Mengkritik Itu Susah

Entah sejak kapan mulainya, tapi sekarang yang namanya sosial media emang gak selamanya isinya menyenangkan. Setidaknya tidak semenyenangkan dulu. Dimana dulu itu isinya orang curhat gak penting tapi lucu. Narsis foto bareng-bareng temen, liburan, tapi masih natural lah gaya dan bahasanya. Hmmm. Atau bully temen rame-rame lewat foto, buddy poke, atau apalah. Sekarang… Entah saya yang nambah tua apa gimana, kok semua orang menebar sepetan, kebencian, fitnah dan hal-hal tidak menyenangkan lainnya. Teman-teman yang dulu menyenangkan malah memilih diam dan siapkan jempol aja untuk ngelike atau ngoment in berita atau info positif. >_<

Yup, kayaknya isinya negatiffffff banyaknya. Kayaknya salah bergaul nih. Hufh!

Tapi gak papa lah. Orang keren itu adalah orang yang tetep keren walaupun lingkungan dimana orang keren itu berada sangat tidak keren. Jadi itu lah keren! *Naon sih* Maksud saya, sekarang PR nya gimana caranya tetap bersikap positif walaupun keadaan sulit. 

Nah, sebagai pengamat pengkritik, saya ingin mengkritik. Haha. Apa coba. Jadi setelah bertahun-tahun belakangan ini mengamati teman-teman yang suka melempar kebencian satu sama lain, seringkali penyakitnya satu, tidak konsisten. Bukan saya gak suka pertobatan yang mana tidak konsisten dari yang dulunya buruk menjadi baik. Tapi yang agak gemes ketidak konsistenan ini sangat tercermin ketika harus menilai diri dan orang lain. Beda banget kalau udah ngritik orang kesannya tuh orang ahli neraka banget gak ada baik-baiknya. Tapi kalau diri sendiri berasa sempurna. Atau gak dalam menilai kelompok. Kesannya kelompok yang dia benci ngupil aja bisa diomongin dan dikatain sampe puluhan komennya. >_< Ampun deh. 

Tapi alhamdulillah sih. Dari mereka saya belajar. Mengkritik itu emang bukan hal yang mudah. Ibaratnya latihan dulu nelen ludah sendiri, baru deh lo kritik. Bukan berarti gak boleh kritik, cuman mengkritik itu adalah perbuatan yang harus “SANGAT HATI-HATI”. Karena ya itu gak lama abis ngritik, eh,,,, Ternyata keburukan dari orang yang dikritik itu ada di diri kita. Artinya kadang emang seseorang melakukan kesalahan. Tapi bukan untuk dikatain atau diomongin secara berlebihan.

Refleksi ini baru saya dapetin di dunia nyata sih bukan di dunia maya. Jadi ceritanya saya lagi bekerja dalam tim. Tugas saya menganalisa kinerja orang. Ini gimana itu gimana. Gampang loh ternyata… Nemuin kesalahan orang trus ngingetin dia dari cara yang baik-baik sampe make emosi saking susahnya diingetin. Tapiiiiiii… Someday saya punya juga salah. Dan sebenernya kalau Allah gak nutupin aib saya, dan meningkatkan nyali orang yang saya awasin itu, bisa aja dia ngeblame saya berlebihan. But thanks Allah… Saya dikasih tau dengan cara baik-baik. Dan itu pun sulit banget awalnya nerima sampe akhirnya emang harus berubah. Ibaratnya, ngritik itu emang jadi lebih gampang dibanding berubah setelah dikritik. Atau mungkin lebih simple lagi, nerima kalau kita dikritik aja, beneran gak segampang ngritik.

But, hey!!! Tulisan ini sila dibaca tapi bukan untuk kalian yang refleksi diri yah.🙂 Ini mah reminder aja sebenernya buat saya. Saya lagi garis besarin pelajaran hidup ceritanya. Bahwa mengkritik itu emang susah, Bukan pas mengkritiknya. Tapi konsekuensi moral setelah kita melempar kritik tersebut.🙂

Peace love and gaul ah!!!

Stay positive, mbak sis, mas bro!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s