Konsisten Itu SULIT bung!

Semakin banyak pemikiran, ide, konsep atau apa namanya yang orang-orang torehkan dalam bentuk sederhana: status atau postingan di media sosial. Siapa saja berhak berteori dan mempublish nya di depan umum. Bergantung dengan karakter masing-masing, ada orang yang mudah sekali menuliskan apa yang ada di pikirannya ada juga yang sama sekali menutup apa yang ada di dalam pikirannya.

Yang paling sering tertangkap perhatian pastinya yang paling sering menulis, melaporkan, memosting, dll nya itu.😀 Facebook, twitter dan media sosial lainnya, umumnya tidak hanya digunakan satu dua bulan. Tapi lebih dari itu. Rekaman jejak mengenal orang selama berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun, dengan orang yang bahkan mungkin sudah tidak pernah kita temui lagi fisiknya, tapi kita bisa merekam, minimal pemikirannya.

Dari pengamatan selama ini. Manusia itu kelihatan banget berubah dari waktu ke waktu. Menjadi dewasa. Menjadi kekanak-kanakan dari waktu ke waktu. Tapi yang menarik, manusia itu sulit sekali untuk konsisten. Terlebih status atau postingan seringkali menanggapi masalah yang diketahui banyak orang. Seringkali memiliki double standard. Natural sekali memang. Dan lucunya, selalu banyak teori-teori yang baru bermunculan. Dah kayak filsuf.😀

Dulunya saya hobi banget ngikutin pemikiran orang atau terlalu serius menanggapi apa yang orang pikirkan melalui postingan. Tapi lama kelamaan, saya jadi males.😀 Karena semakin mengenal lama, semakin berfikir. Yah, namanya juga manusia. Perlu pengakuan. Perlu afirmasi. Bagaimana kondisi dia saat ngeposting, dicari lah teori atau hukum atau ide atau apalagi yang sesuai dan mendukung perasaannya saat itu. Terkadang menjadi seorang alim, terkadang humoris, terkadang rajin, terkadang marah, dll. Intinya mah, semakin tegas dan sering memunculkan sikap, PEMBENARAN.😀 Gimana caranya saya jadi BENAR.

Dan sedihnya lagi, kadang saya terjebak menilai orang berdasarkan postingan atau status. PAdahal menurut saya itu gak representatif banget. Orang yang sebenernya lembut, baik hati, bisa punya postingan-postingan yang keras. Pun sebaliknya.Orang yang keliatannya peduli dengan kondisi sosial melalui status-statusnya, pun belum tentu rilnya dia peduli. Bisa jadi sepanjang waktunya habis di depan komputer dan tidak membuat kondisi sosial yang ditanggapinya menjadi lebih baik. 

Pada akhirnya, sikap konsisten lah. Integritas lah. Yang membuat saya hormat aau bersimpati pada orang. Bukan dengan kekritisannya. Bukan dengan kata-kata indahnya di media sosial  Bukan dengan kreatifitasnya mengemas kata-kata. Tapi integritas. Karena semua yang saya sebut tadi, sungguh mudah dibuat. Menanggapi urusan orang, kreatif mengemas kata-kata, dll. Itu semua mudah.

Yang susah apa? Yang susah adalah menjadi konsisten antara apa yang ditulis dengan apa yang diperbuat. Dan lebih sulit lagi menjadi konsisten ketika gak punya pagangan. Gak punya acuan. Gak punya nilai.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s