Menjadi Dosen Seperti Mereka

Entah mengapa, dari sekian jenjang pendidikan, yang benar-benar saya nikmati adalah kuliah. Di pendidikan dasar mungkin saya menikmati tapi lupa. Tapi kalau saya evaluasi keseluruhannya, hari ini, saya bisa bilang, “I love learning in college.” Dan saat kuliah juga saya bertemu model yang menginspirasi saya.

Semakin tinggi jenjang pendidikan, saya semakin dituntut untuk ‘terserah saya’. Disini lah saya mencari jati diri yang sebenarnya. Jujur, cara belajar saya yang paling efektif adalah mengkopi bagaimana orang lain bekerja/belajar. Kadang ada yang cocok kadang ada yang tidak. Hari ini, saya tiba-tiba teringat bagaimana Prof. Choi membimbing saya di Korea. Dan bagaimana Prof. Armein (sekarang beliau ternyata sudah profesor) menjelaskan saya tentang konsep Pengolahan Sinyal Digital. Mereka adalah sosok dosen yang luar biasa bagi saya. Kelak, jika Allah meridhai saya menjadi dosen, saya ingin menjadi dosen seperti mereka.

Prof. Choi mengajarkan saya bahwa hidup itu harus dinikmati, tetapi bekerja keras adalah keharusan lain yang tidak boleh ditinggalkan. Karena tidak ada progres/kemajuan tanpa kerja keras dan konsistensi. Sedangkan manusia sendiri selalu menginginkan kemajuan.

Selain itu, ketaatannya dalam bearagama pun membuat saya termotivasi bahwa kebahagiaan hidup kadang tidak hanya ditentukan oleh realitas-realitas yang didapatkan. Tetapi bagaimana kita memandang realitas tersebut. Bagaimana imagi kita bekerja. Agama memotivasi kita untuk berbuat baik. Tanpa pamrih. Itu adalah kebahagiaan.

Selain itu saya belajar banyak bahwa kepintaran, kedudukan tidak bisa membuat kita merasa lebih dari orang lain sehingga lupa untuk menghargai orang lain. Beliau adalah orang yang selalu berhubungan dengan orang lain dengan penuh penghormatan. Siapapun yang pernah mengenalnya, sepertinya dapat merasakannya. Anak kecil senang bermain dengannya. Suami mahasiswa merasa senang berdiskusi dengannya. Mahasiswa merasa terayomi di bawah bimbingannya. Bahkan orang tua saya pun merasakan kebaikan dan perhatiannya saat berinteraksi. Sebenarnya sampai saat ini saya merasa bersalah karena tidak melakukan yang terbaik yang saya bisa saat dibimbing olehnya.😥

Prof. Armein dalam kuliahnya mengajarkan saya bahwa cinta dapat membuat kita bekerja lebih keras dan lebih baik. Bahkan cinta juga mengajarkan kita melihat realitas yang mungkin bagi banyak orang adalah sesuatu yang buruk, tetapi kita melihatnya lebih baik. Selama berinteraksi dengan beliau, hampir tidak pernah ada sikap atau statement yang saya tahu selama saya mengenalnya yang berpotensi menyakiti orang lain. Sungguh beruntung orang seperti Pak Armein ini. Pasti tidak banyak orang yang kesal atau benci dengan beliau.

Prof. Armein sangat concern dengan apa yang dijalani. Ketika dia mengajar, saya benar-benar merasa beliau hadir untuk kami dan memberikan pencerahan tentang materi yang diajarkan. Sepertinya kuliah pun selalu ada, tidak pernah ditinggalkan. Dan kalau melihat Prof. Armein menjelaskan PSD, saya selalu teringat quote Einstein, “If you can‘t explain it simply, you don’t understand it well enough.”

Dan yang membuat saya kagum kepada keduanya, adalah di tengah kepribadiannya yang baik, prestasi atau karyanya pun luar biasa. Ini sebenarnya yang langka saya temui. Semoga Allah selalu menjaga kesehatan mereka sehingga semakin banyak orang yang terinspirasi dan menjadi lebih baik karena mengenal mereka.

Ya Allah doakan saya bisa mengikuti jejak mereka menjadi dosen yang luar biasa. Aamiiin.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s