Belajar Berserah

Gak kerasa nih udah di ujung kehamilan. Minggu ke-38. Dimana biasanya EDD (Estimated Due Date) atau HPL (Hari Perkiraan Lahir) adalah minggu ke-40. Tinggal 2 minggu harusnya. Tapi berdasarkan pemeriksaan terakhir, dokter bilang, kayaknya bakal maju satu minggu dari perkiraan. Di lihat dari kondisi rahim, saluran lahir dan posisi bayinya.

Ini kehamilan pertama. Melahirkan pertama. Benar-benar gak punya pengalaman hanya referensi dari buku, majalah, internet dan cerita-cerita orang. Yang rasanya kalau diperhatikan, selalu unik setiap orangnya.

Perasaan takut ada. Tapi perasaan bahagia menunggu seseorang yang merupakan darah daging saya dan suami, tanggung jawab saya dan suami, yang menambah semarak keluarga kami, alhamdulillah sering menepis rasa takut itu. Rasa takut sakitnya, takut meninggal dan taku-takut lainnya.

Gak ada yang bisa saya lakukan selain berserah. Menjalani hari-hari terakhir kehamilan dengan sehat, ceria… Menjalankan tugas-tugas di lab dengan penuh tanggung jawab. Selesai! Harus diselesaikan apa yang pernah dimulai. Kerjaan lab. 😛

Dan mencuri apa yang bisa dicuri. Wkkk. Mencuri paper mumpung akses nya masih gratis dari kampus. Lumayan buat baca-baca ntar sambil ngasuh. Biar setahun nanti gak beku otaknya dari per-Power Electronics-an dan bisa siap lagi untuk nyari S3.

Ganbatte Adindun!!!! Semangat! Berusaha! Dan berserah! 😀

Advertisements

Istilah Debat Kusir (2)

Oia, saya lupa jelasin, motivasi menulis tulisan sebelumnya dengan judul yang sama ini. Jadi, kenapa saya bisa berfikir seperti itu? Karena saya sangat menyadari bahwa manusia itu jelas berbeda. Gak usah susah-susah make sekat negara, agama, suku, golongan, perbedaan gaji, IPK, dll. Manusia yang sama-sama islam, sama-sama dari pulau jawa, sama-sama perempuan, saja bisa beda dan bisa berantem, kalau mau. Berantem disini juga gak usah jauh-jauh gontok-gontokan. Gak saling sapa, gak menyenangkan satu sama lain aja menurut saya itu udah gak enak. 😀

Jadi ceritanya begini. Continue reading

Istilah Debat Kusir

Di postingan sebelumnya, saya menyinggung soal kebutuhan manusia untuk diakui. Tapi biasanya kalau ngobrol sama suami, bahasa kami adalah manusia itu butuh di “IYA” in. Dan kadang setelah itu mau bagaimana sikap kita terhadap dia, bisa jadi lebih gak penting dibandingkan kebutuhannya untuk di “IYA” in. 😀

Kenapa saya bermuara pada kesimpulan itu? Continue reading

Konsisten Itu SULIT bung!

Semakin banyak pemikiran, ide, konsep atau apa namanya yang orang-orang torehkan dalam bentuk sederhana: status atau postingan di media sosial. Siapa saja berhak berteori dan mempublish nya di depan umum. Bergantung dengan karakter masing-masing, ada orang yang mudah sekali menuliskan apa yang ada di pikirannya ada juga yang sama sekali menutup apa yang ada di dalam pikirannya.

Yang paling sering tertangkap perhatian pastinya yang paling sering menulis, melaporkan, memosting, dll nya itu. 😀 Facebook, twitter dan media sosial lainnya, umumnya tidak hanya digunakan satu dua bulan. Tapi lebih dari itu. Rekaman jejak mengenal orang selama berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun, dengan orang yang bahkan mungkin sudah tidak pernah kita temui lagi fisiknya, tapi kita bisa merekam, minimal pemikirannya. Continue reading