Emosi Sih, Tapi…

Akhirnya saya ketemu orang yang super nyebelin sedunia. Kenapa? Karena dengan pertemuannya yang hanya beberapa jam saja, doi berhasil membuat saya kesel parah. Ceritanya kami sedang gathering, dan kemudian doi bercerita tentang sedikit hal tentang sesuatu. Kemudian dia berbicara merendahkan sekali tentang sesuatu itu. Kesannya si sesuatu itu lebih buruk dari diri dia.

Tak lama kemudian, dia bincangkan lagi hal lain, mungkin dia pikir lucu, tapi buat saya itu berlebihan dan seolah dia tidak berfikir bahwa saya pun berfikir hal yang sama tapi menahan diri untuk tidak mengatakannya karena menurut saya, dapat merendahkan alias gak sopan.

Pas hari H rasanya sebel aja. Pas hari berikutnya, hati saya masih sebel dan berfikir untuk bales dendam. Kenapa? Karena saya mikir, bukannya apa-apa, masalahnya dia bukanlah orang yang cukup punya kredibilitas baik di mata saya. Banyak sekali hal-hal dasar yang membuat saya kurang respect.

Lalu saya cerita tentang rencana saya suatu saat nanti akan menjatuhkan dia di depan umum. Dengan emosi yang membara. Untungnya, suami saya bilang, “Susah ya bun, ikhlas teh. Gak gampang ya gak ngebales hal buruk dengan yang buruk teh. Bunda kemarin sudah bagus kok menjawab tanpa emosi dan gak membalas. Bukannya itu tantangan kita dalam hidup? Membalas keburukan, justru dengan kebaikan. Gak semua dalam hidup akan baik kan ke kita?”

“Tapi sekali-kali harus diingetin ay, orang kayak gitu. Dan harus yang gak kalah nyelekitnya. Biar dia nyadar gak enaknya digituin. Nyebelinnya parah. To the max. Dia pikir, dia dah perfect apa? Errrr!!!”

“Sok deh, luruskan lagi niat, apa bener niat Bunda emang pengen membuat dia berubah? Atau justru hanya balas dendam?”

Dan gak perlu mikir lama, saya nyadar banget niatnya adalah balas dendam. Hufh! Ya Allah, ternyata membalas keburukan dengan kebaikan itu tidak semudah seperti saya mengomentari kenapa ada orang emosian nanggepin hal-hal yang emang bikin emosi. Kadang-kadang suka komen, ya Allah, bukannya agama gak ngajarin kita untuk menyakiti orang lain? Gak gampang yah ternyata.

Terimakasih suami, dah jadi imam yang baik yang mengingatkan saya di kala khilaf. Ayo kita sama-sama di bulan Ramadhan ini bersihkan hati dengan memperbanyak mendekatkan diri kepada-Nya. Semoga kita bisa menjadi pribadi yang memenangkan hawa nafsu kita.

Ada hal menarik setelah kejadian curhat sama suami. Jadi kami langsung main bulu tangkis. Disitu, saya merasa, berkat pelajaran curhat tadi, saya belajar lebih mengontrol emosi. Sehingga performa permainan menjadi lebih stabil.

Tuh kan, berguna ternayata mengontrol emosi teh. Bimbinglah terus hati, pikiran dan amalan kami ya Allah….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s