Jangan Marah Bunda

Mungkin itu yang ada di pikiran Khaleed jika saya berbicara dengan nada tinggi dan kasar. Yup, gak dipungkiri, sebagai orang tua saya belum menjadi yang terbaik terlebih dalam hal mengelola emosi. Kalau sedang santai seperti ini, saya suka mikir, harusnya saya bisa bicara baik-baik. Dan kalau dikaji, biasanya yang membuat mudah marah bukan pada kesalahan Khaleednya, melainkan kepada kondisi hati saya pada saat itu.

Marah juga seringkali tidak membuat Khaleed mengerti. Dalam beberapa kasus malah dia sengaja mengulanginya atau mempertahankan apa yang disalahkan. Mendengar bisikan dari beberapa orang dan juga seminar parenting yang saya ikuti, marah lebih banyak memberikan efek negatif kepada anak. Saran mereka, tidak perlu marah. Tetapi sampaikan mana yang salah dan sampaikan apa yang harus dia lakukan ke depannya, tentunya, dengan cara bicara yang baik.

Percaya atau tidak, jika saya marah, perasaan bersalah selalu menghantui. Jangankan saya yang marah, dulu saat hati masih terlalu lemah, bahkan melihat orang lain dimarahin atau dibentak, bisa-bisa saya menahan nafas supaya tidak menangis. Mungkin ini terjadi karena orang tua saya tidak membesarkan saya dengan marah-marah.

Sebaiknya jika rasa marah menghampiri, pilihlah untuk diam. Jika tidak tertahan, duduk. Jika sudah duduk, berbaring. Bisa juga mengambil air wudhu. Lebih baik lagi, jika memaafkan sesuatu yang membuat saya marah. Hufh. Bismillah. Semoga selalu bisa mengendalikan emosi, terutama dalam hal marah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s