Kantin Madiun Dimana Ya?

Sebelum nyentuh atau nyerempet-nyerempet judul, saya pengen bikin prolog tulisan dulu. Jadi ceritanya sekarang saya sudah mulai sesi kehidupan sebagai seorang Bunda dan istri yang nyambi kuliah doktor. Pagi berangkat ke kampus dan mulai ngelirik-ngelirik paper (ngelirik loh, bukan baca) lagi, terus agak sorean (agak yah) jemput Khaleed di Daycare. Begitu kira-kira polanya. Nah, otomatis makan siang yang hampir 1.5 tahun ini di rumah, jadi ganti di kampus. Hari-hari awal ini saya ingin bernostalgia dengan tempat-tempat makan di kampus yang cukup legendaris buat saya, mantan pacar dan teman-teman saya dahulu kala.

Dimula dengan makan di kantin dekat lab yang harganya sekarang semakin gak sanggup. Terus ke kantin dekat himpunan (atas dikit) yang kini mulai jorok (perasaan jaman gw lumayan asri ngeliatnya). Terus ke kantin yang namanya seperti nama negara di eropa sana (alhamdulillah kantin ini masih cucok di kantong harganya). Dan yang terkini, baru aja, ke Kantin Madiun. 

Secara umum jelas harganya pada naik. Tetapi ada yang masih enak dan asik. Bahkan suasananya gak berubah. Kantin itu lah yang paling sering saya datengin. Tapi ada satu kantin, ya Kantin Madiun ini yang membuat saya cukup terkaget-kaget. Saya ingat kantin itu warna cerah oranye karena disponsori oleh minuman botol. Kursinya banyak sampe ada tenda ke luar. Dan suasananya terbuka. Biasanya kan si gerobak di pintu masuk, ini di dalam. Jadi suasana leganya berasa. Hampir bisa dibilang selalu ramai pas jam makan. Di luar jam makan pun kayaknya ada aja yang makan. Pengamen rajin datang karena memang selalu ramai pembeli.

Tapi siang ini, saya kesulitan untuk menemukannya. Suasananya jadi suram. Jadi ruko tak terisi. Kosong. Kotor. Eh, tapi dugaan saya salah. Saya kira sudah tutup. Rupanya masih buka. Tapi wajahnya sungguh berbeda. Awalnya saya sangsi dengan judul Kantin Madiun. Tetapi saat melihat sosok seorang nenek berkacamata tebal, saya yakin ini Kantin Madiun yang dulu legendaris itu. Bedanya sang Ibu kini memakai jilbab.

Saat saya menengok, Si Ibu dengan ramah menyapa, “Monggo bu, mau makan apa?” Lalu saya memesan Ayam Penyet legendarisnya. Tetapi sayang sekali Si Ibu hari ini tidak membuat ayam penyet. Beliau kemudian menggerutu, “Kemarin saya buat ayam penyet gak ada yang beli. Sekarang Ibu mesen, saya gak buat. Tapi ini saya hari ini saja loh bu gak buatnya biasanya buat.”

Saya mulai merasa aneh, kenapa kok Ibu gak buat ayam penyet hari ini. Tetapi setelah masuk ke dalam, saya yakin, kantin ini memang sudah berbeda dari yang dulu. Kebersihan dan penataannya pun berbeda dari yang dulu. Belum lagi gelap. Lalu saya memesan yang ada saja, Pecel Ayam Madiun. 

Porsinya lebih banyak dari yang dulu terakhir saya kesana. Porsi ini ada naik turunnya. Saat awal-awal banyak. Tetapi sempat dikit. Sekarang banyak lagi. Rasanya pun beda. Saya mulai agak menyesal memilih tetap makan disana. Sampai akhirnya saya mendengar percakapan Si Ibu dengan pemuda.

Siapa pemuda itu? Bicara dengan Ibu berbahasa Jawa dan percakapannya seperti orang yang dekat dan sudah tidak bertemu lama. Rupanya sang anak baru pulang dari Amerika. Mereka berbagi cerita tentang petualangan di Amerika. Saat waktunya pemuda itu membayar, Si Ibu tidak mau nerima. Anak itu kemudian memberikan 5 dollar uang amerika, seperti yang dibahas sebelumnya. Si Ibu bilang gak berharap apa-apa anak itu kembali dari Amerika selain sehat dan cuman pengen lihat uang dollar itu seperti apa sih. 

Setelah pemuda itu pergi barulah Si Ibu mendatangi saya dan bercerita. Seperti seorang nenek yang kesepian dan membutuhkan teman untuk berbagi cerita, Si Ibu bercerita panjang sekali. Diawali dengan kondisi kantinnya yang kadang sehari hanya 3 atau 4 pembeli yang datang. Beliau tak akan menyerah dan akan tetap berjualan. Beliau menasehati saya bahwa hidup itu ada naik dan turunnya. Selalu siapkan diri untuk segala kemungkinan dan harus bisa nerima apa yang Allah kasih. Banyak atau sedikit. 

Beliau bercerita persaingan semakin ketat dan kantinnya sulit untuk bertahan seperti dulu. Dulu sempet sampai antri pakai nomor kalau makan disana. Sekarang keadaan sungguh berbeda. Tetapi alhamdulillahnya, Beliau sudah mewariskan ilmu masaknya ke anak-anaknya sehingga setiap anak kini sudah punya Kantin Madiun 1, 2 dan 3 di kota tempat mereka tinggal. Itu saja yang Ibu syukuri.

Ada lagi deng, ternyata pemuda yang diajak ngobrol itu adalah anak angkatnya. Dia adalah mahasiswa di kampus gajah duduk juga. Tingkat akhir di jurusan yang banyak perempuannya. Pemuda itu sudah menganggap Si Ibu seperti ibunya sendiri. Si Ibu pernah diberi uang untuk berobat besar sekali. Kata Pemuda itu, Si Ibu sudah seperti eyangnya sendiri.

Jalan cerita Si Ibu sebenarnya ingin membuat saya duduk lebih lama dan mendengar lebih lama. Tetapi ada beberapa tamu yang harus dilayani. Alhamdulillah berarti hari ini kantin Ibu agak ramean. Jadi saya pamit. Terakhir Si Ibu berterimakasih kepada saya (rasanya beda diterimakasihin ma Ibu ini) karena telah sudi nengok kantinnya yang sudah tidak seperti dulu ini dan memberi uang (padahal saya hanya bayar makanan saja). :’) Sawangsulna, Bu. Semoga Ibu tetap sehat dan bisa terus berjualan untuk menghidupi hidup.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s