Bagaimana Kita Bereaksi itu Sangat Penting

Hidup itu sebenarnya banyakan suksesnya atau gagalnya sih? Perasaan saya sih kebanyakan gagal daripada sukses. Ada yang salah? Sepertinya tidak yah. Menurut saya gagal itu adalah proses belajar. Bahkan malu karena gagal juga itu bisa jadi satu pelajaran penting. Motivasi untuk bisa lebih baik lagi ke depan dalam usaha yang sama.

Situasi gagal itu tidak mengenakkan. Dan dalam hidup hampir sebagian besar lingkungan sulit sekali kita kendalikan. Tidak selalu sesuai harapan. Tidak selalu nyaman. Kita tidak bisa memilih bagaimana lingkungan harus mentreat kita dengan baik. Bahkan ketika kita memilih tempat belajar, tempat tinggal, memilih teman dll dalam hidup, sebenarnya kita berusaha mengontrol lingkungan yang akan kita jalani. Tapi tetap, kita tidak bisa mengontrol sebenarnya. Itu adalah bentuk usaha yang mungkin keberhasilannya tidak sampai 50%.

Lantas bagaimana kita dapat mengontrol lingkungan kita? Ya tidak bisa. Kita tidak bisa mengontrol orang berbuat apa. Mempengaruhi bisa. Tetapi tidak mungkin kita menjadi 100% pengaruh bagi orang tersebut. Satu-satunya yang dapat kita kendalikan ya diri kita.

Lingkungan boleh menyebut anda gagal. Anda salah. Anda belum berhasil. Anda bodoh. Atau jangan yang sedih-sedih gitu deh. Bisa jadi lingkungan menyanjung anda. Mengatakan kita pintar. Kita cerdas. Kita cantik/ganteng. Kita kaya. Dan lain sebagainya. Sepenting apa pengaruh lingkungan terhadap kualitas diri kita yang mengatakan kita seperti yang disebut di atas? Tidak terlalu penting. Tapi ada yang lebih penting daripada apa yang lingkungan kita lakukan pada kita. Yaitu bagaimana kita bereaksi terhadap lingkungan tersebut. Membangun kualitas diri menurut saya adalah memperbaiki terus cara kita bereaksi terhadap masalah yang kita hadapi.

Advertisements

Kenapa Khaleed Bertanya

Ada satu pertanyaan yang awalnya saya merasa itu lucu. Lucu karena keluar dari mulut kecilnya. Padahal sebenarnya isinya membuat saya bingung setelah dipikir-pikir. Bingung karena saya malah jadi bertanya, kenapa bertanya seperti itu?

Pertanyaan apa sih Nda? To the point aja nulisnya. Hehe.

Jadi waktu kami sedang bersama-sama menonton Robot Gendut (lagi), tiba-tiba Khaleed bertanya, “Bunda, Bunda bangga gak sama Khaleed?”

“Iya dong mas. Mas Khaleed kan anak pintar, soleh dan baik sikapnya dengan orang-orang. Bunda bangga banget sama Khaleed.”

Ayahnya yang melihat hanya tersenyum seolah mengiyakan jawaban saya. Tapi ya itu, kok yo nanya kayak gitu mas? Apa yang ada dalam pikiranmu? 😀

Apa Bunda keseringan marah-marah? Apa Khaleed beneran pengen tau? Apa Khaleed iseng?

Ah, Khaleed, Bunda jadi kepikiran terus nih. :’) Tapi, honestly, I am proud of you, Khaleed. Really proud of you. Semoga ke depannya Mas Khaleed semakin pintar, soleh dan baik sikapnya ke semua orang. Dan saat itu Bunda semakin bangga sama Mas Khaleed.