Sakit Sedikit, Nangis Sedikit

Seminggu lalu, banyak menghabiskan waktu di rumah. Karena jagoan kecil saya sakit demam kurleb 4 hari. Karena pola demamnya yang naik turun saat malam dan pagi hari, saya cukup khawatir. Dan akhirnya pada hari kamis saya membawanya ke dokter. Dokter memeriksa, ada kemungkinan karena amandelnya yang membengkak. Tapi pola demamnya membuat dokter berfikir, demamnya adalah demam tipes atau DB. Untuk memastikan maka dokter meminta Khaleed tes darah.

Sejauh yang saya kenal, Khaleed adalah anak yang bisa diajak membuat kesepakatan dan kecenderungannya adalah memegang apa yang sudah dijadikan perjanjian. Maka untuk menghadapi beberapa momen, perlu banget di briefing di awal supaya lancar. Termasuk masalah pengambilan darah ini. Secara Bundanya beberapa minggu sebelumnya diambil darah dan yes, ngilu, karena disuntiknya agak lama, maka Khaleed pun harus dikasih tau gimana rasanya diambil darah.

Saya jelaskan, kalau diambil darah itu nanti ada jarum suntik ditojos ke tangan kita. Lalu dalam beberapa detik, ditahan sampai darah kita cukup buat diperiksa. Sakit. Tapi Khaleed kuat. Jadi Khaleed pasti bisa.

Masuk ke ruangan lab, Khaleed menunjukan perasaan biasa saja. Bahkan cenderung antusias. Khaleed bilang ke susternya, mau diambil darahnya, disuntik, sakit, tapi sedikit aja. Suster hanya tersenyum. Khaleed pun dengan beraninya duduk sendiri di kursi. Namun suster kemudian berbisik, “Bu, sebaiknya dipangku saja. Takutnya kalau kesakitan dia berontak. Jadi perlu dipegangin.”

“Oh, baik. Sini mas Khaleed disuntiknya dipangku Bunda yah.”

Jarum suntik pun dikeluarkan oleh suster. Tidak ada rasa takut melihatnya. Bahkan ketika suster memegang jarum suntik sambil mencari-cari tempat di tangan kanan atau kirinya untuk disuntik, Khaleed nampak tenang dan bahkan sangat responsif menjawab pertanyaan-pertanyaan suster.

Saatnya pun tiba, bismillaahirrahmaanirrahiim. Jossss!

Tidak ada suara.

Namun beberapa detik kemudian, kok jarum suntiknya belum dilepas? Ya iya lah, kan darahnya belum cukup. Khaleed pun teriak histeris kesakitan. Bahkan menangis kencang sekali. “Aw… aw… sakit bun…”

“Iya mas, sakit. Tapi sebentar lagi aja kok. Nangis atau teriak aja kalau sakit, gapapa kok.”

Dan Khaleed pun terus menangis. Seketika jarum dilepas. Khaleed masih menangis. Dipasang semacam hansaplast untuk menutupi lubang bekas disuntik. Lalu turun dari pangkuan saya.

Seketika setelah turun dari pangkuan, Khaleed berhenti menangis tiba-tiba. Padahal gak kelihatan ancang-ancang bakal berhenti menangis. Tiba-tiba saja dari tangisan histeris, Khaleed pun diam. Berhenti menangis. Dan tersenyum.

“Sakit ya bun. Tapi sakitnya sedikit. Jadi nangisnya sedikit aja.”

Sontak saya dan suster yang awalnya kebingungan dengan perubahan emosi Khaleed tertawa. Khaleed dan saya pun keluar dari lab sambil tersenyum.

Ketika bertemu dokter dan menyerahkan hasil lab sejam kemudian, Khaleed pun bercerita lagi ke dokter, “Tadi Khaleed disuntik. Sakit sedikit. Jadi nangis sedikit aja.”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s