Istilah Debat Kusir (2)

Oia, saya lupa jelasin, motivasi menulis tulisan sebelumnya dengan judul yang sama ini. Jadi, kenapa saya bisa berfikir seperti itu? Karena saya sangat menyadari bahwa manusia itu jelas berbeda. Gak usah susah-susah make sekat negara, agama, suku, golongan, perbedaan gaji, IPK, dll. Manusia yang sama-sama islam, sama-sama dari pulau jawa, sama-sama perempuan, saja bisa beda dan bisa berantem, kalau mau. Berantem disini juga gak usah jauh-jauh gontok-gontokan. Gak saling sapa, gak menyenangkan satu sama lain aja menurut saya itu udah gak enak.😀

Jadi ceritanya begini.

Selama dua tahun menghuni Lab Power Electronics. Sebenarnya saya sudah bisa dibilang BEDA. Apa aja bedanya? Saya perempuan, saya paling muda, saya muslim (make jilbab, solat 5 kali sehari, gak makan babi, gak minum alkohol, gak makan ayam korea, dll), saya orang Indonesia, saya gak dari universitas yang sama saat S1, saya sudah menikah, saya gak punya uang sebanyak mereka, dan masih banyak lagi kalau mau dicari bedanya.😀

Kalau semua perbedaan itu mau didebat. Misal, kenapa sih gak minum alkohol? Kenapa sih gak mau makan babi? Kenapa sih ribet banget ngabisin waktu solat? Kenapa sih muda-muda dah nikah? dan lain-lain.😀 Itu kalau mau saya jawab satu-satu, serius, dan ngotot, pasti bisa bikin suaasana yang harusnya asik di lab. Belajar. Malah jadi gak asik. Karena misalnya memancing orang menilai, menjudge, dan lebih gak asik lagi kalau menjauhi, karena berbeda.

Makanya saya lebih suka untuk nyuekin aja kalau misalnya ada pendapat-pendapat mereka yang menyentuh hal-hal prinsip. “MInum aja lah din…”, “Puasa itu gak bagus buat kamu…”, dll. Cukup disenyumin aja. Dan fokus pada apa yang bisa membuat saya dan teman-teman lab menyatu.

Semakin berbeda, samkin dikit yang bisa kita lakukan bersama. Itu menurut saya. Nah, ketika saya sadari itu, saya merasa, kenapa saya harus fokus pada perbedaan? Cari apa yang bisa dilakukan bersama. Kalau saya keukeuh untuk menggariskan garis tebal perbedaan tanpa mau mencari apa sebenarnya yang masih bisa kita lakukan bersama untuk membuat hubungan lebih baik, ya pasti gak nyaman. Baik untuk saya ataupun teman-teman lab.

Tersenyum dari hati itu juga bisa menjadi kunci. Jangan mudah tersinggung kalau prinsip kita dilecehkan atau dibercandain. Kenapa harus tersinggung dengan orang yang memang tidak memahami apa yang kita pahami? Cukup beri senyuman. Dan ikhlas. Jangan senyum-senyum irit yang bikin bibir sakit.😀

Nyuekin dan tersenyum itu juga bukan berarti hati kita harus mangkel dan di luar ngejelek-jelekin orang yang mendebat kita. Terus update status nunjukin kesalnya kita digituin. Terima saja. Gak jadi gak mulia kok hidup kita dengan dibercandain orang. Apa yang orang lain lakukan terhadap kita, tidak akan merubah kemuliaan diri kita. Justru sikap kita yang bisa merusak atau menambah kemuliaan itu. Jadi lebih baik berhati-hati dengan sikap kita daripada dengan sikap orang lain ke kita.

Balik lagi ke debat kusir. Intinya, kenapa harus kita debat? Harus kita lawan semua kata-kata yang kita gak setuju? Pemikiran yang kita gak setuju? Selagi yang bersangkutan masih bisa bertegur sapa sama kita, makan bersama, bekerja dalam tim untuk menghasilkan sesuatu yang bermanfaat, dan hal baik lainnya yang mungkin gak bisa kewujud kalau kita sibuk berdebat sesuatu yang gak memberikan manfaat. Selain perasaan kesal dan benci terhadap teman kita.

Fokus pada apa yang bisa dilakukan bersama. Mengalahkan ego. Menerima kekurangan. HIlangkan sentimen apapun.🙂 Gak perlu berdebat kusir….

Gitu…. PErtanyaannya, bisa gak yah?😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s