17 Puluh Ribu, Bukan 17 ribu !

Saat ini sedang musim dingin di Korea sana. Saya jadi teringat kisah setahun lalu. Saat sedang hamil Khaleed. Jujur, hamil Khaleed memberikan perubahan yang signifikan dalam hidup saya. Salah satunya dalam hal pengelolaan keuangan. Hidup dengan orang tua, jarang berfikir untuk menabung. Dapat uang, habiskan, minta. Begitu polanya. Sampai awal-awal menikah pun seperti itu. Walaupun beasiswa saya dan suami bisa dibilang lumayan karena kami tinggal bersama, namun kebiasaan, dapat, habiskan, minta (tapi waktu itu bukan minta, melainkan gajian lab) masih saja. Sampai kejadian ini terjadi…

Saat hamil di awal, saya mendapatkan banyak tes. Kebetulan saat itu saya belum memiliki asuransi kesehatan di Korea. Setelah periksa kehamilan dan melakukan tes mendengar detak jantung Khaleed, seperti biasa saya pergi ke kasir untuk membayar. Kebetulan juga waktu itu akhir bulan. Jadi uang kami pas-pasan.

Saat membayar kasir, kasir bilang “sibchilman won”. Yang artinya kalau dipisah per kata adalah sib = sepuluh, chil = tujuh, man = sepuluh ribu. Jadi kalau diartikan ala google translate, jadi gini “Tujuh belas puluh ribu won” a.k.a. 170.000 won. Dengan santainya saya mengeluarkan kartu debit saya. Tetottt!!! Ditolak ma mesinnya. Oh, kenapa yah? Ganti deh, make kartu suami. Tetot!!!! Ditolak lagi.

Kami pun saling bertatapan ala India dan berfikir. What?!?!?!?!? 170.000 Won? Bukan 17.000 won?!?!?!? Jantung kemudian mulai berdetak kencang. Wew. Mahal sekali. Tapi suami saya yang cool, calm and confident itu langsung mengambil setir perahu layar kami yang tengah hilang arah.

Oke bun. Kita kumpulin semua uang yang ada di ATM. Untuk mengelola keuangan biar gak bingung. Saya biasa memisahkan ATM saya, suami, dan tabungan kami bersama. Dari ketiga ATM itu alhamdulillah terkumpul dan cukup untuk membayar biaya periksa dokter.

Tapi???? Kami gak memegang uang sepeser pun. Karena sisa-sisa di ATM tidak bisa diambil karena semuanya kurang dari 10.000 won. :)))))

Akhirnya di musim dingin itu. Saya dan suami jalan kaki sampai rumah dari Rumah Sakit. Sepanjang perjalanan kami menertawakan kejadian tadi. Betapa dodolnya kami menyangka hharganya sepersepuluh harga aslinya. Dan tetep cool bilang, “bentar, kami ke ATM dulu!”

Sampai di rumah baru berasa sedih…. Wew. Ga punya ung! Kkkk. Untungnya beberapa hari kemudian kami gajian. Jadi kami sempat meminjam uang dulu ke teman untuk makan menunggu gajian.

Life oh life… Tapi kejadian ini membuat saya aware dengan dua hal.

  1. Jangan kekecoh sama bahasa korea bilangan. kalau di indonesia kita biasa bilang per-ribuan, di Korea per-sepuluh ribuan.
  2. Hidup bukan untuk hari ini. Menabung yang banyak untuk masa depan, untuk anak dan untuk cucu. Kalau bisa sampe cicit.

Tapi Allah selalu menguji kita sampai kita benar-benar lulus. Beberapa bulan kemudian, saat mengantar teman periksa kehamilan. Kami terkecoh lagi dengan si per-ribuan dan per-puluh ribuan. Kkkk. Untungnya saat itu uang tersedia. Dan kami tidak perlu jalan berdua sampe rumah. Allah tahu, karena kami berdua saat itu sama-sama sedang hamil. Dan hari sangat panas.😀

Anyway, selalu ada bagian cerita dalam hidup yang bisa ditertawakan! Be happy friends!🙂 Keep smiling…. No matter how hard our life is…

 

One thought on “17 Puluh Ribu, Bukan 17 ribu !

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s