Istirahat Secukupnya, Yang Banyak Nanti

Kadang saya merasa hidup ini terlalu keras dan berat untuk dijalani. Terutama di saat-saat kami semua sibuk dengan berbagai aktivitas. Seringkali di saat-saat seperti itu saya merasa down dan ingin menyudahi pekerjaan-pekerjaan. Saya tidak suka membeda-bedakan pilihan perempuan baik dia bekerja, belajar atau ibu rumah tangga. Karena saya yakin tidak ada yang lebih mudah, semua punya tantangan masing-masing.

Kalau saya khilaf, saya kadang membiarkan semua pekerjaan dan kemudian bermalas-malasan. Sepertinya itu ciri saya sedang stress. Namun ada satu titik dimana semua itu berubah. Pikiran saya, cara saya melihat kehidupan ini yang berbeda.

Berangkat dari statement, tidak ada pilihan yang lebih mudah, saya berfikir, tidak ada pilihan yang dapat berhasil apabila kita melaluinya hanya dengan bermalas-malasan. Mengikuti nafsu dan mood kita. Semua perlu usaha, kerja keras dan semangat pantang menyerah. Capek? Oh iya, pasti capek. Tapi ingat bahwa Allah mengingatkan kita untuk beristirahat di malamNya dan bekerja di siangnya. Kemudian Allah meminta kita untuk mengingatNya sehingga kita merasa tenang.

Allah juga meminta kita untuk menjadi orang yang tuntas. Mengerjakan urusan satu, selesai, dan kerjakan urusan berikutnya. Allah juga menolong kita dengan shalat dan sabar. Menjanjikan kita selalu ada kemudahan setelah kesusahan. Intinya apa? Intinya, bekerjalah sebaik mungkin. Fokus. Tuntas. Tawakkal. Dan percaya bahwa usaha kita akan selalu berbuah indah jika kita mengerjakannya dengan sungguh-sungguh. Tidak dengan bermalas-malasan, karena bermalas-malasan hanya akan membuat pekerjaan tidak terselesaikan dan konsekuensi dari itu tentunya tidak kita inginkan.

Dari situ saya merasa, hidup ini memang adalah tentang perjuangan. Hidup ini harus menjadi legenda, setidaknya untuk orang-orang terdekat kita. Dan itu tidak mudah. Kita akan merasa lelah, tapi tidak apa-apa. Kalau lelah, beristirahatlah yang cukup. Kemudian lanjutkan lagi, selesaikan apa-apa yang menjadi tanggung jawab kita dengan sungguh-sungguh.

Ya, istirahat sebentar, secukupnya, jangan kebanyakan, karena ada saatnya nanti kita akan istirahat selamanya dan kita tidak bisa melakukan apa-apa lagi selain menghadapi pengadilannya. Semangat pagi! Do the best as you can do! Break the limit! And don’t forget, tawakkal ‘alallaaah…

Saat Jauh dari Rumah

Status dari ummi saya pagi ini menarik sekali sehingga membuat saya berfikir, apa ya yang membuat saya kangen dengan rumah? Hmmm. Lalu saya mencari-cari memori saat saya merantau dua tahun lamanya. Jauh dari rumah.

Pada saat itu, yang saya kangenin adalah berbicara. Bercerita. Salah satu hal yang bisa menyalurkan itu adalah dengan memilih siaran di Radio PPI Dunia. Kenapa berbicara? Yah, memiliki teman yang bisa kita ajak bicara menurut saya penting. Dan itu yang saya kangenin dari rumah.

Di rumah kami, kami biasa berkumpul santai setelah selesai dari sibuknya aktivitas saat itu. Ada yang les sampe sore, ada yang baru pulang kampus, Ummi pun bekerja dan lain-lain. Tapi biasanya saat setelah isya, kami bisa duduk-duduk atau bermalas-malasan di kamar Ummi. Biasanya sih dipimpin dengan Uki, kami ngisengin adek-adek kami yang masih kecil-kecil dan lucu (tenang de, bing, sekarang udah gede juga masih lucu kok). Dilanjut deh cerita ini itu.

Ada yang membuat nyaman, dan ternyata itu sulit didapatkan di luar rumah, apa itu? Ummi. Ummi saya adalah seorang pendengar yang baik. Walau pengalaman hidup beliau lebih banyak, tapi Ummi adalah orang yang membuat saya selalu merasa didengar dan diperhatikan. Apa yang kami ceritakan selalu didengar ummi dengan baik dan ditanggapi dengan pas. Yang kadang suka buat anak-anaknya tersanjung adalah ketika kami dilibatkan untuk memikirkan hal-hal yang penting baik di pekerjaan ataupun keseharian ummi.

Pertanyaan ummi di Facebook membuat saya berfikir, how great a mom is. Ibu itu memang luar biasa yah. Karena selalu ada tempat di hati anak-anaknya untuk seorang Ibu.