Toilet Training Khaleed

Hari-hari sekarang, saya bisa bilang, saya tidak menganggarkan uang bulanan lagi untuk membeli popok sekali pakai untuk Khaleed. Sejak awal menggunakan popok sekali pakai, sebenarnya saya galau sekali. Tapi saya sadar diri dan merasa menggunakan popok sekali pakai memang pilihan terbaik saat itu. Alhasil saya memiliki tugas tambahan di kemudian hari.

Kenapa galau? Karena sejak tinggal di Korea dan mengelola sampah rumah tangga dengan apik, saya jadi mulai peduli lingkungan. Bayangin aja, dalam 3 hari sampah rumah tangga kami lebih sedikit daripada sampah popok sekali pakai ini. Bisa dibilang, jika ada sepasang suami istri dan bayinya menggunakan popok sekali pakai, maka sampah bertambah dua kali lipat, bahkan mungkin lebih. Dan konon popok sekali pakai ini termasuk kategori yang sulit untuk didaur ulang.

Sampai pada titik kelelahan yang ekstra ketika tidak memakai popok sekali pakai, akhirnya saya memilih menggunakan popok sekali pakai. Pada saat itu saya benar-benar bersyukur betapa mudahnya jadi ibu zaman sekarang dari sisi kerepotan kebersihan bayi.

Saya menikmatinya dan merasa benar-benar dimudahkan. Sampai saya mulai bertanya pada diri saya, sampai kapan sebaiknya anak menggunakan popok sekali pakai? Lalu saya menemukan bahasan tersebut di website yang menolong saya sejak awal kehamilan sampai saat ini dalam mengasuh anak, http://www.babycenter.com

Disana tertera bahwa sejak 18 Bulan anak sudah sebaiknya dilatih untuk menggunakan toilet. Walaupun disebutkan juga, bahwa ini bukan proses 1 bulan 2 bulan. Tetapi proses yang akan lama.

Pertama kali saya melatih Khaleed untuk merasakan sensasi BAK dan BAB tanpa popok sekali pakai. Benar-benar tidak menggunakan apapun, bahkan celana. Tentunya saya lakukan hanya di dalam rumah. Saat itu hampir2 mingguan saya menghabiskan waktu lebih banyak di rumah. Untuk tujuan ini. Dan alhamdulillah, Khaleed mengerti arti “pipis”.

Tahap berikutnya, mulai memberanikan diri untuk tidak menggunakan popok sekali pakai ke tempat-tempat yang gak bikin saya senewen. Dan? Bocor terus.🙂 Jadi sekali jalan bawa celana banyak banget. Sampai pada satu titik, saya dapat menghitung jumlahnya dan membawa celana sesuai jumlah rata-rata dia BAK.

Lalu, mulailah saya dapat menebak, kapan dia akan pipis. Ciri-ciri seperti apa dia akan pipis. Ketika tanda-tanda itu ada, langsung saya gendong dan bawa ke kamar mandi. Prosesnya jelas tidak mulus. Ada masanya saat digendong airnya kemana-mana. Sampai mulai masuk ke tahap, dia dapat menahan, setidaknya sampai di kamar mandi.

Setelah dia mulai mampu menahan dalam waktu singkat, sekarang terpola. Ternyata Khaleed BAK kurang lebih setiap 3 jam sekali. Jarang sekali menjadi lebih cepat atau lebih lama. Jadi setiap 3 jam itu saya mengajak dia ke kamar mandi. Tentu saja gak selamanya dia mau. Tetapi lama-lama dia mau. Tantangan saat ini adalah ketika saya mulai sibuk ini itu mempersiapkan S3, ada masa dimana saya gak bisa mengawasi Khaleed per 3 jam, kadang lupa. Dan akhirnya, ya bocor. Atau ketika saya sedang rapat Daycare dan seru-serunya, tidak terawasi, ya bocor.

Oia, untuk tidur malam hari pun hampir dapat dipastikan bocor di awal-awal. Nah, tapi ada kemajuan ternyata. Pertama, selalu mengompol. Kedua, jarang tidak mengompol. Ketiga, kalau ke kamar mandi sebelum tidur, hampir dipastikan tidak akan mengompol. Nah, pengamatan saya pada BAK dia di malam hari ketika tidur ini bisa dibilang cara saya mengukur kemajuan Toilet Training Khaleed.

Saat ini, hampir setiap malam kering. Kadang-kadang Khaleed sudah bicara kalau mau BAK. Seringkali saya yang mengajak jika kiranya dia sudah minum banyak. Karena kalau minum dikit, ternyata tidak mesti 3 jam. Bahkan dia bisa menahan lebih panjang.

Selain itu, saya juga menghadiahkan dan membuat proses pemberian CD ke Khaleed dengan spesial. Intinya membuat dia semangat bahwa sekarang ada yang menggantikan popok sekali pakainya, yaitu CD. Tapi itu dilakukan setelah Khaleed mulai terpola BAK nya setiap 3 jam.

Mungkin sejak 2 bulan terakhir ini saya benar-benar tidak menganggarkan khusus anggaran bulanan untuk popok sekali pakai. Sesekali merasa perlu membeli ketika pergi dan saya merasa tidak pede. Tapi alhamdulillah most of saya pede.🙂

Untuk urusan BAB, memang Khaleed belum bisa bilang sampai sekarang. Kadang di jam-jam BAK nya, dia baru BAB. Kadang-kadang juga dia terlihat dengan wajah aneh, lalu langsung saya bawa ke kamar mandi. Bahagianya, seiring bertambah tinggi dan cerdas, dia mulai dapat menggunakan toilet jongkok dan duduk.🙂 Jadi saya tenang dimana saja dia pasti mau.

Oia, ada kisah yang lucu tentang toilet training ini. Pernah suatu ketika kami di kemacetan dan Khaleed bilang mau pipis. Akhirnya kami memilih botol minuman bekas dan tisu basah untuk membantu dia BAK. Nah, di kesempatan yang lain, Khaleed berkata, “Bun, Khaleed mau pipis di botol.” –” Ternyata pengalaman itu membuat dia berfikir, oke, BAK dapat dilakukan di botol.

Sekarang hanya dapat mengucap syukur karena perjuangan 10 bulan ini ternyata tidak sia-sia. Khaleed (28 bulan) sudah dapat melepas popok sekali pakainya sehari-hari. Paling ketika perjalanan jauh atau ke tempat yang saya belum tahu situasinya, saya memakaikannya popok sekali pakai. Itu pun dengan tetap mengajak Khaleed ke toilet jika waktunya dirasa sudah cukup.

Buat Bunda-Bunda yang lain, semangat ya toilet trainingnya! Semoga diberikan kesabaran!😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s