alhamdulillah lancar. Sampai pas banget mau berangkat. Tiba-tiba Khaleed punya ide untuk ke sekolah naik sepeda roda tiga kesayangannya. *Oh No*

Saya siap-siapnya nyantai jadi gak punya banyak waktu untuk naik sepeda. Belum lagi bawaan saya banyak banget, perut hamil gede, gak mungkin mas. C’mon. Kita naik mobil. Dan melanjutkan mood nya yang emang kurang baik dari pas bangun, Khaleed pun menangis kencang. Dan emaknya mulai gak sabar, “Khaleed. Bunda gabisa sekarnag jalan jauh bawa bawaan banyak. Sekarang Khaleed pilih, ikut Bunda naik mobil atau sama ceuceu di rumah atau naik sepeda sama ceuceu.”

Dan Khaleed pun terpaku di sepeda roda tiganya gak mau beranjak, pokoknya naik sepeda. Well, saya menjalankan tawaran saya, jadi saya tinggalin Khaleed di sepeda roda tiganya yang menangis. Sesekali melihat ke belakang takut Khaleed lari ngikutin dan ada kendaraan lain. Gak ada. Baiklah, saya berencana minta tolong ceuceu untuk nganterin sesampainya di mobil. Tapi gak berapa lama, Khaleed berlari sambil menangis ke arah saya.

“Mau sama Bunda…”

*fiuh*

Saya tungguin, dan kita naik ke mobil. Setelah duduk nyaman, saya peluk sebentar. Dan saya bilang, “Mas, sekarang perut Bunda sudah besar. Barang bawaan Bunda hari ini pun banyak sekali,” sambil saya tunjukin barang-barang titipan oleh-oleh dan goodie bag seminar yang harus saya drop ke beberapa teman dan saudara “jadi plis mas kita hari ini gabisa naik sepeda. Nanti aja kita sepedaan di kampus Bunda kalau libur ya. Dan jangan diulangi lagi seperti ini. Kalau Bunda gak sabar, Bunda bisa marah.”

Sambil melihat ke bawah, Khaleed pun menjawab, “Iya Bun.”

Dan, mesin mobil dinyalakan. Nada bicaranya langsung ceria, “Bun, Khaleed nanti mau main sama Abang Esto yah. Nanti kita ke Garut?”

*Terenyuh* Ya Allah abis emaknya marah-marah cuman perlu beberapa detik buat Khaleed kembali ceria. I am so sorry kid. I hope I can be a better me. I should control my emotion. Because somtimes for you the problem is so simple. But not for me. Sepertinya emakmu ini kurang piknik nak. Maafin Bunda yah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s