Ketika RK dan Ahok Dibanding-Bandingin, Disitu Saya Merasa Sedih

Boleh saya minta ke teman-teman yang masih asyik saling nyinyir ngebandingin RK dan Ahok untuk berhenti melakukannya? Karena jujur, saya gak dapet poinnya, kenapa kita harus melakukannya.

Dulu banget waktu jaman RK baru kepilih saya amaaaaat tertarik untuk membandingkan RK dan Jokowi. Apakah karena saya gak suka Jokowi? Bukan. Dulu saya gak terlalu mengenal Jokowi. Tetapi salah satu fans Jokowi di Twitter, menyulut dengan cara mengkritik keras RK (that was so fine) tapiiiiiii… sambil ngebandingin dengan Jokowi (ini yang bikin males). Beruntung hal tersebut tidak pernah kejadian. Saya memilih mendiamkannya saja.

Kenapa? Karena tak lama kemudian, Jokowi datang ke Bandung ketemu RK. Di conference press nya mereka bilang Jakarta harus belajar banyak sama Bandung, dan itu disambut RK juga bahwa Bandung juga harus belajar banyak dari Jakarta. Sehingga mereka ingin bekerjasama terutama dalam ide-ide solusi permasalahan kota. Bisa saling tukar. Alhamdulillah.

Nah, pemimpinnyaa aja gak ribut dan malah sangat bekerjasama, lah ngapain saya bela-belain RK yang dikritik fansnya Jokowi? Apa yang saya cari? Siapa yang saya bela? RK? Emang RK perlu pembelaan saya? Siapa gw? Cukuplah pertanyaan-pertanyaan itu mengurungkan niat gw untuk balik nyinyir Jokowi melalui fansnya itu. Simply because I didn’t get the point why I should do that.

Belajar dari ilmu parenting yang saya dapetin dari beberapa seminar dan ngerasain juga sebagai seorang anak, ada dua hal yang penting disini. Pertama, masalah membanding-bandingkan. Kedua, masalah komunikasi asertif.

Kita bahas yang pertama dulu. Jadi konon manusia itu tidak suka dibanding-bandingkan. Efeknya gak bagus. Salah satunya adalah misal RK dan Jokowi, dibanding-bandingkan, bisa jadi suatu saat RK jadi sebel beneran sama Jokowi padahal mereka awalnya gak punya masalah apa-apa selain dibanding-bandingin. Tapi entah kenapa saya yakin ini gak akan kejadian di antara mereka berdua. I respect each of them as a successfull leader nowadays. Kalau masih ada yang kurang, ya kita sampaikan aja, dan lebih baik kalau punya solusi dan ikut menjadi bagian dari solusi itu. Cuman tetep, dan silahkan rasakan sendiri gimana rasanya kalau orang tua kalian mengkritik kalian sambil membanding-bandingkan dengan kakak kalian? Atau sepupu? Gak enak. Sumpah gak enak. Demotivate yang ada.

Kedua, komunikasi asertif. Yang sering saya temukan akhir-akhir ini adalah gaya mengingatkan (kalau memang tujuannya adalah mengingatkan orang lain yang bersebrangan dengan kita). Banyak orang yang bahasanya nyepet. Jadi tidak langsung. Bahkan seringkali menyepetnya sampai pada batasan membuat orang sakit hati. Nah, ini menurut saya ini juga gak bagus. Ternyata, manusia itu lebih senang seperti ini, “Mas, rumah kita kotor yah, yuk kita ambilin sampah yang tercecer bersama-sama supaya lebih bersih.” Daripada “Ni kenapa sih rumah kita selalu kotor. Gak ada apa yang inisiatif bersihin? Di Sekolah diajarin apaan sih kok buat hidup bersih aja susah banget.” Nah, pada kalimat pertama ada ajakan langsung dan dijelaskan kenapa alasannya. Sedangkan di kalimat kedua, ada judgement (selalu kotor, gak ada inisiatif) dan poinnya gak langsung, terus apa yang anda harapkan terhadap orang di sekitar anda dengan kalimat anda? Bersih-bersih lah. Mau tau kenapa orang kemudian gak nurut? Selain manusia itu selain emang merupakan mahluk independen dengan pikirannya masing-masing, manusia juga mahluk berperasaan. Dimana kalau dia udah sebel, ya boro-boro mau denger omongan kita.

Tapi saya gak menafikan di dunia ini ada beberapa manusia tahan banting, berjiwa ksatria banget nget nget, sampe-sampe walaupun dengan cara gak enak, tetap bisa nerima. Tapi tujuan kita apa? Mengingatkan orang lain supaya mereka berubah? Atau mau filter mana orang-orang pada umumnya dan yang berjiwa ksatria? Jangan sampai kita kehilangan poin kita.

Solusi dong din… Yah, saya bukan seorang ahli tetapi kalau saya boleh berfikir keras dari refleksi selama ini, menurut saya pribadi, solusi terbaik adalah dimulakan dari niat dan berfikir sebelum berbicara. Apa tujuan kita mengungkapkan statement itu? Membalas sakit hati kita sebelumnya, supaya mereka juga merasakan sakit hati yang sama atau lebih parah? Atau berharap mereka melakukan apa yang kita inginkan? Perjelas niat kita dan sesuaikan apa yang kita lakukan dengan niat kita itu. Saya sering mendengar orang bilang, padahal niatku baik loh. I appreciate it, but, yuk sama-sama terus update niat baik kita dan terus belajar mencari cara terbaik juga merealisasikan niat baik kita itu. Ini bukan proses yang sekali dua kali. Tapi terus menerus. Seumur hidup kita. J

Mungkin tulisan ini juga bisa menjadi bagian yang saya kritik dari apa yang saya ungkapkan sebelumnya. Hayuk atuh ingetin saya. Harapan saya satu, kita saling merasa nyaman hidup berdampingan dengan saudara-saudara dan teman-teman kita. Sehingga kita bisa berkolaborasi. At least untuk membuat hidup kita bahagia karena kita merasa memiliki teman dan saudara yang saling mendukung dalam kebaikan dan mengingatkan jika kita ada salah. Nobody’s perfect. Let’s make friends! Dan hargai orang lain.

*Peace, Love and Gaul*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s