Istilah Debat Kusir

Di postingan sebelumnya, saya menyinggung soal kebutuhan manusia untuk diakui. Tapi biasanya kalau ngobrol sama suami, bahasa kami adalah manusia itu butuh di “IYA” in. Dan kadang setelah itu mau bagaimana sikap kita terhadap dia, bisa jadi lebih gak penting dibandingkan kebutuhannya untuk di “IYA” in.😀

Kenapa saya bermuara pada kesimpulan itu?

Jadi setelah hidup berdua di Korea dan memiliki teman “ril” yang kurang banyak, interaksi kami semakin sedikit dengan manusia. Ini tidak termasuk interaksi dengan orang-orang asing, yang menurut saya sejauh ini “tidak terlalu dalam”. Interaksi yang sedikit itu yang seringkali membuat saya dan suami sering berfleksi. Sudah benar blom ya kita dalam menanggapi orang lain?

Dalam setiap interaksi, manusiawi sekali kalau kita membahas satu topik, satu orang, atau apa namanya, untuk kemudian melakukan penilaian. Suka, tidak suka, bagus, tidak bagus, aneh, tidak aneh, dan lain-lain. Dalam tahap ini sebenernya tidak mengganggu. Ketika salah seorang mulai menilai, kadang kita juga ingin ikut menilai. Yang paling asik kalau berbeda. Tapi kemudian keduanya bisa saling diam dan berusaha memahami kenapa berbeda. Ini dengan catatan, selama hubungan satu sama lain masih sangat baik. Artinya perdebatan itu hanya masalah titik berangkat saja. Tidak sampai pada tahap membuat konflik satu sama lain. Masih bisa saling sapa, bantu membantu, jalan bersama, dll.

Yang mengganggu, itu kalau udah ada menjustifikasi pendapat. Dan biasanya berusaha menguasai pembicaraan. Tidak ngasih kesempatan orang lain berbicara dan lebih banyak berbicara daripada mendengar. Kadang kelihatan tidak menyimak dengan baik apa yang orang katakan karena terlalu fokus dengan apa yang dia katakan. Padahal kita tahu dalam kehidupan sehari-hari kita masih bisa bertegur sapa, bantu membantu, jalan bersama dll nya itu. Jadi kan lucu aja kalau misalnya terjebak pada perdebatan yang sebenarnya gak terlalu prinsip untuk diperdebatkan, tetapi bisa bikin suasana ngobrol jadi gak enak. Terlebih bisa merusak sesuatu yang sebelumnya indah-indah aja.😀

Nah, kalau udah kayak gini, sikap yang paling aman ya berbesar hati. Di “IYA” in aja. Karena memang itu kebutuhan manusia. Diakui. Diafirmasi. Karena gak mungkin orang bisa merubah orang lain melalui sebuah perdebatan. Terlebih kalau orang sudah merasa tidak dihargai. Bagaimana mau berubah menjadi apa yang lawan bicara kita pikirkan. Wong kitanya aja dah gak respect sama orang yang maksa.😀  Berbesar hatilah untuk bilang, “Ya ya,,, ” atau kalau berat, “Oh gitu ya…”

Karena debat itu gak baik. Apalagi kalau debat kusir. Hindarilah perdebatan yang tidak perlu. Yang kira-kira setelahnya gak ngebuat kita dan teman bicara kita lebih baik. Berbesar hatilah. Karena yang ingin kita menangkan adalah hidup kita. Bukan hidup orang lain. Bukan afirmasi orang lain.

Kalau ada yang baca n pengen comment, gak usah bilang “Yaya…” atau “Oh gitu ya din…” wkkk. Karena saya gak butuh sekarang!!! wkk. Nanti aja kalau kita lagi terjebak dalam sebuah perdebatan.😛

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s