Obrolan Sabtu Itu dengan Eyang Ema

Sabtu sepi itu adalah ketika suami dapat kerjaan tambahan di kantor, anak diajak eninnya ke luar kota. Udah kebayang boring banget mana harus ngurusin pertukangan. Sebelum boring berkepanjangan, di-sms umi lah disuruh ke rumah eyang karena nampaknya lagi kurang sehat, temenin eyang.
Dan sabtu boring itu akhirnya gak kejadian dengan obrolan santai (santai gak yah) seperti ini,
“Yang, ada kabar baik. Jokowi dah sowan ke Prabowo.”
“Wah, bagus pemimpin harus seperti itu.”
*Dalam hati, edan naha jadi bagus gini citranya Jokowi*
“Tapi yang, Prabowo juga bagus statusnya di FB.”
Dan karena HP kecil, jadi eyang gabisa baca, dan minta saya bacain status panjang itu.
*saya bacain sampe berbusa. Panjang pisan*
“Bagus kata-katanya.”
*Nah,,, imbang kan sekarang. Hahaha. Ketawa jahat*
Dari situ mulailah obrolan bahwa memang kita mudah sekali terpecah belah. Indonesia ini beragam banget. Hal itu sudah kejadian sejak jaman Belanda. Kita berbeda mah memang sudah berbeda. Tetapi kadang perbedaan ini dimanfaatkan oleh kepentingan-kepentingan tertentu. Padahal walaupun kendaraan, pakaian, kulit, bahasa dan lain-lain yang beda itu, sebenarnya semua manusia ingin kehidupan yang progresif, aman, damai dan segala yang bagus-bagus. Kita semua sama-sama manusia.

Lihat Nabi Muhammad dalam menanggapi perbedaan dalam umatnya. Beberapa kisah antara orang yang berbeda dalam menjalankan agama Islam, tidak serta merta disalah-salahkan oleh Nabi. Selagi tidak menjurus menyekutukan Allah.
Darul Hikam sekarang tumbuh juga ada peran keharmonisan hubungan dalam perbedaan. Bagaimana dulu ada seorang tetangga keturunan tionghoa yang mau menjual tanahnya murah untuk pembangunan Darul Hikam. Adanya juga tetangga Hindu Bali yang luar biasa baiknya kepada Eyang. Eyang merasa hidup harmonis itu penting. Cita-cita pun jadi lebih progresif dalam keharmonisan.
Jangan mudah terombang-ambing dengan hasutan. Jadilah manusia yang penuh kesadaran. Sejatinya belajar itu adalah membangun terus menerus kesadaran, keinsyafan. Beliau cerita, ketika dulu hidup nyaman sebagai anak PNS nya Belanda, yang ditekankan orang tuanya adalah terus belajar. Supaya semakin tahu dan semakin merasa tidak tahu, sehingga tidak terlena dengan kenyamanan hidup. Supaya sadar terus kenapa kita harus hidup. Karena hidup bukan sekadar makan dan tidur. Dan pada zamannya kesadaran bahwa mereka sedang dijajah itu rupanya tidak dimiliki oleh seluruh manusia Indonesia.
Kisah menarik saat kemerdekaan, ada seorang kawan eyang yang berkata,
“Sekarang sudah merdeka? Lama gak merdeka? Jangan lama-lama lah merdeka.”
Kenyamanan saat dijajah Belanda, memang membuat tidak semua orang ingin merdeka. Zaman merdeka adalah zaman yang sulit. Kalau zaman Belanda eyang bisa beli apa saja dengan murah, bekerja mengelola lahan pun berupah, tetapi saat kemerdekaan semua menjadi sulit. Bukan merdekanya yang salah. Tetapi memang tidak ada kata bermalas-malasan. Mengisi kemerdekaan tentunya juga dengan kerja keras. Jadi jangan dipikir enaknya aja merdeka. Jadi belajarpun bukan sekedar menaikan level pendidikan, tetapi meningkatkan kesadaran. Semakin tahu, harusnya semakin bertanggung jawab dengan pengetahuannya dan semakin banyak berbuat, bekerja keras.
Jangan mudah bertengkar, hidup harmonis dan bekerja keras. Mungkin itu kesimpulan obrolan yang bisa saya tulis. Rasanya ingin sekali menuliskan semuanya, tetapi eyang yang tadinya terlihat pusing, setelah menceritakan kisah hidupnya yang terbagi menjadi masa kanak-kanak, penjajahan Belanda, penjajahan Jepang, Kemerdekaan, Revolusi, Orde Lama, Orde Baru, Reformasi dan sekarang, menjadi sangat bersemangat dan berapi-api mencritakan semuanya.
Doakan semoga eyang saya selalu sehat dan berumur panjang yah. Masih sangat ingin mendengar banyak cerita dari beliau. Eyang pun masih ingin sekali menceritakan semuanya.
Saya berkata, “Yaudah Eyang, nanti kita cicil yah. Per masa yang tadi Eyang sebutkan.”
Terakhir, mungkin jadi gak sistematis. Tapi saya berfikir begini, jangan-jangan memang merdeka itu adalah cita-cita yang luhur sehingga bisa merangkul lebih banyak orang (Dari Sabang sampai Merauke). Jangan-jangan kalau kita sulit dirangkul bersama, karena cita-cita kita masih egois. Masih untuk diri sendiri, masih untuk keluarga aja, masih untuk sesama suku aja, sesama agama aja,sekota aja. Mungkin kalau berfikirnya untuk umat manusia, jangan-jangan kita bisa punya lebih banyak teman, lebih kokoh dan lebih cepat maju. jangan-jangan. Seperti lirik lagu Chaseiro… Pemuda…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s